
Di dalam penginapan, Kitsuna dan Leon bersama penthernya masih belum tertidur. Tidak banyak kegiatan mereka, hanya beberapa hal membosankan yang dilakukan sendiri-sendiri. Mereka berdua hanya memiliki sedikit dialog karena kegiatan masing-masing yang mereka lakukan, tetapi suasana menjadi lebih berisi dialog ketika Leon mengatakan, "Hei, Kitsuna. Sampai kapan kamu akan bermain dengan senjata berbahaya itu? Bukankah kalau benda itu aktif maka seluruh tempat ini akan runtuh?"
Kitsuna masih memegang Rapier Elena sementara wajahnya mengarah pada Elena, kemudian dia mengatakan, "Tenang saja, aku berhati-hati terhadap apa yang kusentuh ini." Wajahnya tersenyum dengan percaya dirinya sebelum dia melanjutkan, "Aku sudah tahu bagaimana cara menggunakan benda ini, aku tentu saja akan berhati-hati agar tidak secara tidak sengaja mengaktifkannya dan menghancurkan tempat ini."
Elena sendiri tentu saja tidak akan membawa senjata menyeramkan seperti itu. Tujuan awal dirinya adalah untuk jalan-jalan. Dia tidak memiliki kewaspadaan terhadap ancaman yang mungkin terjadi. Perkiraannya, meski terjadi sebuah ancaman, bahaya yang akan dilaluinya seharusnya tidak terlalu kuat dan akan bisa diatasi menggunakan kemampuannya dan kemampuan Aya. Kemunculan Senolia berada di luar dari prediksinya.
"Hah… kamu ini adalah rubah yang berbahaya, ya. Pokoknya, aku tidak akan bertanggung jawab bersamamu kalau tempat ini sampai hancur!" kata Leon memberikan penegasan. "Tapi ngomong-ngomong, apa kamu tidak merasa kita perlu mencari dan memberikan itu ke pada Elena? Ini sudah malam dan dia belum kembali. Mungkin saja dia sedang berada di dalam bahaya saat ini. Aku mulai merasa khawatir sedikit demi sedikit."
"Sudah, sudah, tidak perlu terlalu khawatir," jawaban santai Kitsuna. "Aku tidak tahu apa dan di mana dia berada sekarang. Tapi aku yakin, dia pasti baik-baik saja. Kekuatan dan keterampilan bela diri yang dimilikinya lebih baik dari apa yang kamu pikirkan. Tidak banyak individu yang bisa mengalahkannya atau menangkapnya."
Padahal kondisi temannya belum diketahui, tetapi Kitsuna bersikap santai. Ketika kita memiliki teman yang belum tentu seperti apa keadaannya, tetapi keberadaannya ini mengkhawatirkan inti kita, bukankah akan lebih baik untuk mencarinya dan untuk memastikan keselamatannya? Ketahuilah bahwasanya berada dalam suatu musibah memiliki perbedaan besar dengan hanya mendengarkan suatu berita tentang musibah.
Dikala engkau hanya menjadi pendengar, mungkin engkau akan merasa apa yang dialami pihak itu sungguh menyakitkan dan sangat kasihan. Tetapi ketika kamu berada dalam keadaan pihak yang terkena suatu musibah, maka rasa khawatir akan keselamatan sendiri akan menusuk ke dalam dada. Inilah perbedaan antara mendengarkan dan mengalaminya sendiri!
Jangan sekali-kali mengecilkan perkara musibah yang dialami orang lain. Ketika waktu tiba saat musibah itu berbalik ke arahmu, maka kamu akan merasa apa yang dirasakan olehnya. Perasaan yang sangat berbeda dari hanya mendengarkan atau melihat apa yang dialami orang lain. Meski hanya sedikit, bantulah mereka yang membutuhkan bantuan!
•••••
__ADS_1
*Clank!* *Clank!* *Slash!* *Slash!* *Slash!*
Suara dentuman besi dan tebasan berkali-kali terdengar memecah kesunyian di dalam tempat tertutup pepohonan ini. Ilalang panjang bergetar setiap kali angin kencang melewati mereka. Angin dingin malam tidak terasa oleh panasnya medan pertarungan. Meski tidak menyebabkan sedikitpun korban jiwa, pertarungan sengit ini sangat membahana di tempat gelap ini.
"(Masih lama kah, Elena!)" pertanyaan Aya dengan suara keras.
"Sudah, jangan banyak bicara! Aku sendiri sedang berada di dalam kondisi sulit!" jawab Elena dengan nada tingginya.
Mereka berdua terlibat dalam pertarungan cepat dan intensif. Sedikit kesalahan, maka luka fatal akan menjadi imbalan atas kesalahan yang Mereka berdua perbuat. Keduanya bahkan sesekali lupa untuk menarik napas karena terlalu fokus menghadapi lawan mereka masing-masing. Musuh yang dihadapi terbilang baru dan unik di dunia ini bagi Aya dan Elena.
Sementara Elena melawan musuh yang lebih lincah, Aya melawan musuh yang lebih kokoh. Rencananya adalah Elena akan mengalahkan satu dari mereka, kemudian dia bersama Aya akan melawan satu sisanya—yang kokoh—. Sangat sulit bagi Elena untuk melakukannya karena lawan gesitnya ini. Hit rate Elena menjadi sangat kacau dengan terus-terusan meleset.
‘Uh… dia benar-benar cepat! Penther ini adalah yang tercepat yang pernah aku hadapi di dunia ini sampai saat ini. Bukan benar-benar musuh tercepat yang aku hadapi di seluruh hidupku, tapi ini pertama kalinya aku melawan musuh secepat dia dalam kondisi nerf mati-matian. Perasaan aku di dunia sebelumnya memiliki kekuatan lebih besar dari pada ini,’ batin Elena sambil memberikan tatapan geram ke pada penther di hadapannya,
Penther tersebut memiliki fisik yang memberikan kesan mistis dan misterius. Dia memakai jubah berwarna kebiruan dan memancarkan cahaya mistis di bawah gelapnya area sekitar. Dalam rongga mata, mulut, dan hidungnya terdapat kobaran api berwarna biru yang tidak memancarkan hawa panas, tetapi memberikan tampilan keren. Di sekujur tubuhnya seperti terdapat beberapa area yang ditumbuhi bulu berwarna biru dan berpijar sama seperti kobaran.
Selain jubah, perlengkapan yang dipakainya adalah lentera dan seikat rantai. Lentera tersebut dipegang menggunakan tangan kirinya dengan di dalamnya berkobar api berwarna kebiruan terang sampai menunjukkan area sekitarnya, kemudian rantainya dipegang melilit tangan kanannya dengan tampilan berwarna perak gelap tanpa memantulkan warna atau cahaya.
__ADS_1
*Krincing!* *Krincing!* *Krincing!*
Rantai di tangan kanannya diangkat ke atas dengan dia yang memutar-mutarnya dalam jalur melingkar.
Elena pada waktu itu juga meningkatkan rasa kewaspadaan dan memperhatikan langkah yang akan diambil oleh penther ini. Data, informasi, atau pengetahuan Elena tentang penther ini masihlah nihil sehingga dia sama sekali tidak bisa menebak apa yang akan dilakukannya. Sudah mengamati selama pertarungan? Elena hanya melakukan beberapa konfrontasi singkat sebelumnya, yang di dalamnya penther ini tidak mengerahkan semua kemampuannya, sehingga Elena tidak mengetahui terlalu banyak tentang kekuatannya.
*Swing!*
Rantai tersebut meluncur pada Elena dalam kecepatan tinggi. Gerakannya terlalu cepat untuk Elena mengambil gerakan menghindari darinya, dia terpaksa menghindar atau melarikan diri dan memperlihatkan punggungnya hanya akan memberinya luka yang lebih parah. Lebih baik bertaruh pada kemampuan pertahanan dari pada langsung lari dan malah terkena serangan itu.
*Skring!*
Elena mengayunkan katana hitam itu pada rantai yang berputar ke arahnya.
“Heng!” Dia berusaha menahan tarikan kuat yang diberikan penther di depannya. ‘Terlalu berat! Jarang sekali aku menemukan musuh sekuat ini. Aku bisa saja mengalahkannya dengan mudah dalam kontes tarik-menarik ini jika memiliki lebih banyak energi alam. Tapi aku tidak bisa membuyarkan fokusku terhadap kemampuan Myokinesis menjadi pengumpulan energi alam lebih banyak.’
Myokinesis miliknya tentu saja membantunya dalam memberikan kemampuan fisik yang melebihi manusia biasa, tetapi bukan berarti itu merupakan kemampuan absolut. Kemampuan Elena yang satu ini hanya memperkuat otot-ototnya sampai ke batas yang lebih tinggi. Tidak benar-benar membuatnya menjadi manusia dengan kekuatan fisik terkuat di dunia. Dia masih bisa kalah dalam penggunaan kekuatan fisik orang yang melatih fisiknya dalam waktu lama, tetapi ini pun tergantung pada berapa banyak energi alam yang ia miliki.
__ADS_1