
"Yah…, aku rasa tempat ini menjadi lebih berbahaya karena pertarungan ini. Lebih baik pergi dari tempat ini dari pada terus bertarung atau menonton dari sini," gumam Pięć sebelum dia akhirnya menjauh dari lokasi pertarungan.
Sejak tadi dia masih di sekitar sana dan menonton pertarungan antara Elena dan Dwa. Bukannya dia ingin tidak melakukan apapun sama sekali, melainkan dia ingin tahu tentang bagaimana seniornya bertarung dan mungkin dapat memikirkan satu atau dua hal mengenai trick and tips saat bertarung. Namun saat ini ketika pertarungan menjadi lebih ganas, dia memutuskan menjauh dan melakukan evakuasi pada dirinya sendiri.
•••••
Di tempat lain, kondisi yang kurang lebih sama juga menimpa Theresa dkk. Mereka berempat yang ada di dalam gedung akademi tidak luput dari serangan bola api Elena yang membabi buta. Jika mereka tetap di sana, mereka akan menjadi abu karena gosong atas serangan Elena.
Oleh sebab itu sebagai langkah penyelamatan diri, Sophia membawa mereka bertiga pergi melalui jalur udara. Dia merupakan satu-satunya spirit dengan tingkat cukup tinggi di antara mereka berempat dan memiliki kemampuan melayang. Akan sia-sia belaka jika tidak memakai kemampuannya itu.
"Ti-Tinggi sekali, ya. Bu-bukannya aku takut ketinggian atau memiliki phobia terhadap tempat tinggi. Ha-Hanya saja, aku sedikit was-was melihat tanah dari ketinggian ini. La-Lagi pula, aku juga akan mati kalau sampai jatuh dari ketinggian ini. Ja-Jadi, takutku ini bukan masalah besar, 'kan?" Angelica memiliki suara yang bergetar ketika mengatakannya.
Sementara Theresa dan Glence bergantungan pada kedua tangan Sophia, Angelica berada di balik punggung Sophia, memberikannya tempat yang lebih nyaman dari pada keduanya. Namun meski begitu, melihat dari ketinggian merupakan sesuatu yang baru bagi Angelica, membuatnya takut saat melihat ke bawah.
"Sudah, jangan banyak bergerak. Kalau aku jatuh, kalian bertiga akan masuk ke dalam kobaran api itu, lho," ucap Sophia dengan datar.
"A-Anu, Sophia, caramu mengatakan seperti biasa saja. Tapi jika kita melihat ke bawah, ini benar-benar sangat mengerikan dan aku tidak ingin masuk ke dalam kobaran api itu." Theresa mengarahkan pandangannya pada bangunan gedung di bawahnya.
"Huh, aku, sih, berterima kasih karena spirit tingkat tinggi yang mengerumuni kita menjadi pergi dengan ini. Tapi, kalau kita jika menjadi target serangannya seperti ini, sana saja berada dalam kondisi membahayakan." Glence tampak kesal dengan dia yang menghembuskan napas dan menutup matanya.
"Setidaknya kita mendapatkan lebih banyak liburan setelah ini. Dengan hancurnya gedung sekolah seperti ini, aku yakin sekolah akan ditutup untuk waktu yang belum ditentukan sampai dibangun kembali. Akibat sampingannya, mungkin vakaj ada beberapa murid dan guru yang memilih untuk pindah. Kecuali dia miskin, aku ragu putra-putri bangsawan itu mau belajar di ruang terbuka dan di bawah reruntuhan," komentar Sophia.
"Mengatakan itu tepat di depannya sedikit…." Glence merasa itu sebagai sindiran baginya.
__ADS_1
Bagaimanapun Glence merupakan salah satu putri bangsawan yang tidak miskin sehingga dia merupakan salah satu anggota himpunan yang dikatakan Sophia. Sophia tentu saja tidak mengatakan ini menggunakan perspektif subjektif, namun juga memperhitungkan melakukan data objektif dari betapa mahalnya menu di kantin akademi.
Mengabaikan tentang respon Glence, Sophia melirik pada area pertarungan Sześć dan Akari yang menjadi pertarungan satu sisi. Untuk Sześć, dia menerima banyak serangan, namun itu semua tidak melukainya sama sekali, sedangkan Akari menerima banyak serangan kuat, yang mampu ia sembuhkan lukanya sendiri, namun dia tidak berhasil memberikan serangan balik.
"Ngomong-ngomong, Theresa, apa kamu bisa menumbuhkan sayap menggu aja teknik darah milikmu?" tanya Sophia.
"I-Iya, aku memang bisa menumbuhkan sayap, tapi aku tidak bisa memakainya untuk terbang saat ini. Seperti yang kau tahu, aku cukup buruk dalam menggunakan itu dan jarang melakukan latihan manuver di udara. Jika pun bisa, aku rasa akan menjadi hal yang sulit untuk membawa dua orang sekaligus," jawab Theresa.
"Sayang sekali, ya. Padahal aku berniat menolong Spirit King of Light karena dia terlihat kesusahan saat ini. Tapi kalau tidak bisa …, ya sudahlah. Lagi pula, aku tidak memiliki hubungan yang benar-benar penting padanya dan dia juga bukan urusanku." Sophia mengatakannya dengan tidak memiliki rasa bersalah sedikitpun.
"Maaf, deh, kalau aku ini hanya bisa memasak nasi goreng. Lain kali, aku juga akan mulai berlatih bertarung untuk bisa pembelaan diri." Angelica memiliki aura suram di sekitarnya.
"Oh iya, sebenarnya ini tidak penting, tapi aku benar-benar penasaran tentang ini. Kenapa kamu menumbuhkan sayap di belakang punggungmu, Sophia? Bukankah kamu bisa melayang tanpa itu?" tanya Theresa heran.
•••••
*Bam!* *Bom!*
Sześć memukul keras pada Akari sampai membuatnya terpelanting dan menabrak dinding dengan menyisakan lubang menganga besar.
"Apa kamu tidak ingin menyerah saja, Spirit King of Light? Aku akan memberitahumu, kamu bukan target dalam penyerangan kali ini dan kamu tidak ada hubungannya dengan kami. Aku tidak suka melawanmu, kamu bukanlah target yang layak untuk dihabisi dengan kekuatanmu saat ini," ucap Sześć dengan nada dingin mencekam.
"Ugh…, jangan… harap!" Akari perlahan bangkit dari reruntuhan akademi tempat ia terjatuh. "Aku masih memiliki kebanggaan sebagai raja spirit. Hanya kalah melawan manusia sepertimu…."
__ADS_1
'Uh…, baru kali ini aku menghadapi situasi sesulit ini. Kemampuan serangan beruntun elemen cahaya milikku memiliki daya serang rendah namun menguntungkan saat melawan musuh dalam jumlah banyak. Tapi, saat ini dia bisa menyerap semua serangan sihir di tingkat rendah, membuat semua seranganku tidak memberikan dampak padanya.'
'Aku sudah Memastikannya, dan nyatanya dia masih dapat menerima serangan fisik. Tapi dengan kekuatan fisikku saat ini, aku tidak dapat memberikan kerusakan padanya. Tubuh dari spirit yang aslinya tercipta dari elemen yang mereka miliki, membuat tubuhku cepat namun juga memiliki daya serangan rendah.'
"Ya sudahlah jika itu maumu. Mencuci otak spirit yang telah mengembangkan bentuk manusia akan menjadi lebih sulit dari pada hanya mencuci otak spirit dalam bentuk hewan, tapi bukan berarti merupakan sesuatu yang mustahil untuk bisa mencuci otak mereka." Sześć mulai melangkah maju mendekat pada Akari.
*Sis!* *Sis!* *Sis!*
Beberapa anak panah darah berwarna kemerahan jatuh dari langit dan menghujani Sześć.
"Hmm!" Sześć cukup terkejut karena serangan mendadak itu, namun dia dengan mudahnya berhasil bersalto beberapa kali ke belakang untuk menghindari mereka.
*Stab!* *Sis!* *Sis!* *Sis!*
Setelah menusuk tanah, anak panah tersebut berubah menjadi bola tetesan darah, kemudian masih terus bergerak mengincar Sześć.
*Burn!*
"Merepotkan saja!" Sześć menciptakan sebuah dinding darah dan menguapkan semua tetesan darah itu.
*Tap!*
Sophia mendarat di dekat Akari, menutup sayap di punggungnya, lalu berkata, "Sangat menyedihkan melihat seorang raja spirit berada dalam kondisi menyedihkan seperti ini. Aku akan membantumu kalau begitu." Sambil mengarahkan perhatiannya pada Sześć.
__ADS_1
Akari mendecakkan lidahnya dan berkata, "Jujur saja, aku tidak suka dibantu oleh spirit yang tingkatannya lebih rendah sepertimu. Kalau bukan karena terpaksa, aku pasti sudah menolakmu."