Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik
Kerajaan Freies


__ADS_3

Kerajaan Freies, sebuah negara yang areanya berbatasan dengan lautan. Mata pencaharian mayoritas berasal dari perairan dan perekonomian maritim berjalan. Selain karena hasil airnya, negeri ini bertransformasi untuk menarik turis. Wilayahnya yang kecil membuat hanya ada raja tanpa strata kebangsawanan lainnya. Sejarahnya tidak melebihi Kerajaan Pulchrasia.


Rombongan Yovanca dkk. berjalan-jalan. Kiri dan kanan mereka adalah suasana ramai dari pasar. Sekarang adalah sore hari. Mayoritas warga di kerajaan ini berada dalam di waktu senggangnya. Karena itu selain pedagang para konsumen juga mencari makanan.


“Who-Whoah…. Baru kali ini aku melihat pasar seramai ini….” Theresa memandang segala arah. Kerumunan besar orang saling berkerumun di sana-sini.


“Pedagang di Kerajaan Freies memiliki adatnya sendiri. Mereka memasarkan dagangan mereka di lapak terbuka alih-alih di dalam toko,” jelas Yovanca. “Bagaimana? Sangat berbeda dengan di Kerajaan Pulchrasia, bukan?”


Theresa tidak mendengarkan penjelasan Yovanca. Dia pergi dari satu lapak ke lapak lainnya sambil bertanya, “Apa yang kamu jual?”, “Ikan apa itu?”, “Wah! Baru kali ini aku melihat ikan segar….” Dia bak anak kecil yang dibawa ke taman bermain. Namun itu tak lama sebelum Sophia menarik punggungnya.


Sophia menarik paksa tangan Theresa kembali ke rombongan. Theresa sedikit meronta. Tapi apa daya saat yang menarik tubuhnya adalah Royale Spirit of Blood. Theresa hanya bisa pasrah dengan kata-kata Sophia, “Kamu jangan misah. Sama kami berdua saja.”


Mereka berlima berjalan menuju ke penginapan. Beberapa kali mampir ke lapak untuk bertanya dan tentang insiden akhir-akhir ini juga tentang harga pasar. Diketahuilah bahwa pasar tidak baik-baik saja dan Theresa mendapatkan ide untuk “menggandakan” uang andai saja Elena dengan kemampuan Cryokinesis ada di sini atau mereka akan membutuhkan spirit elemen es.


Butuh pendingin? Kulkas? Atau alat yang mencegah pembusukan? Tenang saja karena sekarang ada Noctis-sensei. Dia punya berbagai perlengkapan yang salah satunya adalah alat untuk menyimpan item dan menghentikan waktu di dalamnya.


Tentu, dia tidak akan mengatakan itu pada siapa-siapa.


Kembali ke cerita, kondisi pasar mulai terganggu. Saat ini tidak ada masalah untuk beberapa jenis ikan yang bisa dicari di pesisir. Namun untuk ikan dari laut lepas, sudah mulai mengalami kenaikan harga. Salah satu narasumber mengatakan bahwa perompak baru-baru ini menjadi faktornya.


“Perompak!” Theresa terkejut. Mulutnya terbuka lebar.


Dia teringat pada Flying Deadman, roh yang merasuki tubuh Yovanca. Flying Deadman atau Flee sudah lama tidak mendapatkan bagian.


Lelah setelah berjalan seharian, Yovanca dkk. menuju penginapan.


Penginapan tersebut telah dipesankan untuk mereka, Tempatnya mewah dan dibuat khusus untuk tamu dari luar negeri. Kemewahan interior di sini selain menganut kebudayaan negeri luar tetapi tidak meninggalkan nilai-nilai khasnya tersendiri. Hiasan kerang dan perabotan hasil dari Kerajaan Freies dipasang di mana-mana. Semua itu adalah produk kebanggan dan bersaing dengan kebudayaan luar.


“Fuwa…. Akhirnya aku bisa tidur di kasur yang empuk….” Theresa melemparkan tubuhnya ke atas kasur.

__ADS_1


Hari ini sudah malam. Ia dan yang lainnya mengenakan pakaian tidur. Memakai piyama yang nyaman dan ringan. Dibeli di Bumi menggunakan uang Noctis.


Di sampingnya, Sophia duduk dengan elegan. “Tidak bisakah kamu bersikap lebih tenang?” Berbalik, dia melihat Theresa yang sudah tertidur. “Cepat.” Sophia memandang lebih lama ke tubuh Theresa. Entah mengapa, dia seperti merasakan sesuatu. Perasaan yang sangat familiar, kerinduan, atau semacamnya. Pikirannya kosong seakan seperti terhipnotis.


Yovanca masuk. Dia baru saja mengganti pakaian di ruangan sebelah. “Ada apa, Sophia? Kau seperti sedang memikirkan sesuatu?” suara Yovanca melepaskan Sophia dari lamunannya.


Dia pun segera beralih pada Yovanca. “Entahlah. Bagaimana mengatakannya. Aku merasa seperti… seperti aku pernah memiliki orang lain. Orang yang memperhatikanku dan selalu berada di sampingku.” Sophia tertunduk. Alisnya turun. Dia menggali kenangan lamanya yang mungkin telah ia lupakan.


Bagaimanapun juga masa hidup spirit berbeda jauh dengan manusia. Tak aneh bila satu atau dua hal tidak akan pernah bisa kembali meski dengan waktu yang lama.


Yovanca menaruh empati. Dia berdiri dengan senyuman lembut. “Apakah kamu mau jika aku menyisir rambutmu?”


“Em, itu tidak perlu.” Sophia menggelengkan kepalanya. “Aku bisa mengubah tubuh fisikku sesuka hati.”


“Tidak apa-apa. Ini mungkin akan membuatmu ingat beberapa hal.”


Tak bisa menolak juga jika yang menawarinya adalah Yovanca. Sophia beranjak ke kursi dan membiarkan Yovanca merapikan rambutnya yang selalu rapi. Sisirnya lurus ke bawah dengan lancar. Mereka berdua berada di depan cermin. Terpantul bayangan mereka berdua. Sophia memiliki ekspresi yang rumit sedangkan Yovanca tersenyum hangat padanya.


Seorang gadis dengan rambut perak yang indah. Panjangnya sampai ke punggung. Pupil matanya merah seperti darah, tetapi itu juga sangat cerah dan polos. Kulitnya putih. Mungkin hampir pucat bak orang telah meninggal. Ia mengenakan piyama hitam bermotif bintang pemberian Noctis. Sudah berapa lama dirinya tidak berkaca sambil memperhatikan sungguh-sungguh bayangannya. Sehari-hari hanya sekilas untuk memastikan bayangannya.


“Itu adalah bayangan dari dirimu, bukan dirimu yang sesungguhnya.” Yovanca berkata sambil terus menyisir. Sisirnya berjalan dari pangkal ke ujung dengan tangannya mengangkat rambut Sophia. “Tidak peduli seberapa miripnya bayanganmu, namun dia tidak akan pernah menjadi yang asli.”


Sophia saling menatap dirinya dengan bayangannya. Pupil mata merah darah menjadi fokus dalam penglihatannya. Tepat di tengah-tengah terdapat sebersit lingkaran berwarnakan lebih cerah.


“Tidak peduli seberapa nyatanya, bayangan tidak akan menjadi yang asli, Tidak peduli seberapa diusahakannya, asli tidak akan menjadi bayangan,” lanjut Yovanca. Matanya memandang ke bawah pada rambut Sophia. “Tidak peduli seberapa nyatanya, dirimu di masa lalu tidak akan menjadi dirimu sekarang. Tidak peduli seberapa diusahakannya, dirimu yang sekarang tidak akan menjadi dirimu yang di masa lalu.”


“Sebenarnya kau ingin aku melakukan apa?” Sophia berbalik dan memandang Yovanca.


Yovanca berhenti sejenak. Dirinya menunjukkan senyuman yang terasa hangat. Meski tak ada hubungan darah di antara mereka dia memberikan perhatian ini seakan Sophia adalah anak kandungnya.

__ADS_1


“Aku hanya ingin kau menjadi dirimu yang sekarang dengan dibangun dirimu di masa lalu. Kau tidak bisa mengubah masa lalu, tapi kau bisa membentuk masa depan. Tetap rasakan lah kenangan yang kau miliki, tapi jangan terpikat olehnya. Gunakan itu untuk teman-temanmu yang sekarang.”


“Temanku yang sekarang?” Sophia memandang lantai. Dia mengingat kembali masa-masa bersama Elena, Theresa, dan figuran tidak penting lainnya.


Siapa yang kau maksud figuran tidak penting!


(Note: Orang yang jadi figuran di sini kebanyakan orang penting. Contohnya Zarknela yang merupakan Raja dari Kerajaan Pulchrasia atau orang-orang berpengaruh lainnya.)


Sophia telah melakukan banyak hal. Memancing ikan (dengan meledakkan sungai dan sihir lainnya), bertarung di area yang belum terjamah (dengan diawasi ahlinya, Noctis), melawan naga (dalam duel yang aman), dan banyak lainnya. Dia ingat ketika berhitung saja tidak tahu namun Elena dan Theresa membantunya hingga seperti sekarang.


Sophia mengangkat kepalanya. Dia pun mengangguk dengan tekad yang telah diperbarui. “Terima kasih, Bibi Yovanca. Aku sudah memikirkan apa yang harus aku lakukan.”


“Wah, wah, kamu ini memang pintar, ya~.” Yovanca menepuk ringan kepala spirit itu. “Sekarang tidur dulu, ya. Besok kita masih memiliki misi.”


“Baik!”


Di kamar sebelah, Noctis dan Alex melakukan kegiatan jantan mereka—sibuk dengan urusan masing-masing. Noctis duduk di depan layar hologram. Dia bertukar pesan dengan Adi dan Pati yang disuruhnya mencari Elena dalam multiverse. Sedangkan itu Alex mengelap pedang peraknya.


“Menurutmu bagaimana misi kita kali ini?” Perhatian Alex masih pada pedangnya. Dia berbicara dengan Noctis yang ada di balik punggungnya.


“Jujur saja, aku tidak terlalu peduli.” Noctis melirik. Namun dia segera kembali dalam sepersekian detik. “Selama aku datang ke TKP, aku pasti bisa membantai mereka dengan mudah. Aku lebih peduli pada subjek tesku.”


“Elena kah? Aku sama sekali tidak tahu bagaimana jalan pikir kalian (para roh).”


“Kau terlalu meremehkannya. Tidak, kau sudah tahu kekuatannya.” Noctis menjeda sebelum melanjutkan, “Dia itu bukan gadis biasa, lho. Aku pernah mereinkarnasikan orang lain. Namun waktu itu aku menggunakan item rendahan dan beberapa kegagalan terjadi. Yah, orang itu sekarang kehilangan ingatan dan seluruh kemampuan masa lalunya.”


“Benarkah? Siapa dia?”


“Entahlah. Aku juga sudah lupa.” Nocti mendongak ke atas, keluar dari jendela. Di sana langit bertaburkan bintang di atas lautan sangat indah. Setiap bintang berkedip menciptakan pemandangan menyentuh. “Seharusnya orang yang bereinkarnasi memiliki otak lebih pintar dari rata-rata karena penggabungan ingatan. Tetapi tanpa ingatan, mereka seharusnya hanya mewarisi ego. Itupun juga dengan kemungkinan yang tak teruji. Anggap saja uji coba itu gagal.”

__ADS_1


“Apakah kamu sudah lupa sepenuhnya?” Alex menengok punggung Noctis.


“Seharusnya dia masih berada di dunia ini. Aku tidak melakukan uji coba ini antar dunia untuk melakukan pengamatan. Sayang sekali aku tidak bisa melacaknya.”


__ADS_2