
Noctis akhirnya berhasil menangkap monster serigala. Dia menggunakan bayangan seperti sulur-sulur untuk menghentikan pergerakan. Sangat mudah baginya untuk melakukan ini sampai membuat Yovanca berkata, "Kalau kamu bisa seperti itu harusnya lakukan saja dari awal? Kenapa repot-repot sampai harus membuat jebakan?"
“Itu karena aku tidak ingin seperti orang barbar yang hanya menyerang tanpa rencana.” Noctis bersedekap. “Pokoknya, sekarang sudah berhasil mengalahkan serigala itu. Lalu bagaimana? Mau dibunuh saja?”
“Biasanya para Petualang akan melakukan itu, jadi memang itu yang akan kita lakukan.” Yovanca mengangkat belati di tangannya, bersiap akan menebas.
Namun sebelum itu terjadi, Theresa tiba-tiba datang ke sana. Dia menggendong anak serigala yang ditemuinya sebelumnya, juga dia sendiri digendong oleh Sophia yang melayang di udara. “Tunggu! Jangan membunuh serigala itu!” teriaknya.
Yovanca dan Noctis menoleh ke atas secara bersamaan. Pandangan mereka mengikuti Theresa yang turun dan berjalan mendekat sambil menggendong anak serigala. “Aku tidak tahu kenapa tapi, tapi serigala itu sepertinya adalah induk dari anak serigala ini,” ujarnya.
'Lelahnya jadi kurir. Sudah gitu gak dibayar,' batin Sophia.
“Lalu bagaimana? Apakah kamu ingin membiarkan monster berkeliaraan? Maaf saja, tapi aku tidak akan pernah mengizinkan itu.” Noctis menjelaskan, “Monster adalah makhluk yang tidak memiliki kepintaran dan hanya akan menyerang secara sembarangan. Bermimpilah jika kamu ingin memeliharanya.”
“Apa kamu tidak bisa melakukannya seperti Elena? Dia bisa mengendalikan energi sihir di dalam makhluk lainnya, bulan?" tanya.
"Dan aku bukan dia. Elena memiliki kelebihan berupa kekuatan mental yang sangat kuat. Dia bisa menggunakan kemampuan psikis sebagai cenayang, dan aku tidak. Jangan naif, Gadis Pink," timpal Noctis.
“Ta-Tapi ….” Theresa ingin mengatakan sesuatu. Hanya saja dia tidak memiliki argumen.
“Tenanglah, Theresa. Kehidupan memang seperti itu. Tidak selalu kita bisa hidup dengan aman dan nyaman tanpa masalah sedikitpun. Suatu saat kita harus merelakan orang terdekat kita untuk melangkah ke masa depan atau ikut hancur di sana. Jangan bersedih, Theresa,” ujar Yovanca.
Theresa terasa masih belum rela jika harus memisahkan serigala di tangannya dengan induknya. Namun bagaimana lagi karena tidak ada yang bisa dilakukan. “E-En, ka-kalau begitu tolong lakukan dengan cepat. Aku tidak ingin membuatnya menderita.”
“Tentu, aku juga tidak ada niatan untuk membuatnya menjadi lama.” Yovanca mengangkat tangannya dengan belati di sana. Namun sebelum dia sempat memenggal serigala ….
“Auf….” Anak serigala di gendongan Theresa menggonggong.
__ADS_1
“Hmm? Ada apa? Apakah kamu ingin berbicara dengan indukmu?” tanya Theresa.
“Ung….”
“Yovanca….” Theresa memohon.
“Baik, silahkan saja. Lagi pula kau bisa mempertahankan benangmu untuk waktu yang lama, ‘kan, Noctis?”
“Tak masalah, tak masalah,” jawab Noctis.
Theresa berjalan menuju serigala yang telah terikat. Dia mendekatkan anak serigala ke ibunya. "Gunakan waktumu dengan baik, ya. Ini mungkin terakhir kalinya kamu akan bertemu dengan indukmu." Matanya memandang sedih padanya.
Anak serigala itu mengangkat pelan kaki depannya dan menempelkannya ke kepala dari serigala yang sudah menjadi monster. Ia berharap untuk mendapatkan jawaban hangat, tapi serigala yang berubah menjadi monster hanya meraung pelan ketika tubuhnya telah dilumpuhkan. Serigala kecil mulai mengeluarkan beberapa gonggongan pelan, berisikan harapan jika suaranya akan didengar.
Dan kemudian sesuatu yang tak terduga terjadi. Monster serigala tersebut seakan-akan mulai terlihat mendapatkan kembali kesadarannya. Tubuhnya menjadi lebih kecil ke ukuran serigala normalnya. Mata dan pandangannya menjadi normal dan lebih terasa hangat. Dia tak lagi menunjukkan niat membunuh dan bermusuhan.
“Yah, secara teori memang mungkin untuk mengembalikan iblis menjadi normal dengan berhasil mengontrol energi sihir di dalam tubuhnya. Kemudian karena emosi dapat mempengaruhi mental, yang kemudian mempengaruhi perilaku, cukup wajar bila sesuatu yang menyentuh bisa membuatnya kembali normal. Aku sama sekali tidak terkejut.” Noctis menempelkan telunjuk di dagunya.
“Oke, karena sekarang dia bukan monster yang menghancurkan, jadi sekarang kita tidak perlu membunuhnya, bukan?” ucap Yovanca.
‘Aku tidak peduli. Aku ingin cepat-cepat pergi dari sini,’ batin Sophia.
“Selamat, ya, Okami-chan. Dengan begini kamu tidak perlu berpisah dengan indukmu. Aku juga ikut senang melihatmu bisa bersama keluargamu kembali!” ucap Theresa.
“Yosh, kalau begitu tinggalkan saja serigala kecil itu di dekat induknya. Setelah itu ayo kita lanjutkan perjalanan. Huh, satu hari tanpa tidur sangat menyebalkan.” Noctis menghilangkan sulur bayangan miliknya. Serigala itu perlahan turun ke tanah.
“Hehehe, tentu saja.” Theresa menaruh anak serigala di dekat kaki induknya. “Ayo! Kembalilah ke indukmu! Dia sudah menunggumu!”
__ADS_1
Serigala kecil itu berjalan mendekat ke induknya. Mereka berdua menunduk pada Noctis dkk., seakan-akan berterima kasih. Kedua serigala itu kemudian berbalik pergi, tapi sayangnya….
*Fall….
Mereka berdua jatuh ke dalam lubang yang sebelumnya dibuat Noctis.
Uh, yah… lubang itu dibiarkan tak tertutup. Jujur saja itu adalah sesuatu yang berbahaya untuk tidak membersihkan mainan setelah bermain. Makanya, bagi kalian adik-adik sekalian, tolong kalau sudah selesai bermain itu mainannya diberesin. Biar gak mengganggu orang lain atau merepotkan orang tua. Itu mainan kecil-kecil kalau sampai nggak bisa bikin orang celaka, lho. Bisa bikin gegar otak sampai koma. Pokoknya bahaya banget, dah!
"Ōkami-chan!" teriak Theresa.
"Tenang," ucap Noctis. "Aku menggunakan bayangan untuk menangkap mereka. Jadi seharusnya mereka tidak jatuh terlalu dalam atau terluka, Gadis Pink. Yang lebih penting lagi, tidak bisakah kamu tidak berisik? Aku sudah capek mendengar teriakanmu dari tadi. Uruslah semua masalah dengan tenang tapi serius!"
"Ma-Maaf, aku hanya khawatir saat melihat dia jatuh ke dalam sana," kata Theresa.
Noctis mengangkat kedua serigala itu. Theresa yang benar-benar khawatir akan keselamatan mereka langsung memeluk kedua serigala, yang sekaligus itu menjadi salam perpisahan mereka. Dengan begini mereka telah memberikan salam perpisahannya dengan baik dan benar. Kedua serigala masuk ke dalam hutan yang gelap sebelum menghilang dalam kegelapan malam di bawah rerimbunan pohon.
"Baiklah, aku mau tidur dulu. Semoga besok aku bisa bangun siang." Noctis berjalan pergi. Dia tampak kesal atas semua kejadian di malam ini.
"Tunggu sebentar." Sophia memegang baju di punggung Noctis.
"Ada apa, Gadis Putih? Ngajak gelut?" Noctis berkata sinis.
"Lubang, bahaya, tutup," tiga kata sederhana dari Sophia.
"Merepotkan saja. Aku lebih suka tidur." Noctis memalingkan wajahnya.
"N-o-c-t-i-s, setelah bermain harus bersih-bersih, lho." Yovanca melingkarkan belatinya ke leher Noctis. "Kalau enggak, aku enggak tahu ini belati bakal menyayat leher siapa, lho~." Suara Yovanca terdengar ringan dan riang, namun sangat terasa jika ada aura gelap dan mengancam dari dirinya.
__ADS_1
"I-Iya, tentu saja. Tentu saja aku akan membersihkannya," jawab Noctis dengan keringat dingin.