
Mobil Mizyan dan Nico keluar dari parkiran TPU berpisah arah tujuan. Nico pergi menuju kantornya, sementara Mizyan melajukan mobil ke toko Citarasa.
Ada Asep Oray yang diangkat menjadi security tetap sejak toko semakin maju dengan banyaknya pengunjung. Hikmah yang mulai terasa setelah fitnah berita waktu itu. Orang menjadi penasaran dengan sosok Rahma dan Mizyan. Bahkan sejak seminggu ini banyak orang bergerombol di depan pintu yang semuanya kaum emak-emak. Menunggu kedatangan pasangan yang viral sejagad Indonesia.
"Maaf bu ibu....kasih jalan dulu yak. Bu Rahma dan Pak Mizyan mau masuk...." Asep Oray yang berperawakan tinggi besar mengurai emak-emak yang sudah siap dengan acungan ponsel, berlomba untuk selfie.
Di dalam mobil yang sudah berhenti di parkiran khusus. Rahma nampak meringis melihat pintu masuk yang terhalang jalannya.
"Haduh...kita kayak selebritis ya, Mas." Rahma menoleh ke arah Mizyan yang sedang memperhatikan kerja Asep Oray. Bahkan sudah ada 2 infotainment yang mengundang hadir di studio sebagai bintang tamu. Namun keduanya sepakat menolak.
"Sayang, ini bisa dimanfaatin lho." Mizyan menatap Rahma penuh arti.
Rahma mengangguk dengan wajah sumringah. "Aku tau...aku tau." ujarnya sambil menjentikkan jari.
Segera merogoh ponsel dari dalam tasnya untuk menghubungi Fitri.
"Fit, kamu keluar dulu temuin emak-emak. Bilangin kalo mau foto bersama, harus tunjukkin struk belanja."
"Minta bantu Lia buat aturnya ya...agar tertib."
Rahma mengakhiri panggilan setelah mendapat jawaban asisten kepercayaannya itu.
"S3 marketing." Mizyan mengacungkan jempol akan kejelian istrinya itu.
"Bun da ayo tulun...atu mau jajan." Dika mengayun-ngayunkan kakinya dengan bibir mengerucut. Sudah bosan berada di joknya. Tangannya mencoba membuka sabuk pengaman yang membelit tubuhnya.
"Iya...ayo, sayang!" sahut Rahma.
Waktu setengah jam dipakai Mizyan dan Rahma untuk melayani pengunjung toko yang meminta foto bersama dengan ramah. Dengan struk belanja menjadi syarat regristasi. Fitri mengatur antrian sehingga kegiatan foto berjalan tertib.
"Alhamdulillah....omset bulan ini naik 10 kali lipat, Mas." Di lantai dua ruang kantornya, Rahma menunjukkan laporan keuangan toko kepada sang suami.
"Alhamdulillah, Bun. Selalu ada hikmah dari setiap musibah yang menimpa." Mizyan mengusap kepala Rahma. Bangga akan pencapaian usaha istrinya itu.
"Tapi Papa malah kehilangan project Dempo Grup." Mata Rahma berubah sendu menatap Mizyan yang membuka laptop di sebelahnya. Mizyan mendapat SP 3 setelah mengabaikan surat panggilan dari pihak manajemen Dempo grup tentang berita viral yang meyinggung namanya. Yang juga melebar menyinggung proyek perumahan elit yang desainnya sedang digarap. Entah siapa yang menggorengnya sehingga menyangkut pautkan dengan citra perusahaan properti yang bisa turun sahamnya. Bukan tanpa alasan ia mangkir, Mizyan lebih memilih menemani Rahma dimasa recovery fisik dan psikisnya. Alhasil, ia harus menerima pembatalan kerjasama sepihak. Meski merasa tidak masuk akal dengan alasan pembatalan, Mizyan memilih legowo menerima.
"Gak masalah, sayang. Dari awal aku sudah tanamkan keyakinan, ada Allah yang Maha Kaya. Berdo'a minta ganti pada-Nya. Alhamdulillah...job baru yang besar dan kecil berdatangan. Termasuk meeting siang ini buat ngebahas pembangunan istananya boss emas." Jelas Mizyan dengan santai tanpa mengeluhkan rejeki yang lepas.
"Pa...Papa, atu bisa sulap." Dika mendekat merecoki kedua orangtuanya yang sedang berbincang.
"Mana Papa lihat." Mizyan beralih memfokuskan diri pada Dika yang naik ke kursi di sampingnya.
"Bun da lihat juja ya!" Dika meminta atensi pula pada bundanya.
Dika memperlihatkan kedua telapak tangan. Dimana yang kanan berisikan sebutir anggur merah, bekal cemilannya dari rumah. Lalu mengepalkan kedua tangannya dan menyembunyikan ke belakang badan.
"Bim salabiiim-----" ujar Dika membawa kembali tangan yang terkepal ke depan dan meminta Papa Buye meniup-niupnya.
"Talaaaaa----- jadi ilang." Dika dengan riang membuka telapak tangannya yang kosong.
"Wow amazing." Mizyan mengapresiasi dengan bertepuk tangan. Begitu juga Rahma.
"Terus sekarang adain lagi anggurnya, bisa?" Mizyan menantang Dika yang nampak senang sulapnya berhasil.
"Bisa bisa bisa---" Dika dengan semangat mengembalikan tangan ke belakang. Nampak meraba-raba dengan raut wajah yang awalnya sumringah namun berubah mengkerut heran.
"Dika nyari apa?" Mizyan menahan senyum melihat Dika memutar tubuh mencari sesuatu.
__ADS_1
"Anggul atu ilang---" jawabnya polos. Dika sampai turun dari kursi dan berjongkok mencari di kolong.
"Ini bukan?" Mizyan memasukkan sebutir anggur ke mulutnya yang ia curi saat Dika lengah.
"Iihhh Papa.....anggul atu!" Dika mencoba mengambil anggur yang ada di depan mulut Papanya. Namun keburu anggurnya masuk ke dalam mulut dan dikunyah.
"Bun da....Papa nackal." Dika mengerucutkan bibir dan mengadu pada bundanya yang sedang tertawa-tawa. Aksi merajuknya tidak lama sebab Papa Buye menggelitiknya sampai Dika pun tergelak kegelian.
****
Bogor
Mark merangkul pinggang Fatimah yang mengajaknya ke meja makan. Sepasang pengantin yang baru selesai shalat isya berjamaah itu nampak mesra, saling melempar senyum dan tatapan hangat.
"Mau makan----"
"Sepiring berdua." Mark memotong ucapan Fatimah yang pasti menanyakan soal piring.
"Baiklah---" Fatimah mengulum senyum. Mengalah pada kebiasaan baru suaminya itu. Yang menginginkan setiap makan malam harus sepiring berdua.
"Tapi kalo Mizyan dan Rahma datang, makan sendiri-sendiri aja ya. Malu----" Lanjut Fatimah disela mengambil ayam bakar ke dalam piring.
"Ngapain malu... kita kan ga berbuat dosa." Sahut Mark santai. Bersiap memulai makan pakai tangan sepiring berdua.
Kursi di depannya berjajar kosong. Meja makan berkapasitas 8 orang itu melongpong hanya dihuni 2 orang. Rangga tak mau lagi bergabung makan bersama meski Fatimah selalu mengajaknya. Jelas saja Rangga trauma. Sepulang dari bulan madu ke Raja Ampat, boss Mark memulai kebiasaan makan sepiring berdua. Membuatnya risih samoai menelan makan tanpa dikunyah agar cepat selesai dan kabur lebih dulu.
"Buat aku, Bunny." Mark menahan tangan Fatimah yang akan menyuapkan secomot nasi campur suwiran ayam. Beralih Mark mendekatkan wajah dan membuka mulut. Jadilah Opa Mark yang disuapi.
Hal sederhana. Namun mampu membuat darah Fatimah berdesir dan merona pipi saat tangan yang menyuapkan nasi menyentuh bibir Mark. Dan suaminya itu terus menatapnya lekat sampai suapan berikutnya.
"Aku bisa sendiri." Fatimah menggeleng saat Mark beralih akan menyuapinya.
Terpaksa Fatimah membuka mulut menerima suapan dari suaminya itu.
"Biar Bi Cicih yang bawa ke belakang. Ayo!" Mark menarik tangan Fatimah yang sedang membereskan piring dan gelas kotor.
"Hubby, kenapa ke kamar?!" Fatimah menghentikan langkah di depan pintu kamar.
"Kita santai di kamar. Makan udah...mau apa lagi coba?" Mark balik bertanya.
"Santainya di perpus atau nonton tv aja ya jangan di kamar, masih siang gini. Sekalian nunggu Dika datang. Tadi Rahma ngabarin udah di tol." Bujuk Fatimah yang sudah mendapat kabar jika Mizyan dan keluarga kecilnya akan berkunjung setelah sebulan lamanya tidak bertemu.
Mark tidak memberi jawaban. Malah beralih merangkul pinggang istrinya itu. Membawa masuk ke dalam kamar dan tidak lupa mengunci pintunya.
"Enakan santai di kasur. Seperti ini---" Mark menata bantal untuknya dan untuk Fatimah agar nyaman duduk bersandar di kepala ranjang.
"Bunny, aku belum bisa istiqomah shalat berjamaah di masjid. Maaf---" Mark menolehkan wajah menatap sang istri yang membuka jilbab dan menggerai rambut. Lalu meraih mainan kesukaannya. Yaitu menggenggam tangan Fatimah dan meremas-remasnya.
"Bertahap aja, hubby. Kaki yang bisa melangkah sampai ke masjid itu karena hidayah dari Allah. Tanpa adanya hidayah, pasti berat meskipun rumah menempel dengan masjid."
"Gimana ya caranya agar selalu dapat hidayah?" Mark merapatkan tubuh dan membawa kepala Fatimah bersandar di bahunya. Ia sangat menyukai diskusi santai dengan gaya bebas bermain-main dengan sang istri. Makanya memilih duduk selonjoran di ranjang daripada duduk di kursi.
"Hidayah itu harus dijemput bukan ditunggu. Hidayah itu akan Allah berikan jika sang hamba bersungguh-sungguh mengejarnya."
"HIDAYAH jika diibaratkan sebagai cahaya, maka hati adalah ruangan. Cahaya tak akan bisa masuk ke dalam ruangan jika jendelanya tertutup. Agar cahaya masuk, maka jendela musti dibuka."
"Pada manusia, jendela itu berupa pikiran. Agar hidayah dapat masuk ke dalam hati, maka bukalah pikiran kita. Cari tahu kebenaran melalui berpikir dengan petunjuk yang benar. Dan petunjuk yang bemar itu adalah Al Qur'an."
__ADS_1
"Seperti halnya proses hubby memeluk Islam. Padahal sudah bertahun-tahun membaca dan mempelajari tentang Islam tapi kenapa baru bersyahadatnya sekarang."
"Itu karena jendelanya masih tertutup. Sehingga cahaya tidak masuk ke dalam ruangan."
"Tapi begitu mindsetnya dibuka dan bertemu orang-orang yang menjadi support system, semangat hubby jadi naik dan hati makin mantap. Itu cirinya hubby berhasil menjemput hidayah."
"Dan Bunny salah satu bagian dari support system itu." Mark mengecup puncak kepala Fatimah penuh sayang.
Fatimah hanya membalas dengan tersenyum manis.
"Dan istiqomah sholat di masjid, itulah hidayah." Pungkas penjelasan Fatimah.
Mark menghela nafas panjang. "Berarti harus diawali dengan memaksakan diri ya. Berperang melawan malas, menyimpan pekerjaan saat dengar adzan. Hmm, memang terasa....menjemput hidayah itu butuh perjuangan tapi endingnya hati damai dan bahagia." Ujarnya sambil mengenang lagi saat ikrar syahadat yang membuat hatinya sejuk bak disiram air dingin.
"Ya. Seperti itulah---" Sahut Fatimah.
"Eh, mau apa?!" Fatimah spontan mendongak dengan raut kaget. Menahan tangan Mark yang akan membuka resleting depan gamis rumahannya sambil.
"Mau anu----" Mark tersenyum miring.
Fatimah menggeleng. "Masih siang. Dan kita lagi nunggu Dika datang."
"Gak papa...ini juga sambil nunggu."
"Tapi-----"
Ucapan Fatimah menggantung sebab Mark menyatukan bibir. Sentuhan lembut, isapan yang dalam, permainan lidah yang lihai, mulai melenakannya.
"Hubby....ganti lampunya." Pinta Fatimah ditengah lenguhan yang lolos tanpa terbendung. Diantara jeda mengambil nafas saat oksigen sudah terampas.
Mark meraih remot di nakas. Mengganti lampu terang menjadi lampu remang. Membuka baju atas dan melemparnya sembarang. Fokusnya kembali meraup bibir yang manis sambil mengungkung di atas tubuh Fatimah yang pasrah akan perlakuannya. Pemanasan olahraga malam dimulai.
Satu jam kemudian.
"Opa...oh Opa. Atu datang...." Tsriakan Dika diiringi ketukan di pintu terdengar.
Penghuni kamar sedang bermandi peluh dan mengatur nafas yang tersengal. Opa Mark belum turun, wajahnya masih terkulai di ceruk leher Fatimah. Baru saja usai mengarungi lelahnya mendaki dan mencapai puncak kenikmatan surgawi.
"Hubby...Dika udah datang." Fatimah berbicara pelan. "Aku keluar ya---" Ia meminta Mark untuk berpindah posisi.
"Jangan keluar, besok aja. Nanti malah malu sama si Miki dan Rahma. Wajah kita keliatan abis anu nya." Jawab Mark tak kalah pelan.
"Opa...Oma....atu datang sama Papa...sama Bunda."
"Eh, Dika...gak boleh ketuk-ketuk pintu. Opa sama Oma udah bobo. Besok pagi aja ketemunya ya---"
Mark dan Fatimah mendengar lagi suara panggilan Dika. Lalu disusul suara Rahma yang melarang Dika. Membuat keduanya saling tatap dan terkekeh pelan.
"Hubby sih...aku bilang apa. Jadinya terjebak di kamar deh." Fatimah memiringkan badan menatap Mark yang beralih tidur telentang di sampingnya. Selimut ditarik untuk menutupi bahu yang polos.
"Mereka pasti ngerti. Kita kan pengantin baru." Jawab Mark dengan santai.
"Masa jam segini tidur." Fatimah melirik jam yang menunjukkan tepat angka 9. Keluar juga gak mungkin. Ia merasakan badan yang lelah serasa tak bertulang.
"Kalo belum ngantuk kita lanjut lagi...." Mark memiringkan tubuh menghadap Fatimah. Membiarkan tubuh atasnya yang polos diterpa semilir pendingin udara bersuhu rendah.
"Udah ah...aku cape." Jawab Fatimah dengan lemah. Ia memang merasakan beberapa hari terakhir ini tubuhnya mudah lelah dan pusing di pagi hari. Mengira darah rendahnya kambuh.
__ADS_1
"Bunny istirahat aja dulu. Nanti biar aku yang bermain." Mark mengecup bibir Fatimah yang mulai memejamkan mata. Menatap wajah yang menurutnya makin cantik dan bersinar.