Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik
Tree Port


__ADS_3

"Terima kasih sudah membiarkan kami menginap di sini. Kamu sangat baik, Nek Bolena!" ucap Theresa.


"Berkunjunglah lain waktu. Kamu adalah gadis yang baik, Theresa." Bolena maju dan menepuk pelan kepala Theresa.


"Baik!" jawab Theresa.


Bolena kemudian beralih pada Noctis dan berkata, "Elena mungkin akan merepotkanmu di masa depan, tapi kuatkan dirimu. Aku berharap banyak dari menantu sepertimu. Sebagai guru di akademi kerajaan, aku sangat berharap pada kemampuanmu memimpin keluarga. Jujur saja aku merasa jika langkah yang kau ambil cukup nekat dalam membangun hubungan rumah tangga."


"Tunggu, menantu?" Noctis menoleh ke Yovanca. "Apa saja yang kau katakan padanya?"


"Bukan aku, lho," jawab Yovanca enteng sambil menggelengkan kepalanya.


"Itu aku yang bilang padanya, Noctis-sensei!" sahut Theresa. "Aku sudah bilang jika saat kami besar nanti, aku, Elena, dan Sophia akan menikahimu. Kami juga berbincang banyak hal tentang kamu yang menjadi salah satu guru istimewa di akademi kerajaan dan banyak lainnya."


"Kau… Gadis Pink…." Noctis menggeram. "Huh, sudahlah. Tidak ada yang bisa kukatakan untuk ini."


"Sudah dulu, ya, Nek Bolena! Kami akan mampir jika ada waktu!" Theresa melambaikan tangannya sebelum pergi.


Mereka berlima meninggalkan Mansion Athalia. Perjalanan selanjutnya membawa mereka ke Tree Port.


Tree Port adalah lokasi yang menjadi penyebrangan antara Kerajaan Pulchrasia dan Kerajaan Freies. Berbeda dengan Wilayah Athalia yang merupakan tempat militer, di sini adalah tempat perdagangan. Tidak ada kerajaan yang mengklaim tanah ini. Hal tersebut membuat Tree Port tidak memiliki pajak dan hukum yang pasti. Di satu sisi sangat berbahaya, di sisi lain adalah tempat nyaman untuk berdagang karena tidak ada pajak. Harga komoditas di sini juga murah.


Namun bagusnya, di sini para pedagang berhasil membuat kestabilan. Dengan mempertahankan "kepercayaan" antara satu pedagang dengan pedagang lainnya membuat tidak ada yang berani untuk melakukan pengkhianatan. Ketika ada pengacau pun mereka akan mengatasinya bersama. Satu-satunya yang kurang stabil adalah harga pasar. Harga satu barang di satu toko dengan toko lainnya berbeda jauh. Karena itulah kemampuan bernegosiasi sangat diperlukan. Dia yang memiliki kemampuan negosiator terbaiklah yang bisa bertahan di tempat ini.

__ADS_1


"Apa kamu sudah selesai berbelanja, Theresa?" tanya Yovanca.


"Ya, aku sudah selesai!" jawab Theresa. "Tapi sayang sekali tidak ada yang membuatku tertarik di sini. Barang-barangnya memang bagus dan unik karena berasal dari berbagai negara. Tapi aku tidak terlalu suka dekorasi yang tidak berguna." Theresa menggeleng. "Karena itulah aku menjual barang-barang itu kembali. Aku malah menggandakan uangmu, Bibi Yovanca." Ia memberikan kantong yang gemerincing. "Tadi dari 5 koin emas aku gandakan menjadi 78. Tempat ini sangat menyenangkan!"


"Ya, ya. Aku senang jika kau senang." Yovanca tersenyum. Dia menerima uang yang diberikan Theresa. "Untukmu, Sophia, Alex?"


"Um, kami sangat bersenang-senang. Kami membeli banyak makanan." Sophia tersenyum menyembunyikan rasa sakitnya.


"Yah, aku berpikir jika gadis kecil sepertinya sedang dalam masa pertumbuhan. Jadi aku juga menghabiskan uang untuk membeli makanan," tambah Alex. Dia juga tersenyum seperti Sophia.


Sebenarnya mereka membeli benda yang tidak berguna. Sebuah aksesoris kecil yang bisa digenggam di tangan. Penjual itu menyatakan banyak kata manis, seperti "dibuat pengrajin ahli", "sangat detail pengerjaannya", membuat senang orang terkasih", dan sebagainya. Padahal itu adalah aksesoris yang bisa dibuat dengan mudah menggunakan sihir tanah. Sophia dan Alex tertipu jebakan ini dan membelinya tanpa pandang bulu. Mereka membuang uang dengan menyedihkan!


Tentu Theresa dapat mengetahui yang sebenarnya. Pikirannya terhubung dengan pikiran Theresa. Ia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Namun sebagai orang yang baik dia tetap tutup mulut dan mengatakan, "Dasar, kamu ini…. Kamu ini memang rakus, ya, Sophia." Ia sedikit menggoda.


"Fumu fumu." Sophia mengangguk.


Mereka pun pergi ke penginapan. Tanpa mereka sadari sepasang mata mengamati gerak-gerik mereka. Ia adalah Silver—salah satu anggota Red Moon. Berbeda dengan 5 Tetua, dia hanya pesuruh. Dia memakai jubah hitam seluruhnya, sama dengan anggota Red Moon lainnya, lalu ia memakai topeng perak.


"Jadi tugasku adalah mengeliminasi Alex si Pengawal Raja?" gumam Silver.


[Benar, dia adalah targetmu kali ini,] Bola Transmisi memperdengarkan suara Dwa. [Dia adalah orang paling lemah di grup mereka, tapi kita berpengaruh di istana kerajaan. Sebenarnya aku lebih suka jika kau bisa mengalahkan Yovanca. Tapi aku yakin kau 100% akan dikalahkan.]


Bola Transmisi adalah peralatan berbentuk bola yanh melayang-layang. Itu dapat digunakan untuk mengirim suara. Fungsinya kurang lebih sama dengan ponsel mengabaikan jika komunikasi dari Bola Transmisi tidak memerlukan pemancar sinyal, pulsa, dan suaranya lebih jelas.

__ADS_1


"Baiklah aku paham. Tapi bagaimana caraku mengalahkannya? Aku bisa mampus kalau sampai ketemu Noctis."


[Makanya itu otak dipakai,] cemooh Dwa melalui Bola Transmisi. [Tempat ini adalah area perdagangan. Jika kamu menyamar sebagai pedagang keliling, kamu tinggal nyamperin dia, ajak menjauh, lalu bunuh. Mudah, bukan?]


"Owh, gitu. Baiklah aku paham. Aku akan membeli sebuah item dan menawarkannya ke dia."


Silver menjalankan aksinya. Dia membeli sebuah pedang yang tampak mewah di sebuah toko. Sama seperti Theresa dan Alex, Silver terkena jebakan. Dia membeli pedang bagus dan tampak kokoh, namun aslinya pedang tersebut dibuat menggunakan sihir tanah dan sangat mudah untuk membuatnya. Silver yang tak menahu tentang itu membeli dengan harga mahal, kemudian membungkusnya menggunakan manipulasi perak. Dengan selesai dibungkus, dia datang ke penginapan Alex dkk. dan menawarkan pedang yang baru dibelinya.


Tentu saja kamar antara Alex dan Noctis berbeda dengan para perempuan. Ini cukup membuat Silver merinding ketika Noctis juga ada di kamar itu. Namun baguslah, dia bisa bertemu dengan Alex dan langsung saja ia mulai memberikan tawaran.


"Apa? Pedang? Kau bilang ini obral?" ucap Alex dengan malas.


"Ya. Kami adalah perusahaan baru yang bergerak di bidang senjata. Maka dari itu kami mencari pelanggan berpotensi yang bisa mempromosikan dagangan kami. Apakah kau ingin membelinya? Harganya hanya beberapa perak, lho."


"Bukannya aku bilang jika kualitasnya buruk. Hanya saja aku tidak sedang membutuhkannya. Mungkin lain kali aku akan membelinya."


"Yakin, nih? Kamu juga bisa membelinya untuk menjualnya kembali dengan harga lebih mahal. Ini bukan harga yang buruk!" Silver terus memaksa.


"Tidak, terima kasih. Aku tidak bisa menghamburkan uang." Alex masih ingat ketika dia membeli aksesoris tak berguna. Dia sudah kapok untuk membeli sesuatu di tempat ini. Setidaknya ingin mendengarkan pertimbangan Theresa.


Alex sudah akan menutup pintu, tapi Silver terus mendesak. "Tunggu sebentar! Ini adalah penawaran terbaik! Aku yakin kau tidak akan merugi jika membeli benda ini!"


"Ehem!" Noctis berdehem. Dia masih di dalam kamar. Matanya menatap tajam pada Silver.

__ADS_1


"Ba-Baik. Maag mengganggu waktu Anda." Akhirnya Silver pun menyerah….


Keberadaan Noctis terlalu curang dan merepotkan, bukan hanya untuk Red Moon tetapi juga Penulis novel ini. Kekuatannya terlalu overpower sampai bingung harus ditaruh ke mana.


__ADS_2