Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik
Mimpi yang Berisi Kenangan


__ADS_3

“Nee, Sophia, kamu sangat imut, lho~!”


“Dari mana kamu bisa mendapatkan rambut perak itu?”


“Apakah sangat imut! Aku maukah kau menjadi temanku?”


Bayangan samar-samar terlihat di depan Sophia. Beberapa anak berkerumun di hadapannya. Mereka sahut menyahut memuji dan memberikan Sophia pertanyaan. Dia tidak tahu harus menjawab apa.


“A-Aku… entahlah. Sepertinya itu tidak buruk.” Sophia tergagap menjawab. Ekspresi wajahnya datar seperti biasanya namun juga bercampur heran.


Sophia memandang balik satu per satu dari mereka. Masih sama, dia tidak tahu siapa yang ada di depannya. Mereka terlihat seperti bayangan remang-remang. Tidak jelas.


Salah satu anak meraih tangannya dan mengajaknya bermain bersama yang lainnya. “Sekarang kita akan bermain kejar-kejaran! Kau bisa mengejar kami, ‘kan?” ucap anak tersebut. Sophia memandang pada wajah remang-remang anak tersebut. Dia berlari mengikutinya sampai dia baru menyadari jika semuanya telah menghilang.


“Ka-Kalian semua, di mana kalian semua?” Dia menengok ke kanan-kiri dan atas. Ada banyak bangunan terbuat dari batu yang merupakan rumah-rumah penduduk. Sophia berjalan di antara itu semua. Melewati satu masih tidak ketemu, melewati yang lainnya masih tidak ketemu. Suasana ramai sebelumnya berubah menjadi sunyi-sepi dihiasi hembusan angin.


Dedaunan kering dan debu terbawa angin lebih kencang. Mereka menabrak Sophia hingga gadis itu mengangkat salah satu lengannya untuk menutupi wajah. “Kalian semua di mana? I-Ini permainan yang menyeramkan. To-Tolong jangan tinggalkan aku.” Dia memelas. Wajahnya dipenuhi kecemasan.


Sebelum dia menyadari, dia sudah berada di hadapan anak-anak itu. Tapi ini sama sekali bukan yang diharapkannya. Mereka semua tergeletak di tanah dengan darah memenuhi tubuh mereka. Beberapa dari mereka bahkan tercerai-berai anggota badannya.


“Se-Semuanya…,” suara Sophia tertahan di tenggorokan. Matanya bergetar.


“So-Sophia… apa yang kamu lakukan? Kita ini teman, bukan?”


“Kenapa…? Kenapa kau tega melakukan ini pada kami?


“Aku sudah percaya padamu. Kenapa kamu melakukan ini pada kami?”

__ADS_1


“Ti-Tidak…. Bu-Bukan begitu….” Sophia menggelengkan kepala dengan semakin cepat. “Aku tidak mungkin melakukan ini pada kalian….”


“Ini salahmu! Kau lah yang melakukan semua ini!”


“Bagaimana kau akan bertanggung jawab?”


“Nee… kita ini teman, bukan?”


Semua suara itu semakin terdengar keras dan mengerubungi Sophia. Dia meringkuk ke tanah dengan tangan menutupi telinganya. Dia menutup matanya. Dia tak ingin mendengarkan semua ini, semua mimpi buruk ini. Meski begitu suara dari mimpi buruk terus menghantuinya. Hingga yang terakhir ….


“Hei, kau tidak apa-apa?” sebuah suara yang menenangkan terdengar.


Sophia membuka matanya dan melihat siapa itu. “There… sa…?” Gadis itu terasa sangat familiar. Dia memiliki rambut pink panjang yang bergelombang. Warna pupil matanya seiras dengan rambutnya. Dia adalah gadis mungil yang cantik dengan kulit putih dan pinggang ramping. Penampilannya mirip dengan Theresa sebelum menjalin kontrak dengan Sophia.


“Theresa? Siapa dia?” Gadis itu memunculkan tanda tanya di atas kepalanya. “Namaku Karina. Aku sedang mengumpulkan tanaman herbal dan menemukanmu meringkuk di sini. Apa kamu tidak apa-apa?” Sophia melihat alis gadis itu tampak turun menunjukkan kecemasan.


“Hei? Apakah kamu baik-baik saja? Apakah kamu tersesat? Ada luka?”


“Em… aku baik-baik saja.” Sophia menggelengkan kepalanya. Dia berdiri dan membersihkan pakaian dari debu. “Ngomong-ngomong dimana ini? Aku seharusnya ada di Kerajaan Freies.”


“Kerajaan Freies? Itu sangat aneh. Aku tidak pernah mendengar tentang itu sebelumnya.” Gadis itu tersenyum kaku melihat tingkah aneh Sophia.


“Kerajaan itu….” Sophia akan menjelaskan, tapi sudahlah…. Dia menyerah. “Hah, aku tersesat.”


“Bagaimana jika berada di tempatku?” tawar Karina.


“Terima kasih.”

__ADS_1


Sophia menuju ke rumah Karina. Dia tidak terlalu ingat apa saja yang terjadi selama perjalanan. Seakan semuanya sudah diatur. Rasanya hanya perlu sekejap saja untuk sampai ke sana. Tidak ada jarak, tidak ada jeda waktu, dan tidak ada apa-apa. Dia bahkan tidak ingat apa saja yang Karina katakan padanya selama perjalanan. Saat dia sadar, dia sudah berada di depan pintu rumah.


“Ibu! Aku kembali!” teriak Karina. “Aku tidak membawa tanaman yang dicari, tapi aku membawa gadis yang aneh!”


Sophia berhenti dan memandang seksama Karina yang masuk ke rumah. Rumah sederhana dengan dinding kayu. Dia seakan familiar akan tempat ini, tapi di dalam kepalanya ia sama sekali tidak menemukan ingatan. Dia terus berjalan dan masuk ke dalam.


“Kamu ini bagaimana, dasar Karina…. Makanan kita sudah menipis dan siapa itu yang kau bawa?” Seorang wanita yang buram dari penglihatan Sophia memandangnya.


“Namaku Sophia Magnifix. Maaf jika merepotkan. Kemudian untuk memasak, bisa biarkan aku saja yang melakukannya? Aku punya beberapa resep sederhana,” ujar Sophia dengan wajah datar.


“Aku tidak tahu apa yang bisa kamu lakukan tapi, tapi jangan sampai kau mengacaukan dapur.”


“Baik,” jawab Sophia dengan sedikit anggukan.


Sophia melakukan pekerjaan dengan baik. Menghidupkan tungku, memotong cepat, dan lain-lain. Entah bagaimana semuanya berjalan sesuai yang ia harapkan. Dia memasang wajah datar dan fokus pada masakannya. “Wah, kamu sangat hebat, ya.” Karina memuji. Ada juga orang lain yang Sophia tidak tahu itu siapa. Dia hanya merasakan kehadiran yang samar dan buram bagaikan ingatan lama.


Setelah selesai dia berbalik pada Karina dan memberikan piring berisi sup buatannya. “Ini dia. Aku harap ini sesuai dengan seleramu, Theresa.” Mangkuk kayu berisi sup disodorkannya pada Karina.


“Lagi-lagi kamu menyebut nama itu. Kamu ini sangat aneh, ya.” Perawakan Karina memang sangat mirip dengan Theresa. Dia tersenyum lembut berisikan penuh pengertian. “Mungkin ke depannya akan sulit dan aku berharap bisa terus bersamamu. Tapi maaf, ya. Sepertinya aku tidak bisa menolongmu.” Mulut Karina mulai mengeluarkan darah yang semakin banyak dan menetes.


Lagi-lagi sebelum Sophia menyadari pemandangan telah berubah. Rumah yang sebelumnya bersih dan dipenuhi kehangatan dari suasana keluarga telah berubah menjadi hancur. Darah terciprat ke mana-mana. Sebagiannya menutupi tubuh Sophia. Dan yang paling mengerikan dari itu, Sophia memegang pedang darah yang menembus tubuh Karina.


“There… sa…,” sebuah nama terucap dengan kata lainnya tersangkut di tenggorokan. Pupil mata Sophia bergetar hebat dengan kulitnya menjadi lebih cepat. ‘TIDAK!’ teriaknya di dalam batin. Kesedihan dan penyesalan dirasakan Sophia. Entah mengapa dia merasa telah melakukan hal buruk pada seseorang yang sangat disayanginya. Ini sangat aneh baginya. Keseluruhan ini sangat aneh baginya!


Sekitar Sophia perlahan berubah. Seluruh pemandangan berubah hitam dalam kehampaan. “Sebenarnya, sebenarnya apa yang sudah aku lakukan…?” pertanyaan untuk dirinya sendiri. “Sebenarnya, berapa banyak orang yang sudah aku bunuh?” Pemandangan hampa kembali berubah. Seluruh ruang hampa diisi warna merah pekat seperti darah.


“Sophia! Bagunlah!”

__ADS_1


__ADS_2