
Misi yang diberikan Asosiasi membawa Elena dan Nana ke Hollow Forest. Mereka belum sampai. Keduanya transit ke kota terdekat dari Hollow Forest. Bagaimanapun tempat yang akan mereka kunjungi sangat berbahaya. Tidak semua Trainer yang menuju ke sana kembali. Pendaftaran ini akan mempermudah untuk mendata siapa saja yang mati. Meski berbahaya, pasti masih ada orang yang mau ke tempat berbahaya untuk mendapatkan reward setara. High risk high return.
“Pagi hari yang indah dengan kabut tipis menyejukkan mata. Namun tak peduli sejernih apapun kaca, pasti ada yang menodainya. Mengapa gerangan berada di sini, wahai musuh yang tak tunggu-tunggu?” Mata Elena menatap Fedora, musuh yang dilawannya saat di reruntuhan kuno. Bibirnya terangkat dengan senyuman kaku.
“Memang kenapa? Aku bisa muncul di mana saja, ‘kan?” Fedora tersenyum halus. Dia menang dalam provokasi ini.
“Eh? Apakah kalian berdua saling kenal?” tanya Nana yang tak tahu apa-apa.
“Sungguh saya mengenalnya, sungguh saya membencinya,” ucap Elena menggunakan nada puitis. “Beliau lah anggota Black Night Company, seteru kita berdua.”
“Kalau begitu kenapa tidak diserang?”
“Kita ada di keramaian. Bisakah kau membayangkan jika dia meledakkan tempat ini? Banyak orang akan terlibat!” jelas Elena. Dia mendengus.
Mereka bertiga sedang mengantri di loket. Di depan, belakang, serta jalur kana dan kiri ada banyak Trainer tingkat rendah yang renyah untuk menjadi sandera.
“Sungguh betul tuturan Dinda. Memikul petaka tak akan betul,” sahut Fedora.
“Apaan sih manggil ‘Dinda’? Namaku Elena. Jangan sok puitis,” celetuk Elena. “Nih Author pasti gak bisa nulis puisi tapi sok-sokan bisa. Aku bisa baca pikirannya!”
“Ya maaf. Kan kamu sendiri yang mulai pakai nada puitis? Kupikir aku juga harus pakai padanan kata yang terdengar puitis,” timpal Fedora.
“Bailah, baik. Abaikan saja itu.” Elena memandang pria bertopi itu. “Jadi apa yang membawamu ke mari, Antagonis? Aku bisa menebak kalau kamu mau ngambil Buah Evolusi tapi aku aku akan husnuzan dulu.”
“Tebakanmu sudah benar, kok. Aku mau ngambil Buah Evolusi di dalam Hollow Forest. Kita berlomba untuk mendapatkannya!” Fedora mengepalkan tangannya sambil menunjukkan senyuman. Itu adalah senyuman persaingan seperti dua orang yang saling menantang satu sama lain—pasangan rival.
__ADS_1
“Gak usah sok akrab, deh. Aku sudah punya calon suami,” jawab Elena tanpa minat.
“Eh? Benarkah? Memangnya usiamu berapa, Elena?” tanya Nana.
“Gak usah tanya! Paham?” Elena melepaskan hawa intimidatif yang membuat Nana merasakan dingin menjalar di punggungnya. Bahkan Trainer lain yang tidak ada sangkut pautnya juga merasakan tekanan mendominasi itu.
“Wah, wah…. Seperti yang diharapkan dari seseorang yang bisa membuatku kewalahan. Aku ragu jika kau adalah manusia biasa.” Fedora masih bisa berdiri tenang dengan senyuman yang sama.
Elena berbalik padanya dan menjawab, “Aku ini 100% manusia biasa, lho.” Meski dengan tambahan dari dunia lain—tambah Elena di dalam benak.
Antrian ini cukup panjang untuk membuat mereka berdiri selama berjam-jam. Setidaknya tidak terasa membosankan dengan mereka berdua yang saling berbalas dialog. Akhirnya giliran mereka tiba, kemudian Fedora yang terlebih dahulu maju. Dia mengatakan, “Kita pasti akan bertemu lagi~” sebelum dia menghilang ke dalam pepohonan rindang. Elena cemberut karena itu. Dia dengan sangat cepat, karena menggunakan Accel, mengisi formulir. Dia juga mengisi formulir Nana.
“D-Dek Elena? Bukannya ini terlalu cepat?” Mulut Nana terbuka dan gemetar.
“Selesai…. Yuk masuk!” Dia tersenyum cerah pada Nana. Di baliknya ada aura kesal yang sangat besar untuk mengalahkan Fedora.
“Mau memprovokasi lagi nih ceritanya?” tanya Elena dengan wajah kesal.
“Terserah bagaimana kau menanggapinya. Yang pasti kita sudah berada di dalam Hollow Forest. Kau pasti tahu apa maksudnya, bukan?” ujar Fedora.
“Tidak masalah bila kita saling membunuh. Tentu aku tahu apa maksudmu,” jawab Elena.
Sering ada orang hilang di dalam hutan ini. Melakukan pembunuhan di dalam sini sangat mudah. Kemungkinan besar akan ada penther liar yang akan memakan mayat si korban dan pelaku tidak akan ketahuan.
“Kita baru masuk ke sini dan kau sudah mau membunuh orang. Apa tidak ada kerjaan lain selain membunuh?” celetuk Elena.
__ADS_1
“Nggak juga, kok. Aku ini orang sibuk, aku ini memiliki banyak pekerjaan. Sedikit-sedikit disuruh melakukan ini dan melakukan itu. Banyak deh pokoknya. Tapi yah, aku yakin kau pasti akan menjadi gangguan yang merepotkan. Karena itu aku akan mengalahkanmu.” Fedora mengarahkan jari telunjuknya pada Elena.
“Merepotkan saja…,” gumam Elena.
Dari tangan kanan Elena, sebuah pasak hitam timbul. Ia maju menggunakan kecepatan ganda dari skill Accel Aya. Mengangkat pasak hitam, dia hampir berhasil memenggal kepala Fedora, tapi ….
*Dar!*
Tembakan bola cahaya kebiruan mendatangi Elena dari sisi tubuhnya. Dirinya cukup cekatan untuk melompat mundur sebelum serangan itu mengenai dirinya.
Elena mendarat. Matanya mencari-cari di semak-semak pada penther yang baru saja menyerangnya. Kemudian dia fokus pada Fedora dan berkata, “Aku terlalu naif jika berpikir kamu tidak memiliki rencana untuk mengalahkanku.”
“Tentu saja, aku sudah membuat rencana,” jawab Fedora ringan. “Tempat ini adalah Hollow Forest, hutan kekosongan. Penther-penther yang ada di dalam sini adalah penther tipe hantu. Selain merupakan tipe penther terkuat dan terdekat dengan either ada satu hal unik pada sikap mereka dibandingkan penther lainnya. Apa kau tahu?”
“Maaf-maaf, nih, ya, tapi aku bukan ahli penther. Aku juga bukan anak IPA,” balas Elena dengan mata datar. Dia menuntut jawaban.
“Oh, gitu ya? Kupikir kamu lebih pintar, tapi ternyata gak tau apa-apa. Ini salahku karena mengira kamu tahu,” ujar Fedora.
Elena menggelengkan kepalanya dengan senyum masam. Kali ini orang ini berhasil membuatnya marah. Tanda perempatan muncul di atas kepalanya. Dia mencengkeram erat-erat pasak hitam di tangan kanannya. Andaikan saja itu leher pria di depannya….
“Penther tipe hantu memiliki level kekuatan dan kecerdasan yang berbeda dibandingkan penther biasa. Salah satu ego mereka yang paling tinggi adalah tentang menyelamatkan nyawa. Dari itulah ketika ada seseorang yang mencoba untuk membunuh maka mereka akan diserang oleh mereka. Menurutmu kenapa tidak ada kasus pembunuhan di sini? Karena bahkan jika ada pelakunya ikut mati. Dan karena kau sudah berusaha untuk membunuhku, mereka akan mengincarmu,” jelas Fedora.
Beberapa penther bermunculan dari udara kosong. Mereka memiliki tubuh berwarna biru transparan. Masing-masing memakai jubah kain lusuh dan masing-masing tertunduk. Anatomi mereka kurang lebih sama seperti manusia dengan tubuh bagian bawah berkabut.
“Baiklah, aku permisi dulu.” Fedora berjalan menjauh. Dia jalan dengan santai.
__ADS_1
“Heh, sepertinya menginjak rumput saja akan memancing mereka, ya,” gumam Elena.