Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik
Jasa Penyelesaian Kasus Ghoib Adi & Pati


__ADS_3

Setelah waktu yang cukup lama melewati jalan setapak yang sangat panjang, akhirnya mereka bertiga sampai pada sebuah rumah. Rumah tersebut memiliki lampu yang menyala, menandakan bahwa penghuninya masih terbangun. Selain lampu, rumah ini tampak sangat sederhana dengan 2 lantai dan dinding semen berwarna putih. Juga, ada halaman yang cukup luas disertai pekarangan.


*Tok!* *Tok!* *Tok!*


Mereka bertiga langsung menuju ke rumah tersebut dan mengetuk pintunya.


“Masuk!” jawab sebuah suara dari dalam rumah.


Suara tersebut terdengar kecil dan imut. Kedengarannya suara itu berasal dari seorang gadis muda berusia sekitar 8 tahun. Hanya itu saja, tidak ada yang benar-benar dariya selain terdengar imut.


“Permisi, maaf malam-malam mengganggu.” Noctis membuka pintunya, kemudian langsung masuk ke dalam diikuti Theresa dan Sophia.


“Sangat jarang ada tamu di rumah ini. Ada urusan apa kalian datang ke mari?” Seorang anak remaja berusia 18 tahunan mengarahkan senyuman ramahnya pada Noctis.

__ADS_1


Dia adalah Adi Prawijaya merupakan seorang anak SMA yang telah putus sekolah karena tidak memiliki cukup uang untuk melanjutkan pendidikannya. Sebenarnya, dia bisa saja jika meminta bantuan orang tuanya, akan tetapi dia tidak suka merepotkan mereka. Alhasil, dia pun pindah ke rumah kakeknya yang ada di desa ini dan tanpa sengaja malah merasa nyaman tinggal bersama makhluk halus di tempat ini.


Penampilannya tidak terlalu luar biasa. Dia memiliki rambut hitam lebat yang tidak terlalu panjang, namun juga tidak pendek. Matanya berwarna coklat terang yang jernih sehingga tampak dengan jelas coklat terang tersebut. Kulitnya berwarna kuning langsat terang. Mungkin untuk sebagian orang, penampilannya dapat dikatakan sebagai tampan.


Saat ini dia hanya mengenakan kaos T-shirt lengan pendek yang terasa sangat santai. Lagi pula, ini adalah malam hari dan memang saatnya untuk bersantai. Tidak aneh jika dia memakai pakaian senyaman mungkin untuk mendapatkan suasana lebih santai dan rileks. Dan sebagai tambahannya, dia memakai celana gomboran berwarna hitam yang kontras dengan bajunya.


“Sangat mengejutkan ada tamu yang datang ke rumah kami. Desa ini sendiri hanya memiliki jumlah penduduk 2 digit yang membuatnya jarang ada pengunjung. Oh, maaf, lho, ya. Saat ini Pati dan Kakak sedang makan malam. Maaf kalau penampilan ruangan ini berantakan, hehehe.” Pati tersenyum manis pada mereka bertiga yang baru sampai.


Pati bukan merupakan adik Adi, namun dia lebih suka memanggil Adi dengan sebutan itu. Dia bukan manusia, dia adalah hantu berjenis mati anak yang telah hidup sebagai hantu selama 89 tahun, meskipun penampilannya saat ini masih sama seperti gadis berusia 8 tahun. Orang biasa tidak akan menyangka jika berusia 89 tahun, bahkan Adi sendiri tidak mengetahui usia asli Pati karena jawaban yang didapatkannya adalah “selalu 8 tahun”.


Saat ini, di depan Adi dan Pati sebenarnya adalah meja ruang tamu, dan mereka memang berada di ruang tamu untuk makan malam kali ini. Ini bukan tanpa alasan, tapi memang keduanya lebih nyaman makan di ruang tamu dari pada di ruang makan. Lagian, sangat jarang ada tamu yang akan mengunjungi rumah mereka mengingat kembali sedikitnya penduduk di desa ini.


“Kalian berdua ini…, masih saja makan di ruang tamu seperti dulu, ya.” Noctis melihat tumis kangkung yang menjadi menu makanan keduanya. “Apa kalian berdua selalu makan makanan itu? 2 minggu lalu ketika aku berkunjung, kalian berdua memakai tumis kangkung sebagai menu makanan ketiga waktu makan pada waktu itu. Aku memang tidak mempermasalahkan ini karena kangkung sendiri makanan bergizi, tapi aku merasa aneh ketika kalian hanya makan itu.”

__ADS_1


“Hehehe, soalnya enak, mudah didapat, dan cepat matang. Jadi, Pati lebih suka memakai kangkung tumis untuk makanan saat sedang miskin-miskinnya persediaan makanan milik kami. Di desa ini, kangkung sendiri berserakan di semua tempat dan gratis untuk diambil. Untung saja, desa ini memiliki Sumber Daya Alam yang melimpah sampai tidak perlu bekerja untuk menyambung hidup,” penjelasan Pati dengan senyuman cerah.


“Tolong jangan katakan itu pada tamu kita, deh, Pati. Aku yang merupakan pencari nafkah di tempat ini, merasa malu kalau kamu mengumbar tentang kita yang kekurangan uang. Aku lebih suka jika kamu tutup mulut tentang penghasilanku yang hanya bisa membeli beras untuk sebulannya dan sama sekali tidak bisa untuk membeli kemewahan kecil.” Adi tersenyum kering tak berdaya pada Pati.


“Meskipun Kakak mengatakannya seperti itu, Pati hanya tahu tentang sesuatu seperti berkata dengan jujur pada orang lain. Jika kita berbohong, itu sendiri malah akan menyusahkan kita sendiri, bukan begitu? Seorang pembohong akan menggunakan kebohongannya untuk menutupi kebohongan sebelumnya, hingga akan tercipta rantai kebohongan tanpa akhir.” Pati menunjukkan senyuman manisnya pada Adi.


“Ini bukan tentang kebohongan atau kejujuran, tapi ini tentang menutupi aib. Bagaimana menurutmu ketika orang lain mengatakan sesuatu tentangmu dan kamu sendiri membenci apa yang mereka katakan itu? Kurang lebih seperti itulah posisi kita saat ini. Informasi tentang pemasukan kita tidak terlalu penting untuk mereka, dan mengumbar rasa kasihan diri sendiri pada orang lain untuk mendapatkan uang juga bukan sesuatu yang bagus,” jawab Adi dengan nada bijaknya.


“Apa kalian sudah selesai saling berbicara satu sama lain? Jika sudah, aku ingin mengatakan tentang urusan kami untuk datang ke sini malam-malam sampai tidak menunggu waktu siang hari. Masalah ini juga tidak terlalu penting, tapi tetap merupakan sesuatu yang sangat … er … bermasalah dan perlu diselesaikan dalam waktu cepat,” kata Noctis sebelum Adi dan Pati saling berdialog.


‘Harus kuakui, mereka berdua merupakan keluarga yang sangat akur dan memiliki hubungan baik antara satu dengan lainnya. Tapi jika mereka terus-menerus berbicara tanpa akhir, bisa-bisa aku tidak pulang dan malah bermalam di tempat ini. Bukan karena mereka yang terus berbicara sampai pagi, tapi ini akan menjadi larut malam sebelum mereka akhirnya menawarkan untuk tidur di rumah mereka.’


‘Aku sendiri tidak suka jika harus merepotkan mereka ketika sudah mengetahui kondisi ekonomi mereka. Jika aku sampai bermalam di sini, aku akan memberikan beberapa puluh keping koin emas pada mereka berdua. Begini-begini, aku juga masih memiliki rasa kasihan dan bisa bersimpati kepada orang yang sedang dalam kesusahan meski aku sendiri bukan manusia.’

__ADS_1


‘Emas mungkin tidak terlalu bernilai di sini, tapi emas masilah mata uang universal di mayoritas dunia. Jika itu emas, setidaknya itu bisa digunakan untuk menukarkan mata uang di dunia tersebut dari pada menggunakan mata uang yang sepenuhnya asing dari dunia yang ada di sana.’


__ADS_2