
*Bom!*
Ledakan keras terdengar disertai beberapa goncangan. Untung saja, guncangan yang terjadi tidak memberikan kerasukan pada gedung akademi ini, selain membuat beberapa murid merasa terkejut dan ketakutan.
Lorong tempat Angelica dan Glence memang sepi, namun masih ada beberapa murid selain mereka tak jauh dari sana. Sebagai tanggapan atas guncangan yang terjadi, semua murid itu selain Angelica dan Glence segera lari menjauh, merasa takut jika hal buruk terjadi pada mereka. Setelah semua, mereka ada anak-anak bangsawan dan tidak semua dari mereka dilatih untuk berani mati saat itu juga.
"Uh, apa itu tadi? Aku rasa itu seperti gempa bumi yang sangat besar!" Angelica berdiri dari posisi tiarap yang dilakukannya ketika guncangan terjadi.
"Aku rasa, tadi itu bukan gempa bumi biasa. Aku tidak ingat gempa akan membuat suara ledakan seperti "bom!" dan disertai kerusakan yang hanya terjadi pada satu sisi ruangan saja." Glence menunjuk pada pintu masuk ke depan kelas Elena, di mana beberapa serpihan kayu dan beberapa puing-puing tersebar di sana.
"Benar juga ya. Jika itu gempa bumi, dia tidak akan pilih kasih dan menghancurkan beberapa ruangan sekaligus. Namun kalau hanya satu tempat yang hancur, dapat disimpulkan kalau ada sesuatu terjadi di tempat itu." Dalam pikiran Angelica, dia mengatakan, 'Merasa seperti memakai 101% otakku.'
"Ayo kita lihat ke sana. Siapa tahu saja, siapapun yang ada di dalam sana memerlukan bantuan kita untuk melakukan sesuatu." Glence menggandeng tangan Angelica dan langsung berlari ke arah ruang kelas.
'Tunggu sebentar! Bukankah yang ada di sana adalah Elena dkk? Apa mereka mulai menggila dengan nama panggilan "Black Abyss" itu?' pikir Angelica.
Dengan tangan yang ditarik Glence, Angelica bersama Glence itu masuk ke dalam ruang kelas dengan terburu-buru. Tidak perlu membikin diri, mereka berdua memiliki rasa khawatir bercampur penasaran dengan apa yang terjadi di dalam sana. Walaupun ini bukan mereka berdua yang memiliki kewajiban untuk menjaga perdamaian di akademi ini dari ancaman luar, namun rasa penasaran yang mereka miliki mendorong mereka untuk masuk ke dalam ruang kelas itu.
Sesampainya di dalam, mereka berdua cukup terkejut melihat ruang kelas memiliki lubang besar, Elena yang sedang bertarung, dan Theresa beserta Sophia yang terlihat santai-santai tanpa memberikan bantuan pada teman dekat mereka —Elena—. Setelah rasa terkejutnya menghilang, keduanya kurang lebih dapat menebak apa ya terjadi di dalam tempat ini walau masih tidak mendengar kronologi dari pihak yang bersangkutan.
"Apakah kita sedang diserang saat ini?" tanya Glence pada Sophia dengan raut wajah yang sangat gelisah, namun dia memiliki alis yang menunjuk kesungguhan dan keberaniannya.
"Ya, seperti yang bisa kamu lihat, Akademi sedang diserang oleh sekte aneh yang menggunakan topenh saat ini. Mereka cukup kuat, sampai-sampai hanya Elena yang dapat diandalkan untuk menjadi ujung tombak. Tentu saja kami berdua juga membantu, tapi kami memakai cara kami sendiri untuk membantu Elena," jawab Sophia dengan datar sambil tetap memperhatikan pertarungan Elena.
__ADS_1
"Bagaimana kalian berdua bisa menjadi kawan yang baik jika hanya melihat saja!" Angelica menjadi khawatir saat melihat Elena diincar oleh belasan paku kayu.
"Tu-Tunggu, Angelica, kami berdua bisa menjelas—!" Sebelum Theresa menyelesaikan kalimatnya, Angelica keburu mengambil aksi
"Akari! Datang dan bersinarlah menunjukkan dirimu di tempat ini!" teriak Angelica untuk memberikan isyarat, dengan pikiran, 'Yah, aku sesekali ingin menjadi seperti Mahou Shoujo dalam sebuah anime yang meneriakkan kata-kata keren. Jadi tidak masalah jika aku berkata seperti itu, bukan?'
*Cring!*
Cahaya berwarna keunguan muncul di dekat Angelica dengan terangnya. Setelah beberapa saat, cahaya tersebut berubah bentuk menjadi sosok wanita dewasa dengan penampilan mewah dan elegan, yang tak lain lagi itu merupakan Spirit King of Light.
Penampilan dari Spirit King of Light —Akari— biasa saja jika dibandingkan dengan orang di dunia ini. Ia memiliki rambut dan bulu mata panjang berwarna kuning cerah yang indah, memiliki pupil mata kuning gelap hampir jingga dengan iris lebih cerah mengelilinginya, dan berkulit putih terang. Dia memakai gaun dengan beberapa aksesoris emas dan sebagai tambahan, dirinya memakai mahkota emas yang lebih tipis dari pada milik Noctis, tetapi tetap saja terasa mewah.
"Akari, serang dia dan bantu—!"
"Akh, kenapa kamu memukul kepalaku?" Angelica mengelua kepalanya dengan sebuah benjolan di sana.
"Hmph! Itu salahmu, Angelica. Bukankah aku sudah bilang tentang tidak memanggilku bersamaan dengan kata-kata yang aneh? Tentu saja aku menjadi sebel dengan yang kamu lakukan ini, kau tahu?" Akari melipat tangannya sambil menajamkan tatapannya pada Angelica.
"Maaf…." Angelica menyatukan kedua telapak tangannya sambil membungkukkan badannya pada Akari.
"Hmph! Asalkan kamu paham dan tidak mengulanginya lagi di masa depan, itu tidak akan menjadi masalah dan aku tidak akan memikirkannya. Tapi jika kamu mengulanginya lagi, hukuman selanjutnya akan menjadi lebih berbahaya dan menyakitkan dari pada hanya ini, paham?" ucap Akari disertai aura menekan.
"O-Oke, aku tidak akan menggunakan kata-kata aneh ini saat memanggilmu di masa mendatang. Jadi, jangan ngambek dan tolong bantu temanku itu, ya," minta Theresa disertai wajah memohon.
__ADS_1
"Dia?" Akari mengalihkan pandangannya pada Elena. "Aku rasa dia masih baik-baik saja dalam pertarungan ini dan tidak memerlukan bantuan. Apa kamu tidak punya mata dan tidak bisa melihat bahwa dia tidak memiliki satupun luka di tubuhnya itu?"
"Ta-Tapi, musuhnya ada 2 orang. Bukankah akan berbahaya jika orang itu ikut campur dalam pertarungan Elena?" Angelica menunjuk pada Sześć yang masih berdiri dengan santai.
"Tu-Tunggu, Angelica, sebaiknya kamu jangan menyerangnya ata—," peringatan Theresa yang terpotong.
"Baik, setidaknya aku akan melawannya. Begini-begini, aku masihlah spirit tingkat raja dan akan kehilangan kebanggaanku kalau tidak bisa melawan manusia biasa," ucap Akari dengan sarkastik.
*Sis!*
Tiba-tiba, sebuah bilah dari pedang cahaya melesat dalam kecepatan yang hampir tidak dapat diikuti oleh mata biasa. Arah tujuan dari bilah cahaya itu tak lain dan tak bukan adalah Sześć yang hanya berdiri diam tanpa niat bertarung.
Bilah cahaya tersebut menghilang ketika mendekati Sześć disusul dengan Sześć yang mengatakan, "Begitu ya. Akan aku anggap ini sebagai serangan dan kalian mengajakku untuk bertarung mulai dari sekarang."
"Awawawawa…." Theresa menjadi gelisah dengan mulutnya yang bergetar sebelum mengatakan, "Sebenarnya dia tidak akan bertarung selama kita tidak mengganggunya…."
"Eh?" Angelica hanya dapat membuat matanya menjadi membelalak setelah mendengar penjelasan itu.
*Set!* *Set!* *Set!* *Prank!* *Prank!* *Prank!* *Sis!*
Sześć melemparkan belasan kristal berwarna-warni dari balik jubahnya, kemudian semua kristal kaca tersebut pecah saat menyentuh tanah. Selanjutnya, beberapa hewan dari berbagai jenis muncul dari dalam kristal, mulai dari harimau, singa, badak, banteng, gajah, dll. Satu hal yang tidak enak dari mereka, adalah mereka yang memiliki tatapan mata kosong.
Hewan-hewan tersebut memiliki beberapa ciri khas elementer mulai dari tanah yang mendapat pengerasan fisik, api dengan kobaran di ujung-ujung bulu mereka, air yang memiliki tubuh kebiruan, dan angin yang memberikan ciri khusus berupa hembusan ringan di sekitar tubuh mereka. Semua hewan itu adalah spirit tingkat tinggi dan dapat memberikan kerusakan berbahaya walau tidak sekuat Akari atau Sophia.
__ADS_1
"Aku ini memiliki kemampuan untuk menciptakan kristal yang mampu menjadi rumah untuk spirit. Selain itu, aku juga dapat mencuci pikiran spirit dengan pelatihan khusus. Kemampuanku ini menguntungkan untuk membuatnya pasukan kuat hanya dengan seorang diri, lho," ucap Sześć dengan senyumannya.