
Elena pergi ke ruangan bawah tanah. Tetapi ketika dia sampai di sana, Schwartz juga ada di sana.
“Schwartz… bagaimana kau bisa ada di sini?” tanya Elena heran.
“Draka pergi berbelanja, jadi aku menggunakan waktu itu untuk penelusuran. Sudah cukup! Apa yang kau lakukan di sini!” bentaknya.
“Uh, yah… kau tahu?” Elena mengangkat bahunya. “Sama denganmu. Aku ke sini untuk penelusuran. Tahukah kamu kerja keras yang kulakukan agar memiliki waktu ke mari?”
“Itu tidak penting! Kau pasti berafiliasi dengan Black Night Company!” Schwartz memekik. “Sekarang aku akan menghabisimu!”
“Tu-Tunggu! Aku bisa menjelaskan!” Elena tergagap.
Sayangnya Schwartz tak mau mendengarkan. Dia melesat langsung ke Elena sambil mengeluarkan sebuah belati berbilah merah terang yang berpijar. Elena juga tak bisa diam saja. Dia memerintahkan Aya untuk menggunakan skill ke-2, Black Catcher, kemudian dengan pasak hitam itu Elena menangkis belati Schwartz. Mereka berdua saling beradu senjata di jarak dekat.
“Dengarkan dulu, Schwartz, aku berani bersumpah jika aku tidak berkomplot dengan mereka!” Elena berbicara ketika menangkis serangan Schwartz.
Mereka berdua saling adu dorong senjata untuk memberikan luka ke satu sama lain.
“Katakan saja itu nanti. Katakan saja itu saat aku sudah menangkapmu!” pekik Schwartz.
*Trank!*
Masing-masing dari mereka menebas sekuat tenaga pada senjata satu sama lain. Sebagai hasilnya mereka berdua saling terdorong mundur ke belakang yang memberikan jarak.
“Menyebalkan! Tidak bisakah kau tenang?” tanya Elena dengan nada tinggi.
__ADS_1
“Aku sudah tenang.” Schwartz kembali memposisikan belatinya. Mengarah ke Elena dengan posisi horizontal, tangan kanan di pegangan belati dan tangan kiri di punggung bilah belati. “Tapi ketenanganku sudah habis saat ini.”
“Merepotkan…,” gumam Elena. ‘Aya, kita perlu membuatnya lelah. Gunakan skill pertamamu untuk memberiku buff kecepatan dan gunakan skill keduamu untuk mengurangi pergerakannya.’
‘(Dimengerti, Bos!)’
Elena dan Schwartz saling melesat ke arah satu sama lain dan bertemu di tengah. Selanjutnya Aya memberikan buff Accel pada Elena dan mengeluarkan pasak hitam dari Black Catcher di udara. Elena bergerak cepat memutari Schwartz akan memberikan tusukan punggung, sementara di depan Schwartz ada banyak pasak hitam. Tapi meski begitu Schwartz yang menjadi anggota elit bukan abal-abal.
Dia melompat ke udara dan memutar tubuhnya. Mengarah ke bawah, dia menebaskan belati pada Elena. Beruntung buff Accel membuat reaksi Elena cukup cepat untuk memblokir tebasan belati.
Memberikan tekanan pada belatinya, Schwartz terdorong mundur ke belakang. “Seni Bela Diri Belati: Cahaya Silang!”
*Nging!*
Sebagai serangan pertahanan, Elena mengayunkan pasak hitam di tangannya dan membubarkan bilah silang. ‘Gawat…. Apakah itu semacam senjata magis? Aku terlalu meremehkan peradaban di dunia ini.’
Pasak hitam yang diciptakan lewat skill Black Catcher Aya memiliki efek untuk menyerap centher energy dari lawan maupun serangan lawan yang mengkonsumsi centher energy. Kemampuan ini terbatas bila pasak hitam berada di dekat pengguna, yang dalam kasus ini adalah Aya.
Baru saja Elena selai membuyarkan serangan Schwartz, bocah itu sudah ada di depan Elena. “Seni Bela Diri Belati: Tebasan Ekstrim!” Ia menebaskan belati sekuat tenaga hingga meninggalkan jalur merah. Bukan itu yang menyeramkan dari serangannya. Yang paling menakutkan adalah dirinya mengincar leher Elena.
Kali ini Elena masih berhasil menghindar lagi berkat Accel. Dia menekuk punggungnya yang membuat tinggi tubuhnya lebih rendah. Tapi itu tadi benar-benar hampir menghabisi dirinya.
“Hiat!” Elena kembali tegak dengan secepat dan sekuat tenaga. Lalu karena Schwartz masih ada di depannya, dahi mereka berbenturan dengan keras. Schwartz pun sampai terkapar di tanah karenanya. “Dah dibilangin! Dengerin dulu!” teriak Elena.
Schwartz terkapar di tanah. Dia merasakan rasa sakit yang amat sangat di dahinya. Menyadari berada di depan lawan, dia segera bangkit dan bersalto beberapa kali ke belakang. “Baiklah, kali ini aku akan memberimu kesempatan. Tapi jangan harap aku akan membiarkanmu mengorek informasi sesukamu.”
__ADS_1
“Eh? Apa maksudmu? Kok mudah banget?” Elena lagi-lagi keheranan.
Padahal jelas dia memiliki Telepati yang membuatnya bisa membaca pikiran orang lain, tapi dia tidak menggunakannya. Yah, memang tidak akan seru jika dia selalu memakai kemampuan Telepati. Bisa-bisa tidak ada dialog yang berhubungan dengan Elena. Lagi pula kemampuan ini juga memiliki batasan.
“Ya, aku memberimu satu kesempatan lagi.” Schwartz mengulangi.”Di posisi tadi seharusnya kau bisa membunuhku, tapi kau tidak melakukannya. Entah karena memang benar kau tidak bersama mereka atau kau merasa ini bukan waktu yang tepat, tapi aku akan memberimu satu kesempatan lagi. Lagi pula kau cukup berkontribusi untuk menemukan tempat ini.”
“Hah… akhirnya bisa juga ya kau berhenti.” Elena menghembuskan napas lelah. “Aku sudah capek berpikir harus bagaimana jika kita terus bertarung.” Dia lalu mengalihkan topik, “Btw, bagaimana caramu masuk ke sini? Bukankah jalannya harus lewat kamarnya Nana?”
“Dia sedang tidur. Makanya sekalian saja aku ke mari.” Schwartz menyarungkan belati di balik lengan bajunya yang tersembunyi.
“Bentar, perasaan tadi Nana sudah bangun? Aku bertugas memberikan sarapan padanya pagi ini. Aku sangat yakin dia bangun. Mana mungkin dia masih tidur?” Elena lagi-lagi keheranan.
Mata mereka berdua membelalak. Masing-masing dari mereka mendapatkan ide di dalam benak mereka, kemudian secara bersamaan berkata, “Jangan-jangan ….” Kalimat keduanya berhenti sampai di sana ketika seseorang datang, berkata, dan menginterupsi mereka.
“Wah, tak kusangka ada anak-anak di dalam sini. Sesuai prediksiku, kalian berdua bukan anak-anak biasa yang datang untuk melamar pekerjaan.” Itu adalah Draka. Dia tersenyum dengan matanya yang sipit pada mereka berdua.
“Draka!” Mereka tersentak kaget mengetahui sosok yang menghampiri. Schwartz lalu menambahkan, “Mungkinkah kau yang sebenarnya berafiliasi dengan Black Night Company?” Ia kembali mengeluarkan belatinya dan masuk posisi bertarung.
‘Itu tidak mungkin. Aku yakin dia tidak memiliki hubungan dengan mereka. Aku memastikannya menggunakan Telepati!’ Sekali lagi, Elena menggunakan kemampuan Telepatinya pada Draka. Kali ini berbeda dari sebelumnya. Semua pikiran Draka menandakan bila dirinya berkomplot dengan Black Night Company. ‘Begitu ya, aku paham. Dia memberikan sugesti pada dirinya sendiri. Dia menganggap dirinya sebagai kepala pelayan sepenuhnya, bukan anggota Black Night Company. Pantas saja aku Telepati tidak dapat mengidentifikasinya.’
Ini adalah salah satu kelemahan dari kekuatan Telepati Elena. Kemampuan Telepati bisa membaca apa yang orang lain pikirkan, tetapi tidak dengan apa yang ada jauh di dalam lubuk hati mereka. Telepati tidak berguna pada target yang telah berubah pikirannya karena emosi, seperti yang ada di bawah efek sugesti atau cuci otak.
Kemudian tentang Nana yang tertidur, itu jelas adalah ulah Draka yang memasukkan obat tidur pada sarapan Nana. Kemudian dia menunggu, dan ketika akan pergi memakai alasan “berbelanja”. Namun dalam jeda waktu, Schwartz terlebih dahulu masuk.
“Sayang sekali, Anak-anak. Ini akan menjadi akhir dari kalian.” Draka mengeluarkan pet house miliknya dan melemparkannya.
__ADS_1