Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik
Menuju ke Tempat Penyebab Masalah


__ADS_3

Semalam berlalu di dalam hutan dan sekarang hari sudah berganti.


Bocah yang mereka temukan kemarin terbangun dan melihat ke sekelilingnya. Ia keheranan perihal di mana dan apa yang menimpanya ini. Tetapi sebelum dia melakukan sesuatu lebih banyak, Peruru masuk ke tenda dan melihat menghampirinya.


“Kau sudah bangun? Ini sarapan pagi ini.” Dia menawarkan sup di mangkuk.


“Terima kasih.” Bocah itu tak banyak berbicara dan menerima. Dia memang sudah kelaparan.


Dia mengambil mangkuk Peruru dan mulai makan dengan lahap. Peruru yang melihat itupun bertanya, “Ngomong-ngomong, apa yang terjadi? Sungguh, kondisimu cukup buruk. Beberapa hari dalam kondisi itu, dan kau akan mati. Bisa kau menceritakan apa yang terjadi?”


Bocah itu menghabiskan makanannya dengan cepat, kemudian menjawab, “I-Itu,... Aku sendiri juga tidak tahu apa yang terjadi. Tiba-tiba saja desa kami mengalami kekeringan. Air sumur surut dan tanah pertanian menjadi kering. Kami mengirim orang untuk ke luar desa dan melaporkan ini pada Asosiasi Trainer, tapi tak ada satupun dari mereka yang kembali.”


“Begitu ya….” Peruru tersenyum. Dia menyembunyikan kekhawatirannya. ‘Tidak ada kabar tentang desa yang dilanda kekeringan di papan buletin. Seharusnya masalah seperti ini akan muncul menjadi artikel. Karena tidak ada, kemungkinan besar mereka….’


Sześć masuk ke dalam tenda. Dia melihat bocah yang ditolongnya kemarin. “Baguslah kau sudah bangun. Kau juga sudah sarapan, bukan? Ayo, kita pergi ke desa!”


“Tu-Tunggu dulu! Apakah itu cara untuk memperlakukan seseorang yang hampir mati!” bentak Peruru.


“Ck, kau terlalu berisik,” gerutu Sześć.


“Kakak, apakah kakak adalah seorang Trainer?” tanya Bocah itu.


“Ya, begitulah. Aku tidak akan menganggap diriku sebagai yang terkuat, tapi aku cukup percaya diri dengan kekuatanku.”


“Kalau begitu, bisakah Kakak membantuku?”


“Apa? Kenapa? Pertama-tama aku ingin pergi ke desa untuk mencari informasi.” Sześć bersedekap.

__ADS_1


“Aku belum pernah mengatakan ini kepada warga desa, tapi… aku menemukan sosok penther yang mungkin menjadi penyebab semua ini!”


“Hou… menarik. Tapi tetap, kita pergi ke desa terlebih dahulu. Aku perlu melihat-lihat kondisinya lebih jauh.” Sześć bersikukuh.


“Baik….”


Mereka bertiga menuju ke desa. Kondisi di sana persis dengan yang dirumorkan dan dibicarakan bocah itu. “Sangat buruk.” Kata itu seakan cocok untuk menggambarkan situasi desa. Tanah yang mereka pijak telah retak dengan retakan besar. Tanah-tanah kosong, bilapun berisi adalah rumput liar mati dan bebatuan. Banyak dari penduduk desa di sana yang memiliki tubuh kering.


Ada beberapa dari mereka yang berusaha untuk pergi dari desa, tetapi itu malah mempercepat hilangnya nyawa mereka. Di dalam hutan yang mengelilingi desa itu dihuni oleh penther liar. Trainer pemula atau orang biasa hanya menghantar nyawa dari pada disebut usaha melarikan diri.


Berjalan di jalanan setapak, Sześć memiliki ekspresi datar. Berbeda dengan Peruru yang sangat prihatin dengan kondisi mereka. Tetapi meski begitu, di dalam batinnya Sześć benar-benar merasa kasihan dan perih ketika mengetahui kondisi menyedihkan ini.


“Bisa kau kirim aku ke tempat orang yang tahu tentang situasi ini?” pinta Sześć.


“Selain aku, hanya ada adikku yang suka bermain di hutan dan melihat sosok makhluk itu. Apakah Kakak ingin bertemu dengannya?” jawab si Bocah.


Sebenarnya yang ingin dicari Sześć adalah orang dewasa yang lebih dapat dipercaya mengenai masalah ini. Tapi teringat kondisi desa yang buruk dan bocah itu tidak mengatakan tentang orang tuanya, maka dia merasa perlu untuk mengunjungi si adik. Dia terbayang jika kondisi anak-anak seperti mereka pasti lebih buruk karena tidak di dalam pengawasan orang dewasa.


Dan itu benar saja. Di dalam sebuah gubuk yang tertinggal, terbaring sosok gadis kecil di atas ranjang rapuh. Kasur yang digunakan juga tipis dan kasar. Tubuh dari gadis itu sangat kering sama halnya penduduk desa lainnya, tapi di saat bersamaan juga lebih parah.


“H-Hei, a-apakah kamu baik-baik saja? Aku bertemu dengan kakak baik hati yang mau memberikan kita makanan.” Bocah itu memandang adiknya dengan cemas.


Gadis itu sama sekali tak menjawab. Dia tetap terdiam di atas ranjang. Matanya tetap terpejam dengan napas berat.


“Minggirlah. Kondisinya lebih buruk dari yang kau lihat.” Sześć menyingkirkan bocah itu dan berdiri di samping ranjang. Dia memperhatikan tubuh gadis itu yang sangat parah. ‘Tidak makan berhari-hari membuatnya sangat parah. Aku pernah melihat anak kecil mati kelaparan, namun melihat seseorang yang menderita sangat menyesakkan!’


“Apakah dia baik-baik saja?” tanya cemas si Bocah.

__ADS_1


“Sangat buruk. Tapi dia cukup beruntung. Di level ini aku masih bisa menyembuhkan dirinya. Kau masak saja makanan, Peruru.”


Sześć menaruh tangannya di atas perut gadis itu. Tak lama setelahnya cahaya kekuningan memancar dan menyebar di atas tubuh gadis kecil yang terbaring lemas. Seketika itu napas dari gadis kecil terdengar lebih baik, lebih beraturan.


‘Kau masih memiliki hati nurani, ya?’ Shoggoth berbisik.


‘Begini-begini aku masih manusia. Apa yang kau pikirkan dariku?’


‘Kupikir kau adalah manusia tak berperasaan yang menangkap penther secara liar tanpa peduli apa dampaknya. Kupikir kau akan melakukan apapun untuk memenuhi tujuanmu.’


‘Kau terlalu berlebihan memandangku, Shoggoth. Aku ini masih manusia biasa. Ketika ada orang yang sekarat dan aku bisa menolongnya, aku akan berusaha sebisa mungkin untuk menolongnya. Aku ini bukan maniak yang menyukai penther imut saja.’


Sześć pun berbalik pada bocah itu sambil tersenyum. “Kamu tenang saja. Kondisinya sudah baik-baik saja. Sebentar lagi dia pasti akan sadar. Kita tunggu saja Peruru selesai memanaskan sarapan dan memberi dia makan.”


“Benarkah?” Bocah itu berkata dengan tidak percaya.


“Benar, lho~. Makanya, kamu bisa ikut aku untuk  bertemu makhluk yang menyebabkan semua ini?”


Sześć memang mengatakan itu sambil tersenyum. Namun di dalam benaknya dia sangat marah. Saat ini dia ingin sampai ke tempat siapapun yang menyebabkan itu dan meminta pertanggungjawaban darinya. Tentu dia akan membunuh dan membantai siapapun itu yang mengganggunya. Hanya saja untuk saat ini dia masih bisa mengontrol emosinya. Dia masih dapat membuat wajah ramah dan mengabaikan amarah yang bergejolak di dalam dirinya.


Dari itulah, Sześć dibimbing oleh bocah itu menuju ke suatu tempat. Menuju tempat di mana semua akar permasalahan ini berasal. Tujuannya sudah jelas, mengeliminasi siapapun atau apapun itu dan menyelamatkan desa tersebut.


“Jadi inikah tempatnya? Sangat berbeda dari lainnya,” gumam Sześć.


Berbeda dari tempat lainnya yang kering, Sześć sampai ke rawa-rawa. Di bawahnya adalah tanah basah yang licin. Tumbuhan tumbuh terlalu lebat di sini. Beberapa yang menghalangi jalan sangat mengganggu perjalanan dan memberikan medan yang merugikan.


“Kamu kembali saja, ya~. Kamu sama Peruru yang sedang merawat adikmu. Dari sini biar aku saja yang melanjutkan perjalanan.”

__ADS_1


__ADS_2