
“Hah… hah… hah….” Leon bernapas berat karena kelelahan. “Aku tidak tahu bagaimana kita bisa lolos dari mereka, tapi untunglah kita tidak dimakan oleh mereka hidup-hidup. Sekarang, aku menjadi sangat kelelahan setelah semua itu berlalu, hah…”
“Jelas-jelas kita berhasil lolos dari kejaran mereka karena menemukan sebuah gua secara kebetulan. Setelah memasuki gua cukup dalam, kita malah masuk ke dalam tempat tidak jelas. Beneran, apa desa itu sangat terpencil sampai kita tersesat di sebuah hutan yang terhubung ke kota.” Elena menggerutu kesal sambil melihat pemandangan di depannya.
Pemandangan ini terlihat bagaikan sebuah koridor. Dia berupa lorong berbentuk balok dengan dinding yang terbuat dari batuan dengan beberapa pola yang menghiasinya. Suasana di sana sangat gelap, dan mereka menggunakan senter yang dibawa Elena sebagai penerangan. Meskipun lembab, setidaknya udara di sana tidak terasa bau.
“Semoga saja tempat ini memiliki jalan keluar di suatu tempat. Jalan untuk kembali ke gua sebelumya terlalu curam, dan terlalu berbahaya untuk melawan kawanan burung bangkai itu. Dilihat dari betapa tersembunyinya jalan masuk ke sini, dan atmosfer di dalam sini, tempat ini sudah lama tidak dijamah dan kita menjadi penemu atas tempat ini.” Elena mendekat ke dinding dan menempelkan tangannya pada sebuah pola.
“Haha, kamu terlalu berlebihan jika mengatakan menjadi penemu tempat ini,” ucap Leon yang membuat Elena menatapnya. “Manusia telah menjelajah ke berbagai tempat, sehingga hampir tidak ada tempat yang belum dijamah kecuali lautan. Kamu terlalu melebih-lebihkan jika mengklaim tempat ini belum dijamah selama ratusan tahun.”
“Di dunia ini terdapat penther yang memiliki kekuatan di atas manusia. Manusia sendiri lebih suka berada di tempat aman, sehingga tidak banyak orang yang benar-benar melakukan penjelajahan di berbagai penjuru dunia. Kemungkinannya sangat kecil, tapi itu tetaplah masih ada kemungkinan jika beberapa reruntuhan kuno yang belum dijelajahi masih ada. Juga, aku tidak mengatakan ratusan tahun, melainkan dalam waktu yang lama,” jawab Elena datar.
“Be-Begitu ya.” Leon terdiam atas perkataan itu.
“Dari pada memikirkan itu ….” Elena beralih pada lorong panjang di depan mereka. “Kita memiliki persediaan yang sangat terbatas sebelum kehabisan makanan dan air dan meninggal karena dehidrasi atau kelaparan. Aku ragu akan ada sungai atau kebetulan sebuah tanaman pangan tumbuh di dalam reruntuhan ini. Jika kamu memiliki tenaga untuk berbicara, lebih baik gunakan itu untuk mulai berjalan.”
__ADS_1
“Apa kita akan berjalan di dalam lorong yang gelap itu?” Leon menunjuk pada lorong gelap yang sepertinya tanpa ujung itu. “Mu-Mungkin, kita bisa berusaha untuk memanjat kembali ke tempat kita jatuh sebelumnya. Ingat, bukankah lebih baik kita menghadapi mara bahaya yang telah diketahui dari pada harus melawan yang masih belum diketahui?”
Elena berjalan di depan Leon dengan senternya yang menerangi lorong. Akan tetapi, ujung dari lorong tesebut tidak juga terlihat menggunakan senter yang dibawa Elena. Masih terlihat kegelapan yang sangat pekat serta lantai batuang yang basah dan licin. Mereka perlu berhati-hati pada lantai batu yang licin ini selain pada ancaman yang tidak diketahui.
Dia melirik pada Leon dengan wajahnya yang tersenyum kecil, dan mengatakan, “Apakah kamu takut? Aku pikir, kamu berniat menjadi seorang trainer hebat dan disegani oleh banyak orang. Jika hanya pada lorong gelap kamu takut, lebih baik kamu menyerah pada mimpimu ini dan mulai dengan membuka sebuah toko di tengah-tengah kota.”
“K-Kau!” Leon terdiam menelan kata-katanya sendiri. “Baiklah! Biar aku tunjukkan, aku sama sekali tidak takut hanya pada lorong gelap ini! Aku pasti akan melampaui Ayahku sendiri di masa depan dalam menjadi trainer dan menjadi trainer terhebat di dunia ini di masa depan nanti! Akan aku buktikan ini kepadamu saat ini juga!”
Leon langsung berjalan melewati Elena dengan rasa percaya dirinya yang membuat Elena berpikir, ‘Hmm, sangat mudah untuk dimanipulasi, ya. Katanya, suku kuno--either--cenderung membuat sebuah jebakan untuk melindungi apa yang mereka sembunyikan. Aku tidak akan sebodoh itu untuk mengorbankan diriku sendiri dalam jebakan mereka.’
*Step!* *Sis!* *Sis!* *Sis!*
Tak berselang lama dari Leon yang berjalan di depan, dia menginjak sesuatu yang mirip dengan sebuah tombol. Kemudian, langit-langit terbuka dengan belasan anak panah yang langsung menghujaninya.
*Sret!*
__ADS_1
Elena langsung mencengkram baju Leon dan menariknya kembali ke belakang sebelum belasan anak panah menjatuhinya. Sedetik saja, dan semuanya akan terlambat. Mati karena belasan anak panah tentu saja akan menjadi pengalaman yang sangat menyakitkan. Bukan, tapi kematian memang akan menjadi pengalaman menyakitkan untuk tiap-tiap yang memiliki nyama.
*Stab!* *Stab!* *Stab!*
Anak panah tersebut jatuh mengenai lantai dan tertancap dengan kuat di sana. Memang, mereka semua sangat kuat dan cepat. Mereka bahkan bisa menusuk dalam pada batuan di sana.
“Sekarang, apa kamu percaya jika reruntuhan ini dibangun ratusan tahun lalu dan tidak pernah dibuka semenjak saat itu, ha? Jika saja aku terlambat, riwayatmu akan habis saat ini juga. Jangan pernah sombong atau terlihat keren hanya untuk gengsi dan harga diri. Saat kau memiliki nyawa, kamu bisa mencari ketenaran. Namun jika kamu memiliki ketenaran, belum pasti kamu akan memiliki nyawa, paham?” tanya Elena dengan nada sinisnya.
“Y-Ya. Ma-Maaf karena telah meragukanmu sebelumnya, hehehe. Lalu, aku tidak akan pernah mengulangi hal itu lagi, hehehe.” Leon hanya bisa tertawa kecil ketika menerima perkataan tegas Elena itu. ‘Uh, kenapa aku terkena sial saat sedang bersamanya? Perjalanan menjadi seorang trainer memang sangat berbeda dari yang aku bayangkan, ya. Kupikir, aku akan sampai ke kota selanjutnya dan menantang para trainer lainnya. Menang, kalah, kemudian menang lagi. Tapi ini sangat berbeda saat nyawaku hampir melayang beberapa jam setelah aku meninggalkan desa.’
Mereka berdua melanjutkan perjalanan panjang di dalam reruntuhan kuno ini. Lorong-lorong di sini sangat rumit yang membuat Elena berpikir, ‘Ini lebih seperti labirin jika kamu mengatakannya padaku. Tanpa kemampuan Penerawangan yang melihat berbagai jalur, aku rasa aku akan tersesat hanya dengan beberapa belokan.’
Jebakan-jebakan di dalam tempat itu sangat berbahaya, oleh karenanya Elena berjalan di depan di antara mereka berdua. Elena yang memiliki keterampilan bertarung melampaui Leon, dia akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk selamat saat menghadapi jebakan. Meski begitu, bukan berarti perjalanan mereka menjadi sangat lancar dan mereka menjadi tenang.
Persediaan makanan mereka mulai menipis, dan beberapa penther kelas tinggi mulai bermunculan yang menghadang mereka.
__ADS_1