Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik
Awal Mula Perjalanan


__ADS_3

Saat ini kita memiliki dua orang yang melakukan perjalanan di tempat lain. Mereka adalah Sześć dan Peruru. Sudah jauh perjalanan keduanya dari kota awal. Mereka saat ini tengah beristirahat di dalam sebuah bar, di sebuah desa terpencil. Meski ini terlihat bagaikan istirahat biasa, namun bagi Sześć tidak berhenti sampai di sana. Dia fokus pada indra pendengarannya dan mendengar informasi simpang-siur dari pengunjung di sana.


“Hei, apa kau dengar? Katanya ada penther aneh di sabana. Aku dengar area di sana tiba-tiba mengering,” bisik salah satu pengunjung.


“Benarkah? Aku juga mendengar begitu. Tapi apakah itu memang benar?” sahut pengunjung lainnya.


“Itu bukan rumor, Aku datang dari daerah itu. Aku melihat desa di sana dilanda kekeringan.”


“Benarkah? Bukankah itu berbahaya? Lalu bagaimana kabar penduduk desa itu?”


“Entahlah? Juga, siapa yang peduli? Palingan mereka sudah mengevakuasi diri mereka.”


“Tidak, tidak. Di sana adalah desa terpencil. Akses jalan ke sana sangat sulit. Aku menembus semak belukar untuk bolak-balik dari sana ke mari. Belum lagi penther liar di sepanjang jalan. Amatiran akan menghantar nyawa jika lewat sana.”


“Benarkah? Ini sangat buruk, bukan? Sangat memprihatinkan….”


“Tak ada yang bisa kita lakukan. Tunggu saja arahan dari Asosiasi. Pokoknya bergerak sendiri adalah bunuh diri.”


“Sześć, Sześć! Halo, Sześć!” Peruru memanggil berulang kali.


Sześć baru saja tersadar akan panggilan Peruru. “Ah, maaf. Aku sedang memikirkan sesuatu. Ada apa?”


Dia terlalu fokus mendengarkan pembicaraan rumor dari pengunjung lain. Kebanyakan rumor yang didapatkan memang tidak bisa dikonfirmasi, tapi keunggulannya dia bisa mendapatkan informasi lebih cepat dari pada menunggu kabar di laman berita resmi. Juga, kebanyakan kabar burung tidak akan masuk ke dalam laman resmi. Mendengarkan informasi dari bar adalah salah satu cara mendapatkan informasi di suatu wilayah.


“Jadi ada apa?” tanya Sześć.


“Aku sudah selesai di sini. Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” tanya Peruru.


“Pergi ke penginapan. Ada yang ingin kusampaikan padamu,” jawab Sześć.

__ADS_1


“Apa tidak bisa di sini saja?”


“Ini sedikit rahasia. Tidak masalh sih jika aku mengatakannya di sini, tapi lebih baik mendiskusikan ini secara rahasia.”


Tidak memerlukan waktu lama bagi mereka untuk berpindah ke penginapan. Mudah saja untuk pergi ke penginapan atau hotel yang telah tertera pada aplikasi.


“Jadi ada apa?” Peruru duduk di atas ranjang.


“Rumor. Aku mendengar rumor kekacauan di tempat yang akan kita tuju,” kata Sześć dengan datar.


“Eh? Bukannya itu berbahaya! Kita harus segera meninggalkan tempat ini!” Peruru berteriak spontan. Mendengar kata “kekacauan” cukup membuatnya bergidik.


“Tidak, tidak, justru sebaliknya.” Sześć menggelengkan kepala. “Kita akan pergi ke sana. Aku ingin tahu penther macam apa yang bisa membuat kegaduhan semacam ini,” lanjutnya sambil menyeringai.


“Tidak! Jangan! Hentikan! Aku masih mudah! Aku tidak mau mati!” Peruru berteriak keras.


“Oe! Berisik! Kalian mengganggu tamu lainnya!” teriak sebuah suara dari kamar lain.


“Tidak.” Peruru menggelengkan kepala.


“Bagus. Kalau begitu kita akan pergi ke sana.”


Mereka tidur malam itu.


Keesokan paginya, mereka memulai perjalanan ke desa terpencil yang dirumorkan. Perjalanan mereka cukup menyusahkan. Tidak ada jalan yang menuju ke sana. Jika pun ada, itu adalah jalan setapak kecil yang melalui hutan. Perjalanan mereka dilalui penuh dengan pertemuan bersama ilalang tinggi dan ranting-ranting pohon rendah yang menghalangi pergerakan mereka. Karena itulah, dalam seharian tersebut mereka menghabiskan waktu untuk berjalan. Mereka berhasil sampai ketika matahari akan terbenam.


"Huff… huff… huff… jalannya sangat sulit. Sudah kuduga seharusnya kutolak saja kerjakan untuk pergi ke mari." Peruru tertunduk dengan tangan di atas lutut.


"Berdiri! Kita harus sampai ke desa sebelum matahari terbenam," berkata Sześć tanpa emosi. "Siang tadi saja ada banyak penther yang menyerang kita. Malam hari aku tidak tahu makhluk apa yang akan datang." Di dalam benak dia menambahkan, 'Yah, aku bisa meratakan seluruh hutan jika itu diperlukan.'

__ADS_1


"Dasar kamu, nih, ya!" Peruru berteriak kesal. "Setidaknya berikan aku waktu istirahat. Capek tau dari tadi berjalan terus di medan yang susah. Apa kamu tidak bisa membantu?"


"Apa katamu?" Sześć melirik sambil menggunakan sudut matanya.


"Ah, maaf, maaf. Aku tidak bermaksud…," kata-kata Peruru berhenti di sana. Dia tidak berani untuk melanjutkan.


Tak lama mereka berdebat, sebuah suara terdengar dari balik semak-semak. Langsung saja Sześć menjadi waspada dan memperhatikan secara seksama pada semak-semak tersebut. Dia telah bersiap untuk bertarung jika jika saja yang muncul merupakan penther yang ingin memangsa mereka. Sebelumnya saja mereka sudah melawan banyak penther lainnya.


Namun tak seperti yang mereka duga, yang muncul dari balik semak-semak bukan merupakan penther. Bukan juga monster menyeramkan. Yang menampakan diri dari sana adalah sosok bocah kecil. Kondisinya cukup memprihatinkan. Dia memiliki beberapa bekas luka dari goresan yang disebabkan ranting-ranting rendah di dalam hutan. Pakaiannya telah memiliki banyak lubang. Sama seperti tubuhnya, itu tergores ketika dia berjalan ke mari.


"Bocah Kecil! Apa yang terjadi padamu!" Peruru berteriak panik.


*Bruk!*


Tak memiliki energi lagi memang. Bocah itu langsung ambruk ke tanah setelah mengamati sosok Peruru dan Sześć. Dia tak sempat mengucapkan sepatah kata pun pada mereka.


"Merepotkan saja…. Sudah sangat merepotkan untuk melewati hutan. Dan sekarang apa? Apakah kita harus mengurus bocah yang entah dari mana asalnya?" gerutu Sześć.


"Ta-Tapi—."


"Aku tahu! Aku tidak berniat untuk menelantarkannya!"


Sześć mengeluarkan beberapa penther. Mereka bukan penther normal. Masing-masing dari mereka memiliki lapisan tubuh berwarna hitam di atas badan mereka. Mereka adalah penther-penther yang berada di bawah pengaruh Shoggoth.


Kemudian dari perintah Sześć, dia memerintahkan satu dari mereka mencari buah-buahan, satu mencari kayu bakar dan satu lagi menata tenda dan keperluan lainnya. Berbahaya memang untuk mendirikan perkemahan di dalam hutan.


Ancaman binatang buas ada di mana-mana dan bisa datang kapan saja. Jam tidur menjadi terganggu dengan harus bergantian untuk menjaga, was-was dari predator yang datang. Tapi mau bagaimana lagi dengan bocah pingsan yang mereka temukan? Lanjut berjalan lebih merepotkan lagi. Mereka belum tahu berapa jauh lagi jarak yang perlu ditempuh untuk sampai ke tujuan.


Tak memerlukan waktu lama, tenda berdiri lengkap bersama semua peralatan. Peruru mengeluarkan alat P3K dan memberikan pertolongan pertama pada bocah itu. Di sisi lain Sześć mengirim penther ke sekitar untuk berjaga. Benar, hari sudah menjadi gelap. Selain mengirim penther untuk berjaga, dia juga memasak menggunakan api unggun. Mudah membawa barang karena pet house juga mampu menampung material.

__ADS_1


"Dia informan kita. Aku tidak perlu menjelaskan kepadamu apa yang akan terjadi jika dia sampai meninggal, bukan?" ancam Sześć.


__ADS_2