MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 44. Medan, at The Moment (3)


__ADS_3

Rahma mencibir melihat Mizyan terkekeh ditahan sebab sudut bibirnya yang tampak masih kaku. "Jangan ge er ya. Siapa juga yang terpesona. Aku tuh kaget liat mukamu seperti itu."


"Oh oke, aku ralat. Bukan terpesona, tapi care sama aku. Makasih ya." Mizyan tersenyum tipis namun bagi Rahma memberi efek desiran di dadanya.


"Pede banget ih."


"Harus dong. Pede itu pengantar kesuksesan." Lagi-lagi Mizyan tersenyum tipis. Sebetulnya ia tersenyum sebab suka melihat rona merah di pipi bundanya Dika itu yang tak juga memudar. Percaya dirinya yang tinggi membuatnya yakin jika Rahma sudah tersentuh hatinya.


"Serah deh."


Mizyan mengulum senyum melihat Rahma yang cemberut. "Ngobrolnya sambil jalan yuk. Dari tadi nggak gerak-gerak."


Rahma menggeleng. Ia menolak ajakan Mizyan untuk mengikuti ke lantai atas. "Maaf, aku cuma disuruh Uma nganterin makanan. Mau pulang lagi."


"Ya, nggak bisa gitu. Uma nyuruhnya makan siang bareng. Mana mungkin aku ngabisin sebanyak ini." Mizyan mengangkat goodie bag yang dipegangnya.


"Ih ngarang. Uma nggak bilang gitu." Rahma mulai bisa menguasai kegugupannya dengan menghadirkan kejudesannya.


"Nih kalau nggak percaya." Mizyan memperlihatkan pesan yang dikirim Uma yang masuk bersamaan dengan telepon dari Rahma.


Rahma tentunya kaget. Tak menyangka Uma mengirim pesan seperti itu. Padahal saat berangkat hanya berpesan makanan itu harus sampai ke tangan orangnya langsung.


"Aku nggak akan gigit kok. Kenapa kamu khawatir gitu." Mizyan menghela nafas panjang seolah tengah memperlihatkan kekecewaan.


"Ish, bukan gitu. Ya udah yuk---" Rahma kehabisan alasan untuk menolak, sedekat ini lagi-lagi membuatnya gelisah. Bahkan tubuh dan hatinya kini saling berkhianat antara mau dan menolak.


"Aku sholat dulu sebentar ya. Kamu mau sholat di sini atau di rumah?" tawar Mizyan begitu sampai di ruang kerja dengan kaca jendela transparan sehingga orang dari luar bisa melihat aktivitas di dalamnya.


"Aku lagi nggak sholat." Rahma yang duduk di sofa mengeluarkan box lunch 3 susun dari goodie bag. "Sholatlah yang benar, jangan terburu-buru. Aku nggak apa-apa nunggu." lanjutnya sambil menatap Mizyan yang melipat lengan baju sampai sikut.


"Ah iya, makasih udah diingatkan, Bun." Mizyan melesat ke luar ruangan menuju mushola. Tidak tahu jika jantung Rahma selalu berdebar tak karuan mendengar panggilan 'Bun'.


Tak ada percakapan selama makan. Mizyan awalnya ragu menyendok sop ikan gabus. Ia kurang suka aroma amis. Namun dugaanya salah, sop ikan gabus itu sama sekali tidak bau amis malah wangi rempah ditambah taburan daun kemangi menambah kesegaran aroma. Dengan lahap ia pun menghabiskannya sebab Rahma tidak memakannya.


"Itu khusus buat kamu, habisin aja biar jahitannya cepat kering. Aku makan yang ini." Rahma menunjuk ayam kampung saksang dan capcay.


"Mau berapa lama di Medan?" Mizyan menatap Rahma yang tengah membereskan bekas makan.


"Dua hari. Lusa pulang ke Bandung."


"Nanti malam mau nggak temani aku jalan-jalan?"


Rahma menggeleng. "Maaf, aku udah ada acara dengan sepupu dan temen. Mau hunting kulineran."


"Oke." Mizyan tetap memasang senyum meski ajakannya ditolak. Ia menawarkan diri mengantar Rahma yang mau pulang. Namun Rahma menolak dengan alasan membawa mobil sendiri. Akhirnya Mizyan hanya mengantarkannya sampai lobi.


"Aku pamit." Rahma menganggukan kepalanya.


Mizyan mengangguk. "Makasih untuk makan siangnya. Sampaikan terima kasih juga pada Uma, udah perhatian sama aku." Pungkasnya. Yang hanya dibalas dengan anggukkan.


"Rahma---"


Rahma yang sudah berjalan 5 langkah sontak membalikkan badan mendengar Mizyan memanggilnya. "Ya?!" Ia mengernyit sambil menatap Mizyan yang masih berdiri di tempat semula.


Aku cinta kamu.


"Take care!"


Rahma mengangguk dan menyunggingkan senyum tipis.


Mizyan berjalan dengan langkah lebar memasuki lift. Ia menghembuskan nafas dari mulut, hampir saja tadi keceplosan mengutarakan isi hatinya. Komunikasi yang makin baik membuatnya tak sabar ingin mengungkapkan perasaannya. Namun sepertinya belum saatnya, ia tidak mau Rahma menjadi illfeel dan menjaga jarak lagi.

__ADS_1


"Bening, Le. Lebih cakepan aslinya daripada di foto." Kemal menyambut kedatangan Mizyan di ruangannya dengan sebuah komentar.


"Emang abang lihat?" Sambil duduk di kursi kerjanya, Mizyan membuka laptopnya untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda.


"Iyalah. Tadi waktu mau turun ke cafe."


"Kejar sampe dapat, Le. Keliatan berkualitas tuh."


"Sure, bang. Sampe titik darah penghabisan." Mizyan tersenyum miring.


"Ini nih yang aku suka dari kau. High self confidence."


"Mi, tahu tempat kulineran yang paling cozy nggak?" Mizyan menodong Fahmi yang baru saja masuk membawa setumpuk berkas.


"Hm, menurutku sih Merdeka Walk. Kenapa mas?" Fahmi duduk di kursi yang berhadapan dengan Kemal. Namun kepalanya menoleh ke arah Mizyan.


"Nanti malam temani aku ke sana. Cuci mata."


"Oke, mas." Fahmi menyambutnya dengan acungan jempol. "Siapa tahu ketemu cewek yang nyangkut di hati."


"Hei-hei, enak aja kalian pada pergi. Terus aku sendirian di hotel gitu?" Kemal melayangkan protesnya dengan sewot. "Kalau gitu bisa pesen ciwik buat temen di kamar ya, Le?" lanjutnya sambil menaik turunkan kedua alisnya.


"Boleh, Bang. Entar aku telpon nyonya Kemal!" Sahut Mizyan dengan santainya.


"Canda, Le."


Fahmi hanya mengulum senyum melihat bossnya menciut jika diancam seperti itu.


****


Rahma menghampiri Uma dan tantenya di teras belakang dengan wajah ditekuk. Ia baru saja pulang dan kena godaan Eva yang bersiul dari balik pagar rumahnya.


"Apaan sih, Eva. Awas ya!" Rahma menyalakan keran taman untuk menyiram tetangganya itu. Namun Eva keburu lari ke dalam rumahnya sambil terbahak-bahak.


"Uma nggak bilang kalau harus makan siang bareng dia. Uma sengaja pengen jodohin aku sama dia." Rahma duduk dengan bibir merenggut menatap Uma.


"Jadi kamu ngarep dijodohin sama Mizyan?" Uma menyahut dengan santai sambil menyeruput sirup markisa yang tersaji di meja. Sementara tantenya tampak mengulum senyum .


"Ih Uma, malah balikin pertanyaan." Rahma meraih segelas sirop markisa yang masih utuh dan menyedotnya sampai tersisa setengah.


"Ihh sirup punya tante juga." Hamidah mendelik melihat minumannya diserobot.


"Abis tenggorokanku jadi kering kalau bahas orang itu. Nanti aku ganti deh."


"Uma belum jawab ih." Rahma kembali ingin meminta penjelasan ibunya itu.


"Kepikirannya waktu kamu udah jalan. Jadinya Uma kirim pesan ke Mizyan."


"Mizyan lelaki baik dan sopan. Dia sangat perhatian sama Dika. Nggak ada salahnya kita juga berlaku baik sama dia kan?!"


Penjelasan Uma membuat Rahma mengatupkan mulut. Tak bisa menyanggah. Sebab apa yang dikatakan Uma benar adanya.


"Tapi Uma dan Ayah jangan maksa aku nikah lagi ya. Aku belum ada pikiran untuk nikah lagi. Bulan depan setahunnya bang Malik." Tatapan Rahma tampak menerawang, merasa waktu berjalan begitu cepat.


"Uma nggak akan maksa. Uma dan Ayah hanya ingin melihat kamu dan Dika bahagia. Kedepan tidak ada yang tahu. Pokoknya jangan menolak perasaan dan kenyataan karena hanya akan membuatmu tersiksa."


Rahma mengernyit. Mencoba mencerna kalimat terakhir Uma yang terasa mendalam itu.


"Tante Midah juga nggak nikah lagi padahal udah 6 tahun Om pergi." Rahma kini meminta dukungan tantenya.


"Situasinya beda dong, Rahma." Hamidah menggeleng. "Tante ditinggal Om saat anak-anak sudah besar. Mira awal masuk kuliah dan Alfat kelas 1 SMP. Kalau Dika kan masih kecil, mungkin nggak ingat dengan ayahnya. Jadi kalau Dika punya ayah lagi malah bagus buat psikologisnya. Bakal terasa kalau udah masuk sekolah. Saat ada momen Hari Ayah, Dika akan sedih lihat teman-temannya datang bersama dengan sang ayah."

__ADS_1


Tak ada sanggahan lagi dari Rahma. Malah ia tampak merenungi penjelasan panjang lebar tantenya itu.


****


"Nda, ayo. Nda, ayo----" Dika yang mengenakan sweater berwarna orange, berjalan mengelilingi bundanya yang tengah berdandan. Bocah itu sudah tak sabar untuk ikut jalan-jalan ke Merdeka Walk seperti yang dijanjikan ibunya itu.


"Bentar lagi, sayang." Rahma memoleskan lipstik warna chic agar tampak natural. Terakhir ia menyematkan bros di bagian bahu jilba aegi empatnya agar lebih rapih. Done.


Meski weekday, suasana pujasera Merdeka Walk tampak ramai namun tak sepadat malam minggu, bahkan bisa tidak kebagian tempat parkir roda 4. Mira memarkirkan mobillnya di jarak yang paling dekat dengan pintu masuk.



*source : detik.com


Masuk ke dalam, hal pertama yang dilakukan 3 wanita cantik itu adalah foto-foto. Lampu hias beragam model yang dilekatkan di dahan dan batang pohon trembesi menjadi salah satu spot untuk ketiganya berfoto ria, plus Dika tentunya tak ketinggalan bergaya cute.


"Kapan makannya ini, malah foto terus?" Rahma mulai protes sebab Mira dan Eva belum puas mengabadikan momen kebersamaan dengan berpindah-pindah lokasi.


"Once more, dear. Mumpung muka masih fresh belum berminyak," sahut Eva diiringi tawa.


Ketiganya memilih duduk di kursi outdoor sebab cuaca malam yang cerah. Mereka memesan menu berbeda, sementara Dika anteng duduk dengan satu cup eskrim di tangannya.


"Kenapa cemberut?" Rahma menyikut Eva yang menatap layar ponsel dengan bibir manyun.


"Kemarin Glen bilang mau pulang dari Jakarta hari ini. Tapi tadi sore bilang di cancel." Eva mendecak kecewa sebab tunangannya yang punya usaha di Jakarta urung datang.


"Kata siapa cancel?"


Sontak semuanya menoleh ke asal suara, kecuali Dika tetap asyik menunduk menekuri es krimnya.


"Ya Tuhan, Glen!" Eva spontan berdiri dengan raut kaget dengan kedua tangan membekap mulut dan mata berkaca, melihat sosok kekasihnya kini berjalan mendekati kursinya. Keduanya pun saling berpelukan. Eva tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya dengan menangis sambil menggerutu. Dan Glen tertawa senang sebab sudah berhasil membuat surprise untuk sang kekasih.


"Jomlo bisa apa---" Mira berakting menangis sambil menyumpit dimsum dan melahapnya dengan ekspresi marah. Alhasil membuat Rahma terkikik dan menjitak kening sepupunya itu.


Glen pun menyapa Rahma dan Mira yang tentu saja sudah mengenalnya sebagai sahabatnya Eva. Kini meja bertambah penghuni 1 orang sehingga obrolan semakin seru dan penuh gelak tawa.


"Nda---" Dika menggoyang-goyang lengan bundanya dengan keras. Mata bulatnya melotot ke arah depan dengan raut semringah.


"Mau makan apa, sayang?" Rahma menolehkan wajah ke sampingnya. Mengira Dika ingin jajan lagi.


"Ada Om Buye, Nda." Dika beralih bertepuk tangan riang dan bergerak turun dari kursi, berlari ke arah 2 orang pria yang tengah celingukkan mencari tempat duduk.


****


"Om Buye---"


Teriakan anak kecil yang familiar di telinganya, membuat Mizyan meluruskan pandangan ke depan. Tampak Dika berlari ke arahnya dengan riang.


Hap. Ia langsung menangkap bocah yang menubruk memeluk pahanya, lalu mengangkatnya ke udara. "Dika sama siapa di sini?" ujarnya sambil menggendong Dika yang melingkarkan tangan di lehernya.


"Sama Nda, sama tante---" Dika menunjukkan tangan ke arah meja dimana sepasang mata tengah menatap interaksinya.


Mizyan mengulas senyum lebar saat pandangannya bersirobok dengan sosok yang diharapkan bisa ditemuinya malam ini. Tak lagi merasa kaku di bibirnya sebab salep terbaik yang digunakan membuat luka dan lebam di wajah mulai menipis. Ia mengunci pandangan pada Rahma yang tampak kaget melihat kehadirannya.


"Boleh gabung nggak?" Mizyan dengan penuh percaya diri mendekati meja sambil menggendong Dika.


"Oh, boleh banget." Eva yang antusias menjawab dengan sudut mata melirik Rahma yang melotot padanya. "Coba aku tebak, ini pasti om buye Dika ya?!" Eva sengaja bertanya pada Dika. Tak menghiraukan tangan di kolong meja yang mencubit lengannya.


"Ini Om atu, Om Nda juja---" Dika dengan percaya diri menjawab sambil tetap melingkarkan tangan di leher Mizyan.


Semua orang tertawa melihat kelucuan Dika memperkenalkan om buye nya. Kecuali satu orang yang kini pipinya merona merah dan salah tingkah.

__ADS_1


__ADS_2