
Sementara Elena menggunakan daya tolakan untuk naik ke atas, penther tersebut hanya mengandalkan kemampuan melayangnya dan penambahan kecepatan dari kabut. Dia sama sekali tidak membuat gaya tolakan dan hanya mengandalkan kemampuan melayangnya untuk bergerak di udara. Kecepatan berjalannya di udara lebih lambat dari pada Elena saat ini.
Terdapat keuntungan pada masing-masing teknik melayang mereka berdua. penther itu mungkin lebih lambat dari pergerakan Elena, tetapi dia memiliki keunggulan dalam melakukan manuver. Elena sendiri memang bergerak sangat cepat dalam jalur garis lurus, namun kerugiannya dia mengalami kesulitan dalam melakukan manuver. Kemampuan dari Telekinesis untuk mengubah arah geraknya akan melakukan secara paksa dalam prosesnya. Dalam kecepatan tertentu, dia akan menderita beberapa patah tulang saat melakukannya dengan tergesa-gesa.
Kita tidak harus melakukan sesuatu secara tergesa-gesa, justru jangan melakukan hal terburu-buru itu karena mungkin akan melakukan kesalahan dari tidak melakukan pengecekan secara mendalam. Hanya saja, kondisi memaksa pasti akan membuat kita tergesa-gesa bagaimanapun juga. Tidak masalah untuk menjadi tergesa-gesa, namun lihatlah situasi dan kondisi. Bila hal itu tidak memerlukan ketergesa-gesaan dalam prosesnya, alangkah akan lebih baik melakukannya dengan perlahan?
Semua hal di dunia ini membutuhkan prosesnya sendiri-sendiri, mulai dari menanak nasi dan kegiatan lainnya. Tidak bisa kita memaksakan sesuatu selesai tanpa melakukan proses. Itu adalah hal yang mustahil! Hanya akan terjadi jika ada fenomena magis atau ketika Tuhan berkehendak. Maka kita—Manusia—perhatikanlah proses dan nikmatilah satu per satu dari mereka. Terlalu banyak memikirkan hasil hanya akan menyebabkan depresi ketika menemukan kegagalan.
*Set!*
Dalam sekejap, Elena langsung sampai di sebelah penther itu.
Tubuhnya masih terselimuti oleh bola hitam. Katana miliknya tidak bisa keluar dengan ini karena benda yang menutupi itu. Tetapi dia masih dapat mengetahui kejadian di luar melalui kemampuan Penerawangan miliknya. Meski dia tahu apa yang ada di luar, tetapi dia tidak bisa mengambil tindakan untuk mempengaruhinya, setidaknya untuk saat ini.
Manusia yang berada di dalam sebuah bola dan tidak pernah keluar namun mengetahui apa yang terjadi di luar memiliki banyak pemikiran tentang cara mempengaruhi atau menuntaskan masalah di luarnya. Tetapi itu hanya akan menjadi pemikiran penyelesaian dari suatu masalah ketika tidak ada tindakan yang diambil. Entah berkata jutaan kalimat, kalimat-kalimat tersebut selamanya hanya akan menjadi angan-angan ketika tidak ada yang mengerjakannya.
__ADS_1
Di zaman sekarang ini sangat mudah untuk berkata sesuatu dan menebarkan suatu pandangan subjektif melalui tulisan. Fasilitas untuk menyerukan kebaikan atau keburukan sangat mudah dengan hanya perlu mengoperasikan beberapa tombol yang ada di layar. Namun, di lain itu, adakah manusia yang mau mengerjakannya? Setidaknya lakukanlah kebaikan yang engkau serukan!
“Aya, dia akan kabur lagi dalam kondisi normal. Buat bola ini terbuka lebih lebar dan buat dia terlahap di dalamnya! Berhati-hati dan lakukan itu dengan cepat atau anak panah akan melubangi tubuh kita!” Setelah memberikan peringatan itu dia melanjutkan, “Aku tahu ini berbahaya dan beresiko saat pemanah yang tidak kita ketahui menghujani dengan lusinan anak panah. Bahkan aku sendiri tidak tahu apakah dia hanya satu individu atau ada banyak individu yang melakukannya, aku hanya tahu kalau dia menghujani kita dengan serangan mematikan, dan itu menjadi semakin memanas setiap kali kita menyerang!”
“(Terdengar merepotkan dan berbahaya, ya.)”
*Zrt!*
Lapisan hitam terbuka untuk sesaat, kemudian itu tertutup kembali setelah menelan penther tersebut.
Malam ini juga gelap dan menutup lingkungan sekitar, akan tetapi setidaknya penther itu masih bisa melihat lingkungan dan celah gerakan untuk menghindar. Tetapi di dalam ruang sempit ini … dia kehabisan ruang gerak. Serangan fisik jarak dekat berupa rantai juga tidak berguna dengan kurangnya tempat membuat akselerasi. Belum lagi, ruang sekitar yang terbuat dari Black Catcher membuat kendali centher energy-nya menjadi kacau dan kesulitan mengeluarkan skill. Oleh karena itu dia hanya bisa berdiam diri dengan fokus meningkatkan pertahanannya meski tanpa skill yang cocok dan ….
*Slash!* *Boom!*
Elena menebas penther tersebut menggunakan katananya. Ledakan energi tercipta dan menghempaskan penther ini ke luar dengan paksa. Kerusakan pada perisai Aya dapat diabaikan karena lokasi lubang berlainan dengan arah tembakan yang membuat mereka tidak menerima tembakan. Tetapi lubang terbuka tidak diabaikan, dan Aya segera menembelnya kembali.
__ADS_1
“Ledakan ini lumayan juga. Aku menggunakan sekitar 40% dari energi katana ini untuk membuat dampaknya. Lumayan untuk memberikan kerusakan mematikan dengan memfokuskan energi di satu titik dan membuat ledakan besar. Aku rasa, ini akan menjadi rencana senjata alternatif selama aku berada di dunia tanpa pemulihan energi bagus.” Elena mengamati penther sebelum lubang tertutup sepenuhnya.
*Brak!* *Krak!*
Penther yang satu ini terhempas jauh, menabrak batang pohon, dan jatuh ke tanah dengan bentuk yang terlihat menyakitkan. Tubuhnya menderita beberapa luka yang membuat jubahnya berantakan dan kotor, namun setidaknya dia tidak mati dalam serangan ini.
Elena sendiri juga tahu kalau ini bukan pertarungan serius. Dia tahu bila Senolia hanya mengujinya dengan membuat permainan menakutkan seperti ini. Maka dari itu, dia juga berusaha menahan kekuatannya untuk tidak meninggalkan bekas luka di antara mereka dengan membunuh salah satu penther milik lawan tandingnya. Dia hanya merasa kesal dan ingin menghancurkan Senolia!
“(Bagus, kamu telah mengalahkan penther ini setelah mengalami pertarungan yang sangat menguras tenaga. Untuk waktunya, jika aku menghitung sejak kamu memegang katana itu ini lumayan cepat juga. Hanya sekitar 55 detik. Tapi kembali ke topik awal, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya? Musuh berada di tempat yang tidak diketahui dan hujan anak panah ini menjadi semakin deras. Aku sampai bingung bagaimana tangan orang atau penther yang menembakkan anak panah ini.)” Aya memiliki mata datar ketika mengatakannya.
*Tap!*
Elena mendarat dengan masih di dalam bola hitam sebelum mengatakan, “Yah, bagaimana, ya? Aku sendiri juga lumayan bingung dengan cara memenangkan pertarungan ini menggunakan tenaga seminimal mungkin. Penther pendukung ini setidaknya bisa menggunakan skill pertahanan pada dirinya sendiri dan memiliki pertahanan kuat, sedangkan penther pemanah bisa menghujani kita dengan lusinan panah hanya dalam waktu satu detik. Kalau menurutku, sih, cara termudah untuk bisa mengakhiri pertarungan ini dalam waktu tercepat adalah menggunakan skill ke-3-mu yang memiliki daya boros dalam penggunaannya.”
“(Hou… aku mulai merasa takut sekarang,)” jawaban Aya sambil menyeringai.
__ADS_1