Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik
End Battle


__ADS_3

Sophia berdiri di depan Theresa dan Yovanca. Di kedua sisinya tumbuh sayap darah lebar yang muncul dari punggung. Ia membawa sebilah pedang darah yang dibawa menggunakan kedua tangannya. Ia memegang erat pedang darah tersebut. Selanjutnya ia merenggangkan sayapnya dan melesat cepat langsung ke Cztery. Tentu tak akan semudah itu. Cerebrum langsung maju dan menghadang jalur Sophia.


“Hmph!” Sophia menggunakan pedang darah mencoba memotong kulit emas Cerebrum. Namun tak berhasil. Justru cairan merah darah dari pedang Sophia lah yang terkikis. Sophia secara konstan memperbaiki pedang darah, namun sama sekali tak membuahkan hasil.


Setidaknya Sophia berhasil melewati tubuh besar Cerebrum. Matanya tertuju pada Cztery yang melayang di langit. ‘Apa dia ingin menyerangku?’ pikir pria itu. *Cetas!* Belum juga sampai, Cerebrum mengayunkan ekor besarnya dan menghancurkan tubuh Sophia menjadi kabut darah. ‘Tidak akan semudah itu. Cerebrum bisa bergerak cepat.’


Selanjutnya Cerebrum berlari menggunakan keempat kakinya menuju Theresa dan Yovanca. Setiap langkahnya membuat getaran di atas tanah.


“Percuma saja menyerangnya. Menghindar!” teriak Yovanca.


Mereka berdua melompat dari jalur Cerebrum. Keduanya berada di sisi yang berlawanan sedang di tengah-tengah mereka adalah parit yang tergali karena tubuh kadal emas raksasa.


‘Yang di sana juga tidak memiliki harapan untuk mengalahkannya. Aku hanya harus menyerang dengan cepat sebelum Spirit King of Darkness itu datang kemari.’ Cztery memandang Yovanca dan Theresa. “Yah, pokoknya aku akan menyerang lebih kuat.” Ia mengangkat tangannya ke langit. “Meski begitu mereka memiliki nyawa yang tebal. Tidak akan ada selesainya kecuali aku mengubah mereka menjadi emas.”


Debu emas bermunculan dari udara tipis. Mereka berkumpul mengelilingi tubuh Cztery sebelum akhirnya berubah menjadi tongkat emas. *Swis!*, *Swis!*, *Swis!*, mereka melesat di udara, mengarah langsung pada Yovanca dan Theresa, Cerebrum juga terkena tongkat emas, namun sama sekali tak berpengaruh.


Tongkat emas yang diciptakan Cztery mengubah apapun yang disentuhnya menjadi emas selain menciptakan ledakan ketika mencapai tanah. Yovanca berhasil menghindar sambil menebas beberapa menggunakan belatinya. Dia menyelimuti belati menggunakan elemen angin. Yang menjadi masalah adalah Theresa. Dia tidak bisa menghindar sepenuhnya.


Bila serangan normal, seperti tebasan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dia bisa mengubah dan mengembalikan dirinya menjadi menjadi dan dari darah. Namun serangan kali ini mengubah yang disentuhnya menjadi emas. Setiap kali dia melakukan kontak dengan tombak emas tubuhnya yang menjadi emas tidak bisa berubah menjadi darah.


“Sangat merepotkan!” bentak Theresa. Sebagian tubuhnya telah menjadi emas. Tak ada tempat sembunyi dan sulit hingga nyaris tak bisa menghindar dari gempuran tombak emas. Alih-alih menghindar, Theresa mengangkat busurnya dan membidik ke Cztery. Satu matanya terpejam dengan satunya menarget.


“Itu gerakan bunuh diri!” Cztery menciptakan satu tongkat emas dengan difokuskan ke Theresa. Dia akan menembakkannya! Namun sebelum itu ….

__ADS_1


*Slash!*


Sophia tiba-tiba muncul di belakang Cztery dan menebas punggungnya. Jubahnya robek dan memperlihatkan lapisan emas sebagai armor.


“Seperti itu akan mempengaruhiku saja.” Cztery melirik ke belakang menggunakan sudut matanya. “Kau juga tidak bisa mengontrol darahku karena level kontrolku yang lebih tinggi.”


*Swiss!*


Hanya sepersekian detik perhatiannya teralih. Ketika dia kembali ke Theresa anak panah emas sudah berada di depan wajahnya.


“Wait!” Cztery memiringkan kepalanya.


Namun anak panah tersebut berubah menjadi cairan darah. Sophia mengendalikannya. Posisinya saat ini sedang tertahan dari ayunan pedangnya sebelumnya, tapi dia menggunakan darah Theresa sebagai senjata. Darah berputar di sekitar leher Cztery dan semakin menciut.


Debu emas kembali tercipta. Kali ini mengelilinginya dan membentuk bola emas. Sophia juga berada di dalamnya. Kemudian ledakan emas terjadi pada bola itu.


Theresa melihat itu dengan seksama. Mengetahui semua yang tersentuh akan menjadi emas matanya langsung tertahan. Dia tahu Sophia berada di sana dan tepat di dalam area ledakan.


Debu emas dari ledakan menghilang. Di balik kabut emas terlihat sayap yang berubah keemasan. Itu hanya di lapisan luarnya sedang lapisan dalam masih baik-baik saja. Sophia membuat sayapnya berbentuk bola menjadi perisai dari ledakan emas. Di dalam bola darah ia kini mengarahkan pedang merahnya pada leher Cztery.


“Apa kau berpikir bisa menang melawan kami?”


“Jika itu hanya kalian, aku yakin 100% pasti menang entah berapa lama waktu yang diperlukan.”

__ADS_1


“Sayang sekali lawanmu bukan hanya mereka, benar?” suara Noctis terdengar. Kemudian kabut hitam berkumpul dan membentuk sosok Noctis. “Kerja bagus, kalian bertiga. Kalian berhasil mengulur waktu. Sisanya serahkan pada Noctis-sensei ini.” Senyuman Noctis memperlihatkan gigi putihnya.


“Kau adalah satu-satunya eksistensi curang dalam novel ini. Jika bukan karena kau, kami pasti sudah mencapai tingkat yang baru.” Tubuh Cztery perlahan-lahan berubah menjadi emas. Serpihan emas-emas kecil yang sangat lembut hingga sulit dilihat menggunakan mata telanjang. “Tapi ingat saja, kontraktormu akan selalu menjadi target kami.”


“Coba saja bila kau bisa,” ucap Noctis pada tubuh Cztery yang telah menghilang.


“Graa!!!” Cerebrum meraung kembali. Tanpa keberadaan tuannya sekarang dia menjadi monster liar. Ia bergerak membabi-buta dan menghancurkan semua di sekitarnya.


Yovanca akan pergi, namun sayang tubuh Theresa yang telah berubah menjadi emas ada di dekat sana. “A-Anu, Bi-Bibi Yovanca, kamu bisa meninggalkanku. Kalau tubuhku remuk aku bisa mengembalikannya nanti.” Sudah tinggal kepala Theresa saja yang masih belum menjadi emas. Di tengah perutnya terdapat satu tombak emas yang menembus tubuhnya.


“Katakan itu setelah seluruh tubuhmu menjadi emas,” timpal Yovanca.


“Katakan itu kalau ini acara drama.” Noctis menjentikan jarinya. “Apakah menurutmu dia adalah musuh yang sepadan denganku?”


Bersamaan dengan jentikan Noctis, bayangan di bawah tubuh Cerebrum naik membentuk tangan bayangan. Setiap tangan bayangan yang terbentuk melingkar pada tubuh Cerebrum dan berusaha menariknya ke dalam bayangan. Tubuh kadal itu juga perlahan masuk ke dalam bayangan. Dia meronta dan berteriak, tetapi apa daya ketika sudah tidak bisa memberikan perlawanan lagi.


“Tak peduli seperti apa musuhku, mereka akan mati di dalam dimensi bayangan milikku. Entah karena kehabisan energi atau makanan, mayat mereka tidak akan tersisa dalam dunia ini.” Dia mendarat di dekat Yovanca dan Theresa dengan Sophia di belakangnya. “Lalu, kalian berdua sangat menyedihkan, Sophia, Theresa. Hanya lawan seperti itu saja kalian tidak bisa mengalahkannya.”


“Hehe, maaf.” Theresa tertawa kering. “Aku ini sebenarnya pedagang. Mana bisa aku kalau bertarung?”


“Apa kau juga ingin mengarang alasan?” Noctis menatap tajam Sophia.


“Em….” Sophia menggelengkan kepalanya. “Aku juga merasa masih lemah. Seharusnya aku bisa mengompres senjata darah menjadi lebih padat dan kuat.”

__ADS_1


“Bagus jika kau tahu kelemahanmu.” Noctis memandang ke lahan kosong yang hancur. “Yah, seharusnya mereka tidak akan menuntut kompensasi. Semua emas ini seharusnya cukup jika mereka menginginkannya.”


__ADS_2