Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik
Terus Berlanjut…


__ADS_3

*Wush!*


Hembusan bilah angin yang kencang dan besar dengan warna merah bercampur gelap terjadi ketika Dwa mengayunkan pedang Exe-Caliburn miliknya secara vertikal ke bawah pada Elena.


*Wung!*


Di sisi lain, Elena menciptakan bilah berwarna amber ketika dia mengayunkan pedangnya pada bilah berwarna merah gelap itu.


*Boom!*


Ledakan besar disertai suara gemuruh terjadi ketika kedua serangan itu bertemu satu sama lain, sebelum pada akhirnya lenyap karena memusnahkan satu antara lain.


*Ngung!*


Elena mengalirkan energi biru bercampur amber ke seluruh tubuhnya untuk membuat tubuhnya menjadi lebih kuat dari sebelumnya.


‘Tidak perlu terlalu banyak memakai berbagai keterampilan. Aku memiliki peningkatan energi kinetik dalam jumlah besar dari pedangnya. Aku hanya akan memakai satu keterampilan sauja yaitu Telekinesis dan menggunakan pedang ini sebagai ujung tombak.’


*Zrt!*


Sayap Dwa yang tercipta dari bayangan menghilang, digantikan dengan jubahnya yang berpijar dengan kabut aura berwarna ungu pekat, merah lembayung, hitam. Karena sayapnya telah menghilang, maka dia jatuh dengan keuntungan tambahan adalah peningkatan besar-besaran dalam hal kekuatan mentah.


‘Aku rasa Elena sudah berniat untuk menyerangku dan benar-benar menghabisiku tanpa sisa. Memperhitungkan serangannya yang dapat menjangkau jarak jauh, aku rasa tidak ada gunanya menjaga jarak darinya. Jika masalahnya hanya karena suhu tinggi di sekelilingnya, jubah yang tercipta dari bayangan padat ini seharusnya cukup mampu untuk menahannya!’

__ADS_1


*Sis!* *Ngung!*


Sama seperti di awal-awal pertarungan mereka, keduanya saling melesat ke arash satu sama lain menggunakan senjata masing-masing yang tampak ganas tersebut.


*Bom!* *Wush!*


Ketika keduanya melakukan bentrokan di tengah menggunakan senjata mereka, suara ledakan keras terbentuk disertai hembusan angin kencang yang berasal dari lokasi bertabrakannya senjata mereka berdua.


‘Aku harus cepat! Jumlah energi dari Pedang Energi Thermal ini terbatas dan aku tidak dapat mempertahankan keberadaannya hanya mengandalkan jumlah pengisian cepat energi alamku saat ini, yang juga karena aku lebih banyak fokus mengendalikan energi kinetik di seluruh tubuhku. Jika mereka tidak dikontrol dengan baik, antara mereka yang menghilang atau mereka yang mengamuk dan mencabik-cabik tubuhku.’ Elena menajamkan matanya ketika sangat dekat jaraknya dengan Dwa.


‘Exe-Caliburn merupakan pedang yang memiliki kesadarannya sendiri, tapi aku memaksanya menjadi alatku menggunakan item modifikasi berupa segel khusus berupa berlian di gagangnya. Dengan ini, Exe-Caliburn memakan energi sihir dalam jumlah banyak untuk mempertahankan segelnya. Aku memang mendapatkan kekuatan serangan lebih banyak dari energi alam yang aku korbankan, tapi bukan berarti ini akan baik-baik saja jika aku terus memakai senjata ini.’


*Bom!* *Ssshhh!*


Elena memutar tubuhnya, kemudian membuat bilah amber yang mengarah pada Dwa dalam jarak yang dekat itu.


Dwa melompat menghindari serangan Elena. Serangan tersebut yang terus melaju, menabrak tanah dan mengubahnya menjadi magma dengan kepulan asap putih tipis.


*Trust!* *Tank!*


Elena tidak menghentikan serangannya dan tubuhnya masih terus berputar. Ketika punggung Elena terlihat karena dia memutar tubuhnya, Dwa menusuk Elena menggunakan ujung pedang lancipnya, akan tetapi sebuah barrier energi amber menangkisnya dan membuat serangannya terhenti.


*Slash!* *Sis!* *Bom!*

__ADS_1


Putaran tubuh Elena selesai, kemudian bilah amber melesat dan mengenai perut Dwa. Dia yang menerima bilah amber dari jarak dekat, segera terdorong mundur belasan meter sebelum pada akhirnya dia menabrak tanah dan menciptakan ledakan.


•••••


“Se-Seram…. Aku bisa merasakan suhu panas di sekitar sini, hembusan angin kencang berkali-kali, dan beberapa kali aku juga mendengar suara ledakan. Sebenarnya, manusia macam apa yang melakukan pertarungan sampai seperti ini? Aku sangat yakin, jika ini bukan kekuatan yang seharusnya menjadi milik manusia biasa.” Angelica menggigil gemetaran memikirkan apa yang terjadi di dalam lingkungan akademi.


Theresa, Angelica, dan Glence telah berhasil keluar dari lingkungan akademi dengan selamat setelah mereka bertiga diantarkan oleh Sophia. Saat ini karena tidak ada pekerjaan yang benar-benar perlu mereka selesaikan, ketiganya memperhatikan dari jarak jauh. Pandangan mereka memang terhalang oleh gedung akademi yang terbakar ini, namun ketiganya masih dapat merasakan hawa pertarungan yang sangat menekan dan kuat dari tempat ketiganya.


“Haha, yah, Elena memiliki kekuatan yang cukup besar sampai dia dapat disamakan dengan raja spirit. jadi tidak aneh jika pertarungannya akan menjadi panjang dan berlarut-larut. Sebentar lagi, aku sangat yakin gedung akademi ini akan runtuh sebagai imbas pertarungan Elena melawan musuhnya.” Theresa merasa bingung harus senang atau sedih.


Memiliki teman kuat dan dapat diandalkan seperti Elena memang membuatnya bangga, namun di sisi lain Theresa merasa bahwa jarak kekuatannya dibandingkan Elena berada dalam jarak yang terpaut jauh, sehingga dia merasa minder akan hal ini.


“Jangankan akan menghancurkan gedung akademi. Saat ini saja, dia sudah membakar sebagian besar gedung dan termasuk kita jika saja Sophia tidak membawa kita keluar. Dasar…, apakah aku harus menegurnya karena sudah memberikan perasaan hampir mati pada kita bertiga?” Glence melipat tangannya, namun dia juga membuat senyuman ketika merasa yang dilakukan ini sangat hebat.


*Drap!* *Drap!* *Drap!*


Dari belakang mereka bertiga, mereka mendengarkan suara langkah kaki dari banyak orang. Kemudian, mereka bertiga berbalik ke asal suara tersebut, dan melihat bila ada banyak prajurit yang datang menemui mereka.


Ini tentunya bukan sesuatu yang aneh. Kerajaan pastinya menerima laporan dari pihak terkait atau melihat sendiri pertarungan yang meriah ini jauh di dalam istana kerajaan. Mengetahui ada yang berbahaya di ibu kota, mereka semua pastinya mengerahkan pasukan elite yang mereka miliki untuk menanganinya.


Lalu alasan mengapa mereka baru saja datang, sebab mereka berjalan kaki karena medan pertarungan yang merupakan akademi tidak cocok untuk itu. Sekalipun itu hanya dipakai untuk perjalanan, suasana kota yang sebelumnya ramai menghambat pergerakan mereka untuk sampai lebih cepat ke sini.


“Hou, jadi ini adalah unit elite yang dikatakan sebagai pasukan terkuat di kerajaan, Unit Ksatria Perak. Aku baru pertama kali ini melihat mereka, tapi seragam mereka benar-benar terbuat dari perak seluruhnya dan mereka tampak sangat mencolok dibandingkan dengan lainnya,” komentar Theresa saat memperhatikan mereka.

__ADS_1


Tidak jauh berbeda dengan yang dikatakan Theresa, para ksatria itu memakai perlengkapan yang semuanya terbuat dari perak. Mulai dari helm, zirah, celana, sepatu, dan sebilah pedang yang disarungkan terbuat dari perak dan memiliki warna cemerlang.


‘Sebenarnya, logam perak yang murni atau perak 999 pada dasarnya tidak bisa berkarat. Masalahnya, perak murni terlalu lunak untuk digunakan sebagai perhiasan, sehingga mudah tergores atau berubah bentuk. Aku tidak tahu siapa yang mencetuskan ide ini, tapi siapapun itu pasti merupakan orang yang tidak terbiasa di medan perang, sebab warna mengkilap seperti itu tidak cocok untuk berkamuflase. Mereka lebih seperti peserta pawai dari pada disebut sebagai ksatria,’ tambah Theresa dalam benaknya sambil memiliki senyuman kecut.


__ADS_2