Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik
Kita Tetaplah Teman


__ADS_3

“Itu sama sekali tidak benar, kok~!”


Sophia berdiri dan menengok ke segala sisi.


Tidak bisa dikatakan berdiri juga, sih. Tempatnya saat ini dipenuhi kegelapan. Tak terlihat dasar maupun langit. Hanya ada warna gelap di semua tempat. Sophia hanya mengambil posisi seakan-akan dirinya berdiri.


‘Suara ini…. Sepertinya aku pernah mendengarnya di suatu tempat….’ Wajahnya keheranan. Dia mulai mendapati emosi bingung menggantikan kekosongan.


“Yuhi~! Lama tidak berjumpa, ya, Sophia!”


Sophia menengok ke belakang. Dia akhirnya menemukan siapa asal suara. Gadis yang terasa tak asing. Dia adalah teman lamanya. “Kau itu… Karina?” Sophia membuka pupil matanya lebar-lebar. Dia masih tak percaya dengan yang dilihatnya.


Semua tempat ini berwarna hitam. Anehnya sosok Karina bisa terlihat jelas oleh Sophia.


“Lebih tepatnya adalah gambaran Karina yang tersisa dalam dirimu. Bagaimanapun aku sudah mati.” Karina berjalan mendekat. Wajahnya tersenyum, tetapi ekspresi alisnya menunjukkan bahwa ia sedih. “Jadi bagaimana? Apa kau senang dengan teman barumu?”


“Entahlah, aku tidak tahu.” Sophia tertunduk. Dia memperhatikan kedua tangannya berlatarkan kegelapan. “Mereka semua sangat baik, aku bermain dengan mereka. Theresa mengajariku banyak hal dan Elena selalu membuat petualangan baru. Aku tidak tahu apakah itu yang disebut menyenangkan.”


“Apakah kamu masih memikirkan saat-saat kita bersama?”


Sophia mengangkat wajahnya pada gadis itu. “Ya, mungkin begitu. Saat itu juga menyenangkan. Kau adalah orang pertama yang menjagaku meski tahu itu akan membahayakan keluargamu. Yah, aku tidak akan bilang tidak ada orang lain seperti itu, tapi ….”


“Kamu jadi banyak bicara, ya, Sophia.” Karina menatap datar padanya. “Padahal dulu kamu selalu ‘fumu’, mengangguk atau, ‘um, baiklah. Dulu kamu selalu datar, lho~!”


“Aku masih sama! Hanya saja….” Sophia melirihkan suaranya. “Hanya saja aku lebih pintar.”


“Benarkah? Menurutku kamu lebih bodoh.”


“Apa maksudmu!” teriak Sophia. Dia tidak terima. “Aku ini ranking 10 besar di kelas!”


“Di dalam kelas yang isinya tidak sampai 10 orang?” timpal Karina.


Sophia terdiam. “Baik, silahkan lanjutkan.”


“Hah… kamu ini masih tidak banyak berubah, ya. Masih sulit berkomunikasi denganmu.” Karina menggaruk kepalanya yang sama sekali tak gatal. “Jangan bandingkan dirimu yang dulu dan sekarang. Kamu hanya perlu melakukan apa yang kamu sukai dan meninggalkan kami. Eraku sudah berakhir sejak lama.”


“Karina….”

__ADS_1


Karina menggenggam tangan Sophia. “Kamu tidak usah banyak berpikir. Tinggal maju dan hajar! Oke?”


“Fumu.” Sophia mengangguk.


“Asal jangan melakukan hal tak beradab. Nanti aku bilang begitu, kamu malah ‘ngelakuin genosida,” tambah Karina.


“Heh….” Sophia tersenyum kaku. Kedua matanya menatap Karina seakan berkata, “Jadi tadi masih kurang lengkap, toh.”


“Oke, sekarang ‘met tinggal, ya~! Aku ini sebenarnya cuma bayanganmu atas diriku. Bukan aku yang asli.” Karina berbalik dan berjalan menjauh. “Makanya aku gak akan mirip sama yang dulu. Cuma mirip yang kamu bayangkan.” Dia tertelan dalam kegelapan sebelum menghilang.


“Tunggu, Karina!” Sophia mengulurkan tangannya seakan dia ingin meraih temannya. Namun tak ada yang terjadi. “Kalau kamu cuma bayanganku, apakah itu berarti aku gila!”


Sayang sekali tidak ada jawaban. Hanya kesunyian di dalam ruang gelap.


‘Oh, iya. Kalau dipikir lagi dia lebih mirip Elena. Tunggu, Elena kan juga tidak seperti itu? Apa ini karena aku kebanyakan baca manga milik Noctis-sensei?’ Sophia mulai meragukan dirinya.


“Sudahlah! Sekarang aku perlu keluar dari tempat ini!”


Sophia mendongak ke atas. Di sana hanya ada kegelapan tak berujung. Di dalam kegelapan itu, di tengah-tengah pupil mata Sophia memancarkan sedikit cahaya. “Let’s rock!”


*Blup!* *Blup!*


*Syut!* *Syut!*


Kedua sayap direntangkan lebar-lebar. Kemudian Sophia menembakkan bulu-bulu darah dari sayapnya. Bulu-bulu terbang di dalam ruang gelap dan menghilang ketika jauh. Meski begitu Sophia terus menembak ke semua sisi.


‘Aku mulai menyadarinya. Tempat ini semacam ruang virtual, ruangan yang terpisah dari batas asli dunia. Jika begitu, seharusnya tempat ini memiliki sebuah inti yang jika dihancurkan ruang ini akan runtuh. Kalau benar, aku hanya harus menyerang sampai menemukan inti dari ruang ini!’


—30 menit kemudian—


Sophia berlutut di kegelapan. Kedua sayapnya layu dan tubuhnya berkeringat. “Tidak berhasil…. Bagaimana bisa tidak berhasil….” Kekecewaan ketika dia gagal.


‘Aku sudah menyerang semua tempat dan pergi ke sana-kemari. Tapi kenapa tidak berhasil? Jangan bilang ini akan menjadi ‘ini adalah mimpi’ dan ‘tolong cubit aku’!’


Sophia mengangkat tangannya. Dia mencubit pipinya sendiri, kemudian “Aw!”


*Rumble!* *Rumble!*

__ADS_1


Ruang gelap mulai bergetar. Warna yang hanya diisi kegelapan mulai membentuk retakan merah cerah.


‘Ah, sekarang aku ingat. Elena juga pernah menjelaskan tentang ruang mental. Untuk keluar perlu tindakan seperti menyakiti diri sendiri secara ‘nyata’ atau menonaktifkan aliran energi alam dalam tubuh untuk waktu singkat.’


\=\=\=


Di dunia luar Theresa dalam kondisi terpojok melawan Sophia. Sebagian besar perutnya hancur memperlihatkan usus yang terurai, dadanya tertusuk tongkat emas, dan separuh kepalanya berlubang. Dia membidik menggunakan satu matanya yang tersisa sambil terus menghindari hujan tongkat emas yang meledakkan tempat mendarat.


*Sut!*


Dia menerbangkan anak panah darah pada Sophia. Sayang Sophia mengayunkan salah satu sayapnya untuk menangkis. Kemudian dia dengan cepat menutup jarak dan mengayunkan pedangnya ke leher Theresa.


Theresa memejamkan matanya. ‘Kalau aku kepenggal, aku tidak akan punya cukup waktu menghindari tongkat emas.’


Namun yang tidak dipikirkan Theresa, dia akhirnya mendengar suara bisikan Sophia. “Yuhi~! Apa kamu merindukanku?"


"Eh? Sophia!" Theresa membelalakkan matanya karena senang. "Apa kamu sudah sadar?"


*Krek!* *Drak!*


Kalung Perbudakan Mod Version di leher Sophia retak dan hancur. Sophia merenggangkan sayapnya menjadi perisai yang melindungi dirinya dan Theresa dari hujan tongkat emas.


*Bom!* *Bom!* *Bom!*


Ledakan demi ledakan terjadi terus-menerus di dalam radius hujan tongkat emas. Bersamaan ketika bertahan, Sophia menembakkan bulu-bulu darah ke arah Cztery. Suara bulu darah terendam dan wujudnya tak nampak di dalam kabut.


"Hmm…?" Cztery menembakkan satu tongkat emas pada bulir darah yang mengarah padanya. Satu serangan menembus beberapa serangan Sophia dan menjadikannya kabut darah. Dia menghentikan serangan dan menatap ke bawah pada 2 gadis yang menjadi musuhnya. "Wah, wah, tak kusangka kau bisa bebas dari pengaruh Kalung Perbudakan Mod Version. Tapi apa kendali darahmu bisa mengalahkanku?"


Theresa telah mengembalikan bentuk tubuhnya. Dia memegang busur dan anak panah darah. Di depannya, Sophia berdiri tegap dengan kedua sayap darah merenggang lebar.


"Mari kita cari tahu." Sophia mengangkat pedang darah ke arah Cztery. "Antara serangan kuatmu yang menghancurkan segalanya, atau elemen darahku yang menyembuhkan, mana yang lebih cepat!"


"Bwahahahaha… kenapa aku harus melakukannya? Aku masih memiliki bawahan yang bisa kugunakan!"


"Wraaa…!!!" Cerebrum berteriak.


Yovanca melompat beberapa kali hingga berada di dekat Theresa dan Sophia. Dia menjauh dari Cerebrum. Jujur, itu mengganggunya dan memberikan sedikit kerusakan. "Oke, anak-anak, aku akan membantu kalian. Kita langsung serang orang itu!" Dia tersenyum sambil menyiapkan kedua belatinya.

__ADS_1


"Oke/Yeah!"


__ADS_2