
Serangan dalam pertarungan Sześć membuat musuhnya menampakkan wujud aslinya. Tubuh dari makhluk tersebut terbuat dari kayu-kayu yang keras. Seluruhnya berwarna hijau seperti daun. Keseluruhan bentuk dari penther itu mirip Liopleurodon. Bedanya, lehernya lebih panjang sehingga bisa diangkat. Matanya merah bagaikan batu delima, di atasnya rangkaian akar lebih kecil mirip mahkota.
Sześć melayang di udara. Dia memperhatikan tubuh kolosal dari musuh di depannya. “Shoggoth, apa kau bisa melahap makhluk itu?”
“Dia terlalu besar. Aku perlu waktu untuk menyelimuti seluruh tubuhnya. Tapi ada cara lain untuk mempercepatnya.”
“Apa itu?”
*Sret!* *Sret!* *Sret!*
Untaian dari akar yang saling mengikat berayun layaknya cambuk, Benda itu mengarah langsung pada Sześć yang berhasil dihindari dengan bermanuver.
“Kau paham? Kalau begitu berhati-hatilah….” Shoggoth memperingati.
“Um.”
Makhluk kolosal itu menghirup angin. Semua udara tersedot ke mulutnya. Sześć sendiri juga terpengaruh. Dia mendorong angin pada arah berlawanan untuk mempertahankan posisinya. Namun masalah tak selesai sampai di sana. Ledakan bom angin ditembakkan dari mulut makhluk itu layaknya bola meriam.
Sześć bermanuver secepat mungkin untuk menghindari meriam angin itu. Tapi seakan tidak memberikan kesempatan, satu demi satu meriam angin terus ditembakkan. Hampir tak ada waktu bagi Sześć untuk berhenti. Tetapi hal itu juga tak berlangsung selamanya. Setelah kehabisan udara di dalam tubuhnya, makhluk itu kembali menghirup udara.
Kali ini Sześć justru memanfaatkan tarikan angin untuk mendekat pada makhluk itu. Hampir saja ia termakan, namun sebelum itu ia membuat daya dorongan angin yang membuatnya bermanuver ke atas. selanjutnya ia jatuh. Bukan sembarangan, dia menarget ke kepala makhluk itu.
‘Tubuh besarnya akan membuatnya sulit menyerang jika aku berhasil mendarat di sana.’
Hampir saja dia sampai, makhluk itu membuka lebar-lebar mulutnya. Hembusan angin terkumpul di sana dan akan ditembakkan, namun Sześć lebih cepat. Dia mengumpulkan bola api raksasa dan menembakkannya ke dalam mulut makhluk itu. Ini tidak sepenuhnya berhasil. Memang hempasan angin tidak terlalu kuat, namun itu malah bercampur hawa panas.
__ADS_1
Sześć cepat-cepat menciptakan bola air yang menyelimuti dirinya. Angin panas itu membuat air menjadi hangat.
‘Aku hampir bunuh diri, Njir!’
Akhirnya Sześć berhasil mendarat di atas tubuh makhluk itu. Dia menciptakan pedang dari tanah kemudian pedang tersebut diselimuti tubuh Shoggoth yang membuatnya berwarna hitam. Ia mengangkat tinggi-tinggi pedang tersebut dengan ujung lancip mengarah ke bawah. Belum juga dia menusukkan pedang itu, sulur-sulur bergerak mengikatnya. Ini membuat perhatian Sześć buyar dan mengutamakan untuk memotong sulur itu.
Makhluk kolosal dapat merasakan Sześć berada di atas tubuhnya. Dia memejamkan matanya dan berfokus. Toh juga dia tidak bisa melihat sosok Sześć. Dia lalu mengendalikan semua tumbuhan di atas tubuhnya untuk menyerang Sześć. Ini sama seperti ketika dia belum menampakkan dirinya. Sześć lupa bila lawannya bisa melakukan itu.
Shoggoth adalah predator elastis, atau kurang lebih seperti itulah mudahnya. Tubuh aslinya berwujud cairan hitam yang dapat direnggangkan seperti karet. Ketika dia ingin makan, maka dia akan menyelimuti mangsanya dengan tubuh hitamnya. Normalnya mangsanya akan termakan dengan mudah tetapi ada beberapa kondisi yang menyulitkannya, yaitu ketika ukuran mangsanya sangat besar. Dia perlu menyelimuti tubuh mangsanya atau sebagian besar dari tubuh mangsanya, atau jika tidak waktu pencernaan akan lama. Pelelehan hanya terjadi pada bagian yang ada tubuh Sześć di sana.
Maka dari itu Shoggoth memberikan fragmen dirinya pada senjata Sześć, kemudian ditusukkan pada tubuh musuh besar itu. Ini adalah cara tercepat yang bisa mereka lakukan untuk memangsa makhluk besar ini. Tapi Sześć tak menyangka bila musuhnya tetap memiliki langkah defensive meski ia sudah naik di atasnya.
*Srut!* *Srut!* *Srut!*
"Itu sudah cukup. Pergilah ke tempat selanjutnya," ucap Shoggoth.
Fragmen tubuh Shoggoth menggeliat dari pedang tanah Sześć ke sulur-sulur dan menyelimutinya.
"Baiklah, aku paham." Sześć langsung melepaskan pedangnya. Ia melesat ke langit sekali lagi dan memperhatikan tubuh besar penther di bawahnya. Ia lalu turun yang di sana dia langsung disambut dengan sulur-sulur dan akar keras. Semakin dekat, Sześć menciptakan dua bilah angin. Kedua bilah angin itu saling bersilangan dan memotong apapun yang ada di jalurnya. Dalam sekejap, sulur-sulur dan akan keras terpotong.
Langsung saja, Sześć menciptakan pedang tanah yang mengandung fragmen tubuh Shoggoth. Iya lalu mendarat dan menancapkan pedang hitam tersebut. Tak berhenti sampai di sana, dia segera bergerak dan melakukan pola serangan yang sama. Serangan ini memang monoton, tapi seharusnya menjadi serangan paling efektif untuk mengalahkan musuh. Hanya saja semakin banyak serangan didaratkan olehnya, maka kesulitan semakin meningkat.
Sulur-sulur yang sebelumnya lembut berubah berduri bak tangkai mawar, akar keras berubah menjadi semakin lancip ujungnya, dan ada bunga dengan serbuk semerbak yang mampu membuat pusing ketika menghirupnya. Di sisi lain, Sześć semakin kelelahan. Dia mendapatkan energi dari Shoggoth yang rasa-rasanya hampir tak terbatas karena output jauh lebih kecil daripada input Shoggoth. Namun ia kelelahan secara mental dan fisik. Bilah angin yang dibuatnya menjadi semakin kecil dan semakin tumpul.
"Hah… hah… hah… hah…." Sześć bernapas berat. Dia baru saja selesai menancapkan satu gudang lagi.
__ADS_1
"Apa kau perlu istirahat? Kita bisa kembali besok. Bagian tubuhku yang tertanam padanya tidak akan hilang."
"Tidak akan…. Dia… pasti akan aku kalahkan hari ini…!" kata Sześć yang sudah kelelahan.
"Terserah kau saja. Bahkan jika kau mati, aku sudah mendapatkan keuntungan dari memangsa mangsa besar ini suatu hari nanti."
Sulur dan akar tumbuh dengan cepat. Mereka mengepung Sześć. "Huff…." Sześć menghirup napas panjang kemudian melanjutkan pertarungan.
Hari berubah menjadi sore. Belasan, puluhan, ratusan…. Ada banyak pedang yang telah ditancapkan oleh Sześć. Sekarang tubuh Shoggoth telah menyelimuti sebagian besar dari tubuh makhluk itu. Noda hitam ada di mana-mana. Mereka mulai mengkonsumsi penther raksasa seukuran hutan.
"Kau benar-benar mengejutkanku. Tak kusangka kau bisa melakukannya sebelum matahari terbenam." Shoggoth memuji.
"Kau pikir… kau bicara dengan siapa…." Sześć menjawab dengan suara berat.
Makhluk besar itu merang beberapa kali. Ia dapat merasakan tubuhnya semakin berkurang bersamaan dengan bagian hitam yang melebar. Alhasil, setelah raungan tak berdaya darinya, akhirnya makhluk itu tumbang. Sześć dan Shoggoth memenangkan pertarungan.
"Hehehe… aku bisa merasakan jika kekuatan baru masuk ke dalam tubuhku. Aku menjadi lebih bertenaga!" Shoggoth kegirangan.
"Dan aku bisa merasakan tubuhku kelelahan. Ini akan meninggalkan rasa sakit untuk beberapa hari ke depan," timpal Sześć.
"Ayolah… jangan begitu. daripada itu, aku menemukan sebuah struktur yang rasanya seperti bangunan di bawah tanah. Mungkin kau bisa menemukan sesuatu di sana."
"Antar aku!"
Mengikuti arahan dari Shoggoth, Sześć pergi menuju ke bangunan bawah tanah. Bagian dalamnya lebih mirip laboratorium. Di sana sudah acak-acakan yang menandakan jika tempat itu telah ditinggalkan. Namun meski begitu, masih ada beberapa catatan di atas meja. Sześć langsung berubah ekspresinya ketika membaca catatan tertinggal itu. Dia menjadi marah!
__ADS_1