Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik
Beralih ke Kerajaan


__ADS_3

Setelah pertarungan yang Elena lakukan di dunia lain, kita kembali lagi ke kerajaan Pulchrasia sebagai latar tempat dan TKP. Kata Penulisnya, dia menambahkan beberapa plot tidak perlu untuk memanjang-panjangkan cerita ini. Yah, anggap saja seperti filler. Lagi pula, novel ini awalnya adalah slice of life. Jangan memikirkan novel ini dari sudut pandang novel yang penuh konflik. Konflik di novel ini sangat sederhana sebenarnya.


"Jadi, hari ini aku akan memberikan jam kosong untuk kalian semua. Beberapa hal tidak bisa dihindari dan perlu penanganan secepat mungkin oleh ahli sepertiku. Aku tidak bisa menghabiskan terlalu banyak waktu dengan mengajari kalian semua, kalian paham?" tanya Noctis dengan matanya menunjukkan kemalasan.


Saat ini masih pagi hari, tetapi Noctis langsung memberikan pengumuman bahwa kelas hari ini kosong semenjak jam pelajaran pertama. Masih belum diungkap tentang apa yang terjadi, tetapi Noctis merupakan salah satu orang yang akan bersikap serius, setidaknya selama itu menyangkal nyawa dan keselamatan banyak orang. Jika hanya hal-hal kecil, maka dia akan lebih banyak bercanda.


"Ya, Sensei!"


"Theresa, Sophia, kalian berdua ikut denganku. Lalu untuk yang lainnya, terserah kalian ingin melakukan apa. Aku tidak ada di sini dan aku tidak akan membatasi tindakan kalian selama itu tidak berbahaya dan tidak menganggap keamanan serta ketertiban umum, juga tidak mengacaukan akademi ini. Tapi ingatlah, semua perbuatan kalian akan dimintai pertanggungjawaban pada akhirnya." Noctis memandangi mereka semua sebelum berjalan pergi.


•••••


“Hmm… jadi kita pergi ke Istana Kerajaan, ya, Noctis-sensei.” Theresa memandangi sekitarnya yang merupakan penampakan dari Istana. “Aku tidak suka untuk berada di sini. Maksudku, aku selalu merasa akan mendapatkan sebuah pekerjaan yang sangat merepotkan kalau aku berada di sini. Sebelumnya saja aku dan Elena menerima pekerjaan yang sangat merepotkan, yaitu mengungkap sebuah organisasi kejahatan tanpa jejak apapun.”

__ADS_1


Saat ini matahari sudah tinggi di langit. Suasana di Istana Kerajaan sangat ramai dengan orang-orang yang mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing. Bukan hanya menteri, ksatria, dan pegawai pemerintahan yang ada di sini. Namun pelayan berlalu-lalang di antara lorong untuk mengurus seluruh istana yang memiliki ukuran besar ini. Setiap orang di sini memiliki kesibukan mereka masing-masing….


“Merepotkan….” Mata Sophia datar dan memandang ke arah acak ketika dia mengucapkannya.


“Kalian berdua, jaga kata-kata kalian. Meskipun aku bisa membumi hanguskan kerajaan seorang diri, tetapi bukan berarti kalian berdua bisa seenaknya ketika berada di kerajaan ini. Kalian berdua masihlah penduduk dan wajib mengikuti aturan dari kerajaan ini. Jangan seenaknya sendiri sampai menghina atau merendahkan orang-orang dari tempat ini,” peringatan Noctis.


Terutama jika mereka mengatakan ketidaksukaan mereka di dalam Istana Kerajaan. Terlalu banyak orang di dalam sini, dan mereka tentunya memiliki rasa nasionalisme yang cukup kuat. Jika tidak, bagaimana mereka akan mendapatkan posisi di tempat ini di mana raja dan keamanan keluarga kerajaan dipertaruhkan? Tidak mungkin juga mereka akan mengangkat orang secara asal-asalan untuk bekerja di tempat ini. Bisa-bisanya ada salah satu pembunuh yang masuk dengan mudahnya dan membunuh raja, kemudian pemerintahan kerajaan ini akan kacau hanya karena satu langkah.


Namun melihat dari sisi lain, alasan kekesalan Theresa tidak bisa diabaikan. Di pekerjaan sebelumnya saja dia dan grupnya sama sekali tidak menerima bayaran atau uang muka, bahkan memulai tanpa sedikitpun informasi. Mereka harus mencari semua satu per satu dari nol! Sebuah kerja lembur dan pekerjaan tambahan yang sama sekali tidak dibayar!


•••••


“Hmm… bunga tujuh rupa di tempat ini masih sama saja sejak pertama kali aku datang ke mari, ya. Mereka sangat bekerja keras untuk merawat tempat ini…. Tata letak tempat ini masih sama sejak saat itu dan semua tumbuhan di sana tampak segar. Aku ingin mengambil beberapa dari tempat ini!” Sungguh dorongan motivasi yang tidak memiliki dasar.

__ADS_1


“Hentikan itu!” Tangan Noctis bergerak cepat menangkap lengan Theresa. “Antara dimarahi pengurus taman atau dianggap tidak berbudaya, salah satu dari dua hal itu akan terjadi ketika kamu mengambil bunga dari tempat ini. Tidak bisakah kamu sabar menunggu sampai dia datang? Jangan melakukan sesuatu yang tidak perlu di tempat ini atau kamu akan mendapatkan pelajaran tambahan dariku nanti.”


“Hehe, maaf, Noctis-sensei,” tawa kering dari Theresa. “Aku hanya terlalu gabut dan tidak ada pekerjaan saat menunggu orang. Kamu sendiri pasti paham apa yang aku rasakan saat ini. Kamu pasti pernah menunggu sangat lama ketika berada di restoran bukan? Saat kamu membeli hamburger atau junk food lainnya….” Theresa menarik tangannya kembali ketika cengkraman Noctis telah longgar.


“Aku pernah merasakan gabut, bahkan sering terjadi sejak aku menjadi guru.” Noctis melipat tangannya setelah itu. “Tapi aku memiliki cara lain untuk menghilangkan perasaan bosan itu dari pada melakukan sesuatu yang merusak lingkungan dan mengganggu. Jika kamu mengambil satu bunga, memang tidak akan berpengaruh. Tapi jika semua orang melakukannya sekali, maka perlakuan sama berulang kali akan terjadi, kemudian bunga di taman pun akan habis.”


Intinya, jangan mengabaikan perbuatan buruk meski itu sangat sepele. Jika satu orang melakukan satu perbuatan buruk sekali saja, kemudian itu dilakukan oleh banyak orang, maka perbuatan tersebut akan terjadi sebanyak berkali-kali. Hal sepele yang terjadi berkali-kali tentu saja akan menciptakan sesuatu yang lain, yaitu masalah yang lebih tidak sepele. Jagalah selalu perbuatanmu, peliharalah dirimu sendiri dari kesalahan dan berikan contoh baik untuk semua orang.


“Kalau begitu, apa yang kamu lakukan untuk mengusir rasa bosan itu, Noctis-sensei? Sebagai seorang guru kamu sering merasakan bosan karena menunggu murid-muridmu untuk menyelesaikan jawaban dari soal, bukan? Tolong ajari aku, Noctis-sensei?” Theresa menatap Noctis dengan rasa penasarannya, menunggu jawaban darinya.


“Mudah saja. Ketika kamu berada di restoran, tatap saja kasirnya dengan tatapan intens. Jika mereka memiliki indera peka, maka mereka seharusnya akan mereka akan merasakan perasaan niat membunuh dari seseorang. Dan jika mereka merasa terancam, mereka akan mempercepat pesananmu.” Noctis menunjukkan wajahnya yang penuh percaya diri.


“Begitu, ya.”

__ADS_1


“Hah….” Dengan helaan napas itu, Sophia menggelengkan kepalanya dan menatap pada awan putih di langit. Dia merasa ada yang salah dengan cara Noctis memberikan petunjuk.


__ADS_2