Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik
Menggabut


__ADS_3

Seperti yang mereka berdua katakan, Senia dan Zenia sedang makan di kantin. Tentu saja, mereka memakan makanan yang dibuat sendiri dari pagi sebelumnya.


Di dalam kantin ini, suasana sangat kosong dan sepi. Selain keenam murid yang ada di sana, hanya ada Noctis yang menjadi guru, yang artinya tidak ada orang yang memasak makanan untuk makan siang atau petugas kantin. Setidaknya, ruangan kantin ini sudah berada di tahap pembangunan sama seperti ruang kelas dan layak untuk dihuni.


“Kak Zenia, menurutmu bagaimana tentang akademi ini?” tanya Senia.


Zenia menelan makanan yang dikunyahnya sebelum mengatakan, “Tidak bisakah kamu diam saat kita berdua sedang makan, Adikku?”


“Tidak bisa, Kakak. Sayangnya aku sedang ingin tahu bagaimana pendapat Kakak mengenai sekolah ini,” ucapnya datar tanpa rasa bersalah.


“Sangat sederhana, Adikku. Tempat ini sama sekali tidak memiliki harapan tanpa adanya orang yang mau belajar di sini. Kalau bukan karena keluarga kita yang tidak mau memberikan tempat belajar lain, niscaya kita berdua akan memilih tempat lain untuk belajar,” jawaban datar Zenia tanpa mempermasalahkan gangguan Adiknya.


“Aku penasaran kenapa Noctis-sensei tetap mempertahankan tempat ini untuk mengajar kita. Apa dia sama sekali tidak khawatir dengan uangnya?” tanya Senia lebih lanjut.


“Aku tidak tahu seberapa kaya dan berapa banyak uang yang ia miliki. Aku hanya tahu kalau spirit biasanya tidak memiliki uang.”


“Fumu, benar.” Senia mengangguk membenarkan. “Pada dasarnya, spirit tidak perlu makan untuk mendapatkan energi mereka yang akan digunakan untuk beraktivitas. Mereka juga lebih suka hidup dan tinggal atau menggunakan sesuatu yang alami dalam kegiatan harian mereka. Noctis-sensei sangat aneh karena dia terlalu banyak terlibat dalam masalah umat manusia.”


“Apa mungkin ini ada hubungannya dengan kontraktornya—Elena—?” Tebak Zenia “Tapi, aku rasa itu kurang tepat.”


“Aku kurang tahu tentang itu, tapi aku rasa Elena tidak akan melakukannya. Menurutku, justru Noctis-sensei lah yang memberikan pengaruh lebih banyak di antara mereka berdua.”


“Bagaimana kau tahu, Adikku?”


“Firasat….”

__ADS_1


Zenia menggigit roti gandum di tangannya sebelum mengatakan, “Lain kali, tolong jangan menggunakan firasat sebagai dasar argumen apapun, wahai Adikku. Firasatmu itu sama sekali tidak memiliki dasar dan seringkali menyesatkan. Apa kamu tidak tahu berapa kali kita tersesat ketika berada di kota berkat kemampuan firasatmu itu, Adikku?”


“Umu, aku mengerti.” Senia mengangguk sebelum bertanya, “Ngomong-ngomong, Kakak. Dari mana Kakak mendapatkan roti gandum ini? Aku tidak ingat Kakak memiliki keahlian memasak?”


“Aku memasaknya. Entah bagaimana aku bisa tahu bagaimana cara memanggang roti menggunakan tungku,” jawabnya. “Di tempat ini mungkin tidak ada orang lain yang tinggal di sini selain kita bertujuh, namun fasilitas di sini dapat digolongkan sebagai lengkap.”


“Jadi kamu menggunakan peralatan memasak di kantin, Kakak?” tanya Senia atas deduksinya.


“Ya!” jawaban singkat darinya.


“Bagaimana kamu tahu cara membuat roti, Kakak? Aku tidak pernah tahu kamu memiliki kemampuan untuk memasak sesuatu. Bukankah kamu lebih sering menghabiskan waktumu untuk membaca buku tentang teori yang belum mesti sesuai kenyataan.?”


“Firasat…. Aku memiliki firasat untuk mencampurkan semua bahan menggunakan takaran tertentu, lalu memanggang mereka semua di dalam tunggu sambil menambahkan sihir api. Aku mengandalkan firasatku untuk mengetahui kapan itu matang atau tidak.”


•••••


Di lain tempat, yaitu jalanan Ibu Kota, Gil sedang berjalan-jalan mengabaikan semua orang yang berlalu-lalang di kanan-kirinya.


‘Tempat ini sudah jauh berubah berkat serangan minggu lalu. Para pekerja dari perusahaan milik keluarga Theresa juga bekerja dengan giat untuk memperbaiki semua kerusakan yang ada di sini. Aku tidak tahu apakah ini tempat yang baik atau buruk untuk kerajaan, tapi aku yakin ini bisa memperbarui semua kehidupan masyarakat yang telah terdampak bencana penyerangan waktu itu.’


Beberapa lama dia berjalan, dia akhirnya sampai ke sebuah kedai makan. Di sana memiliki banyak pelanggan dan penuh akan hal itu. Namun meski demikian, tidak ada satupun dari pelanggan-pelanggan tersebut yang berdesak-desakan. Jumlah mereka tidak sebanyak itu untuk menjadi berdesak-desakan.


‘Sebagai anggota masyarakat yang memiliki posisi hidup yang sangat rendah dan masuk ke dalam grup sobat misquen, aku perlu mendapatkan lebih banyak uang untuk bisa menyambung hidup. Maka dari itu, aku memutuskan untuk bekerja sampingan di tempat ini.’


Dia—Gil—masuk ke dalam kedai tersebut setelah terdiam ketika menatapnya untuk beberapa waktu. Di dalam sana, dia langsung melewati semua meja dan pelanggan yang ada di sana, kemudian masuk ke ruangan dapur.

__ADS_1


Tujuannya di tempat ini adalah untuk bekerja. Akademi dan Noctis tidak sebaik itu untuk memberikan jatah makan gratis pada setiap muridnya. Noctis sendiri lebih suka memberikan mereka pelajaran yang keras tentang bagaimana bertahan di dunia yang kejam ini, tetapi dia tetap akan membantu dan memberikan dukungannya jika murid-muridnya memiliki masalah yang terlalu tinggi.


Bagaimanapun, dia tetaplah seorang guru dan memiliki tanggung jawab atas keselamatan murid-muridnya. Dia akan menjadi makhluk yang lalai akan tugas atau lebih tepatnya tanggung jawabnya jikalau dia meninggalkan anak didiknya terjerumus dalam masalah. Sikap kerasnya ini hanya ditujukan untuk membangun mental murid-muridnya.


•••••


Di lapangan latihan, Theresa dan Sophia masih melakukan latih-tanding menggunakan teknik pengendalian darah masing-masing. Dalam pertarungan ini, tentu saja Sophia mendapatkan keunggulan dalam hal teknik pengendalian darah dan senjata yang digunakan. Panah yang digunakan Theresa tidak efisien saat melakukan pertarungan jarak dekat.


*Bruk!*


Theresa terpental beberapa meter sebelum dia terjatuh.


Di beberapa bagian tubuhnya, beberapa luka sayatan dari pedang terbentuk, namun ini sama sekali tidak memberikan banyak pengaruh terhadap cara bertarungnya.


“Cu-Cukup…. Aku tidak kuat lagi untuk melanjutkan pertarungan ini…,” ucap Theresa lirih.


“Um, baiklah.” Sophia mengangguk datar, dan menghilangkan pedang darahnya sebelum mengatakan, “Aku rasa ini memang sudah cukup. Kamu sudah menderita beberapa luka di tubuhmu dan tidak satupun dari mereka kamu menutupnya menggunakan pengendalian darahmu. Kamu sudah mengalami kelelahan mental dalam mengendalikan semua darah yang ada di tubuhmu.”


Kondisi Sophia masih baik-baik saja. Hanya terlihat beberapa noda darah yang merembes keluar dari bajunya, memberikan coretan berwarna merah. Ini disebabkan oleh beberapa anak panah Theresa yang berhasil mengenai tubuhnya, tetapi dia sama sekali tidak mendapatkan dampak signifikan karena menutup lukanya secara instan memakai pengendalian darah.


“Benar sekali….” Theresa kembali bangkit sambil membuyarkan busur darahnya menjadi aliran darah yang masuk ke dalam tubuhnya. “Apa kamu bisa memberitahu rahasia untuk bisa mengendalikan sihir dalam waktu lama, Sophia-chan?”


“Aku memang terlahir sebagai spirit dan memiliki kemampuan ini sejak awal. Kamu tidak perlu berkecil hati kalau tidak bisa memakai pengendalian darah terus-menerus.” Sophia berjalan mendekat ke Theresa.


‘Wah, mereka berdua memiliki tampilan yang lumayan gore ketika bertarung, ya,’ batin Angelica sambil tersenyum kecut.

__ADS_1


__ADS_2