
Ringkas cerita dari BAB sebelumnya, Schwartz menuduh Elena berkomplot dengan Black Night Company tapi nyatanya tentu saja Elena tidak melakukannya. Dan sekarang, ketika mereka baru saja berdamai, anggota Black Night Company sebenarnya yang tengah menyamar di Rumah Besar Runaria muncul di hadapan mereka. Ia adalah Draka, kepala pelayan di sana.
Draka melemparkan pet house miliknya ke tengah-tengah ruangan. Kemudian penther miliknya mengeluarkan raungan keras bersamaan dengan menunjukkan tubuhnya yang besar. “Roar!” Penther miliknya memiliki wujud seekor naga. Tubuhnya besar dengan sayap lebar, lehernya memanjang dengan sisik di depan tubuhnya, kulitnya berwarna abu-abu dan matanya merah. Perwujudan tubuhnya yang besar mengkerdilkan penther biasa.
“Mu-Mungkinkah itu… either…. Ini adalah perwujudan dari legenda kuno….” Schwartz terperangah melihat makhluk di depannya.
“Aya! Bersiap!” Elena lalu berteriak pada Schwartz, “Jangan kaget dulu. Itu tidak mungkin either. Aku pernah melihat satu yang asli! Itu pasti bukan either!”
Satu-satunya yang pernah dilihat Elena adalah Kitsuna sebelumnya yang saat ini mengembara bersama Leon. Elena sama sekali belum pernah melihat kekuatan dari either yang asli.
“Kau tau banyak juga, Elena.” Draka tersenyum pada Elena. “Kau benar kali ini, dia bukan either, namun dia juga bukan penther. Draconik milikku adalah modifikasi penther dengan menambahkan gen either ke dalamnya. Dia lebih kuat dari penther biasa, lho~.”
“Peduli syaiton! Aku tidak akan membiarkanmu!” pekik Elena. “Aya, gunakan skill Black Catcher dan Accel!”
“(Memangnya ada yang lain?)”
*Swis!* *Swis!* *Swis!*
Dengan kecepatan tinggi, pasak hitam melesat di udara menuju ke arah naga itu. Kecepatannya berkali-kali lebih cepat di bawah pengaruh buff Accel.
Kemudian tak berhenti sampai di sana, Elena yang juga masih memiliki biff Accel berlari mengikuti pasak hitam. Dia berusaha membawa Aya sedekat mungkin dengan pasak hitam untuk mengaktifkan efek tambahan dari Black Catcher. Namun di bawah kekuatan Draconik, semua serangan itu tidak ada gunanya.
“Groar…!” Draconik si panther naga meraung keras. Bersamaan dengan raungan itu dia meniupkan angin kencang yang mengubah arah laju pasak hitam.
“Uh….” Elena merintih. Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dan berusaha mempertahankan posisinya. Cukup sial baginya karena berada di dalam radius serangan rauman Draconik.
“Bagaimana? Sudah mau menyerah saja? Serangan lemah seperti itu tidak akan bisa melukaikunya, lho~,” cemooh Draka.
“Mimpi!” bentak Elena.
*Cring!*
Mengorbankan sedikit energi alam, Elena berteleportasi di atas tubuh Draconik. Dia mengangkat tangannya dan menancapkan pasak hitam pada kulit abu-abu di punggung naga itu, tapi ….
*Crank!*
__ADS_1
Pasak hitam di tangan Elena malah hancur.
‘Keras…,’ pikir Elena dengan mata menyipit.
*Cetas!* *Dar!*
Draconik memutar tubuhnya dan menampar badan Elena menggunakan ekornya. Satu serangan itu seketika melempar badan Elena ke dinding. Dinding ruangan retak dibuatnya dan tubuh Elena tertutup debu.
“Elena!” Schwartz berteriak. Dia lalu beralih pada Draconik sambil masuk ke posisi tempur. “Jangan harap kau bisa keluar hidup-hidup dari sini!” Schwartz berteriak marah.
*Tep!* *Tep!* *Tep!*
Dia langsung melesat dalam jalur garis lurus ke Draconik sambil menenteng kuat belati di tangan kanannya.
“Percuma saja, kau terlalu lambat,” ucap Draka.
*Ngung…!*
Draconik membuka mulutnya lebar-lebar ke arah Schwartz. Kemudian sinar laser keperakan menerjang.
“Sudah kukatakan, itu percuma saja. Apa menurutmu kekuatan manusia cukup untuk mengalahkan penther?” Draka lagi-lagi mencemooh.
Pantang menyerah, Schwartz berusaha berdiri. Dia menggerakkan tangannya yang terasa berat. Satu serangan yang menerbangkannya membuatnya hampir tak berdaya.
“Percuma saja…. Menyerah saja….”
*Cring!*
Elena tiba-tiba muncul di belakang Draka dengan pasak hitam lain di tangannya. ‘Jika penther-nya tidak bisa dikalahkan, maka kalahkan saja trainer-nya!’
Draka secara sekilas menyadari Elena yang tiba-tiba berada di belakangnya. Matanya membelalak melihat Elena yang entah kapan bergeraknya dan sudah di sana. Ketika pasak hitam akan mengenainya, dia malah menyeringai.
*Trank!*
Sebuah barier transparan memblokir serangan Elena. Draka berhasil selamat.
__ADS_1
“Oh, gadis kecil…. Apa menurutmu aku tidak memiliki tindakan antisipasi jika diserang secara langsung? Sayang sekali kau terlalu naif….”
“Kita lihat siapa yang naif!” Elena terus menekan pasak hitam, lalu ….
*Prank!*
Barier tembus pandang Draka tertembus.
Tapi masih disayangkan karena dia bisa lolos dengan lompat ke udara. Mendarat, dia bertanya, “Hmm… seranganmu kali ini sedikit tidak terduga. Perisai itu seharusnya bisa menahan ledakan bom yang bisa meruntuhkan seluruh mansion. Kekuatan macam apa yang kau gunakan?”
Tentu saja Black Catcher yang memiliki efek penyerapan energi centher. Pertahanan tipe barier yang mengandung centher energy adalah mangsa lunak bagi serangan pasak hitam.
“Aku tidak berkewajiban untuk menjawabmu!” Elena mengambil kuda-kuda bertarung. “Lalu, Anda punya hak untuk diam selama aku membawamu ke pihak berwajib.”
“Katakan itu setelah mengalahkan Draconik.”
*Brak!* *Brak!* *Brak!*
Naga tersebut menerjang ke Elena dengan tubuhnya yang besar. Setiap langkah yang dibuatnya menimbulkan getaran hebat yang mengganggu keseimbangan, namun ini tak ada apa-apanya bagi petarung profesional yang pernah berada di medan lebih mematikan.
Elena melompat ke atas, menghindari serudukan dari Draconik. Tapi naga itu tak menyelesaikan serangannya di sana, di mana dia mengayunkan ekornya. Meski tak melihat Draconik, Elena membaca pikiran penther itu dan dengan cekatan menghindari satu demi satu tebasan ekor yang mengarah padanya. Dia terus berlari ke arah Draka dengan pasak hitam di tangan kanan.
‘Gerakan itu…. Apakah dia masih manusia?’ Draka bertanya dalam pikirannya.
Draconik berhenti ketika Elena membuat jarak darinya. Dia berbalik dan melihat punggung Elena yang masih berlari ke arah Draka. Penther tersebut lalu membuka mulutnya dan menembakkan sinar laser.
‘Sialan…,’ rintih Elena dalam pikirannya.
Dia harus bergerak zig-zag untuk menghindari serangan laser itu. Jalur larinya buyar, dia tak lagi menuju Draka. Setelah berapa lama barulah serangan laser Draconik berhenti, sayangnya Elena juga sudah menjauh dari Draka.
‘Kalau aku langsung menuju Draka, penther itu tidak akan membiarkanku. Tapi mengalahkannya juga sulit.’ Mata Elena mengawasi pada panther naga itu yang sudah berdiri di dekat tuannya. ‘Si Schwartz yang harusnya jadi senpai juga dah tepar. Menggunakan skill ke-3 milik Aya harusnya bisa menyelesaikan dalam 1 serangan, tapi kerusakannya terlalu besar. Energi alamku juga terbatas. Aku tidak bisa menggunakan kemampuan cenayang tingkat atas atau kemampuan sihir. Apa tidak ada yang bisa aku lakukan? Kenapa penulis suka sekali nerf kemampuanku?’
Situasi yang sulit untuk Elena dan Schwartz, tapi tiba-tiba ….
“Draka? Kenapa kau ada di sini? Lalu itu Elena dan Schwartz, kenapa kalian juga ada di sana? Penther apa itu? Aku baru tahu ada ruang bawah tanah.” Nana tiba-tiba ada di sana….
__ADS_1
‘Kenapa kau bisa ada di sini!’ teriak mereka bertiga di dalam benak masing-masing.