MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 65. Step by Step


__ADS_3

Restoran Korea menjadi pilihan Mizyan untuk mengajak Rahma dan Dika makan siang. Anggaplah sebagai perayaan sebab telah berhasil mendapat tiket dari Pak Badru dan Uma.


Rahma menyapukan pandangan ke sekitaran resto yang baru dikunjunginya itu. Biasanya ia mengunjungi resto Korea yang ada di mall saja. Di sini, semua ornamen dan propertinya sengaja dibuat Korea banget, mulai dari bangku, meja lesehan, bantal duduk, hingga rumah tradisional Korea juga ada. Duduk lesehan menjadi pilihan agar lebih santai, apalagi Dika yang tidak bisa diam meraba-raba properti yang ada di dekatnya.


"Pak Badru pinter ngeprank juga ya." ujar Mizyan disela memperhatikan menu all you can eat yang baru disajikan pramusaji di meja lesehannya. "Aku hampir berhenti bernafas denger Pak Badru bilang TIDAK."


Membuat Rahma terkekeh melihat Mizyan yang menggeleng-gelengkan kepala dengan wajah konyol.


"Rahma, apa yang ingin kamu ketahui tentang aku? Bilang aja. Jangan sampai kita menikah tapi masih merasa sebagai orang asing."


"Hm, apa ya." Rahma tampak berpikir. Ia yang sudah bersiap menyuapkan beef bulgogi ke mulutnya, urung dan menyimpan sumpit di piringnya. Namun malah berganti sumpit yang diulurkan Mizyan ke depan mulutnya berisi Japchae, merupakan mie khas Korea.


Rahma menggeleng. Namun Mizyan memaksanya membuka mulut. "Cobain, Bun. Kalau menurutmu enak aku makan juga." Ujarnya dengan cuek menyuapi Rahma yang terpaksa membuka mulut dengan pipi yang sudah sangat merah seperti tomat.


"Ihhh, Nda dicuapin Papa ihh----" Dika berhasil membuat bundanya makin malu dan salah tingkah. Mana bocah itu terkikik-kikik dengan telunjuk yang mengarah pada wajahnya.


"Gimana enak gak?" Mizyan menatapnya dengan cuek tak ikut menggoda seperti Dika. Cukup dalam hati bersorak girang dan merasa gemas melihat wajah kemerah-merahan yang duduk di depannya itu.


"Enak, Mas. Yang lainnya juga pasti enak soalny dari aromanya aja bisa ketebak." Rahma memilih cara aman demi menghindari Mizyan yang mungkin modus akan menyuapinya lagi. Bisa-bisa nanti tersedak, ujarnya dalam hati.


Dika menggeleng untuk disuapi. Memilih ikut-ikutan mengambil makanan seperti yang diambil Mizyan bahkan dibantu dapat suapan dari Papa Buye nya itu.


"Hm, keluarga Mas agamanya apa? Terus Mas berapa bersaudara?!" Rahma kembali pada tema kenal-mengenal yang tadi sempat terjeda sebab keisengan Mizyan menyuapinya.


"Keluargaku Katolik, hanya aku aja yang muslim. Aku punya 1 adik tiri dari pernikahan Mami. Namanya Morgan, masih SMA."


"Oh ya, pekerjaanku tukang gambar keliling. Penghasilan tiap bulannya tak menentu tergantung job. Apa kamu tidak keberatan dengan penghasilan tak pasti ini?"


Rahma menggeleng. "Bukan seberapa besarnya penghasilan, yang penting tanggungjawabnya."


"Malah Mas yang harus pikir ulang, barangkali nantinya minder punya pendamping sepertiku. Karena aku hanya lulusan SMA dan pesantren. Dulu tidak sempat kuliah, memilih mengabdi sebagai guru madrasah dan guru ngaji di pelosok pulau. Terus ikut kursus tata boga sampai ikut ajang beberapa lomba karena passionku dibidang itu. Akhirnya bareng sepupu buka toko kue pertama di Jakarta."


"Aku mencari istri bukan mencari sekretaris, Bun. Dan aku adalah laki-laki yang very lucky bisa mendapatkan hatimu." Mizyan mengulas senyum khasnya sembari menatap hangat ke arah Rahma yang tersipu malu.


Usai makan siang bersama, Mizyan mengantar Rahma yang ingin ke toko sebentar sekadar untuk memonitor. Ada Fitri yang menyambut kedatangan mereka sambil mengulum senyum. Sebab Mizyan menggendong Dika yang tertidur di mobil, berjalan paling depan menuju tangga. Tentu saja tatapan karyawan lain yang juga senyum-senyum saling tatap, melihat bossnya yang datang satu mobil dengan pria yang sudah beberapa kali datang ke toko mencuri perhatian semua mata.


"Ehem---" Fitri berdehem pelan di samping Rahma yang berjalan tertinggal jauh di belakang sebab mengambil beberapa cake untuk dibawa ke atas.


"Hei...apa maksudnya itu--" Rahma mencubit lengan Fitri meski ia tahu karyawan kepercayaannya itu tengah menggodanya.


"Mbak dan Mas Mizyan couple goal deh." Fitri membulatkan jari tangannya diiringi kedipan sebelah mata. Tak ada jawaban dari mulut Rahma. Malah kembali mencubit lengan Fitri sampai mengaduh namun berakhir dengan kekehan begitu Rahma berlalu menyusul Mizyan menaiki tangga.


Tampak Mizyan tengah membuka sepatu Dika yang terlelap di atas ranjang, lalu menyelimutinya dan berakhir dengan mengecup kening bocah yang tampak pulas dengan wajah tenang. Semua itu tak luput dari perhatian Rahma yang berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


"Besok pagi aku akan berangkat ke Bogor menemui Papi. Seterusnya pergi ke Semarang menemui Mami. Take care selama aku pergi."


"Mas pergi berapa lama?" Rahma menolehkan wajah menatap Mizyan yang kini berdiri di depan jendela ruang kerjanya, menatap hilir mudik kendaraan di jalan raya.


"Kurang lebih seminggu. Pokoknya secepatnya aku pengen selesaikan segala urusan. Aku juga udah gak sabar pengen segera mengkhitbahmu."


Sebaiknya kamu gak tahu dulu kalau mantan mertuamu ada niat buruk.


Mizyan memandang dengan penuh rasa sayang terhadap Rahma yang tengah menatap lurus ke depan menembus kaca jendela.


"Lama ya---gimana kalau aku rindu?!"


Mizyan menjadi gemas sendiri melihat Rahma yang merajuk dengan tatapan sendu. Baru kali ini ia melihat sisi lain dari wanita yang biasanya terlihat tegar dan mandiri serta kadang jutek. Jadi ingin memeluknya, untuk menyalurkan ketenangan.


"Kalau kamu seperti itu aku jadi berat untuk pergi." Keluh Mizyan sembari menahan gejolak di dada yang ingin sekali mendekap erat wanita pujaannya itu.


Rahma mengulas senyum sembari menatap lembut calon imamnya itu. "Pergilah, Mas. Semoga Allah mudahkan segala urusannya."


****


Bogor


Mizyan turun dari mobil bersamaan dengan Rangga yang juga baru memasuki halaman villa menggunakan motor trail. Ia berdiri dengan tangan bersidekap di dada menunggu Rangga yang tengah membuka helm cross nya.


"Gimana kabar kasusnya Rahma?" Tanya Mizyan usai keduanya beradu tos.


"Apa mau dilanjut atau cabut laporan?" Rangga menatap Mizyan yang terlihat tengah berpikir keras.


"Biarin aja dulu berjalan. Siapa tahu ada kaitannya dengan kebun sengon."


"Maksudnya?!" Rangga mengerutkan kening merasa belum faham dengan ucapan Mizyan.


"Nanti kita ngobrol lagi. Gue mau ketemu Papi dulu. Papi ada di mana?"


"Pak Mark lagi meditasi di gazebo belakang."


Mizyan menepuk bahu Rangga sebelum berlalu masuk ke dalam villa. Dari balik jendela kamarnya, ia bisa melihat Papi Mark yang tengah duduk sila di gazebo halaman belakang tengah melakukan meditasi seperti yang Rangga bilang. Ia memilih menjatuhkan badan ke ranjang empuknya untuk istirahat sejenak usai perjalanan pagi yang ramai lancar.


"Lama ya---gimana kalau aku rindu?!"


Terngiang lagi ucapan Rahma kala kemarin. Ia begitu senang dengan perkembangan hubungan dimana Rahma semakin menunjukkan perasaannya. Membuatnya tersenyum sendiri sebab merasa dirinyalah yang kini mulai dilanda rindu padahal belum sehari sejak sore kemarin mengantarkan Rahma pulang ke rumahnya.


"Aku sudah sampai Bogor, Bun." Ia mengirimkan pesan pada bundanya Dika yang tadi pagi memintanya untuk mengabari jika sudah sampai.

__ADS_1


Meski hari menjelang siang, udara di sekitaran villa tak terasa panas. Tetap sejuk dengan oksigen bersih yang bersumber dari banyaknya pepohonan hijau mengelilingi. Tampak burung-burung berkicau riang sambil bertengger di ranting pohon cemara. Sebagian beterbangan naik turun dahan pohon sambil membawa ilalang kering untuk dijadikan sangkar. Mizyan memperhatikan itu semua. Menarik pelajaran berharga tentang bagaimana tekun dan sabarnya seekor burung membuat sangkar untuk tempatnya bertelur nanti.


"Kapan datang?"


Mizyan yang menikmati secangkir kopi di dekat gazebo menoleh ke asal suara. Papinya telah selesai meditasi dan tengah menatapnya.


"Just now." Ia menyalami diiringi saling berpelukan, tak lupa bertanya kabar papinya itu.


"Udah selesai meditasinya, Pi?" Mizyan beralih duduk sila berhadapan dengan Mark.


Mark mengangguk. "Ada apa?" Ia menaikkan kedua alisnya melihat wajah serius anaknya itu.


"Pi, antar aku untuk melamar Rahma!" Mizyan menatap tajam Mark yang tampak terkejut dengan ucapan to the point nya.


"Kamu minta diantar, nggak tanya dulu apa Papi setuju atau tidak?" Mark menatap tajam sang anak


Mizyan menggeleng. "Karena meskipun Papi tidak setuju, aku akan tetap menikahi Rahma!"


Mark tertawa lepas mendengar kata diplomatis anaknya itu. "You really my son." ujarnya dengan gelengan kepala. Sifat keras anaknya itu memang turunan darinya.


"Like father like son." Mizyan ikut tertawa namun tak lama kemudian mengendurkan bibirnya dan menatap sang ayah dengan serius lagi. "Pi, Rahma itu a widow with one child."


"Suaminya meninggal karena sakit kanker, bukan?"


"Dia owner toko kue citarasa."


Mizyan tentu saja kaget dengan ucapan Papi Mark yang mengetahui backrground Rahma. "Papi selidiki tentang Rahma?"


Mark beranjak turun dari gazebo menuju kolam ikan Koi. Diambilnya sesekop pakan dan lalu ditaburkan di kolam dimana ikan-ikan aneka warna itu sudah bersiap bergulung rebutan makan.


Mizyan yang mengikuti langkah Mark tampak sudah tak sabar ingin mendengar penjelasan papinya itu.


"Miki, Papi ingin memastikan background wanita yang kamu suka itu. Papi ingin yang terbaik for your future, for your happiness." Mark menepuk-nepuk bahu Mizyan sembari tersenyum simpul. "Papi dukung pilihanmu."


"Thank you, Papi." Mizyan memeluk Papi Mark dengan erat dan senyuman yang lebar. Satu tiket dukungan sudah diraihnya lagi. Ia tinggal pergi ke Semarang menemui Mami Kanti. Namun sebelumnya ia harus selesaikan urusan lain di Bogor.


Mizyan meninggalkan Papi Mark menuju Rangga yang berada di ruang kerja. Ia meminta tolong Rangga untuk menyuruh salah satu karyawan membelikan 5 macam hampers istimewa dengan isi yang berbeda. Sambil menunggu kabar dari Rangga, ia membuka laptopnya untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Papi Mark mendesain ruang kerja dengan taste yang sama dengannya. Desain homy yang memberikan susana kerja serius tapi santai.


Mizyan yang tengah menikmati sore dengan bermain basket di halaman belakang, menghentikan gerakan dribblingnya melihat Rangga yang datang mendekat.


"Miz, hampers sudah dikirim ke rumah Pak Yunus."


"Good. Nanti malam gue ke sana." Ujar Mizyan disela menyeka wajahnya yang mengucur keringat. "Sekarang, lawan gue!" Ia melempar bola basket yang sigap ditangkap oleh Rangga.

__ADS_1


****


Ada yang mau ngasih kopi? Biar othor bisa double up hari ini. 😉


__ADS_2