
Szesc menekan alat seperti earphone di telinga kirinya, lalu dia mengatakan, “Perintah dari Dwa baru saja masuk. Dia bilang, kita boleh menyerang Elena saat ini karena Spirit King of Darkness —Noctis— berhasil dibuat tidur. Walaupun ini masih berbahaya untuk menyerangnya, namun ini lebih aman dari pada saat Spirit King of Darkness masih sadar. Bagaimana? Apa kamu berani melawan gadis kecil itu?" Di balik topengnya, Sześć membuat sebuah seringai ketika memberikan tantangannya pada Pięć.
"Hmph! Kamu pikir aku siapa! Jika hanya melawan seorang gadis kecil sepertinya, aku akan berpikir dua kali sebelum melakukannya, sih." Pięć mengatakan bagian awal dengan suara lantang dan percaya diri, namun mengubah nada bicaranya menjadi kecil pada kalimat terakhir.
"Itu artinya kamu berani atau tidak? Jangan memiliki niat yang setengah-setengah dalam misi berbahaya dan mengancamnya nyawa ini. Tidak ada pilihan mundur ketika kita sudah berada di tengah-tengah pertarungan." Sześć memberikan tatapan mata datar pada Pięć, mempertanyakan tentang jawaban sebelumnya.
"Bagaimana, ya?" Pięć menjauhkan teropong dari matanya dan memegang dagunya sambil mengatakan, "Sejauh data yang kita miliki tentang Elena, dia mungkin bisa menghancurkan kota ini seorang diri jika tidak ada yang mengganggunya. Itu pun dia tidak bisa melakukannya dalam sekali serang dan pendapat ini masih dipertanyakan. Jika itu aku sendiri, sudah pasti aku tidak bisa memiliki kekuatan sebesar itu."
"Tapi kita memiliki keuntungan menang yang lain, 'kan?" Sześć membuat senyuman kecil di balik topeng itu.
"Hehe, benar juga. Kita mendapatkan keuntungan dalam hal jumlah, sandera, dan beberapa keterampilan yang sangat berbeda dengan orang yang ada di dunia ini. Jumlah orang yang bisa melawan kita di kerajaan ini, dapat dihitung memakai satu tangan jika kita mengabaikan semua roh tingkat tinggi yang ada," jawab Pięć dengan sedikit riang.
"Selain itu, Dwa bilang dia akan bergabung setelah ini. Kemenangan kita akan menjadi lebih terjamin saat itu tiba, sekalipun mereka memanggil tentara istana atau unit pasukan elit yang mereka namakan ksatria perak atau apapun itu." Sześć mengalihkan topengnya ke arah Elena.
"Bagaimana? Apa kita akan menyerangnya sekarang?" Pięć kembali memasang teropong itu ke matanya dan memperhatikan Elena.
Teropong yang digunakan Pięć terlihat jauh lebih modern dari pada peradaban di dunia ini. Dari sini dapat terlihat jelas, bahwa Dwa mengambil teropong tersebut dari dunia lain yang lebih modern agar mendapatkan keuntungan tinggi dalam dunia abad pertengahan ini. Sepertinya, Red Moon memiliki kekuatan yang tidak bisa dihitung menggunakan standar orang-orang di dunia ini.
"Tidak, tunggu sebentar. Beberapa saat lagi adalah jam istirahat dan dia akan pergi ke kantin. Kalau kita menyerangnya saat ini juga, mungkin dia akan bergerak secara tiba-tiba dan malah akan membuat serangan mendadak kita menjadi sia-sia. Oh, dan ngomong-ngomong, aku baru ingat tentang kontraktor Spirit King of Light yang sekelas dengan Elena. Aku akan melawan Spirit King of Light itu, jangan ikut campur!" kata Sześć dengan tegas.
__ADS_1
"Tenang saja. Saat pertarungan ini dimulai, aku akan sangat fokus pada Elena dan tidak memiliki waktu untuk bergabung denganmu, jadi aku memang tidak memiliki kesempatan untuk membantumu. Yang lebih penting lagi, apa kamu yakin kamu bisa mengalahkan seorang raja roh?" tanya Pięć.
"Heh, kamu terlalu meremehkan peralatanku. Spirit King of Light memiliki serangan lemah namun beruntung, sedangkan jubah milikku memiliki kemampuan untuk menyerap serangan lemah sampai tahap tertentu. Tidak peduli seberapa banyak dia menyerang, tidak akan ada serangan yang benar-benar bisa melukaiku. Karena ini aku setuju dengan Dwa yang mengatakan jika Spirit King of Darkness adalah yang terkuat," jawab Sześć dengan tawa kecil.
•••••
*Ding!* *Ding!* *Ding!* *Ding!*
Bel sekolah berbunyi, menunjukan jika waktu istirahat telah dimulai dan jam pelajaran berakhir. Sementara guru memiliki wajah biasa saja ketika meninggalkan kelas, para murid tampak memiliki senyuman kecil di wajahnya, sudah tidak sabar untuk melakukan kegiatan di luar hanya memperhatikan buku di kelas.
"Yawn! Sudah jam istirahat kah? Aku merasa tidur nyenyak di jam pelajaran sebelumnya." Elena merenggangkan tubuhnya bersamaan dengan dia yang menguap dengan nikmatnya tanpa rasa bersalah sedikitpun karena telah meninggalkan pelajaran.
Theresa datang ke meja Elena dan menegur, "Mou, Elena-san, kamu tidur di kelas lagi hari ini. Apa kamu tidak takut jika kamu ketinggalan pelajaran?"
"Tenang saja, Theresa. Aku sudah sangat tahu tentang mata pelajaran ini. Bahkan jika aku tidak mengikuti pelajaran kali ini, aku sudah tahu cara untuk menyelesaikan semua soal yang guru berikan. Ingat tentang beberapa hari yang lalu ketika guru memberikan soal-soal sulit padaku dan aku bisa mengerjakannya dengan cepat dan tepat? Tidak masalah jika aku tidur di kelas selama beberapa hari ke depan," jawan Elena dengan santai.
"Umu, seperti itu, ya, Elena-san. Aku harap aku memiliki kepintaran yang bisa menyamaimu atau setidaknya Sophia-chan memiliki setengah dari kepintaranmu itu." Theresa menunjukkan senyuman yang cerah.
"Oi, itu sangat jahat. Aku tidak sebodoh itu sampai setengah dari kepintaran Elena sudah cukup untukku." Sophia tiba-tiba muncul dari belakang Theresa dengan matanya yang menatap tidak menyenangkan.
__ADS_1
"Ma-Maaf, Sophia. Aku tidak tahu jika kamu ada di dekatku." Theresa menyatukan telapak tangannya sambil memejamkan matanya.
"Hmph!" Sophia melipat tangannya dan memutar matanya dengan kesal.
"Haha, sepertinya dia menjadi kesal saat kamu mengatakan seperti itu." Elena tertawa kecil dengan sudut bibirnya yang agak terangkat. "Dari pada itu, bukankah pengaruh budaya wibu dari Noctis sudah terlalu banyak mempengaruhimu? Kamu sampai memberikan tambahan "-chan" dan "-san" padaku dan Sophia."
"Hehe, aku rasa panggilan itu cukup bagus untuk digunakan pada kalian berdua, jadi aku memakainya." Theresa tertawa canggung dan menggaruk belakang kepalanya.
"Tapi ada yang perlu dikoreksi, Theresa. Aku ini lebih muda darimu sedangkan Sophia jauh lebih tua darimu. Seharusnya kamu memanggilnya dengan sebutan "-san" agar menjadi lebih sopan," kata Elena setelah dia menghilangkan senyuman di wajahnya.
"Aku sudah mencobanya, tapi dia lebih suka dipanggil dengan sebutan "-chan", jadi aku tidak bisa melakukannya." Theresa mengangkat bahunya sambil menggeleng kepalanya. "Ngomong-ngomong, apa kamu tidak ingin panggilan yang lebih imut, Elena-san?"
"Hmm, aku rasa kami boleh memanggilku dengan sebutan "El-tan" jika kamu mau." Elena tersenyum kecil saat mengatakannya.
"Baiklah, mulai sekarang aku aka—."
*Bom!*
Tiba-tiba, sebuah ledakan besar terjadi di dalam ruang kelas Elena dan meluluhkan lantahkan semua ya ada di dalamnya.
__ADS_1