MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 35. Menghargai Perbedaan


__ADS_3

Kantong kresek putih yang dipegang wanita itu lepas begitu saja dari genggaman. Sebab tubuh yang menegang dan tangan yang bergetar dengan mata menatap lurus sosok pria jangkung yang berdiri berhadapan dengan jarak selangkah.


"Mi--Miki---" Wanita cantik yang berusia kepala lima namun tampak muda itu bergetar menyebut nama kecil Michael alias Mizyan sebagai nama panggilan kesayangan. "Benarkah ini Miki?!" Ia masih tidak yakin dengan penglihatannya. Tampak memindai dari atas sampai bawah sosok yang kini mengulas senyum lebar. Meski sekian lama tak bersua, tapi garis wajah blasteran itu masih diingatnya betul.


Mizyan, mendapat perlakuan shock wanita dengan tampilan modis itu mengangguk dengan mata tampak berkaca.


"Yes, Mam. It's me."


Mizyan menurunkan tubuhnya, berdiri bertumpu dengan kedua lututnya. Lalu memeluk kaki ibu yang ia tinggalkan belasan tahun itu. Tak peduli panas terik yang menyengat. Mengacuhkan pandangan heran orang-orang yang menoleh dengan wajah penuh keheranan. Ia bersimpuh di bawah kaki ibunya diiringi setitik dua titik air mata yang lolos sebab haru, sedih, bahagia, melebur menjadi satu.


"Nak, kamu harus bersikap lebih baik kepada orang tua dibanding sebelum masuk Islam."


"Apa yang orang tua katakan jika bertentangan dengan Al-Quran, maka harus ditolak. Selain dari itu, patuhi dan sayangi mereka."


"Tunjukkan adab seorang anak yang soleh meski orangtua berbeda agama."


Ia mengingat betul petuah ustad Ahmad kala berpamitan untuk mencari keberadaan orangtuanya. Sebagai manusia yang terlahir dengan sikap dan hati yang baru sejak menjadi seorang muslim, ia mengangguk patuh terhadap nasehat gurunya itu.


"Mami----maafkan aku." Mizyan mendongak sesaat menatap ibunya yang hanya mematung dengan berurai air mata. Ia terpejam kala air mata ibunya itu jatuh menimpa wajahnya.


"Bangun, Miki." Tangan halus itu merengkuh bahunya meminta untuk berdiri. Dengan cepat, tangan yang dulu menuntunnya belajar berjalan, kini memeluknya dengan tangisan yang menyayat. Sebab rindu dan penyesalan yang melingkupi hati belasan tahun lamanya kini tumpah ruah.


Tak ada kata yang terucap, hanya ada tangisan sedu sedan seorang ibu yang memeluk erat anaknya seolah takut jika terlepas akan hilang lagi. Mizyan membiarkan sang ibu yang menangis di dadanya. Ia balas memeluk erat dan mengusap-usap punggung ibunya itu dengan hati membuncah keharuan dan kebahagiaan.


"Mami, maafin aku."


Mami Kanti menggeleng sambil merangkum wajah Mizyan yang sedikit menunduk agar sejajar dengan wajah ibunya yang masih terisak itu.


"Mami yang salah. Semua gara-gara keegoisan Mami."


"Maafin Mami, Miki. Harusnya Mami yang bersimpuh di kakimu."


"Mami apa-apaan---" Mizyan menahan tubuh ibunya itu yang akan turun menyentuh kakinya. Ia kembali memeluk tubuh ramping yang tampak lemas itu. Kembali saling menyalurkan kerinduan.


Sepanjang perjalanan menuju rumah, Mami Kanti tidak melepas genggaman tangan dan tatapan matanya pada Mizyan yang duduk di jok sampingnya.


"Mami nggak nyangka punya anak seganteng ini." Ada sorot kebanggaan terpancar dari kedua bola mata Mami Kanti kala tangannya mengusap rahang kokoh Mizyan yang kasar dipenuhi titik-titik hitam. Di balik kursi kemudi, sopir tampak fokus melajukan kendaraan dengan sangat halus menuju rumah berjarak 4 km lagi. Membiarkan ibu dan anak di jok tengah yang saling melepas rindu.


"Mami bisa aja." Mizyan terkekeh sambil matanya menatap wajah cantik dengan sedikit kerutan di dahi dan sudut mata. Wajah yang menampakkan binar kebahagiaan.


"Mami apa kabar? Aku sampai lupa nanya keadaan Mami saking excited." Ia mengusap punggung tangan sang ibu usai tangan itu membelai rambutnya.


"Puji Tuhan. Keadaan Mami sangat baik setelah ketemu kamu, Miki."


Mizyan mengulas senyum tipis. "Mam, ada banyak hal yang ingin aku ceritakan."


"Mami juga sama. Nanti kita bicara di rumah, sayang."

__ADS_1


Ia mengekori Mami yang menuntunnya begitu turun dari mobil seolah menuntun anak kecil. Dengan pasrah ia menuruti kemauan ibunya itu yang membimbingnya memasuki rumah dengan terus-menerus mengembangkan senyum.


"Papa---"


"Liat siapa yang datang!"


Mizyan memicingkan mata melihat orang yang dipanggil 'Papa' oleh ibunya itu yang tengah rebahan di sofa dengan mata terpejam. Wajah itu....


"Jangan, Mas. Nanti ada orang datang."


"Bibi udah tak suruh beli rokok. Miki masih sekolah. Once more baby----"


Ia cukup dewasa untuk melihat adegan dewasa dari kaca hitam berukuran kecil yang menempel di pintu penyekat ruang tamu dan ruang tengah yang tertutup rapat. Begitu bubar sekolah lebih awal, ia masuk ke rumah lewat pintu belakang sebab melihat mobil asing terparkir di pekarangan. Awalnya ia malas jika harus bertegur sapa dengan tamu orangtuanya jika masuk lewat pintu depan. Namun nyatanya, matanya mendapat suguhan yang membuat tubuhnya panas dingin. Adegan kissing di ruang tamu...


"Sayang, hei kenapa melamun."


"Kenalin ini Papa Suryo. Ini Morgan adikmu, masih kelas 2 SMP."


"Morgan, ini Mas mu yang sering Mami ceritakan."


Pikiran Mizyan masih flashback di masa lalu kala Mami Kanti menepuk bahunya dan menperkenalkan 2 pria yang telah berdiri di depannya.


"Wow, gimana ceritanya bisa bertemu?" Suryo menatap bergantian terhadap Kanti dan Mizyan usai bersalaman dan memeluk Mizyan bergantian dengan Morgan. "Padahal kita nyari di Bali tapi bisa bertemu di rumah."


Giliran Mizyan yang mengernyit menatap Maminya dengan sorot mata penuh tanya akan maksud papa tirinya itu.


"Mami sama Papa, sama adikmu, 2 hari yang lalu berangkat ke Bali untuk mencarimu."


"Tapi Tuhan malah mempertemukan kita di sini. Di rumah makan Padang tadi."


"Setiap kangen kamu, Mami suka beli gulai kepala kakap kesukaanmu."


Mami Kanti mengakhiri cerita dengan mata berkaca diiringi senyum cerah.


"Papa Suryo itu siapa?" Momen berbicara 4 mata yang ditunggu-tunggu Mizyan dari tadi akhirnya datang. Sebuah kursi panjang di teras belakang yang menghadap kolam renang menjadi tempat berbincang yang nyaman.


"Dia itu----"


"Selingkuhan Mami dulu?!" Ganjalan yang ada di hatinya usai bertemu muka dengan pria seumuran maminya itu pun loloa dari mulutnya.


"Maafin kesalahan masa lalu Mami, Miki." Kanti tidak mengelak akan tuduhan anaknya itu. "Tapi Papi mu juga melakukan hal sama. Jangan salahin Mami aja." pintanya dengan tatapan memelas.


Mizyan menghembuskan nafas kasar. "Aku mencari keberadaan Mami bukan untuk menghakimi. Biar itu jadi masa lalu." Ia memperhatikan sang ibu yang menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.


"Papi ada di mana?"


Kanti menggeleng. "Sejak bercerai, kita loss contact. Tak lagi saling peduli dengan kabar masing-masing. Kita memang egois."

__ADS_1


Mizyan tak berminat menyalahkan sikap orangtuanya itu. Sekarang sudah bukan saatnya. Yang ia inginkan adalah menjalin lagi pertalian hubungan yang teeputus.


"Kamu kemana aja selama ini, Miki?!"


"Kenapa sulit sekali mencarimu."


"Aku berpindah-pindah tempat, Mam."


"Naik turun truk kosong karen gak punya ongkos. Pernah jadi gelandangan, tidur di emper toko atau pos ronda, ngamen di pasar----"


"Ya Tuhan. Maaafin Mami, sayang." Kanti mencekal lengan Mizyan sambil menggelengkan kepala. Ia tak sanggup mendengar kelanjutan cerita si anak hilang itu. "Nasibmu jadi buruk gara-gara Mami."


Mizyan menggeleng. "Keperihan telah membuatku berpikir dewasa. Saat itu, iya aku marah pada keadaan, benci pada Mami Papi. Tapi pengalaman pahit manis yang kulalui telah mengajarkan arti hidup yang sesungguhnya. Hidup yang bermanfaat dan memberi manfaat."


Mizyan menggenggam tangan halus sang ibu yang duduk miring menghadapnya. "Mami, aku sudah menjadi muslim."


Ada roman keterkejutan yang tertangkap oleh indera penglihatan Mizyan.


"Sejak kapan?"


"Kenapa pindah agama?"


Pertanyaan dengan mimik masih tak percaya terlontar dari mulut Kanti.


"Sudah jalan 2 tahun, Mam."


"Awalnya aku sering melihat teman-temanku yang muslim wajahnya begitu cerah dan tenang kalau abis sholat."


"Hatiku makin tertarik saat adu debat dengan mereka. Jawaban setiap pertanyaanku dijawab logis."


"Hidupku makin terarah dan bahagia sejak masuk Islam, Mam." Ia menatap sang ibu dengan binar kesungguhan jika pilihannya sangat tepat.


"Mami hargai pilihanmu." Kanti mengusap bahu Mizyan dengan tatapan penuh sayang. "Please, jangan jauhi Mami meski kita beda keyakinan."


"Mami salah." Mizyan menggeleng tak setuju. "Justru aku diingatkan oleh ustad Ahmad, guruku. Untuk mencari Mami dan Papi. Diingatkan untuk selalu berbakti meski kitq berbeda."


"Mizyan Abdillah." Kanti mengeja nama yang tertera di kartu nama yang diberikan Mizyan.


"Itu namaku setelah menjadi muslim." Mizyan tersenyum penuh kebanggaan.


"Kamu arsitek?!" tatap Kanti tak percaya melihat Mizyan yang mengangguk. "Biaya kuliah dari mana, Miki?" lanjutnya masih tak percaya anaknya mampu mandiri.


"Dari hasil ngamen, jadi sopir angkot, ngorder ngegambar dor to dor----"


"Ya Tuhan. Sungguh nggak nyangka anak Mami udah sukses." Kanti memeluk Mizyan penuh haru usai mendengar penuturan tentang job yang tengah dipegangnya sampai sekarang serta ajang lomba yang pernah diikutinya.


"Bolehkah Mami tetap memanggilmu Miki? Karena itu nama kesayangan untukmu." Harap Kanti masih tak ingin melepaskan tatapannya terhadap wajah tampan yang beraura cerah itu.

__ADS_1


"Up to you, Mam."


__ADS_2