
Di latar tempat yang lain, pada waktu sama dengan Szècz dan Peruru, Kai dan Ayahnya berada di sebuah penginapan. Mereka berdua baru saja menyelesaikan penelitian panjang dan melelahkan selama seminggu ini. Tentu saja, ini menguras terlalu banyak energi yang membuat mereka, terutama Kai kelelahan dalam hal pikiran. Untuk fisik mereka, tidak terlalu banyak masalah yang membuat mereka mengeluarkan banyak dari tenaga mereka.
Memang terdapat beberapa penther liar, tetapi semua itu dengan mudahnya berhasil dihalau oleh Kai. Keberadaan Kai di sini sudah menjadi body guard yang sangat penting. Dia melakukan pekerjaannya dengan sangat baik tanpa adanya ancaman yang berhasil melukai Ayahnya—yang bekerja sebagai peneliti—. Hanya saja, saat ini dia mengalami kelelahan dalam hal pikiran karena kurang melakukan pekerjaan dan terlalu banyak merasa bosan dan melakukan pekerjaan yang tidak ia sukai.
“Selanjutnya, apa yang akan kamu lakukan, Ayah? Bukankah pekerjaanmu di sini sudah selesai bersamaan dengan kamu yang selesai meneliti reruntuhan itu? Tidak bisakah kamu pulang sekarang?” tanya Kai.
Dia berbaring dengan santainya di atas ranjang. Sebelum tidur, dia memutuskan untuk memberikan pertanyaan ke pada Ayahnya ini. Kelelahan secara mental bukan berarti dia benar-benar lelah dan membuatnya tidak dapat berpikir jernih. Dia hanya sedikit kesal karena melakukan terlalu banyak pekerjaan yang tidak ia sukai dan membosankan.
Selama penjelajahan terhadap bangunan kuno, dirinya hanya perlu mewaspadai ancaman yang memiliki kemunculan keluar sangat kecil atau tidak diketahui. Dia tidak bisa bermain game dan terus waspada terhadap satu per satu ancaman. Hanya saja melakukan ini dalam jangka waktu yang lama, sungguh membuatnya bosan dan menguras tenaga.
“Aku berencana untuk kembali pulang ke rumah. Adikmu pasti sudah terlalu lama menunggu untukku menemuinya kembali. Tapi sayang…, aku masih harus pergi ke Asosiasi untuk melaporkan hasil yang sudah aku temukan ini,” jawab Ayahnya yang duduk di atas meja sambil menuliskan beberapa hal di dalam kertas putih.
__ADS_1
Kai sendiri tentu saja sangat menyadari bahwasanya ini merupakan informasi penting. Sebenarnya dia sendiri ingin bertanya apakah masalah ini bisa dikirimkan melalui kurir atau tidak. Tetapi mengingat betapa pentingnya informasi yang ada, dia mengurungkan niatnya dan menjadi penjaga untuk waktu yang lebih lama, meski dia bosan melakukannya.
“Juga, panggil aku dengan sebutan “Doktor”. Kamu masih dalam pekerjaan saat ini,” tambahnya dingin.
“Baiklah, baik,” balasan yang acuh tak acuh dari Kai. “Tidakkah kamu sedikit terlalu kaku padaku yang merupakan putramu? Kita hanya berdua di kamar ini, ini bukan semacam konferensi di mana keberadaan kita muncul di depan publik. Bukankah tidak masalah kalau aku memanggilmu “Ayah” yang merupakan panggilan keluarga? Ini akan membuat hubungan di antara kita menjadi lebih dekat, bukan?”
“Aku menolak.” Dia berhenti dari menulisnya sebelum mengatakan, “Aku lebih mengedepankan pekerjaanku saat ini. Warisan dari peradaban kuno…, memungkinkan manusia untuk melangkah lebih maju dari teknologi yang kita miliki sekarang. Kalau kita bisa mempelajari teknologi mereka, kita mungkin akan mendapatkan loncatan teknologi dari makhluk-makhluk yang berasal dari planet lain.”
“Mengabdikan karir dari pada keluarga, ya.” Kai tertawa kecil memikirkan ini. “Aku tidak tahu apakah Doktor melakukan ini untuk ambisi dirinya atau terpaksa karena pekerjaannya. Tapi mana di antara satu itu yang benar, apa yang kamu lakukan ini sama sekali tidak mengubah kenyataan jika kamu membelakangkan keluargamu. Aku sama sekali tidak bisa memikirkan apa yang ada di dalam kepalamu tentang sikap kerasmu ini.”
“Bahkan jika kamu mengatakan seperti itu, pada kenyataannya kamu masihlah bersikap keras terhadap anakmu yang satu ini, lho,” timpal Kai. “Masalahnya bukan pada apakah kamu memilih keluarga atau pekerjaan. Masalahnya adalah kamu yang memiliki sikap terlalu kaku. Kamu bisa saja mengizinkan aku menggunakan panggilan “Ayah” untuk memperdekat hubungan kita.”
__ADS_1
Francais tidak menjawab terhadap pernyataan ini. Dia justru mengatakan, “Aku memiliki kebimbanngan apakah aku akan memilih keluarga atau berbagai jenis orang. Kamu sendiri juga akan mengalami kebimbangan mendalam seperti ini ketika kamu telah memasuki dunia kerja, terutama jika pekerjaanmu itu menyangkut pada kepentingan banyak orang.”
Seperti yang sering dijelaskan Francais, pekerjaannya yang berupa meneliti situs kuno memiliki peran penting terhadap kemajuan teknologi manusia. Berkat teknologi baru yang diteliti melalui hasil penelusuran Francais, umat manusia mungkin bisa melakukan perjalanan antar planet atau bahkan antar bintang, selain itu ini juga dapat berperan jauh dalam pengembangan obat-obatan. Ini tentu saja akan penting untuk perkembangan maupun melestarikan keberadaan manusia.
Namun di lain sisi, kemajuan teknologi yang terlalu drastis tanpa diikuti akhlak dan kepintaran manusia terhadap teknologi yang terlalu simpel, malah akan menghancurkan peradaban manusia itu sendiri. Peperangan dilatarbelakangi oleh keserakahan dan usaha untuk mendominasi satu sama lain akan memicu kehancuran diri umat manusia di planet itu.
Oleh karena itu, hendaknya kita semua mencari kebenaran tanpa mengedepankan emosi. Mungkin kebenaran itu berbeda dengan apa yang kita inginkan, tetapi kebenaran tetaplah kebenaran. Jika kebenaran tidak dijangkau, maka kita—umat manusia—akan menuju kehancuran dikarenakan kualitas akhlak yang menurun dan perasaan untuk mementingkan keperluan diri sendiri tanpa memperhatikan orang lain.
Manusia tentu saja memiliki ambisi, entah itu uang atau ketenaran. Namun bila dalam prosesnya kita menghalalkan segala cara, apakah Anda telah melupakan hati nurani kalian sebagai manusia? Dan ingatlah, sesungguhnya Tuhan telah memberikan akal ke pada manusia agar manusia dapat memikirkan apa yang benar dan yang salah. Apabila kita tidak bisa berpikir menggunakan akal itu, maka kita tidak akan memiliki perbedaan dengan hewan.
Jika sekali-kali kamu menganggap hewan itu bodoh, ingatlah tentang mereka yang berubah menjadi lebih pintar melalui latihan. Tentu saja, mereka tidak menyaingi manusia dalam membangun peradaban, namun mereka—hewan-hewan itu—tetaplah dapat berpikir. Jika hewan tidak bisa berpikir dan “memiliki perasaan”, pastilah hewan karnivora punah karena mereka memakan anak-anak mereka.
__ADS_1
Memperhitungkan semua kemungkinan baik dan buruk yang terjadi, Francais memilih untuk tidak peduli dan hanya akan menjalankan tugasnya untuk meneliti situs kuno, kemudian sudah. Bagaimanapun hati nuraninya sebagai seorang manusia, sebagai seorang ayah. Dia tidak bisa menggunakan seluruh hidupnya hanya untuk umat manusia. Dia juga menginginkan untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersantai bersama keluarganya.
“Sepertinya dunia orang dewasa terlalu sulit untuk dilalui.” Kai memejamkan matanya sebelum melanjutkan, “Aku tidak peduli tentang itu. Aku hanya akan menghadapi apa yang ada di depan mataku.”