
*Bom!*
Ledakan besar terjadi di dalam ruang kelas ketika Elena dkk sedang asyik berbicara satu sama lain. Karena serangan ini juga, interior ruang kelas hancur berantakan, menjadi puing-puing dan pecahan kacau.
*Ngung!*
Sebuah barrier dengan pola segi enam berbentuk setengah bola tercipta dan melindungi mereka bertiga, sesaat sebelah ledakan terjadi. Benda ini membuat ketiganya dan area di dalam barrier tetap utuh tak tersentuh ledakan.
"Apa kamu baik-baik saja, Theresa?" Elena mengarahkan tangannya pada dinding jendela yang saat ini sudah hancur berantakan.
"Ya, aku tidak apa-apa. Terima kasih, El-tan!" kata Theresa sambil tersenyum kecil.
"Iya, iya, hanya dia yang kamu tanyakan kondisinya. Aku diabaikan dan tidak dilihat sama sekali di sini. Padahal, bukankah aku juga sama-sama temanmu seperti dirinya?" ujar Sophia datar, menunjukkan dia sedikit kesal dengan sikap tidak adil Elena itu.
"Heh, jika itu kamu, maka tidak perlu diragukan lagi kalau kamu akan aman. Walaupun memiliki kebiasaan dan kelakuan seperti manusia, pada dasarnya kamu ini tetap Royal Spirit of Blood, 'kan? Bahkan jika serangan ini menerpa tubuhmu secara langsung, kamu tidak akan mati kecuali semua darah di tubuhmu lenyap." Elena menunjukkan seringai kecilnya pada Sophia di saat wajahnya masih mengarah ke luar.
"Tapi aku juga masih seorang gadis di samping gelar yang bagus itu. Bisakah kamu memperlakukanku sama dengannya? Aku nanti juga bisa menangis, lho," timpal Sophia.
__ADS_1
"Oke, sudah cukup main-mainnya. Sekarang, mereka berdua tampaknya sudah bersiap untuk bertarung. Memencar fokus dalam sebuah pertarungan, adalah sesuatu yang tabu dan sangat berbahaya untuk dilakukan, kecuali jika kamu memiliki nyawa tidak terbatas," peringatan Elena sambil menajamkan tatapannya pada kedua sosok yang baru saja datang.
Kedua sosok tersebut tak lain lagi adalah Pięć dan Sześć. Mereka berdua sudah menunggu sangat lama sampai Elena pergi ke kantin, namun karena Elena tak kunjung pergi sampai kelas ini sepi, keduanya memutuskan untuk memulai serangan sekarang juga. Baik, bagaimanapun mereka berdua adalah manusia dan memiliki kesabaran yang terbatas. Mereka akan merasa kesal jika target mereka terlalu la bertindak.
"Wah, wah, aku kamu benar-benar hebat, ya, Elena. Dalam waktu yang singkat ini, kamu bisa menciptakan sebuah barrier dan melindungi dirimu bersama kedua temanmu. Sungguh, individu yang dapat dimasukkan ke dalam kategori berbahaya untuk organisasi, ya." Pięć terkekeh setelah mengatakan itu.
"Tujuan kedatangan kami adal—." Sześć ingin mengatakan sesuatu, tapi sayangnya dipotong di tengah-tengah oleh Elena.
"Aku tidak peduli dengan apa tujuan kalian, aku lebih peduli dengan dampak dari tujuan. Walaupun aku masih belum tahu apa yang akan kalian lakukan di tempat ini, tapi aku sangat yakin jika aku harus melawan kalian setelah ini," jawab Elena disertai tatapan mata tajam dan serius pada mereka berdua.
'Aku tidak menyangka Red Moon akan bergerak lebih cepat dari yang aku harapkan. Ini masih belum genap seminggu sejak aku masuk ke akademi ini, bukankah gerakan mereka terlalu cepat? Sudah kuduga, masuk ke akademi khusus bangsawan bukan pilihan yang bagus karena negara memiliki beberapa musuh. Aku memang memiliki tugas untuk membasmi anggota organisasi ini, tapi bukan berarti aku mau melawan mereka saat ini juga,' batin Elena.
"Ada yang harus kamu ketahui, Theresa. Dia memakai topeng yang menutupi wajahnya. Bagaimana cara kita bisa mengetahui apa yang ada di balik sana? Memangnya kamu memiliki kemampuan Penerawangan sama sepertiku?" Elena melirikkan matanya pada Theresa di belakangnya, sementara masih fokus pada kedua sosok tersebut.
"No comment…," kata Sophia.
"Oke, sekarang, apakah kalian berdua ingin bertarung atau hanya diam saja? Aku waktu istirahat di akademi ini sangat singkat jika kita menggunakannya untuk bertarung. Kalau tidak mau, aku lebih suka menghabiskan waktuku untuk pergi ke kantin," ujar yang terus terang.
__ADS_1
'Aku tetaplah manusia bagaimanapun juga, jadi aku masih bisa merasakannya lapar dan memerlukan makanan. Walaupun kantin di sekolah ini tidak menerapkan prinsip sederhana, cepat, dan murah, aku rasa tidak masalah jika sesekali aku pergi ke sana,' dalam benak Elena.
"Jangan bohong!" Pięć mengarahkan jari telunjuknya. "Kami berdua sudah mengawasi kalian sejak dini hari tadi! Dan kami sudah mengetahui jika kalian tidak memiliki niatan untuk pergi ke kantin sama sekali! Tahukah kalian, seberapa membosankan dan melelahkan harus berada di atas batang pohon seharian penuh, ha!"
"Ada yang perlu kamu ketahui, Entah Siapa di Balik Topeng itu. Ini baru ¼ hari, jadi tidak mungkin kamu berada di atas pohon selama seharian penuh. Dan lagi yang lebih penting, apa kamu tidak malu mengintip seorang gadis kecil ketika berada di kamar mandi! Jangan harap aku tidak tahu, suaramu itu menunjukkan jika kamu adalah laki-laki!" bentak Elena bersamaan dengan dia mengangkat telunjuknya pada Pięć.
"Ah, ya-yah…." Pięć menengok pada Sześć di sampingnya, mengharapkan pembelaan dari rekan kerjanya itu
"Aku perempuan, jadi aku aku tidak terlibat dalam masalah ini," jawab Sześć singkat.
"Ugh!" Pięć jatuh berlutut dengan kedua lututnya, merasa kehilangan harga dirinya dan saat ini menjadi kriminal.
Sebenarnya dia sudah menjadi kriminal dengan kejahatan lebih parah sebelumnya, namun kasus kali ini benar-benar menusuk dalam kepada harga dirinya. Alhasil, dia pun merasa malu dengan aura muram di sekitarnya. Dalam BAB ini, dia menjadi salah satu karakter yang mendapatkan pembullyan dan diabaikan oleh rekannya sendiri.
"Sa-Sabar, aku juga tahu, kok, bagaimana rasanya menjadi yang berbeda dalam sebuah grup, bahkan saat ini pun aku menjadi yang terlemah di antara mereka. Jadi, tolong bersemangatlah untuk orang yang kamu anggap penting. Aku juga akan bekerja keras agar bisa membantu El-tan dalam pertarungan ini." Theresa memberikan sebuah senyuman lembut pada Pięć.
"Bodoh, ya." Sophia melirik datar Theresa dan mengatakan, "Kenapa kamu malah menyemangati musuh? Kalau ada satu di antara mereka tidak bisa bertarung, itu akan menjadi keuntungan yang bagus untuk kita. Sekarang setelah kau memberikan dia semangat, kita akan kembali bertarung melawan mereka berdua. Aku yakin Elena juga sudah memikirkan tentang ini, 'kan?" Pupil mata Sophia mengarah pada Elena, menginginkan jawaban.
__ADS_1
"Hmm, ya begitulah. Aku memang berencana untuk membuat salah satu dari mereka tumbang menggunakan kemampuan psikis Talk-no-Jutsu. Tapi karena semangat itu, tampaknya ini menjadi tidak berguna." Elena sempat mengangkat alisnya di awal dialog, menunjukkan jika dia sebenarnya tidak merencanakan ini dan ini 100% hanya kebetulan semata.
"Eh? Begitu ya! Ma-Maaf, aku sama sekali tidak memikirkan tentang rencana kalian berdua!" Theresa menundukkan kepalanya berkali-kali.