
“Gmn? Di mana ini?” Elena perlahan membuka matanya.
Langit-langit kayu menjadi pemandangan yang menyambutnya dan terpampang jelas di depan wajahnya. Namun tidak lama kemudian, Aya mendekat dan memenuhi pandangan Elena dengan wajahnya yang menatap heran pada Elena.
“(Akhirnya kamu siuman juga, ya,)” ucapan datar Aya. “(Kamu tiba-tiba saja pingsan setelah pertarungan, lho, tadi.)”
“Fumu, jadi seperti itu yang terjadi, ya.” Elena mengambil posisi duduk, menyebabkan Aya menyingkir dari depan muka Elena. “Ingatanku masih jelas dan aku masih ingat kapan dan bagaimana aku ambruk. Sebelumnya, aku pingsan karena memaksakan diri dalam menggunakan kemampuan fisikku yang lemah dan rapuh ini. Yah, meski pada dasarnya tubuh fisikku lebih kuat dari pada manusia biasa, tapi tetap saja itu masih aku anggap sebagai lemah.”
“(Sudahlah….)” Aya memalingkan pandanganya dari Elena. “(Kalau kamu sudah sehat, bisakah kamu melakukan kegiatan yang sudah biasa kamu lakukan? Ini menjadi sedikit sulit saat kami melakukan perjalanan tanpamu yang merupakan pembimbing atau petunjuk arah. Yah, meski kamu masih berhasil sampai ke kota terdekat setelah beberapa jam, tapi tetap saja itu menjadi perjalanan yang merepotkan karena sambil membawa tubuhmu yang pingsan.)”
“Kucing ini bisa saja…,” komentar Elena.
Pandangan Elena mengembara ke seluruh ruangan. Setidaknya, dia bisa tahu kalau lokasinya saat ini berada jauh dari tempat reruntuhan dia pingsan sebelumnya. Selain itu, tidak banyak hal-hal istimewa, hanya ada Leon dan Leo yang tertidur pada sebuah kursi di hadapan ranjang Elena. Juga, pedang perak sebelumnya–Rapier–tergeletak di dekat Elena, menyandat pada salah satu didi ranjang.
‘Mereka berdua kelihatan sangat kelelahan dalam perjalanan pertama ini. Apa ini akan baik-baik saja aku melakukan perjalan bersama mereka berdua yang memiliki tubuh dan mental lemah seperti ini? Ini hanya akan menghambat perjalananku jika mengajak mereka berdua yang merupakan beban. Apa akan menjadi lebih mudah jika aku meninggalkan mereka berdua di kota ini, lalu melanjutkan perjalanan seorang diri?’
__ADS_1
“(Jangan berpikir yang aneh-aneh, lho.)” Aya menatap tajam Elena. “(Meski aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan, tapi dari tatapan matamu aku dapat menebak jika kamu sedang memikirkan sesuatu yang buruk pada mereka berdua. Sebaiknya kamu tidak memikirkan sesuatu yang buruk tentang mereka. Mereka sudah menolongmu selama pingsan sebelumnya.)”
“Tidak, kok.” Elena mengganti arah yang dipandangnya, dan mengubah topik pembicaraan. “Ngomong-ngomong, apa hanya dengan kalian berdua saja yang melakukan perjalan kalian bisa berhasil sampai ke kota ini? Aku sedikit ragu kalian bisa menemukan jalan keluar dari labirin seorang diri dan lolos dari para burung bangkai itu.”
Selain Elena, Leo juga pingsan setelah terkena tendangan Fedora. Hanya tersisa Aya dan Leon dalam rombongan itu, yang mana Elena cukup meragukan kemampuan mereka berdua dalam melakukan perjalanan di hutan yang berbahaya dan tidak jelas itu.
“(Tidak juga, sih. Sebenarnya, ada seseorang (?) yang membantu kami dalam perjalanan ini,)” jelas Aya. “(Dia sangat baik meski tidak terlalu paham tentang dunia ini. Jujur saja, sangat merepotkan karena dia banyak tanya, tapi dia tetap merupakan individu yang baik.)”
Aya memiliki ekspresi yang tidak terlalu yakin ketika dia memberikan penjelasan ini, seperti ada sesuatu dari tata bahasa atau kosakata yang kurang tepat. Ini membuat Elena bertanya, “Entah kenapa aku merasa jika kamu merasa kurang yakin dengan pemilihan kata-kata dalam memberikan penjelasan. Maksudmu, apakah dia itu merupakan orang atau bukan, sih?”
Saat dialog Aya, dia menggunakan kata “orang” untuk menggambarkan sesuatu yang membantu mereka, namun dia menggunakan kata “individu” di kalimat terakhirnya. Ini membuat Elena mempertanyakan, apakah yang membantu ini adalah orang atau bukan.
“(Em… yah… pokoknya seperti itu lah pokok isi informasiku….)” Aya melirik ke arah lain dengan gugup.
“Boleh aku baca pikiranmu? Ini akan menjadi lebih mudah karena langsung tahu apa yang kamu lihat waktu itu.” Dalam benaknya, Elena berpikir, ‘Telepatiku tidak bisa digunakan untuk hewan karena beberapa alasan. Tapi untuk penther dunia ini, seharusnya memiliki beberapa perbedaan gelombang pikiran dari hewan biasa yang aku temui di dunia spirit.’
__ADS_1
Elena tidak terlalu suka memakai Telepati untuk membaca pikiran orang-orang yang dekat dengannya. Dia beranggapan bahwa melakukan ini merupakan tindakan yang tidak sopan dan pikiran masing-masing orang merupakan privasi yang memerlukan izin dari individu itu. Namun, lain halnya jika yang dibaca pikirannya adalah orang yang tidak memiliki hubungan dekat dengannya.
Musuh misalnya. Dia perlu melakukan ini untuk mengetahui apakah yang dikatakan musuh-musuhnya merupakan kejujuran atau kebohongan, selain itu Elena juga dapat mengetahui langkah selanjutnya yang sedang dipikirkan musuh. Kemampuan Telepati ini merupakan salah satu kemampuan yang praktis dan kuat sebenarnya, tergantung pada bagaimana cara penerapannya.
*Brak!*
“Selamat malam, Semuanya! Aku sudah kembali, lho!” Masih belum Elena menerapkan Telepati pada Aya, seseorang masuk ke dalam kamar bersamaan nada bicara keras dan riangnya ini. “Eh? Kamu sudah terbangun, ya? Aku tidak menyangka sekarang mereka berdua menjadi orang yang tertidur.”
“Kamu… siapa?” tanya Elena.
Dia memandang dengan seksama wanita yang ada di hadapannya ini. Wanita ini memiliki rambut dan warna mata yang berwarna merah. Untuk kulitnya, ini berwarna kuning langsat yang tidak terlalu terang, membuat dirinya benar-benar tampak hidup. Sebagai tambahan, dia memiliki telinga dan enam ekor rubah yang memiliki warna sama dengan warna matanya.
Pakaiannya berupa Kimono berwarna merah marun dengan pola api di lengan dan ujung bawahnya dengan warna kuning keemasan. Obi miliknya berwarna jingga yang lebih cerah dari kimononya, membuat bagian ini terlihat lebih cerah dari pada kimono yang dikenakannya. Jika diberikan penilaian subjektif, dia merupakan salah satu wanita yang cukup cantik dengan penampilan sekitar 23 tahun.
“Ini pasti pertama kalinya kita bercakap-cakap, ‘kan?” Dia tersenyum pada Elena sebelum melanjutkan, “Perkenalkan, namaku Ritsune kitsuna! Aku datang ke sini untuk berlibur dan jalan-jalan, untuk mendapatkan pengalaman dan tontonan yang menarik di planet ini.”
__ADS_1
“Hmm….” Elena diam sebentar sebelum mengatakan, “Aku tebak, kamu ini merupakan either yang baru saja tiba ke dunia ini melalui … “portal” yang ada di reruntuhan, ‘kan? Aku berterima kasih sudah merawatku selama ini.”
‘Salah satu fungsi dari pola geometri yang ada di sana adalah sebagai formula sihir ruang-waktu–atau sebagai portal–. Sayangnya, ini sudah diatur akan menuju ke suatu tempat, dan aku sendiri tidak tahu struktur mana yang perlu diubah untuk bisa membuat ini terhubung ke dunia spirit. Aku mendapatkan informasi ini dari panduan yang menjadi relief di tempat itu..’