
*Swing!*
Penther tersebut melemparkan ikatan rantai ke arah Elena setelah bertukar tempat menggunakan kabutnya.
Elena masih berada di dalam momentum dari gerakannya sebelumnya sebenarnya, tetapi dia menggunakan kemampuan Telekinesis untuk memaksa tubuhnya membentuk gerakan lain, untuk menangkis serangan rantai yang datang padanya. Jarak di antara keduanya yang sangat dekat ini sedikit membuat Elena merasa khawatir akan gagal menangkis rantai.
*Slash!* *Slash!* *Slash!*
Dengan sebuah tebasan. rantai tersebut terpotong. Namun serangan Elena tidak berhenti sampai di sana. Dia terus memberikan beberapa tebasan di area sekitar—bola kabut—karena siapa tahu saja penther ini bertukar tempat di tempat yang sedang Elena tebas. Ini tentunya akan menjadi kematian instan untuk penther tersebut jikalau serangan Elena menembus tubuhnya tanpa antisipasi.
*Swush!*
Serangan Elena memang berhasil mengenai salah satu bola kabut yang lain di dekatnya, kemudian bola kabut tersebut terserap oleh katana karena efek tambahan dari skill Black Catcher masih aktif saat Aya berada di dekatnya. Namun sayangnya penther itu telah menjauhkan bola kabut terakhir sehingga berada di luar jarak serangan Elena.
“Tck, sangat menyebalkan ketika dia berhasil melarikan diri.” Elena tidak dapat menahan dirinya untuk tidak mendecakkan lidahnya ketika kesabarannya perlahan-lahan habis.
Tujuan awalnya dia keluar dari penginapan dan pekerjaannya adalah untuk mencarikan sebongkah makanan enak untuk kucing ini. Dia sama sekali tidak menyangka dan tidak ingin untuk melakukan pertarungan panjang dan sengit ini. Terutama ketika musuh memiliki keunggulan di atas dirinya. Dia sama sekali tidak menyukai pertarungan yang menjadi satu pihak, lebih-lebih lagi ketika dia tidak dalam mood untuk bertarung. Belum lagi dia belum makan sejak hari ini.
*Klontang!* *Klontang!*
Lagi, penther ini menggoyangkan lentera miliknya.
Kali ini terdapat tiga sosok muncul dan mereka bertiga langsung menerjang pada Elena. Masing-masing di antara mereka memiliki penampilan sama, yaitu mereka memakai baju zirah besi lengkap dari helm sampai sepatu, ditambah pedang besar yang terlihat berat padahal tidak yang mereka genggam menggunakan kedua tangan masing-masing dari mereka. Mereka juga memiliki tubuh transparan dengan pijaran warna biru sama seperti penther ini.
“(Penther yang bisa mengeluarkan personil. Benar-benar sesuatu yang menang akan jumlah, ya!)” ungkapan kesal Aya atas jumlah yang tidak adil ini.
__ADS_1
*Sis!* *Sis!* *Sis!*
Semenntara ketiga sosok itu melesat pada mereka berdua, Aya menembakkan puluhan dari pasak hitam miliknya menggunakan skill Black Catcher. Terjangan yang sangat tidak efisien dan tidak memiliki arah jalur bidikan yang jelas. Hanya puluhan pasak besi yang ditembakkan secara bersamaan dan menghujani pada jalur pada tiga sosok datang.
*Stab!* *Stab!* *Stab!*
Meski begitu, puluhan bukanlah jumlah yang bisa dihindari dengan mudah. Sebagian besar dari mereka menusuk dan berhasil menembus zirah dari tiga sosok tersebut, kemudian beberapa darinya sampai ke tempat penther tersebut dan menembus jubah hitamnya, sementara banyak dari lainnya…, mereka meleset dan hanya mengenai tanah dan pepohonan.
Elena siap untuk mengatasi serangan tiga sosok tersebut padanya. Dia telah memposisikan ulang katana miliknya dan membentuk kuda-kuda kokoh dalam melakukan perlawanan. Bukan hanya itu, dia juga bersiap akan menerjang maju pada tiga sosok ini untuk memberikan akhir yang lebih cepat dalam menghadapi mereka, tapi sebelum itu ….
*Sis!* *Sis!* *Sis!*
*Stab!* *Stab!* *Stab!*
Beberapa anak panah menembak padanya, tetapi untung saja Elena bersalto ke belakang dan menghindari mereka semua dalam beberapa gerakan.
*Swing!* *Swing!* *Swing!*
Tiga sosok tersebut berhasil mengepung Elena, juga mereka langsung memberikan ayunan senjata berat(?) mereka pada target mereka—Elena—. Serangan yang tidak terlalu cepat, tetapi juga tidak menunggu lawan untuk bertindak. Tambahan, koordinasi di antara mereka bertiga juga bagus entah karena apa. Mereka bertiga seharusnya lebih lemah dibandingkan penther asli yang memanggil mereka.
*Tap!* *Trang!*
Elena melompat dan berhasil menghindari semua pedang yang terayun padanya. Kemudian setelah dia mendarat, dia mendarat di atas senjata mereka bertiga yang masih berada di tanah, selanjutnya langsung memberikan tebasan memutar, mengenai mereka bertiga. Sayang sekali, sebuah perisai transparan berwarna kekuningan memblokir serangannya.
‘Ini ulahnya, ya…?’ Pupil mata Elena melirik pada satu penther tersisa yang sebelumnya dilawan Aya.
__ADS_1
Informasi yang dimiliki Elena tentang yang satu ini adalah dia yang merupakan tipe pendukung. Sebelumnya dia mengabaikannya karena memiliki kecepatan lambat dan dirasa tidak akan dapat berpartisipasi dalam pertarungan dalam kecepatan seperti ini. Tetapi meskipun pertarungan ini berjalan cepat, tentunya akan ada saat di mana teknik mendukung dari penther ini.
Tidak ada salahnya untuk terlalu berlebihan dalam waspada. Itu baru akan menjadi salah ketika rasa waspada menjadi terlalu kuat. Manusia memiliki kehidupan yang lebih panjang berkat rasa takut yang mereka miliki. Jika tidak ada rasa takut akan sesuatu apapun, pastinya manusia akan melakukan apapun yang membahayakan dan dapat membuat hidup mereka menjadi lebih pendek.
Tidak perlu malu untuk menjadi seorang penakut, malulah ketika menjadi tidak berguna. Lakukanlah apa yang terbaik yang bisa dilakukan, karena terlalu banyak memiliki rasa takut dan berdiam diri tidak akan pernah menghasilkan apa-apa. Hiduplah berdasar insting dan apa yang kamu percayai, tetapi ingatlah untuk mencari kebenaran sebelum itu. Berjalan di jalanan yang salah tidak akan mengantarkan pada tujuan dan hanya akan buang-buang tenaga atau yang lebih buruk, maka dari itu kebenaran perlu untuk dicari.
*Stab!*
Kali ini Elena merubah gerakannya. Alih-alih menebas mereka bertiga dalam satu jalur, dia berfokus dengan menusukkan katana miliknya cukup satu di antara mereka bertiga. Tusukan dari Elena ini berhasil menembus perisai juga zirah dan tubuh lawannya, kemudian kemampuan penyerapan dari skill 2 Aya diaktifkan menyerap dan memusnahkan tubuh salah satu sosok tersebut.
“Tetap saja ini bukan perkembangan pola pertarungan yang bagus ke arahku,” komentar datar Elena.
*Sis!* *Sis!* *Sis!*
Beberapa anak panah melesat ke arah Elena.
*Tap!* *Sis!* *Sis!* *Sis!*
Dia pun melompat, tetapi menyebalkannya masih ada beberapa anak panah yang mengincarnya.
‘Apakah yang menembak ini adalah mesin? Cepat sekali dia dalam menembak!’ gerutu Elena dalam pikirannya.
Ini tidak terlalu aneh untuk ukuran dunia itu. Bagaimanapun yang menembakkan anak panah itu bukanlah manusia, melainkan penther. Penther yang tidak memiliki kepintaran dan cara hidup yang sama dengan manusia, mereka bisa saja dan mungkin untuk melatih kemampuan mereka dalam satu titik yang sangat-sangat terlatih. Penther tingkat rendah saja memiliki kemampuan melebihi manusia karena centher energy yang mereka miliki.
*Slash!* *Slash!* *Slash!*
__ADS_1
Elena menarik katananya dan memotong serta menyerap anak panah yang mengarah padanya.
Pada kondisi di tanah dia akan bergerak untuk menghindari serangan tersebut, sedangkan ayunan tebasan dari senjatanya akan digunakan untuk memberikan luka pada lawannya. Tetapi saat dia berada di udara seperti ini, membuat gerakan lain tanpa Telekinesis atau kemampuan cenayang lainnya yang berhubungan dengan gerak tidak dimungkinkan, sedangkan Elena ingin menghemat sebanyak mungkin tenaga. Lagi pula, tidak ada musuh yang masuk dalam jarak tebas Elena.