Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik
Jalan-jalan Santai di Kota Pertama ini


__ADS_3

Keesokan harinya, Elena dkk jalan-jalan ke kota ini untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai lingkungan sekitar mereka, terutama tentang sosial dan kebudayaan di sana. Elena berasal dari dunia lain, Leon dari desa, Kitsuna dari adalah alien. Komposisi ini sudah cukup untuk menunjukkan bila tidak ada satupun di antara mereka yang familiar dengan tempat ini.


‘Secara garis besar, tempat ini sama saja dengan bumi, mulai dari strata sosial sampai ekonomi. Mereka sama-sama menggunakan uang kertas untuk berbelanja dan tidak ada sistem kasta yang membeda-bedakan antara satu golongan dengan golongan lainnya. Hanya saja, keberadaan penther di dunia ini memberikan banyak sekali perbedaan antara di sini dengan di bumi.’


‘Pertama, jalanan di sini tidak dilalui oleh kendaraan bermotor, melainkan orang-orang hanya berjalan kaki, naik sepeda, atau menunggangi penther mereka jika mereka punya satu yang besar. Ini menjadi sesuatu yang sangat baik karena dengan ini udara dan atmosfer dunia ini tetap terjaga dari polusi. Untuk penyaluran logistik, itu tidak menjadi masalah karena peran penther menggantikan sebagian besar dari semua itu.’


‘Dan karena kendaraan bermotor tidak melewati tempat ini, jalan menggunakan paving atau beton. Di sepanjang kanan-kiri jalan, saluran air atau selokan terlihat sangat lancar dan tertutup dengan baik oleh logam yang berongga. Dapat aku asumsikan, orang-orang di dunia ini, khususnya di kota ini memiliki perhatian yang bagus untuk kebersihan.’


‘Kalau di tempat asal awalku dulu saluran air tersumbat sampah dan airnya kotor banget.’


“Wah….” Kitsuna memperhatikan sekeliling dengan mata berbinar. “Tempat ini sangat hebat! Ini sangat berbeda dari kampung halamanku yang terlalu tradisional dan tanpa peningkatan infrastruktur yang modern! Ke mana kita akan pergi? Apa kita akan membeli makanan? Pakaian? Atau lainnya?”


Sedikit berbeda dengan penampilannya sebelumnya, Kitsuna memakai sebuah topi lebar berwarna krem. Ini dilakukan oleh mereka untuk menyembunyikan telinga Kitsuna, yang mana bentuknya mirip telinga rubah dan tidak memiliki telinga di ke-2 sisi seperti manusia.


Untuk ekornya, sayang sekali itu terlalu sulit untuk disembunyikan karena ukurannya yang terlalu besar. Namun setidaknya, itu masih aman saat seseorang melihatnya dengan alasan aksesoris cosplay.


“(Aku tahu kamu bersemangat, tapi tolong jangan terlalu berlebihan.)” Aya duduk di atas kepala Elena, tetap santai seperti tidak memiliki beban hidup. “(Kita berada di grup sobat miskin saat ini, kita tidak memiliki cukup uang untuk membeli makanan mewah atau pakaian megah. Lebih baik, tidak perlu terlalu berharap tentang apa yang kamu pikirkan itu.)”

__ADS_1


“Hus, kamu, kok, berburuk sangka, sih,” balas Elena datar. “Semiskin-miskinnya kita, setidaknya aku masih memberimu makan berupa daging. Yah, itu memang daging tikus, sih. Tapi, itu tetap saja merupakan daging segar.” Dalam benaknya, Elena menambahkan, ‘Antibody kucing untuk melawan bakteri lebih baik dari manusia, seharusnya tidak apa-apa untuk memberikan makanan ini, ‘kan? Jika dia mati, aku akan menguburkannya dengan layak.’


“(Masalah utamanya bukan ada di situ, tapi ada pada kita yang tidak memiliki pemasukan sama sekali. Benar, ‘kan, juniorku?)” Aya memalingkan wajahnya pada Leo.


Leo sendiri saat ini berada di atas bahu kanan Leon. Berbeda dengan Aya yang tampak santai seperti tidak memiliki beban hidup, dia dan Leon sedang asyik mengamati lingkungan sekitar mereka. Ini baru pertama kalinya mereka berdua sampai ke kota yang lebih megah dari desa sebelumnya, membuat keduanya merasa terkagum-kagum.


‘(Cih! Dia tidak merespon ternyata. Padahal kalau hanya merupakan sebuah kota seperti ini, aku sudah pernah datang ke tempat yang lebih bagus dari ini saat bersama trainerku sebelumnya. Apakah tempat ini sangat semenarik itu bagi mereka semua? Bukankah tidak ada perbedaan yang terlalu signifikan dari desa itu dengan kota ini selain infrastruktur yang lebih maju dan gaya yang lebih menarik?)’


"Nee~, nee~, Elena, ayo kita pergi ke game center! Ini pertama kalinya aku berada di dunia ini, aku ingin pergi ke berbagai tempat yang ada di sini!" Kitsune menggosokkan kepalanya pada Elena.


Antara menjadi kesal karena ajakan Kitsuna yang memerlukan banyak uang, atau dia yang merasa risih, pokoknya salah satu atau keduanya dari hal tersebut membuatnya Elena merasa kesal pada Elena.


"Kamu harus tahu, kondisi keuangan kita sangat buruk dengan tidak memiliki uang. Jika hari ini kita tidak menghasilkan uang, besok kita semua akan puasa, kecuali jika kamu mau makan dedaunan dan mengisi perutmu menggunakan air. Dan perlu kamu ketahui, kemungkinan terburuk dari ini adalah kita mungkin akan mengalami salah gizi kalau kekurangan makanan sehat,” peringatan tegas dari Elena.


“Dou….” Kitsuna merasa murung mendengar itu, namun setelahnya tiba-tiba berubah menjadi bersemangat, dan berkata, “Aku punya ide! Bagaimana jika aku menggunakan teknik ilusiku untuk menipu mereka? Ini akan menjadi jalan pintas, bukan?”


“Itu adalah ide yang sangat buruk. Kamu bisa dipenjara kalau sampai ketahuan.” Elena mendengus. “Bahkan jika kamu bisa memanipulasi pikiran seseorang menggunakan ilusi, masih ada kamera CCTV yang akan merekam aksimu. Lebih baik kamu menghindari semua tindakan yang ilegal dan mencurigakan. Aku tidak ingin memiliki catatan hitam, setidaknya untuk saat ini.”

__ADS_1


“Fumu, aku paham. Kamu adalah orang yang sangat tegas, ya.” Kitsuna mengangguk seakan paham dengan jalan pikiran Elena.


“Ngomong-ngomong, apa kamu tidak membawa satupun harta dari tempat asalmu? Emas atau apa yang bisa ditukarkan menjadi uang, akan sangat berguna dalam situasi kita saat ini. Walau itu tidak bisa menjadi solusi jangka panjang, setidaknya lumayan untuk mendapatkan tempat bermalam yang lebih nyaman. Sebagai tambahan, kita tidak bisa kembali ke penginapan sebelumnya karena tidak memiliki uang lagi,” tanya dan penjelasan Elena.


“He he, aku sendiri juga miskin di tempat asalku. Asetku yang berupa rumah tidak aku jual, bahkan jika aku menjualnya, aku masih tidak akan mendapatkan pembeli dalam waktu dekat. Maka dari itu, aku pergi ke dunia ini hanya dengan apa adanya, yaitu seluruh kemampuan tubuhku.” Kitsuna tertawa kering tanpa rasa bersalah.


“Kalian berdua, asik sekali mengobrol sesama perempuan, ya. Apa kalian tidak memiliki topik yang bisa membuatku masuk dalam percakapan?” tanya Leon dengan alisnya yang memelas.


“Tidak!” jawaban serempak dari Elena dan Kitsuna.


“Aku akui, ada kesetaraan hak antara gender di dunia ini, tapi bukan berarti kamu bisa bertindak seenaknya. Begini-begini, masih ada beberapa hal yang tidak bisa diikuti bersama antara laki-laki dan perempuan,” jelas Elena.


“Ya, ya.” Kitsuna hanya setuju dengan pendapat Elena.


“Ugh, sangat menyedihkan sekali selaku seseorang yang diasingkan….” Leon kehilangan semangatnya. “Tapi ngomong-ngomong, setidaknya bisa kamu beritahu aku apa yang akan kita lakukan di kota ini untuk mendapatkan uang, Elena?”


“Mudah saja. Kita hanya perlu mengikuti dan memenangkan turnamen harian,” jawab Elena sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2