Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik
Pertarungan Masih Berlanjut


__ADS_3

Setelah sesi bicara singkat di antara mereka berdua, pertarungan di antara keduanya masih terus berlanjut dan menjadi lebih ganas dari sebelum-sebelumnya. Tidak hanya area di sekitar mereka, gedung sekolah juga menjadi korban keganasan keduanya, menghancurkan infrastruktur sekitar, dan yang pastinya memunculkan rasa khawatir atau was-was pada masyarakat sekitar yang melihat pertarungan itu.


*Sis!* *Sis!**Sis!*


Elena naik tinggi-tinggi ke langit di belakang Dwa, kemudian membuat beberapa bola api bersuhu tinggi sebelum menembakkannya secara barbar kepada targetnya itu. Bukan berarti dia hanya memberikan serangan acak, namun serangan Elena memang sangat ganas, beruntun, dan memiliki daya ofensif dan penghancur yang tinggi.


*Bom!* *Bom!* *Bom!*


Dwa dengan entengnya menangkis satu bola api menggunakan lengan raksasa kanannya dan membiarkan yang lainnya melewatinya dan membuat ledakan di tanah. Salah satu hal yang membedakan Dwa saat ini, adalah dirinya yang membuat sepasang sayap tambahan di punggungnya agar dapat bergerak bebas di langit dan mengikuti medan pertarungan Elena.


‘Sial, aku benar-benar benci medan pertarungan di udara seperti ini. Selain harus memikirkan manuver dalam bidang 3 dimensi yang sangat luas, aku juga jarang memakai sayap sehingga tidak terlalu ahli dalam mengontrolnya.’ Dwa benar-benar memiliki wajah cemberut mengesalkan di balik topengnya itu.


Medan pertarungan yang tidak menguntungkannya, membuat ia mempunyai peluang kemenangan yang lebih kecil dibandingkan sebelumnya. Bukan berarti di tanah akan memberikan dia keuntungan karena pada dasarnya Elena juga dapat bertarung dengan baik di sana, hanya saja di angkasa seperti ini dua mendapatkan kerugian, yang mengubah angka yang sebelumnya nol sama menjadi negatif baginya dan tetap nol untuk Elena.


“Are~? Apa jangan-jangan kamu tidak memiliki kemampuan yang bagus untuk bermanuver? Aku merasakan perasaan kesal dari seseorang. Kira-kira, siapa yang sedang kesal saat ini, ya?” Berkebalikan dengan Dwa, Elena justru memiliki wajah dengan senyuman yang berseri-seri, sebagai akibat dari menertawakan orang susah. Ia merasa cukup senang melihat Dwa yang kesulitan sebab sejak awal mereka sudah menyulitkan dirinya.


Tidak seperti Dwa, Elena memiliki kemampuan Telekinesis yang mampu membuat dirinya bergerak secara leluasa di udara. Kemampuan bermanuver dan kecepatan gerakan Elena lebih baik jika harus dibandingkan dengan Dwa. Ini jelas-jelas menjadi keuntungan baginya, walau tidak ada sesuatu yang bertambah darinya. Jika dia memiliki keuntungan nol di tanah, maka dia tetap memiliki keuntungan nol, namun terdapat perubahan menjadi negatif untuk Dwa.

__ADS_1


“Cih, terserah kau saja! Burung gagak yang terbang bebas di langit, masih jauh lebih baik dari pada burung unta yang tetap ada di tanah!” teriaknya kesal karena termakan provokasi Elena.


‘Eh? Kok, mudah sekali, ya? Padahal, aku merasa tidak terlalu banyak memprovokasinya dan hanya menunjukkan kekurangannya dalam medan langit seperti ini. Tidak ada, tuh, aku yang menyatakan tentang kekurangan fisiknya seperti cacat, jelek, bau, anak orang miskin, chuunibyou, kekanak-kanakan, atau kawan-kawannya. Tapi tidak apa, sih. Aku juga ingin dia merasakan kekesalanku pada mereka. Jangan salah sangka, bukan berarti aku mendoakan yang buruk pada mereka, aku hanya meminta mereka untuk segera sadar dan membebaskanku dari target mereka, kau tahu?’


*Zrt!*


Bayangan tangan raksasa di belakang kedua lengan Dwa menghilang. Bersamaan dengan itu, sayap yang ada di punggungnya tumbuh menjadi lebih besar, jauh lebih besar dari tubuhnya sendiri. Masih sedikit sama dari kedua tangan raksasa, sepasang sayap Dwa memiliki warna ungu transparan seperti kaca. Sayap ini juga memiliki daya tahan dan resistensi seperti kaca, atau bahkan lebih tinggi dalam beberapa kondisi tertentu.


*Flap!* *Flap!* *Sis!* *Sis!* *Sis!*


Dwa mengepak-epakkan sayapnya ke atas pada Elena, kemudian bulu-bulu berwarna ungu transparan sama seperti sayapnya melesat pada Elena. Jumlahnya tidak terlalu banyak, itu hanya berkisar ratusan dan setiap dari mereka memiliki ujung-ujung tajam dan melesat dengan sangat cepat. Serangan ini dipastikan dapat menembus batang pohon dan menyisakan sebuah lubang besar.


Dwa memang tidak menanggapi provokasi lebih lanjut dari Elena. Dia tetap memiliki bibir cemberut di belakang topengnya, merasa sangat tidak senang pada kondisi kurang diuntungkan ini. Selain itu, dia juga perlu fokus pada serangannya karena memiliki jumlah banyak dan beruntun, yang memberikan dampak sampingan berupa jalurnya yang cukup berantakan alih-alih fokus pada satu titik yang merupakan targetnya.


‘Aku tahu kalau serangan ini lebih baik digunakan pada musuh dalam jumlah banyak karena mempunyai bidang serangan yang tersebar. Tapi jika aku hanya fokus pada satu titik, aku sangat yakin dia dapat menghindarinya dengan mudah. Sekarang, setelah aku menghilangkan ruang menghindar baginya, kira-kira apa yang akan ia lakukan untuk menangkis ini!’


*Huftp!* *Buh!*

__ADS_1


Sama seperti sebelumnya, Elena mengumpulkan api di mulutnya sebelum akhirnya memuntahkannya pada ratusan bulu yang mengarah padanya. Menghindari mereka semua satu per satu dengan memanfaatkan ruang gerak yang tampak minim, tampaknya terdengar tidak masuk akal dan kurang logis untuk dilakukan.


‘Untuk menghadapi serangan menyebar, maka gunakan juga serangan yang sama menyebarnya dengannya. Dengan membakar semua bulu-bulu ini, aku tidak perlu repot-repot fokus pada satu setiap dari mereka walaupun aku bisa saja walau ini akan menjadi sedikit lebih sulit.’


Setelah sepersekian detik yang singkat, bulu-bulu tersebut muncul melewati semburan api Elena. Mereka semua tidak terkena dampak dari pembakaran api, bahkan melambat pun tidak. Dengan ini, Elena memiliki jarak beberapa meter yang sangat pendek dari bulu-bulu tersebut sebelum dia ditikam oleh mereka semua dan memiliki jasad sangat mengenaskan.


*Cring!*


“Cih!” Elena segera berteleportasi ke tempat lainnya untuk menghindari semua bulu itu. Lokasinya adalah mundur beberapa belas meter dari sana, yang artinya dia naik ke atas, berada di jalur berbeda dari pada jalur lurus semua bulu-bulu itu.


*Sis!* *Sis!* *Sis!*


Sialnya, di luar perhitungan, bulu-bulu tersebut tetap bergerak mengikuti Elena kemana dia pergi.


“Bagaimana? Walaupun tidak semuanya, aku masih dapat mengendalikan puluhan dari mereka, lho. Tidak akan semudah itu saat kamu ingin lari dari mereka semua.” Dwa muncul dari balik kobaran api dengan sayap ungunya yang menyelimuti dirinya.


*Sis!* *Sis!* *Sis!* *Bom!* *Bom!* *Bom!* *Cring!*

__ADS_1


Elena menembakkan bola-bola api berkepadatan tinggi yang seukuran bola basket dan mengarahkannya pada Dwa sembari menggunakan Teleportasi untuk menghindari kejaran bulu-bulu.


“Percuma saja! Sayapku ini memiliki pertahanan lebih tinggi dari yang kamu perkirakan! Serangan milikmu tidak akan mampu menembusnya!” ucap Dwa dengan sarkastiknya. “Selain itu, beberapa seranganmu meleset dan hanya menyentuh tanah, tuh. Apa kamu sudah mulai kelelahan, Elena?”


__ADS_2