Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik
Memusnahkan Bajak Laut


__ADS_3

Theresa sampai di kapal perompak melalui lemparan Noctis. Tubuhnya dipenuhi darah oleh sebab pendaratan yang kasar; bagaikan nyamuk yang ditepuk. Setelahnya, barulah ia melawan para perompak. Dia mengendalikan semua darahnya. Para perompak bergidik ngeri, namun kapten mereka memerintah untuk maju. Puluhan pria perompak menerjang pada Theresa.


Darah mengalir menjadi arus di udara. Di bawah kendali Theresa mereka menjadi anak panah yang melayang di udara. Ia juga menciptakan busur dan anak panah darah di tangannya. Satu per satu anak panah dilesatkan dari busur. Setiap Theresa melepaskan anak panah, 2 - 3 anak panah darah di udara akan mengikuti dan menancap pada target yang sama. Meteka memberikan kematian.


Bahkan ketika ada yang berhasil mencapai Theresa dan menebaskan pedang pada gadis itu, Theresa mengubah tubuhnya menjadi gumpalan darah dan mengembalikan seperti semula. Dia dengan leluasa menembakkan anak panah darah. Hingga pada akhirnya semua perompak mati dengan genangan darah membungkus tubuh mereka.


"Berakhir juga. Aku sempat khawatir akan ditawan mereka." Theresa tersenyum riang. Beberapa bercak darah ada di tubuhnya, bahkan di wajahnya. Ia tersenyum tanpa bersalah seakan merupakan anak-anak yang baru saja menyelesaikan permainan.


"Dasar monster…. Apa-apaan kau ini membantai mereka?" Tertegun dirinya nampak penampilan Theresa di mata. Baginya Theresa adalah hewan buas di luar nalar manusia. Meski ia dan krunya kejam, tak akan mereka sampai menumpahkan darah musuh di tubuh mereka. Hanya seorang psikopat yang akan mandi darah.


Penampilan dari kapten adalah seorang pria paruh baya yang berpenampilan bajak laut. Dia memakai penutup mata pada mata kirinya dengan simbol tengkorak dan pupil mata kanannya terlihat berwarna ungu. Ia memakai sebuah jas berwarna merah marun dengan kedua lengan baju yang dilipat. Rambutnya coklat dengan kulit putih agak gelap.


"Ah, kamu kaptennya, ya?" Theresa menghadap padanya dengan senyuman lebar. "Katanya aku gak boleh bunuh kamu. Jadi, mau nggak kamu ikut aku aja? Biar gak repot."


Nada bicara Theresab terdengar imut sebagai seorang gadis kecil. Namun sosok Theresa keseluruhan sangat menyeramkan dengan bercak darah di seluruh tubuh. Belum lagi busur dan anak panah darah di kedua tangannya.


"Ingin membawaku hidup-hidup untuk menyiksaku?" Si kapten mengeluarkan pedang dari sarung. Sebuah perang emas dengan mata tajam di satu sisi. Pedang tersebut juga cukup lebar dengan pola melengkung. "Maaf saja tapi aku, William Morgan, lebih memilih mati dari pada harus menjadi mainan dari monster sepertimu." Pedang emas digenggamnya pada tangan kanan. Dia mengarahkan ujung lancip pada Theresa.


"Hah… merepotkan saja…," gumam Theresa.


Morgan melesat maju ke Theresa. Di kedua kakinya terdapat gelembung air yang membungkus. Dia bergerak seakan berselancar di atas dek kapal.

__ADS_1


"Elena juga pernah bergerak seperti itu." Theresa mengangkat busur dan anak panah. Dia membidik Morgan dengan satu mata terpejam. "Tapi dia lebih cepat."


Anak panah dilesatkan. 3 anak panah darah lain mengikuti di belakang. Morgan tetap tenang di jalurnya. Ketika akan bertabrakan, dia menebas satu anak panah darah, kemudian melompat ke langit. Dia lalu mengayunkan pedangnya dengan bilah air tercipta di setiap ayunan pedang.


Theresa bersalto ke belakang. Dia lalu membidik dan menembakkan beberapa anak panah darah ke Morgan. Setelah satu anak darah dilepaskan, anak panah darah lain terbentuk dari gumpalan darah dan dilesatkan juga. Setiap anak panah yang ditembak diikuti anak panah darah lain.


Morgan mengendalikan air membentuk perisai di depan tubuhnya. Ia juga bergerak maju menerjang pada panah darah. Perisainya berputar dan anak panah darah melebur di dalamnya. Setelahnya ia mengendalikan perisai air bercampur darah untuk turun ke bawah, sementara dia melemparkan bilah air ke Theresa.


*Cetas!*


Bilah air mengenai dan memotong busur darah.


"Yah, patah…," gumam Theresa. Dia tidak mempedulikan bilah air yang memotong perutnya hingga darah terciprat dari sana. "Sudahlah, lagi pula aku juga sudah belajar trik mengendalikan darah." Lengan kanan Theresa diangkat mengarah ke perisai air yang bercampur darah.


"Akh!" Morgan terjatuh. Dia menggertakkan giginya dan menatap Theresa dengan penuh amarah.


"Yap, selesai." Theresa mendekat pada Morgan. Mengabaikan semua mayat di kanan-kiri, ia berjalan dengan santai; melangkah pelan. "Jarang-jarang aku mengendalikan darah seperti itu. Gak nyangka kalau bisa. Tapi dengan begini, kamu bisa dilumpuhin tanpa harus mati. Aku bisa laporin ini ke Noctis-sensei dan lainnya." Senyuman cerahnya masih saja kontras dengan suasana berdarah di atas kapal. Lebih menyeramkan lagi adalah bahwa ia merupakan biang kerok.


\=\=\=


Menunggu beberapa lama, Yovanca, Sophia, Noctis, dan Alex sampai ke kapal perompak.

__ADS_1


Alex mengerutkan kening karena tak percaya melihat pemandangan semengerikan itu. Sering dia di medan perang dan melihat tumpukan mayat, namun melihat hingga berdarah-darah? Terlalu berlebihan saat itu hanya dilakukan satu orang. Yovanca biasa saja. Dia tetap tersenyum ramah di belakang Sophia dan Noctis. Sama sekali menganggap tumpukan mayat tak ada.


Sophia dan Noctis seakan tak peduli. Mereka berjalan lurus ke tempat Theresa. Sophia sudah tahu melalui hubungan telepati dan Noctis sudah menduga akan menjadi berdarah-darah.


"Tempat ini sangat kotor. Bisa kau bersihkan, Gadis Darah?" Noctis melipat tangannya di depan dada. Dia berlagak menjadi bos dari kelompok.


"Fumu." Sophia hanya mengangguk. Ekspresinya tetap datar.


Barulah setelah anggukan tersebut, semua mayat manusia berubah menjadi darah dan semua darah terangkat. Mereka semua dibuang ke lautan hingga membuat perairan di sekitar kapal berwarna kemerahan.


"Darah-darah ini mungkin akan memancing hiu. Sudah terlihat seperti nelayan, bukan?" Noctis baru berhenti ketika ia tepat di depan Morgan. Dia menatap ke bawah pada wajah kapten bajak laut yang sudah tak berdaya. "Jadi bisa kau katakan mengapa dan bagaimana kau bisa berada di sini? Tempat yang paling banyak bajak lautnya itu seharusnya di Timur Tengah. Dan kau pasti juga berasal dari sana, right?"


"Hmph! Seakan-akan aku akan mengatakannya padamu!"


*Dag!*


Noctis menendang wajah Morgan hingga terhempas. Dia lalu mendekat kembali dan menendang tubuhnya beberapa kali hingga pria tak bertenaga dan napasnya terengah-engah.


"Kau tahu, aku masih punya metode kejam untuk menyiksamu. Gadis Putih itu bisa menyembuhkan semua lukamu. Memotong tipis-tipis semua anggota tubuhmu dan menyembuhkannya kembali. Aku ingin tahu apa kamu bisa bertahan tanpa gila?" Noctis menyeringai lebar. Gigi putihnya terlihat berkilau di bawah mentari.


Morgan tak bisa berkata apa-apa. Lebih tepatnya, dia tak berani menjawab. Bila itu kematian instan dia masih bisa, namun bertahan dalam siksaan tanpa henti? Terdengar seperti kubangan yang berisi kengerian.

__ADS_1


"Baik, aku akan bicara."


"Nah, seperti itu bagus. Begini kan baik untuk kemaslahatan kita bersama."


__ADS_2