
*Tap!*
Elena dan Dwa saling melesat satu sama lain. Di satu sisi Elena melompat turun dari atas, sedangkan Dwa melompat dengan naik ke atas. Kemampuan Teleportasi Elena hanya memindahkan benda dan tidak dapat memindahkan energi sehingga ini kumpulan energi di tangan kanannya akan menghilang, sedangkan portal Dwa memiliki jeda waktu cukup lama saat membukanya. Ini membuat keduanya saling melesat secara normal tanpa teknik percepatan.
*Jleb!* *Bam!*
Di saat keduanya hampir berpapasan, Elena memukulkan kumpulan energi di tangan kanannya, sampai membuat Dwa terhempas puluhan meter. Sedangkan Dwa, dia menusukkan pasak hitam ke dada kanan Elena sampai menembus tubuhnya.
*Grab!* *Ssshhh!*
Elena menggenggam erat pada pasak bayangan yang menancap di dada kanan, membuatnya hancur menjadi kabut kehitaman, kemuidian segera memulihkan lukanya menggunakan Vitakinesis. Lukanya sembuh sepenuhnya berkat energi alam dalam jumlah banyak yang dikumpulkannya sampai-sampai dia tidak terlihat telah menerima kerusakan.
*Brak!* *Wush!*
Dwa terhempas sampai menabrak dinding pagar akademi, namun dia menyelimuti dirinya menggunakan jubah bayangan sehingga tidak banyak mendapatkan kerusakan. Mengibaskan jubah hitam yang terlihat seperti potongan kain, Dwa menyingkirkan debu-debu yang bertebaran di sekitarnya karena serangan Elena tersebut.
‘Serangan seperti ini tidak ada apa-apanya untukku!’ dalam benak keduanya secara bersamaan.
*Sis!* *Sis!* *Sis!*
Tiga pasak bayangan dilesatkan dengan sangat cepat, dan mencapai ke tempat Elena dalam sepersekian detik oleh Dwa. Hanya terlihat dia mengibaskan tangan kanannya yang mengarah pada Elena, orang biasa tidak dapat melihat kapan pasak-pasak besi itu dilesatkan olehnya.
*Grab!* *Ssshhh!*
Elena menggerakkan tangan kanannya dengan sangat lihai, menangkap ketiga pasak besi secara hampir bersamaan, dan melenyapkannya menjadi kabut bayangan. ‘Jika saja bukan karena Clairvoyance milikku, aku tidak akan dapat melihatnya bahkan menggunakan Prekognisi.’
*Ngung!*
Kumpulan energi biru pucat di tangan kanan Elena berpindah tempat di kaki kanannya, membuat Elena memiliki kecepatan lebih tinggi. Dia memang sengaja hanya memfokuskan energi pada satu tempat untuk menambah efektifitasnya dari pada menyebarkannya ke seluruh tubuh.
*Tap!* *Brak!*
__ADS_1
Menghentakkan kaki kanannya sekuat tenaga, Elena langsung menerjang ke arah Dwa secara monoton. Kawah sebesar beberapa puluh sentimeter tercipta karena hentakan kaki Elena itu.
*Zrt!*
Di kedua tangan Dwa, dia menciptakan semacam bayangan tangan besar dari bayangan yang muncul di belakang lengannya. Tangan raksasa tersebut memiliki ukuran sekitar 3 kali lebih besar dari tangan aslinya dengan kobaran seperti api berwarna ungu dan terlihat berwarna ungu transparan yang lebih gelap dari kopbara di sekeliling tangan tersebut.
*Bam!*
Tabrakan terjadi dengan Elena yang memberikan pukulan menggunakan tangan kanannya, namun serangan ini ditangkis oleh Dwa..
*Swish!*
Dwa membalas dengan mengayunkan kanan secara vertikal pada tubuh Elena.
*Cring!*
Elena menggunakan Teleportasinya dan muncul di atas langit, beberapa meter dari Dwa. Setidaknya, ini berada di luar jangkauan kedua tangan raksasa Dwa.
Elena mengambil napas dalam-dalam dengan beberapa api dari Pyrokinesis masuk ke dalam mulutnya. Dia telah menyamakan suhu tubuhnya sama dengan suhu api atau sedikit lebih tinggi menggunakan Thermokinesis sehingga api-api tersebut tidak membakar tubuhnya, sesuai dengan asas black. Karena suhu tubuh Elena dengan api sama, sehingga dia tidak terbakar.
Asas Black merupakan suatu prinsip dalam termodinamika yang dinyatakan oleh Joseph Black. Asas ini menjabarkan: Bila dua buah benda yang berlainan yang suhunya dicampurkan, benda yang panas memberi kalor pada benda yang dingin sehingga suhu akhir-akhirnya sama.
*Fuf!*
Setelah beberapa saat, Elena memuntahkan api yang telah dikumpulkannya. Sebuah bola api berukuran belasan meter menyembur ke bawah, tepat di mana Dwa berada.
*Bom!*
Dwa mengangkat tangan raksasa kanannya untuk menangkis serangan api tersebut dengan ukuran yang membesar beberapa kali lipat, sementara tangan kirinya menjadi lebih kecil karena energi yang digunakannya lebih berfokus ke tangan kanan.
‘Ugh, panas! Walaupun aku berhasil menangkis apinya, namun panas dari api ini masih dapat menyebar dengan cara radiasi. Elemen api memang terkenal sebagai elemen paling ofensif dan merusak dibandingkan kebanyakan elemen lainnya. Kecuali memiliki item yang mempunyai resistensi panas, ada baiknya untuk menghindari serangan berbasis api dari pada menangkisnya secara langsung,’ batin Dwa dengan keringat yang mulai mengucur dari seluruh tubuhnya.
__ADS_1
‘Bagaimana? Api ini memiliki suhu sekitar 800 derajat celcius. Titik lebur dari besi berada di kisaran 1.500 derajat, namun api sebesar ini sudah jauh lebih besar dari titik didih air yang hanya mencapai 100 derajat. Walaupun aku tidak bisa membakarmu menjadi lelehan, namun setidaknya semua darah dalam tubuhmu akan mendidih dan kau juga akan menjadi abu,’ pikir Elena yang merasa mendapatkan keuntungan.
*Whirl!*
“Menggunakan api untuk membunuh, ini bukan cara mengakhiri nyawa seseorang yang manusiawi, Gadis Kecil. Jangan menggunakan ini jika kamu berniat untuk menghabisi musuhmu atau menyiksanya. Jika ingin mengambil nyawa seseorang, lakukan itu dengan lebih manusiawi dan memberikan rasa sakit sesedikit mungkin.” Dwa menggunakan portalnya untuk muncul di belakang punggung Elena.
“Ap--!” Elena menoleh ke belakang dengan terkejutnya, mengetahui targetnya telah lolos.
*Bam!*
Namun sebelum Elena dapat merespon sepenuhnya tentang pergerakan Dwa, dia telah mendapatkan sebuah pukulan besar dari tangan raksasa Dwa yang telah berkali-kali lebih besar dari lengan aslinya.
*Brak!*
Tubuh Elena menabrak tanah dengan keras, menciptakan retakan berpola persegi panjang dengan bentuk seperti jaring laba-laba di sekitarnya. Elena yang sebelumnya tidak dapat merespon dengan kemunculan mendadak Dwa, tidak sempat berbalik dan menerima serangan mentah-mentah menggunakan punggungnya.
*Ssshhh!*
Debu, api, dan asap menyingkir dan menunjukkan sosok Elena dengan pakaian lusuhnya. Akibat dari serangan itu cukup berdampak padanya, sekalipun ia tidak mengalami luka. ‘Huh, untung saja aku sempat mengalihkan semua kemampuanku pada Osteokinesis, jadi aku tidak menerima patah tulang. Kalau aku hanya memakai tubuh fisik asliku saja, bisa-bisa banyak dari tulangku yang patah. Lagi pula tanpa memakai sihir atau kemampuan cenayang, kekuatanku kurang lebih sama saja dengan anak-anak biasa ditambah keterampilan bertarung.’
Elena berdiri, menunjuk Dwa menggunakan tangan kanannya, lalu berteriak, “Walaupun membunuh dengan cara manusiawi terdengar bagus, tapi membunuh tetaplah membunuh. Jadi jika bisa untuk tidak membunuh, kenapa kau malah membunuh seseorang, Keparat!” Dengan perasaan tidak terima dan marah. ‘Apakah mereka memiliki standar ganda?’
“Diam! Di sini aku yang memutuskan apa yang akan aku lakukan di dunia ini. Bahkan jika kamu mengatakan seperti itu, kamu tetaplah individu yang membahayakan organisasi. Jangan harap aku akan berhenti hanya karena itu!” jawab Dwa dengan nada lantangnya sebagai penegasan.
“Cih, apa kalian ini menyangka bahwa diri kalian merupakan protagonis shounen yang akan menjelajahi dunia atau menguasainya? Ketahuilah, kita hidup di dunia nyata (walau itu cuma novel), jadi berpikirlah lebih realitas!” Elena telah menjadi kesal karena tidak tahu apa kesalahannya, akan tetapi dia menjadi target dari mereka.
Shōnen Manga (少年漫画) atau Shōnen (少年, diucapkan shounen) adalah sebutan untuk ragam manga atau anime khusus bagi remaja lelaki. Sebenarnya menurut Juvenile Law, Shōnen berarah kepada orang yang dibawah 15 tahun. Shōnen jika diartikan secara baku artinya “few year”, alias beberapa tahun. Manga atau anime yang beragam shōnen biasanya berseri dan memiliki penggemar yang cukup banyak.
Anime/manga Shōnen memiliki beberapa ciri khas. Pertama adalah pada plot ceritanya, biasanya sarat dengan tema kepahlawanan atau aksi. Ada juga yang bertemakan komedi percintaan yang menampilkan tokoh lelaki culun yang dikelilingi gadis-gadis cantik dengan karakter yang hampir sama di manga atau anime lain. Kedua, manga ini biasanya menyediakan layanan bagi para penggemar, maksudnya ada plot tertentu yang dibuat berdasarkan masukan para penggemar.
Shounen kebanyakan memiliki alur cerita adventure, battle, crime, supernatural, dan action.
__ADS_1