
Bogor
Di luar hujan dengan intensitas sedang belum juga reda sejak siang hari. Namun tak menyerutkan keceriaan anak-anak di dalam rumah villa. Suara tawa riang meramaikan suasana ruang tengah yang luas. Tidak ada lagi satu set sofa yang dipasang berikut meja. Pun guci-guci antik dan estetik dialihkan pajangannya ke ruang lain. Semuanya disingkirkan dan dibiarkan kosong dan lengang. Papi Mark menyingkirkanya demi memberi keleluasaan pada dua anak kembarnya yang selalu aktif. Senang bermain lari-larian, petak umpet, juga bermain sepeda di dalam rumah.
"Kei.....ayo balapan!" Cape main kejar-kejaran, Kaysan yang lebih dulu diangkat pada proses persalinan caesar, mengajak Keisha beralih bermain sepeda.
"Oke...siapa takut." Kei menerima tantangan saudara kembarnya itu. Berlari ke pojok dimana sepeda warna ungu miliknya teronggok. Tak lupa menyimpan boneka ulat sebagai batas finish balapan.
"One...two...three....GO!" Aba-aba penuh semangat diteriakkan Kay. Kei yang berkonsentrasi penuh segera mengayuh sepeda dengan semangat sembari berteriak. Finish bersamaan di depan boneka yang tidak boleh dilindas. Keduanya adu tos sembari tertawa riang.
"Sudah dulu mainnya. Waktunya mandi!" Tahu-tahu sang Ibu sudah berdiri di belakang dua bocah bule itu. Nampak sudah berganti pakaian dan tercium wangi sabun sebab baru saja usai mandi sore.
"Bentar lagi, Bu. Just ten minutes." Si cantik berambut pirang menjawab sembari mengangkat kedua telapak tangan meminta toleransi waktu.
Bu Ima menggeleng. "Papi bentar lagi pulang. Kalau belum pada mandi, gak akan dikasih oleh-oleh."
Ancaman halus itu berhasil membuat kedua anaknya patuh. Namun belum selesai sampai di situ. Di dalam kamar yang berisi dua ranjang saling berhadapan, si kembar rebutan untuk menjadi yang pertama masuk ke kamar mandi. Saling tarik menarik tangan dan tentu saja Kei kalah tenaga.
"Hwuaaaa....Ibu, pengen aku duluan mandinya." Kei berguling di lantai yang berlapis karpet empuk. Menangis dengan kencang. Merajuk pada sang ibu yang menghela nafas panjang melihat tingkah manjanya.
"Kay sayang, mengalah ya. Ladies first." Dengan lembut dan penuh kesabaran, Bu Ima merayu Kaysan yang sudah membuka pintu kamar mandi.
"Iya deh." Kay menurut. Berbalik badan menuju sang adik untuk menghibur agar tak lagi menangis. "Ayo Kei dulu mandinya. Tapi jangan lama-lama ya...nanti Papi keburu datang," ujarnya menarik tangan Kei untuk bangun.
Bu Ima mengulas senyum. Meski sering rebutan dalam hal apapun, namun pada akhirnya diantara keduanya ada yang mau mengalah. Ia pun menemani anak-anak mandi sebab Bi Ida sudah 2 hari izin gak bekerja menjadi pengasuh karena sakit.
"Assalamu'alaikum----" Papi Mark membuka pintu utama dengan ucap salam yang riang dan berbinar. Senyumnya mengembang melihat anak dan istri menyambut ceria kedatangannya usai 3 hari tak bertemu. Urusan kerja di Malang membuat mereka terpisah jarak dan waktu.
"I miss you, Papi."
"I miss you, Papi."
Usai menjawab salam, Kay dan Kei menghambur memeluk papinya dengan ungkapan rindu yang tulus. Didekap Papi Mark di kiri dan kanan sembari berjongkok menciumi kedua pipi si kembar yang sudah harum aroma minyak telon. Sama pula merindukan mereka.
Dua anaknya mendominasi. Berceloteh menceritakan kegiatan di sekolah pagi tadi. Sehingga Bu Ima harus sabar menjadi yang paling lama menunggu untuk menyalami suaminya itu.
"Miss you like crazy, Bunny----" Bisik Papi Mark dibalik punggung istrinya itu. Memeluk erat dengan segenap rindu yang menggunung.
Bu Ima hanya menjawab dengan menganggukkan kepala, di dalam dada bidang yang selalu menjadi tempat yang nyaman untuk berlabuh.
__ADS_1
"Papi...mana oleh-oleh for me!" Pelukan itu tak berlangsung lama. Diganggu oleh Kei yang mengurai dan berdiri di tengah-tengah dengan mendongak menagih janji.
Papi Mark terkekeh. Menjawil hidung kecil anak gadisnya itu yang berjingkrak-jingkrak tak sabar menunggu koper dibuka. Setelah mendapatkan oleh-oleh mainan sesuai request semalam, si kembar pun pergi dengan riang. Berpindah tempat ke ruang keluarga untuk unboxing oleh-oleh.
****
Beranjak malam, hujan intensitas sedang berganti gerimis. Cuaca dingin malam minggu terasa menggigit. Membuat malas orang-orang pergi ke luar rumah. Membuat betah bergelung di balik selimut tebal.
Mark menatap pintu kamar yang didorong dari luar. Ia baru selesai ritual bersih-bersih sebelum tidur. Lalu merebahkan badan telentang di kasur yang empuk. Nampak sang istri yang masuk dan sekaligus mengunci pintu.
"Anak-anak sudah tidur?" ujarnya sembari menepuk kasur meminta Fatimah mendekat padanya.
"Sudah, Hubby. Pada semangat tidur takutnya besok kesiangan pergi ke Bandung katanya." Fatimah terkekeh dengan keluguan si kembar yang antusias ingin bertemu sang kakak dan juga dua keponakan, Dika dan Mentari.
"Memangnya Hubby gak cape baru datang, besok udah pergi lagi," sambung Fatimah sembari memijit-mijit lengan Mark. Suaminya itu sebelum berangkat ke Malamg, sudah menjanjikan pada si kembar bahwa akan liburan ke Bandung hari minggu besok.
"Gak cape asal sekarang full charge." Mark mengerlingkan mata. Satu tangannya yang bebas menyusup ke balik baju istrinya itu.
"Hmm, modus." Fatimah mencebik. Tak urung tetap melakukan pijatan lembut beralih ke kepala.
"Hmm pijitan Bunny sungguh tiada duanya. Ini yang selalu Papi kangengin kalo lagi jauh." Merem melek, Mark memuji pijitan lembut yang seakan mengurai ketegangan saraf di kepala. Terasa cukup, lalu beralih memijat paha. Dan sentuhannya itu mampu membuat stimulus pada inti tubuh sehingga terbangun tegak.
"With a pleasure, Bunny." Mark tentu saja menyambut dengan wajah sumringah. Sangat senang dengan "kenakalan" istri salehanya itu. Yang selalu sabar mendampingi dan menuntunya belajar agama. Bajunya dibuka, memberikan keleluasaan pada Fatimah yang akan menjamunya.
"Ibu....ibu....buka!" Suara Kay terdengar keras diiringi ketukan pintu.
"Papi....Ibu....buka!" Kei juga berseru kencang sembari memutar kasar handle pintu. Tak sabar ingin segera masuk.
"Lah...katanya udah pada tidur." Mark mendesah kecewa. Servis yang baru mau dimulai harus terjeda.
"Iklan dulu---" Fatimah tergelak lepas. Tak lagi menutupi tawanya dengan tangan sejak menikah. Tawa renyah yang bisa memikat lawan jenis. Dan Mark mengakui itu. Ia sangat terpesona begitu pertama kali menyaksikan wajah sang bunga desa saat tertawa renyah. Merasa terhipnotis. Dan sampai sekarang pun selalu terpesona.
Si kembar dengan balap berlarian menuju ranjang begitu pintu terbuka. Melewatkan sang ibu yang sudah membukan mulut akan bertanya.
"Papi aku mau bobo di sini." Kay lebih dulu buka suara begitu naik ke atas ranjang.
"Aku juga, Pi. Kata Kay kalau bobonya sama Ibu sama Papi, gak akan ketinggalan ke Bandungnya. Ya Pi ya....plisss." Kei tak kalah merajuk memberi alasan.
"Eh, wait---! Kenapa Papi gak pakai baju?!" Kei yang riang sambil loncat-loncat di kasur mendadak menghentikan gerakannya. Mata hazelnya menatap penuh selidik sembari meraba kening papinya yang hanya diam dalam kepasrahan.
__ADS_1
"Papi ini cuaca dingin lho. Nih kayak aku pakai baju hangat. Papi malah pakai celana pendek dan gak pakai baju. Papi bisa masuk angin kalo gak pakai baju." Kei nyerocos menceramahi Papi Mark yang nampak meringis sembari memijat pelipis.
"Tuh kan bener...Papi jadi pusing." Ujar Kay dengan yakin. Lalu beranjak turun dari ranjang meminta baju hangat pada sang ibu yang sedang senyam senyum di sofa.
"Ibu, minta baju hangat buat Papi. Kasihan Papi pusing." Ujar Kay dengan wajah khawatir.
"Sebentar---" Fatimah menuruti keinginan Kay. Mengambil sweater dan juga celana panjang yang lembut dan hangat.
Dan si kembar pun membantu papinya memakai baju dan celana. Papi Mark hanya bisa pasrah menuruti perintah kedua bocah bule berusia 5 tahun itu.
"Kenapa terbangun? Tadi kan sudah pada tidur nyenyak?" Fatimah mulai mengintrogasi saat si kembar sudah mengambil posisi tidur di tengah diapit Papi dan Ibu.
"Tadi aku dibangunin Kay, Bu. Ngajak pindah bobonya di kamar Ibu. Takut besok kesiangan terus ditinggalin deh." Kei mengadu.
"Aku gak bisa tidur, Bu. Keinget Babang dan Mentari." Kay mengemukakan alasannya. Merasa nyaman menyebut Dika dengan panggilan Babang.
"Gak mungkin ditinggalin atuh. Lagian berangkatnya juga siang. Dan Ibu udah bilang berkali-kali." Fatimah menjelaskan untuk yang kelima kalinya sejak tadi sore sang anak bertanya. "Mau pindah lagi bobonya? ibu kelonin lagi yuk!" sambungnya membujuk anak-anak yang memeluk guling dengan erat.
Di jawab si kembar dengan gelengan kepala dan menarik selimut sampai leher.
Papi Mark memiringkan badan dengan satu tangan menopang kepala. Ia harus mengalah dengan kemauan si kembar. "Oke, sekarang harus bobo. Jangan ada yang bicara. Kalau masih bersuara, acara ke Bandungnya dicancel."
Membuat Kay dan Kei memejamkan mata dan mengatupkan bibir. Masing-masing memeluk erat guling tak lagi bersuara.
Fatimah dan Mark saling pandang dan mengulum senyum. Suasana kamar senyap lagi usai keributan hampir setengah jam lamanya tadi.
Satu jam berlalu. Mark memastikan lagi apakah si kembar benar-benar sudah lelap atau pura-pura tidur. Dan dipastikan aman.
Perlahan Mark turun dari ranjang. Beralih mencolek lengan Fatimah yang terbawa mengantuk selama menunggui anak-anak lelap.
"Bunny, pindah dulu yuk!" Setengah berbisik Mark mengajak mengungsi ke kamar si kembar. Ia ingin menyalurkan rindu selama 3 hari tidak tidur bersama dengan istri yang begitu dicintainya itu.
Fatimah terduduk sembari menguap. "Kirain mau dipending aja." Ia menggoda sang suami yang nampak sudah berkabut hasrat.
"Mana bisa. Yang ada malah insomnia." Mark segera menarik tangan Fatimah. Sudah tidak sabar memulai appatizer setelah terpotong iklan.
...********...
Aku kabulin permintaan bonchapnya.
__ADS_1
Sok atuh kasih sajen kembang dan kopi yang buanyakkkk. Biar ada bonchap berikutnya. 😎