
Pertarungan terjadi antara Elena dan Draka. Saat ini kondisi Elena dirugikan. Tidak, Elena memang selalu dirugikan kecuali di Dunia Spirit. Kemampuan magis dan cenayangnya terbatas. Tapi kali ini dia memang diperlemah karena di atasnya ada mansion yang berisi banyak orang. Mengeluarkan serangan yang terlalu kuat akan membunuh semua orang itu.
,Bukan itu fokus kali ini. Kali ini kita fokus pada Nana Runaria, pemilik Mansion Runaria dan kepala keluarga saat ini. Dia seharusnya tertidur dalam efek obat yang diberikan Draka pada sarapannya, tapi anehnya sekarang dia ada di sini. Hal ini tentu membuat mereka bertiga secara serempak bertanya, “Bagaimana kau bisa ada di sini?”
“Uh, yah….” Nana menggaruk kepalanya. “Ketika aku bangun aku menemukan lorong di balik lukisan. Lorong itu tidak ditutup. Sepertinya ada yang pergi ke ruangan rahasia yang aku tidak tahu apa dan di mana itu, lalu dia lupa menutupnya. Kemudian aku sampai di sini setelah menelusuri jalan menurun…,” jelasnya.
‘Dia ceroboh banget!’ teriak Elena dalam benaknya ketika memandang Draka.
“Sekarang, Draka, apa yang kamu lakukan pada dua pekerja baru?” Nana menunjuk Draka sambil berekspresi serius. “Melakukan tindak perundungan pada anak baru tidak bisa ditoleransi olehmu, sekalipun kamu kepala pelayan.”
“Tidak, tidak, bukan seperti itu ceritanya.” Elena menggelengkan kepalanya. “Dia adalah mata-mata dari organisasi jahat. Dia ke mari hanya untuk mengambil harta keluargamu agar dia bisa membeli bahan peledak berbahaya dan selanjutnya akan dipasok ke organisasinya. Dia tidak sedang merundung kami!”
“Bahan peledak berbahaya!” Schwartz berteriak.
“Ya.” Elena mengangguk. “Di bawah kita saat ini ada tong-tong yang berisi bahan peledak! Makanya hati-hati.”
“Kenapa kau baru bilang sekarang? Kalau naga itu menembakkan laser tamat sudah riwayat kita semua!” Schwartz kesal dengan informasi terlambat ini.
“Berisik! Jangan teriak-teriak terus!” Elena balik meneriaki. “Lagi pula aku juga baru tahu jika itu isinya bahan peledak berbahaya. Kupikir itu isinya zat terkontaminasi.”
Elena mendapatkan informasi dari membaca pikiran Draka di BAB sebelumnya. Dia sama sekali tidak bisa membaca pikiran Draka ketika orang itu memberikan sugesti pada dirinya sendiri yang membuat Elena hanya mendapatkan informasi seputar kepelayanan dari Draka.
“Wah, wah, kau bahkan tahu tentang itu, Gadis Kecil. Tapi sudah cukup sampai di sini saja.” Draka mengangkat tangannya sebagai isyarat pada panthernya. “Tempat ini akan menjadi kuburan kalian!”
“Groar!” Draconik berteriak. Dia memekikan suara keras disertai angin kencang yang berhembus ke seluruh arah. Selanjutnya ia masuk ke dalam ancang-ancang bertarung. Matanya menatap tajam pada Elena. Dia merasa bila Elena lah sosok paling mengancam baginya. Meski tidak memiliki kepintaran tinggi, namun dia masih memiliki insting.
“Nona Nana, tolong pergilah.” Elena bersiap dengan pasak hitam di tangan kanannya. “Kami akan menahannya.”
“Tidak, aku akan ikut bertarung. Aku tidak bisa membiarkan para pelayan di atas dalam bahaya. Kita akan bertarung bersama dan kalahkan dia dengan cepat!” Nana menjawab dengan cepat.
__ADS_1
‘Bukannya lebih baik jika kamu naik ke atas dan evakuasi mereka?’ batin Elena sambil tersenyum pahit di dalam dada. Membuyarkan pikiran itu Elena menjawab, “Apa kamu punya sesuatu yang bisa memberikan buff dukungan?”
“Ya, tentu saja!” jawab Nana. “Berkilau dan menyala. Datanglah, Twilight Star!”
*Cring!*
Sebuah cahaya terang memancar dan seekor makhluk terbentuk. Makhluk itu memiliki bentuk seperti bintang. Dia berwarna kuning dan memancarkan cahaya yang terang. Ada dua mata dan mulut layaknya manusia. Dia adalah rekan Nana, Twilight Star.
“Nama Twilight Star bermakna Bintang Senja. Dia akan—.”
*Ngung!*
Tidak sempat Nana menyelesaikan dialognya, Draconik menyemburkan laser ke mereka. Ini adalah serangan intimidasi, tidak dimaksudkan untuk melukai lawan. Serangan ini meleset dan mengenai langit-langit yang membuat ruangan bergetar dan beberapa tanah jatuh.
“Biarkan aku menyelesaikan dialogku!” teriak Nana.
‘Wah, penulis bisa juga intropeksi. Biasanya jumlah kata malah dipanjang-panjangin,’ batin Elena.
“Hmph! Kau sangat dungu, Draka!” Nana bersedekap. “Kami akan mengalahkanmu dalam BAB ini!”
“Pi~!” Bintang itu berteriak.
Sesaat kemudian beberapa bola cahaya terpancar dan terbang ke arah Schwartz dan Aya. Untuk Aya, tiba-tiba dia merasa bila tubuhnya menjadi lebih ringan dan mendapatkan kekuatan tambahan, sedangkan Schwartz semua lukanya sembuh.
“Twilight Star milikku adalah either tipe pendukung. Selama aku ada di sini, rekanku tidak akan tumbang!”
‘Tunggu, either?’ batin Elena.
“Kalau begitu bagaimana bila kau saja yang tumbang.” Draka menyeringai.
__ADS_1
*Ngung!*
“Groar!” Draconik berteriak keras pada Nana dan disusul menembakkan jalur laser. Berbeda dengan sebelumnya, serangan kali ini bertujuan untuk membunuh. Raungan mengganggu keseimbangan dan membuat panik, lalu laser akan menjadi pengeksekusi akhir.
*Cring!* *Cring!*
Tentu, Elena tidak akan membiarkan itu terjadi. Dia berteleportasi ke sisi Nana dan sekali lagi menggunakan kemampuan itu untuk membawa mereka menjauh. Serangan laser Draconik hanya mengenai langit-langit.
‘Lagi-lagi kemampuan itu. Siapa dia sebenarnya?’ Draka keheranan melihat Elena.
Elena membawa Nana ke sisi Schwartz. Dengan mata yang masih fokus pada Draconik Elena berkata, “Hei, Nana. Kayaknya kamu harus pergi ke Asosiasi untuk melaporkan either itu. Lalu sekarang, dari pada menggunakan dukungan ke penther-ku, bisa kau berikan saja dukungan itu padaku?”
“Apa kau yakin? Itu sangat aneh. Manusia itu lemah jika dibandingkan panther, ‘kan? Apa kamu ingin melawannya?” tanya Nana.
“Hmph, diam dan lihat saja. Tubuhku sedikit istimewa.” Elena menyeringai. “Lalu, Schwartz, boleh aku pinjam belatimu? Aku butuh serangan kuat yang bisa melukainya, meski hanya sekali. Jujur, kulitnya terlalu keras.”
“Silahkan.” Schwartz memberikan belatinya dengan sukarela. “Belati itu menyerap centher energy di udara untuk bahan bakar skill tebasan. Aku tidak yakin berapa banyak lagi tebasan yang bisa dibuatnya.”
“Intinya butuh centher energy, benar?” Elena mengkonfirmasi.
“Lalu skill dukungan apa yang kamu inginkan? Perisai? Pemulih centher energy? Penyembuhan?” tanya Nana.
“Semuanya. Berikan saja aku sebanyak buff yang bisa kau berikan,” jawab Elena.
“Eh? Semuanya!” Nana terkejut. “Bukannya tidak bisa, sih. Tapi apa yang akan kau lakukan?”
“Diam dan lihat saja. Kau akan segera mengetahuinya,” jawab Elena lirih.
Dari kejauhan Draka memandang dan mengawasi mereka. Dia sempat waspada pada Elena yang bisa menggunakan semacam skill. Dugaannya masih sama, yaitu penther milik Elena, yaitu Aya, yang sedari tadi ada di atas kepala Elena. Namun entah mengapa dia juga mempunyai insting bahwa ini tak selesai hanya dari seekor penther.
__ADS_1
“Kalian anak-anak terlalu berisik dan banyak omong kosong. Jika bukan karena kalian, pertarungan ini pasti akan berakhir di BAB ini,” ujar Draka. “Sekarang Draconik akan menghabisi kalian!”