
Badai pasir telah berhenti. Mereka bertiga menaiki punggung Bromo Agni untuk melewati padang pasir. Udara panas yang menerpa mereka cukup membuat gerah. Persediaan air mereka berkurang dan menipis. Terpaksa mereka harus turun dan mengisi kembali botol minum. Sayang sekali, sejauh mata memandang panorama yang terlihat adalah gurun gersang.
"Apa kau tau tempat untuk mengisi air, Nona?" tanya Dr. Francais.
"Selatan. Tak jauh dari sini ada sisa-sisa reruntuhan yang terhubung dengan tubuh Lucia." Emera berkomentar sinis, "Kalian ini bagaimana, sih. Melewati padang pasir tapi kok gak membawa persediaan air yang cukup."
"Ya, maaf. Bukannya kami tidak membawa persediaan air yang cukup. Mereka dirampas ketika kami ditawan Suku Inicia. Lagi pula apa-apaan mereka itu? Bagaimana mereka bisa memanggil penther ular itu?"
"Mereka tidak memanggilnya, ular itu memang tinggal di sekitar perairan dan berburu berkelompok. Lalu Suku Inicia itu sebenarnya baik. Mereka menyukai alam. Mereka sudah ada sejak zaman para either dan berhubungan timbal-balik dengan Tuan Lucia. Mereka hanya terlalu fanatik pada hutan," jelas Emera.
"Fumu, fanatik yang berlebihan itu tidak baik," ucap Dr. Francais.
Bromo Agni mengubah jalurnya. Mereka bergerak ke selatan. Tak jauh dari sana terdapat reruntuhan kuno yang Emera memanggilnya sebagai Dessert Temple. Bangunan tersebut terbuka dari pasir dan pasir yang dikeraskan. Warnanya yang menyatu dengan sekitar membuatnya lolos dari pengamatan mata. Ini menjadi salah satu faktor mengapa Asosiasi Trainer tidak menemukan tempat sebesar itu. Faktor lainnya adalah karena lantai yang ada di atas tanah berukuran kecil. Konstruksi bangunan berbentuk piramida yang masuk ke bawah tanah.
Di lantai pertama tidak ada apa-apa selain pasir dan tiang penyangga. Mereka langsung menuju ke lantai kedua di bawahnya. Di sana mulai ada beberapa jebakan, seperti lubang berisi besi runcing, tembakan anak panah otomatis, dan jebakan mematikan lainnya. Untung ada Emera di sini. Emera sudah hafal semua jebakan mereka bisa lewat dengan mudah. Lucia sudah mendata semuanya di dalam ingatannya. Sekarang berada di lantai terbawah, lantai 3, di sana adalah tempat penyimpan harta. Sayang sekali mereka tidak bisa membawanya. Kapasitas barang-barang mereka tidak sebanyak itu.
Sampai di lantai terbawah mereka menemukan danau bawah tanah. Air di danau itu tenang dan teknik. Suasana di dalam gelap, namun api dari Bromo Agni seakan terpantul di atas permukaan danau sehingga menerangi seluruh ruangan. Mereka dengan jelas melihat danau yang lebih mirip kolam itu.
"Menarik. Tempat ini tidak sesederhana makam raja-raja kuno." Dr. Francais mengeluarkan dagunya.
"Air di danau ini berasal dari saluran air tanah dibawa oleh sebagian tubuh Tuan Lucia. Air-air yang terbawa dikumpulkan agar sebagian tubuh Tuan Lucia yang lain dapat mempertahankan dirinyalah agar tetap hidup. Jangan mengotori air ini." Matanya menatap tajam pada Kai ketika mengucapkan bagian terakhir.
__ADS_1
"Apa kau pikir aku orang barbar yang secara liar akan menghancurkan semua yang dihadapanku?" Kai mengernyitkan keningnya.
"Ya." Emera mengangguk.
Dr. Francais menggelengkan kepalanya melihat mereka berdua. Dia lalu berkata, "Aku akan melihat-lihat relief. Kalian istirahat dulu saja di sini." Dengan kata-kata itu dia meninggalkan mereka berdua.
Kai dan Emera memandangi punggung Dr. Francais. Sekarang Emera juga merasakan jika orang itu terlalu fokus pada pekerjaan. Dia berpikir, 'Tidak bisakah dia tidak membiarkanku bersama orang ini?'
"Bagus. Sekarang apa yang akan kita lakukan? Memandangi danau sampai dia kembali," gerutu Kai. Dia melipat tangannya dengan perasaan kesal.
Sudah sering ia menunggu dan menjadi bodyguard Dr. Francais ketika menjalankan misi. Namun kondisi kali ini sedikit berbeda. Dia yang ditinggalkan bersama seorang gadis merasa canggung semakin lama dan semakin lama. Tidak masalah jika itu orang dari Asosiasi Trainer. Namun Emera adalah orang asing yang baru ditemuinya hari ini. Dia sama sekali tidak memikirkan topik pembicaraan.
"Aku tidak tahu apa yang akan kau lakukan, tapi aku akan melakukan apa yang akan aku lakukan." Emera mendekat ke danau atau kolam air itu. Dia mengambil potongan-potongan kayu kering dari dalam tas di pinggangnya dan menjatuhkannya ke dalam air danau. Kai keheranan, tapi dia tidak ingin bertanya.
"Bagus, aku sudah mendapatkan kesadaranku dan mendapatkan informasi dari tubuh utama." Kepala Lucia diangkat di atas air. Dia menatap mereka berdua. "Ada informasi yang perlu kusampaikan pada kalian berdua."
Kai terkagum melihat ada makhluk yang bisa tumbuh begitu cepat. Sebenarnya hal itu wajar mengingat penther memiliki kemampuan yang tidak biasa sejak mereka memiliki kekuatan. Namun either yang merupakan leluhur para penther memilki tingkatan berbeda. Tidak banyak yang diketahui dari mereka selain berasal dari reruntuhan dan data yang ketinggalan zaman.
"Apa itu, Tuan Lucia? Dan kenapa Anda tidak memberitahuku?"
"Ini adalah informasi yang sebenarnya sudah lama. Aku tidak mengatakannya padamu karena akan terlalu jauh untuk ke reruntuhan ini dan musuhnya sangat kuat. Karena kalian datang kemari maka akan kuberi tahu sedikit mengenai kejadian tempo hari."
__ADS_1
"Jadi agar tidak merepotkanku, ya," ucap Emera.
"Lalu tentang kejadian tempo hari, beberapa orang datang ke reruntuhan ini. Mereka seperti sedang mencari sesuatu. Aku tidak tau jelas apa yang mereka cari, tapi beberapa benda menghilang. Maaf jika aku tidak bisa melihat dengan jelas benda apa saja yang dicari oleh mereka," jelas Lucia.
Emera memejamkan matanya sambil menunduk. Dia memikirkan beberapa kemungkinan yang bisa dilakukan dalam reruntuhan ini. "Apakah itu ada hubungannya dengan Asosiasi Trainer, Kai?"
"Mana aku tahu?" Kai mengangkat bahunya. "Aku bukan tidak mengurusi administrasi di dalam Asosiasi."
"Orang yang bersmamu?" lanjut Emera.
"Tidak adalah peneliti yang terjun langsung ke lapangan. Dia juga tidak terlalu mengurusi administrasi. Kita akan memastikan itu saat sudah sampai ke Asosiasi."
Dr. Francais tiba-tiba datang. Dia membawa sesuatu. Itu mirip dengan selembar kain. "Yo! Apakah kalian baik-baik saja?"
"Apa yang kau bawa itu?" tanya Emera melihat benda yang dibawa Dr. Francais.
"Itu dia, aku juga tidak tahu. Tapi setidaknya aku memiliki tebakan." Dia mendekat pada mereka. "Aku menemukan ini di ruang harta. Di dekatnya beberapa benda sudah dicuri."
"Siapapun itu mereka pasti sangat ahli untuk bisa masuk sejauh ini tanpa memicu jebakan," ucap Kai
"Tapi apa kau tidak merasa jika mereka sangat ceroboh? Kenapa kain bertuliskan 'Black Night Company' tertinggal dan seakan memberi petunjuk yang jelas?"
__ADS_1
"Jangan cepat-cepat ambil kesimpulan. Biasanya ini adalah prank," timpal Emera.