Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik
Buang-buang Tenaga


__ADS_3

*Sis!* *Sis!* *Sis!*


Bahkan setelah melompat dan berada di udara memotong beberapa anak panah, selusin anak panah masih melesat mengincarnya.


Serangan bertubi-tubi membentuk rentetan hanya berasal dari satu garis, namun Elena sudah mencoba mencari penembaknya, sayangnya di percobaan sebelumnya dia tidak berhasil menemukannya. Dia juga tidak bisa berusaha mencarinya untuk saat ini karena penther-penther yang ada di sekitarnya memberikan serangan atau mungkin membuat basis kabur.


*Sis!* *Sis!* *Sis!*


Dalam hal ini, kali ini Aya menembakkan puluhan pasak hitam pada mereka semua. Jika hanya menggunakan kemampuan Elena untuk menebas mereka semua …, itu tidak akan cukup untuk memblokir mereka. Tidak peduli seberapa cepat Elena mengayunkan senjatanya, katana miliknya tidak akan berada di 2 tempat sama di waktu bersamaan.


*Syut!* *Syut!* *Syut!*


Pasak hitam Aya menyerap anak panah ketika mereka berdua saling bertabrakan. Memang, lokasi tabrakan antara 2 serangan itu berdekatan dengan lokasi mereka berdua, sehingga ini memicu aktifnya kemampuan tambahan dari skill Aya. Hanya saja ini juga tidak terlalu berguna karena setelah pasak hitam mendapatkan penguatan berkat penyerapan tambahan beberapa energi, pasak hitam tersebut mengarah pada tujuan tidak jelas.


“Nice assist! Aku sendiri tidak akan bisa menebas semua serangan itu.” Elena mengacungkan jempol menggunakan tangan kirinya.


“(Fokus, woy! Fokus!)”


Sedikit berbahaya melakukan adegan seperti yang Elena lakukan, karena itu akan membuka celah konsentrasinya. Sementara itu, mereka berdua berada di tengah medan pertarungan sengit dan dihujani dengan lusinan anak panah. Meski anak panah telah menghilang, tetapi musuh masih bisa melakukan serangan serupa berkali-kali. Keduanya tidak berada di posisi bisa bersantai!

__ADS_1


‘Yah, ada keterbatasan waktu pada kemampuan penyerapan dengan bidang yang diserap. Satu katana ini akan memakan terlalu banyak waktu untuk bisa menyerap satu anak panah. Dengan banyaknya anak panah yang datang ke mari, maka serpihan anak panah mungkin bisa menganiku. Untuk perisai sebelumnya, mungkin perisai itu memiliki ketebalan dan kepadatan lebih dari yang terlihat.’


*Tap!*


Elena bersalto beberapa kali ketika dia berhasil mendarat ke tanah.


‘(Ugh… tidak bisakah dia melakukan gerakan yang lebih halus ketika mendarat? Sangat sulit untuk mempertahankan keseimbanganku di atas kepalanya, ditambah lagi dia melakukan gerakan rumit seperti ini. Rasanya aku ingin muntah, tapi aku tahu aku tidak bisa melakukan itu atau dia akan melakukan sesuatu yang tidak terduga padaku.)’


*Stab!* *Stab!*


Di tanah, Elena langsung memegang gagang katana menggunakan kedua tangannya, mengarahkan ujung lancip katana pada dua sosok berzirah itu. Katana diangkat setinggi pelipisnya di sebelah kanan dengan tubuhnya yang sedikit membungkuk, serta kaki kirinya berada di tempat lebih depan dari kaki kanannya. Tatapan matanya sangat tajam dan berfokus pada targetnya yang berada dalam satu garis lurus pada tempatnya berada saat ini.


*Sis!* Sis!* Sis!*


*Strike!*


Elena memusatkan sebagian energi pada katana menuju kaki kanannya, kemudian dia membuat daya dorongan kuat dari itu, mengabaikan anak panah dan menyambar langsung pada 2 sosok berzirah. Gerakannya dalam satu garis lurus menciptakan hempasan angin di sekelilingnya pada jalurnya, juga membuat anak panah hanya mengincar tempat kosong sebelumnya Elena berada.


*Prank!* *Stab!* *Prank!* *Stab!*

__ADS_1


Serangan dalam satu gerakan lurus Elena langsung menembus tubuh 2 sosok berzirah tersebut. Perisai emas yang melindungi mereka hancur berkeping-keping bagaikan pecahan keramik. Zirah yang dikenakan oleh mereka berdua sama sekali tidak berguna dan langsung hancur dalam satu tarikan garis serangan Elena. Mereka berdua menerima luka terlalu dalam!


*Ngung….*


Tubuh kedua sosok ini memudar menjadi lebih transparan memudar sebelum akhirnya keberadaan mereka benar-benar telah musnah.


Keduanya memang hanya antek-antek salah satu penther yang menjadi musuh Elena, tetapi tetap saja membuat beban bertarung lebih mudah ketika jumlah musuh berkurang. Bukan berarti Elena dan Aya dapat mengambil napas lega berkat ini. Kerana yang mereka kalahkan hanyalah prajurit dari seekor penther, kemungkinan untuk dipanggil lagi sangat besar.


‘Huh! Aku merasa melakukan sesuatu yang sangat sia-sia,’ gerutu Elena dalam benaknya. ‘Aku menggunakan 10% dari cadangan energi yang ada di dalam katana ini dan aku hanya mengalahkan 2 pelayan dari penther ini? Benar-benar sesuatu yang sangat sia-sia. Aku membuang terlalu banyak tenaga untuk lawan yang bisa dipanggil berkali-kali. Tapi dari ini aku bisa mengetahui sesuatu ….’ mata Elena melirik pada penther tipe pendukung itu. ‘Kemampuan mendukungnya terlalu menyeramkan dan menyusahkan. Dia bisa menciptakan perisai tebal yang membuat waktu lama untuk kemampuan penyerapan menyerapnya sepenuhnya. Dia tidak bisa diremehkan.’


Penther pendukung tersebut tetap diam—bergeming—di tempatnya. Dia memiliki tubuh keseluruhan memiliki warna batu kekuningan. Penampilannya juga humanoid dengan memiliki tubuh manusia dengan kepala burung elang. Selain itu, dia juga memiliki sayap yang tumbuh di punggungnya dan membawa sebuah tongkat yang lebih mirip tombak di tangan kanannya. Warna keseluruhannya seperti batu berwarna kekuningan, kecuali ujung tombak keputihan itu.


*Sis!* Sis!* Sis!*


Anak panah kembali menghujani Elena tanpa henti. Tempo dari mereka bahkan beberapa kali lebih cepat dari sebelumnya. Serangan ini tidak pernah berhasil melukai Elena, namun tidak bisa dikatakan tidak berguna. Hujanan anak panah ini berhasil membuat Elena dan Aya terus bergerak untuk menghindari mereka, yang artinya tidak ada istirahat meski hanya sesaat untuk mereka berdua.


“Dia…! Tidak bisakah dia sedikit memberikan waktu untuk aku mengambil napas sesaat?” umpatan Elena.


Gadis ini lari menjauh dari tempatnya. Menangkis mereka berdua tidak terlalu berguna! Jumlah anak panah itu terlalu banyak untuk bisa diatasi hanya dengan sebilah katana! Membutuhkan lebih banyak senjata dan personil jika ingin memotong semua anak panah itu. Mengharapkan Elena yang hanya merupakan satu individu untuk menebas mereka semua sama seperti berharap pada seutas tali ketika akan jatuh ke jurang. Keterbatasan pasti dimiliki oleh tali itu.

__ADS_1


Karena itulah pembaca, jangan selalu menggantungkan harapan pada orang lain. Berusahalah sekuat tenaga untuk dapat mencapai apa yang diinginkan. Jangan hanya berpikir satu pihak ini harus mengatasi masalah yang dimiliki. Katanya gorong-gorong tersumbat karena pemerintah tidak profesional dalam mengatasi masalah ini. Padahal pada kenyataannya, dianya sendiri yang masih buang sampah sembarangan dan itu menyumbat gorong-gorong.


Mau dibuatkan saluran air seluas dan sebanyak apapun untuk mengatasi banjir, kalau sikap sendiri tidak dijaga harapan untuk bebas banjir hanya akan menjadi angin lewat. Jangan menggantungkan harapan pada satu orang! Berusahalah sendiri untuk mencapai apa yang ingin dicapai. Jangan hanya mementingkan kenyamanan diri sendiri!


__ADS_2