
Sześć sampai di tempat berawa dengan dibimbing oleh bocah yang diselamatkannya. Tak lupa juga ia menyuruh bocah itu untuk kembali. Sebentar lagi akan ada pertarungan dan Sześć dapat merasakan itu. Ia tak bisa membawa beban dalam pertarungan yang tidak tahu seperti apa musuh yang akan dihadapinya. Yang pasti dia tidak ingin membahayakan orang lain, terutama jika orang itu adalah orang yang dikenalnya.
Melangkah ke dalam rawa, tanah lembab membuat kakinya sedikit tenggelam. Namun bukan itu masalahnya. Mbak lama setelah ia masuk ke area rawa, sulur-sulur dari pepohonan menyambar dirinya.
*Slash!* *Slash!* *Slash!*
Sześć langsung menciptakan katana angin dan menebas sulur-sulur yang mencambuknya. dalam sepersekian detik selur-sulur tersebut langsung terpotong-potong menjadi kecil. Tetapi meski demikian, potongan-potongan kecil dari sulur-sulur tersebut masih menggeliat.
"Sepertinya musuh jauh lebih sulit. Fi dalam rawa ini dia akan bisa menyerang dari segala sudut. Ini tidak akan seperti pertarunganku sebelumnya," gumam Sześć.
Dengan wajah acuh Sześć melanjutkan perjalanan di rawa. Setelah sambutan sangat di awal dia masih belum mendapatkan gelombang selanjutnya. Bukan berarti dia bersantai-santai karena ini. Justru dia menjadi lebih waspada. Tempat ini tetaplah teritori lawan dan musuh bisa menyerang dari mana saja. Satu kesalahan, kemudian nyawa melayang. Sześć juga memiliki kekuatan mentah yang lemah mengabaikan semua kemampuan magis yang dimilikinya. Kekuatannya kurang lebih sama atau sedikit lebih tinggi dari manusia biasa.
Sześć berjalan di tepi rawa. Dia masih membawa katana angin di tangan kanannya, kemudian ….
*Cepak!*
Sesuatu melompat dari dalam air dan langsung menuju Sześć. Berbalik, wanita itu melihat katak raksasa lompat padanya. Tanpa ragu-ragu Sześć mengayunkan katananya ke arah katak raksasa. Namun serangannya ini tidak berhasil melukai katak itu. Seluruh angin yang mengitari katana Sześć seakan dinetralkan oleh kulit lentur katak tersebut.
*Set!*
Katak itu menjulurkan lidah panjangnya keluar dari mulut. Namun sebelum serangan itu berhasil mengenai Sześć ….
*Bzzttt!*
Sześć mengubah katana angin miliknya menjadi bilah pedang petir. Petir berwarna kemerahan menjalar ke seluruh tubuh basah dari katak tersebut. Alhasil makhluk yang baru saja keluar dari rawa itu mati dengan luka gosong di sekujur tubuhnya.
Apakah gelombang kali ini berhenti sampai di sana?
__ADS_1
Tentu saja tidak. Karena baru saja Sześć menyelesaikan serangannya, sulur-sulur kembali menyerbu dirinya dari belakang punggung. Sześć secara refleks berbalik dan menebas sulur-sulur menggunakan pedang petir itu. Seakan tidak efektif, petir yang ada di pedang Sześć menjalar ke seluruh sulur. Butuh waktu cukup lama untuk bisa membuat sulur gosong. Bahkan dalam jeda waktu itu salah satu sulur berhasil mendaratkan serangan pada Sześć.
"Cih…." Hal ini membuat Sześć merasa kesal. Satu serangan tersebut meninggalkan bekas luka darah di pipinya. "Sialan!"
*Zzzrrttt!*
Sześć mengubah pedang petir menjadi katana angin. Bilah-bilah angin muncul dan memotong semua sulur dalam sekejap. Namun sayang, ketika dia melakukan ini ….
*Cetas!*
Beberapa katak raksasa muncul dari rawa dan mengayunkan lidah mereka pada Sześć.
Sześć berusaha untuk memotong lidah yang seperti cambuk itu. Tetapi setiap kali katana mendekat pada lidah, lidah dari katak menggeliat di udara seperti kain yang diterbangkan angin. Mereka tidak terpotong.
*Sret….*
Setelah terjebak dalam kondisi terbalik, sulur dan lidah katak menerjang padanya secara bersamaan. Ketika mereka semakin mendekat pada Sześć ….
*Boommm!*
Ledakan api besar meledak dengan tubuh Sześć sebagai sumbernya. Ledakan api tersebut melanggar segala di sekitarnya dan memusnahkan mereka menjadi abu.
Sześć bersalto dan memposisikan ulang tubuhnya ketika mendarat di tanah. 'Jika aku menggunakan elemen petir sulur-sulur akan menyerangku, dan jika aku menggunakan elemen angin katak-katak itu akan mencambuk menggunakan lidah mereka. Sangat merepotkan! Apakah mereka mencari kelemahanku?'
Area sekitar hangus karena ledakan api. Tersisa Sześć berada di tengah-tengah kawah. Matanya melirik ke kanan-kiri, depan-belakang. Tak lama setelah itu, akar-akar kayu tumbuh dan berusaha menangkap kaki Sześć. Hampir kena. Sześć melompat ke udara. Dia menembakkan bola api selama di udara. Ledakan terjadi mengenai akar kayu, namun mereka bergeming atas ini.
'Sudah kuduga. Langsung ada counter untuk elemen yang aku gunakan.'
__ADS_1
Akar-akar itu melesat pada Sześć. Hampir sampai, Sześć menggunakan elemen angin untuk mendorong dirinya sendiri semakin tinggi di udara. Di atas, ia menembakkan proyektil petir pada akar. Serangan petir itu tidak menimbulkan dampak berarti. Bila pun ada, itu adalah bekas gosong kecil.
'Apa! Dia kebal terhadap petir? Kekebalan dua elemen!?'
Akar-akar semakin bercabang semakin mereka mendekat pada Sześć yang masih di udara. Ketika berjarak hanya puluhan sentimeter, akar-akar memecah dirinya menjadi cabang yang lebih kecil. Mereka berubah pola dengan membentuk bola yang mana Sześć ada di dalam bola akar itu. Di sisi lain, Sześć mengubah senjatanya menjadi katana angin. Dia menebas dalam sudut 360° dan membelah dua bola akar. Kemudian dia meledakkan angin yang membuat dirinya terhempas.
Dia mendarat di salah satu dahan pohon, tapi hal ini sama sekali tak membuatnya lega. Sulur hijau menggeliat dan menangkap kakinya. Setelah satu sulur melakukan itu, sulur-sulur lainnya merapat dan membungkus tubuh Sześć. Wanita itu mengayunkan katana dan memotong semua sulur. Tapi ini masih tak cukup. Semakin lama, semakin banyak dan semakin cepat sulur-sulur yang membungkus tubuhnya. Bahkan dahan pohon bergerak mengikuti sulur-sulur itu.
"Shoggoth…."
"Tentu…. Kau selalu bisa menggunakan kekuatanku…."
*Boommm!*
Ledakan besar terjadi dengan kombinasi angin, api, debu, dan petir yang menyebar dengan tubuh Sześć sebagai pusatnya. Ledakan besar itu membentuk kawah dan menyingkirkan semua yang ada di sekelilingnya. Tanah hangus hingga ke bawah dan tak ada satupun tumbuhan terlihat dalam radius belasan meter. Kawah tersebut memiliki kedalaman sekitar 3 meter.
"Cukup! Keluar dan hadapi aku jika kau berani!" pekik Sześć.
*Rumble!* *Rumble!* *Rumble!*
Seketika itu juga tanah dan langit bergemuruh. Firasat huruf Sześć membuatnya secara refleks melompat ke atas. Dia menggunakan elemen angin untuk menahan dirinya tetap berada di udara. Terlihat di bawah tanah mulai retak. Batuan pecah, pepohonan tumbang, dan kayu-kayu pepohonan bergerak saling mengikat satu sama lain. Terus mengikat satu sama lain, mereka membentuk satu sosok kolosal.
"Kroooaaarrrrr!" begitu kerasnya suara yang diteriakkan sosok itu. Ukurannya juga tak main-main.
Tubuhnya sangat besar menutupi hutan, terbuat dari kayu-kayu yang keras. Seluruhnya berwarna hijau seperti daun. Keseluruhan bentuk dari penther itu mirip Liopleurodon. Bedanya, lehernya lebih panjang sehingga bisa diangkat. Matanya merah bagaikan batu delima, di atasnya rangkaian akar lebih kecil mirip mahkota. Selain menyeramkan dia juga menampakkan kesan sebagai "Roh Hutan". Namun tentu dia bukan roh yang baik.
"Haha…." Sześć tertawa kering. "Jadi… inilah makhluk yang bersemayam di sini…?"
__ADS_1