Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik
Memikirkan Taktik


__ADS_3

Tubuh kabut darah tak berbentuk Sophia kembali menjadi bentuk manusianya seperti sedia kala. Meskipun bentuk tubuh tidak terlalu mempengaruhi kemampuan bertarung, namun lebih mudah untuk beraktifitas menggunakan dalam bentuk manusia. Dalam kemudahan dalam mobilitas, ini tergantung pada lingkungan sekitar dalam percepatannya.


Sementara itu, di hadapan Sophia, Alex sedang berlari ke arahnya membawa Monster Serigala yang mengejar dirinya. Perbedaan fisik antara manusia dan monster terlalu besar. Itu seperti jurang sedalam puluhan meter yang bisa membuat seseorang mati jika sampai jatuh ke dalamnya. Begitu dengan Monster Serigala ini, dia bisa mengoyak tubuh manusia dengan sedikit usaha.


‘Hah, manusia memang lebih lambat, lemah, dan rapuh, ya. Tidak bisakah dia memperkuat tubuhnya menggunakan energi alam untuk memperkuat dan mempercepat gerakannya?’ Sophia menatap datar dan lesu pada kecepatan lari Alex.


Jika dibandingkan manusia biasa, tentu saja fisik Alex tidak bisa diremehkan. Dia adalah ahli pedang! Tentu saja tubuhnya terlatih untuk melalui berbagai pertarungan dan situasi sulit yang memerlukan kekuatan otot tinggi. Bagaimana dia bisa menjadi ksatria dengan tubuh lemah? Alex sama sekali tidak lemah dibandingkan kebanyakan orang.


Hanya saja untuk kali ini, lawan mereka bukan manusia. Jika itu manusia biasa, pukulan dan tendangan Alex bisa melumpuhkan mereka dengan mudah. Perbedaan kekuatan terlalu jauh membuat kemampuannya di dalam medan pertarungan ini tidak terlalu terlihat dan seperti orang lemah.


*Psiu!* *Slash!* *Zrash!*


Beberapa tombak darah tercipta menggunakan darah dari tubuh Sophia. Mereka menabrak Monster Serigala dan membuatnya sedikit lambat meski tidak banyak dan tidak bisa sepenuhnya menghentikan makhluk ini. Sophia melakukan ini hanya untuk memberi Alex lebih banyak waktu dalam melarikan diri. Dia akan merasa bersalah jika rekannya ini dimakan hidup-hidup.


“Terima kasih. Aku tertolong,” ucap Alex ketika sampai di dekat Sophia.


“Terima kasihnya nanti saja, kamu masih belum selamat.” Sophia berbalil dan ikut berlari searah dengan Alex. “Baguslah banyak pepohonan di sekitar sini, kita akan berlari ke sana dan bersembunyi sambil memikirkan strategi. Setelah menjadi monster, serigala ini memiliki ukuran beberapa kali lebih besar. Dia seharusnya akan kesulitan ketika di dalam tempat lebat.”


“Um!”

__ADS_1


Sesuai aba-aba Sophia, mereka berdua berlari ke area pepohonan lebat. Apakah itu membuat mereka berdua aman? Tentu saja tidak. Serigala ini berlari beberapa kali lebih cepat dari mereka berdua. Sebelumnya dia berhenti karena cairan darah Sophia, tetapi dalam sekejap mata dia hampir menggapai Alex kembali. Sialnya, entah kenapa dia lebih memilih ksatria itu dari pada Sophia.


“Hmm….” Sophia melirik pada pedang api Alex, dan berkata, “Lemparkan saja pedangmu itu ke dia. Kobaran api terang dari senjatamu hanya akan mengganggu persembunyian kita.”


“Baik!”


*Swish!*


Alex membalik tubuhnya dalam waktu singkat, melemparkan pedang, kemudian kembali berlari di jalurnya.


Tidak sia-sia juga dirinya memiliki keterampilan sebagai ksatria. Gelarnya ini bukan hanya hiasan. Akurasinya dalam melemparkan pedang berhasil mengenai tepat di antara kedua mata serigala dan membuatnya berhenti selama beberapa detik. Bukan hanya itu, pedang api tersebut meledak menjadi gumpalan awan merah dalam radius beberapa meter dari pusat ledakan.


Untung saja kedua orang itu sudah masuk ke area pepohonan lebat yang membuat mereka berdua lolos dari kejaran serigala. Monster ini berusaha mencium partikel bau keduanya, tetapi percuama saja karena ledakan dan bau darah di sekitar mengaburkan penciumannya. Otaknya yang telah gila membuat kemampuannya dalam mengendus bau menurun dan berkurang jauh. Selain kemampuannya dalam menghancurkan yang sangat menggila, dia tidak memiliki banyak variasi kemampuan berguna.


•••••


Sementara itu di dalam kumpulan pohon yang saling berdempetan, Alex dan Sophia bersembunyi di balik semak-semak. Stamina dan energi mereka masih banyak tersisa dan mereka tidak diragukan lagi masih bisa melakukan banyak hal untuk melakukan serangan. Hanya saja karena serangan mereka berdua tidak terlalu kuat, keduanya memutuskan untuk mendiskusikan taktik dalam menghadapi lawannya.


Melawan musuh kuat menggunakan kepintaran, benar-benar cara bertarung yang sangat manusia sekali. Manusia sendiri memang membangun peradaban maju untuk mengalahkan keganasan alam dan mereka hampir berhasil melakukannya. Alam sedikit-sedikit mulai hancur, mulai dari udara yang tercemar oleh polusi, banjir menerjang karena hutan gundul, air laut naik karena es di kutub memanas sebagai akibat pemanasan global, dan produksi oksigen berkurang karena laut tercemar (penghasil oksigen lebih banyak fitoplankton di lautan).

__ADS_1


Saat ini, manusia mulai menciptakan teknologi baru untuk membuat penghasil tenaga energi terbarukan, seperti menggunakan panas matahari, panas bumi, aliran air, dan lain-lain. Kalian juga bisa menjaga kelestarian bumi dengan membuang sampah dan mantan di tempatnya. Jika tidak bisa menyumbang kemajuan, setidaknya tidak membuat lebih banyak kerusakan.


Sebenarnya saya merasa jika sistem sampah di sini masih kurang bagus. Sampah yang bisa didaur ulang dan sampah sekali pakai bercampur menjadi satu. Ini sama sekali tidak efisien! Terutama plastik yang bahannya sulit untuk diuraikan. Minimalisir penggunaan plastik, namun jika tetap menggunakan, akan lebih baik jika kita membuat tempat sampah khusus untuk sampah ini.


Yah, itu tadi adalah saran saya. Terserah seperti apa kalian akan mengatur dan mengurus pengolahan sampah. Bagaimanapun perubahan tidak bisa terjadi hanya karena satu orang. Saya di sini hanya menyeru dan memberikan penyelesaian yang lebih baik terhadap kondisi terpuruk kita saat ini. Mengolah sampah secara optimal adalah salah satu opsi menjaga dunia dari pada membakar semuanya.


“Apakah kamu memiliki rencana, Sophia? Seranganku tidak terlalu efektif dan dia bisa menyembuhkan dirinya dalam waktu singkat,” tanya Alex.


Mereka berdua berbicara dalam suara lirih. Tentu saja keduanya tidak akan berani mengundang monster serigala ini atau mereka berdua akan tercabik-cabik menjadi gumpalan daging dan darah. Mungkin tidak terlalu buruk untuk Sophia karena dia bisa memperbaiki tubuhnya sendiri, tetapi ini akan memiliki cerita yang berbeda jika Alex sampai menjadi bubur daging.


“Hmm….” Jari telunjuk Sophia menempel pada dagunya. “Serangan elemen apimu memiliki kemampuan destruktif tinggi dan memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk membakar dia sampai tidak memiliki sisa. Elemen darahku kurang berguna untuk menghadapinya. Aku memiliki rencana untuk menutup hidungnya menggunakan darah, tapi dia terus-terusan bergerak. Menggunakan lebih banyak darah juga bukan pilihan karena volume darah yang aku miliki terbatas. Jujur saja, ketersediaan elemenku tidak banyak, tidak seperti spirit air.”


“Baiklah. Kalau begitu, kamu akan mengalihkan perhatian dan aku mengumpulkan kekuatan serangan. Dengan tubuh darahmu itu, kamu seharusnya bisa memperbaiki tubuhmu sendiri dan bisa menghilang dengan cepat sebelum seranganku mengenaimu. Aku yakin kamu bisa melakukannya,” kata Alex memberikan strategi buatannya.


“Apakah ini cara seorang ksatria memperlakukan seorang gadis kecil?” Sophia mengangkat alisnya ketika menatap Alex.


“Yok, bisa yok!” Alex menyemangati.


“Yok, bisa yok!” adalah sebuah kalimat yang mampu memberikan semangat ke pada targetnya. Ini bisa melipatgandakan semangat seseorang beberapa kali, bahkan masih terus bekerja meski sudah lelah. Namun kalimat ini juga memiliki efek samping, yaitu akan membuat tekanan darah tinggi ke pada target bila semangat tidak berhasil naik.

__ADS_1


__ADS_2