MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
96. Cerita Yang Terjeda


__ADS_3

Tak terasa sudah 30 menit tidur sambil memeluk Rahma. Mizyan menggeliat, meregangkan tangan. Mendongakkan wajah menatap sang istri sehingga pandangan saling bersirobok. Keduanya saling mengulas senyum.


Cup.


Satu kecupan mendarat di pipi kanan istrinya itu. Mizyan menggulingkan badan menjadi telentang diiringi mulut yang menguap.


Rahma memiringkan badan ke arah Mizyan yang tengah menguap untuk kedua kalinya. "Kalau masih ngantuk tidur aja lagi. Aku order makanan dulu. Belum makan siang kan?"


"Udah cukup, sayang. Yang penting kualitas bukan kuantitas." Mizyan merubah posisi menjadi duduk. Memutar pinggang ke kiri dan ke kanan. "Makan diluar aja yuk, sekalian jemput Dika. Kita pulang ke apartemen."


Rahma mengangguk. Menurut akan perintah sang suami. "Mas, sudah sholat?"


"Sudah di bandara."


Rahma lebih dulu turun dan bersiap. Usai cuci muka dan touch up wajah serta memasang kerudungnya, ia mengecek ponsel yag disimpan di laci. Ada 3 panggilan video dari Uma, bisa dipastikan Dika yang melakukannya. Benar saja begitu dihubungi balik, wajah Dika memenuhi layar sembari merajuk menanyakan kenapa belum juga pulang. Ia mengulas senyum.


"Bunda bentar lagi pulang, sayang. Nih liat ada siapa---" Rahma mengarahkan ponsel pada pria yang berjalan mendekatinya. Disambut Mizyan dengan melongokkan wajah di layar dengan senyum lebar sembari merangkum bahu Rahma.


"Papa--"


"Papa Buye atu, holeee---"


Di sebrang sana Dika menjerit riang dan berjingkrak girang. Tampak video menjadi jumpalitan sebab euforia bocah itu yang tanpa sadar membuat ponselnya melorot dari dudukan. Membuat Rahma dan Mizyan tertawa lepas melihat kelakuan bocah itu.


Di jalur pulang ada rumah makan dengan menu sop buntut enak. Keduanya mampir dulu dan makan siang pun dilakukan dengan cepat. Mengingat Dika lagi-lagi menghubungi bertanya sudah sampai mana.


Sampai di depan rumah ternyata pintu pagar sudah terbuka lebar. Mizyan memasukkan mobil perlahan dan hati-hati sebab Dika sudah berlari menghampiri pintu mobil. Baru juga menurunkan kaki, Dika sudah ribut mengangkat kedua tangan minta digendong. Dengan senang hati Mizyan mengangkat tubuh montok itu ke udara.


"Euleuh-euleuh...segitunya yang seneng papanya pulang." Ceu Imas tahu-tahu sudah muncul di pekarangan. Menyaksikan cucunya Uma yang tergelak senang kala tubuh diangkat-angkat ke udara. Berdiri dekat Rahma yang tersenyum serta geleng-geleng kepala melihat Dika yang manja. Uma yang duduk di kursi teras pun mengulas senyum. Dalam hati merasa bersyukur mendapatkan menantu kedua yang tulus menyayangi sang cucu.


Mizyan mencium tangan Uma. Juga menyalami ceu Imas yang tampak kegeeran dengan mendekap tangan di dada. Seolah takut, rasa dari sentuhan kulit mas bule menguap diterpa angin.


"Ayah kemana, Uma?" Mizyan mengedarkan pandangan melihat di dalam rumah yang sepi.


"Ayah lagi pergi sama Pak RT. Katanya sih mau ada bisnis bareng." Sahut Uma.


Sampai satu jam berada di rumah sang mertua. Selepas sholat Ashar Mizyan pamit kepada Uma untuk pulang ke apartemen membawa Rahma dan Dika. Tak lupa menitipkan salam pada Ayah yang masih belum datang menjelang senja ini.


****


Keriangan Dika nyata terlihat oleh mata sejak bertemu Mizyan. Melepas rindu dengan bermanja-manja dengan menempel terus. Meminta mandi bareng Papa yang dengan senang hati mengabulkan. Membuat Rahma menjadi bimbang untuk menanyakan perihal ucapan Alex tempo hari.


"Masih penting gak ya menanyakan soal masa lalu? Gimana jika Mas Mizyan tersinggung?" Rahma menimang-nimang dalam hati. Ia tidak mau gegabah akan dampaknya nanti. Melihat suasana bahagia kini tengah melingkupi seisi rumah.

__ADS_1


"Tapi aku penasaran sih." sisi batinnya protes kala terjadi adu argumen dua sisi yang berbeda dalam hati. Mungkinkah itu perdebatan sisi baik dan sisi jahat.


Suara tawa terdengar dari dalam kamar mandi, membuyarkan lamunannya. Memilih pakaian ganti untuk anak dan suaminya menjadi aktifitas yang lama sebab dilakukan sambil melamun. Rahma membuka pintu kamar mandi dalam kamarnya. Melongokkan kepala dan menyaksikan 2 pria beda generasi itu malah asyik bermain meniup-niup gelembung sabun di bathub.


"Ya Allah, malah pada main sabun. Kapan beresnya kalau gini." Rahma mendekat sembari geleng-geleng kepala. Mengajak Dika turun untuk membersihkan busa sabun dengan air shower.


"Ga mau...atu mau sama Papa. Nda juja halus mandi." Dika mencipratkan air sambil tertawa lepas.


"Eh Bunda nanti mandinya abis Dika sama Papa. Makanya buruan udahan ya. Kalau lama nanti berubah jadi kakek-kakek hiiii." Rahma pun menunjukkan jemari Dika menjelaskan bahwa nanti bakalan keriput kalau terlalu lama berendam dalam air. Bukannya takut Dika malah bergeser memeluk Papa buye sambil terkikik.


"Papa, udah dong. Udah setengah jam ini." Rahma memelas menatap Mizyan. Hanya dia yang bisa membujuk Dika.


"Siap, boss. Tapi bikinin kopi ya. Tadinya abis mandi pengen susu segar tapi nanggung ah kenyangnya cuma setengah. Ngopi aja deh gantinya. " Mizyan mengerlingkan mata nakal.


"Nda, atu mau susu syegal juja." Dika mengacungkan tangannya sama-sama request terhadap bundanya.


Mizyan tergelak melihat Rahma yang melotot dan manyun tanda protes dengan ucapannya. "Dika nggak ada susu segar. Buat Dika susunya yang diseduh di gelas kan ya? Yang anget. Nanti minumnya barengan sama Papa." Ia meralat maksud bocah yang ikut-ikutan ucapannya dengan polos. Yang dijawab bocah itu dengan anggukkan.


"Filter Papa, filter....kalau bicara dekat dia." Rahma menepuk jidat lalu membalikkan badan melangkah keluar kamar mandi. Masih terdengar kekehan Mizyan kala ia menutup pintu kamar mandi.


Segelas kopi dan segelas susu disajikan Rahma di meja. Tak lama Mizyan dan Dika keluar dari kamar dengan pakaian santai dan wajah segar. Berjalan ke ruang keluarga menghampiri bunda Rahma yang tengah duduk di sofa menatap layar televisi. Discovery chanel menjadi tayangan yang dipilih agar Dika menonton sambil belajar mengenal hewan-hewan.


"Giliran Bunda yang mandi. Itu kopi Papa sama susu Dika." Rahma menunjuk 2 gelas di meja sebelum beranjak menuju kamar.


"Thank you Bunda." Jawab Mizyan.


"You're welcome, kesayangan Bunda." Rahma memberi ciuman di pipi 2 pria penting dalam hidupnya itu. Kemudian berlalu untuk mandi sore.


Cukup 20 menit untuk mandi dan berdandan minimalis dengan memoles bibir dengan sheer color serta bedak tipis-tipis, tak lupa menyemprotkan parfum lembut. Rahma kembali bergabung dengan membawa segelas teh melati yang masih mengepulkan uap panas.


Mizyan menyimpan ponselnya di meja kala Rahma duduk di sisinya. Dika anteng menonton dengan mendekap toples biskuit di dada. Mulutnya bergerak-gerak mengunyah biskuit berbentuk aneka binatang kesukaannya.


"Sayang, selama aku pergi apa ada kabar dari bu Indah atau Alex?" Mizyan memainkan ujung rambut Rahma yang digerai dengan menggulung di jarinya. Mencium wangi floral yang lembut menguar dari rambut hitam lurus itu. Tadi Asep Oray sempat akan menyampaikan laporan. Namun ia tahan dulu, memilih segera masuk ke toko. Tak sabar ingin segera bertemu Rahma.


Apa ini kesempatan untuk bertanya tentang masa lalunya?


Rahma tak langsung menjawab. Tercenung dengan pertimbangan yang kembali mencuat di hati.


"Malah bengong." Mizyan mengecup pipi Rahma yang lalu tergeragap. "Apa ada masalah?" sambungnya dengan kedua alis bertaut.


"Bentar lagi ngatur nafas. Kan baru aja duduk." Rahma berkilah. "Tidak ada kabar dari mama Indah. Kalau Alex iya. Kemarin dia datang ke toko. Tapi kang Asep menghadangnya di luar. Sempet menarik perhatian pengunjung toko soalnya Alex marah-marah karena gak dibolehin masuk."


"Aku minta Asep bawa Alex pindah ke sudut parkiran." Pungkas Rahma.

__ADS_1


Mizyan memiringkan tubuhnya. Memandang lekat wajah yang cerah dan segar di sisinyaitu. "Bocah ingusan itu mau apa?" ucapnya terdengar kesal.


"Seperti yang Mas perkirakan, Alex mau ngasih rekaman percakapan. Tapi aku tolak dengan alasan lagi banyak kerjaan. Dan nyuruh dia pulang saja, aku bilang suami lagi ke luar kota dan tidak mengijinkan bertemu dengan Alex. Dia akhirnya nurut tapi ujung-ujungnya ngejelekkin kamu, Mas."


Rahma menjeda. Menatap ke dalam manik mata hazel untuk melihat reaksi atas ucapan terakhirnya itu. Tampak Mizyan mengalihkan pandangan ke depan bahkan tangan terulur meraih kopi di meja dan meminumnya pelan-pelan. Sesaat belum ada lagi percakapan sebab Mizyan mengecek ponsel dan mengetik cepat seolah sedang membalas pesan penting.


"Dia bilang apa?" Mizyan setengah enggan.yang terdengar dari intonasinya, melanjutkan lagi pembahasan soal Alex.


"Alex bilang----"


"Hwua....hwua......Nda....hwua..."


Jeritan kencang disertai tangis Dika membuat Rahma urung melanjutkan ucapannya. Ia maupun Mizyan terkejut dan tak mengira jika Dika sudah tidak ada di sofa. Padahal kala mereguk kopi, masih tertangkap dengan sudut mata jika bocah itu masih anteng dengan biskuitnya di ujung sofa.


"Ya Allah, Dika kenapa?" Rahma membalikkan sang anak yang telungkup di lantai dekat ruang makan masih dengan menangis meraung-raung kesakitan. Tampak toples dan gelas kosong bekas susu terpental di depan.


"Sini sama Papa--" Mizyan beralih menggendong Dika dengan bibir bawah anak itu yang mengeluarkan darah. Bahkan tampak pula di lantai granit setetes darah bercampur air liur. Ia berusaha menenangkan sambil mengusap-ngusap punggung.


"Bun, ambilin minum air hangat!"


Rahma yang masih syok segera menuju dapur menuangkan air hangat ke gelas. Setengah berlari menuju sofa yang tadi.


"Minum dulu, sayang." Rahma ikut mengusap-ngusap rambut Dika dengan wajah yang masih panik. Menyaksikan Mizyan yang mengelap bibir bawah Dika yang mengeluarkan darah segar.


"Mana lagi yang sakit, sayang." Rahma menyasar tubuh buah hatinya itu yang mulai terisak pelan dalam pangkuan Papa Buye.


"Ini atit, Nda...hiks." Dika menunjuk dagu dan bibirnya dengan air mata yang kembali luruh.


"Cup cup cup...jagoan Papa kan kuat. Nanti kita mau negok lagi sapi atu sambil naik kuda. Mau kan?" Mizyan mengecup puncak kepala Dika. Menenangkan dengan bujukan. Ia lebih bersikap tenang jauh dengan Rahma yang tampak berkaca-kaca dan syok dengan kejadian tak terduga barusan.


"Sapi atu, sapi papa, sapi nda, sapi opa juja---" Dika mendongak dengan sisa air di sudut mata. Meralat dengan suara serak ucapan sang Papa.


"Ah iya Papa lupa. Harus diabsen semua ya." Mizyan terkekeh. Menyeka sudut mata sang bocah dengan jarinya.


Rahma sedikit mulai tenang melihat Dika hanya menyisakan isakan. "Dika sepertinya jatuh dengan dagunya terantuk lantai."


"Lihat giginya, sayang" Ia perlahan membuka mulut sang anak yang sedikit meringis dengan bibir bawah yang kini bengkak, sudah tidak berdarah lagi. Darah yang mengucur tadi akibat tergigit bibir kala jatuh telungkup. Beruntung gigi susunya yang berderet rapih tidak ada yang tanggal ataupun goyang.


"Dika tadi mau kemana hmm? Kenapa gak bilang sama Bunda--"


************


Sudah jarang yang nyuguhin kopi sama atu...padahal lg ujan disini. 😔

__ADS_1


Ayolah suguhannya yg banyak kali aja mata dan tenaga masih kuat utk ngasih dobel up.


#Ngarep wkwkwkwkwk


__ADS_2