
“Baiklah, aku merasa sangat muak dengan kalian yang menyerang di saat jam istirahat. Maksudku, tidak bisakah kalian melakukan ini lebih awal atau melakukannya ketika jam istirahat telah berakhir? Aku juga berterima kasih karena kalian membuat sekolah ini libur beberapa hari ke depan, tapi tetap saja aku tidak suka dengan waktu penyerangan kalian.” Sophia menatap tajam Szsc dengan beberapa aura menekan di sekitarnya.
“Jangan salahkan aku, salahkan saja atasanku yang memberikan aba-aba untuk menyerang saat jam istirahat. Kalau saja aba-abanya lebih cepat, sudah pasti kami juga akan melakukan penyerangan lebih cepat dari ini. Dengan kata lain, kami berdua tidak memiliki salah dan sama sekali tidak terlibat dengan penentuan waktu penyerangan, kami hanya menjalankan perintah!” jawab Szesc.
“Benarkah?” Tatapan mata Sophia menjadi lebih tajam dengan aura di sekitarnya menjadi lebih menekan.
‘Apakah sebegitunya dia membenci belajar? Matanya terlihat sangat menyeramkan saat ini. Selain itu, bukankah seharusnya dia membuat pertanyaan yang lebih berhubungan dengan penyerangan ini dari pada hanya waktu penyerangan yang kebetulan adalah jam istirahat. Aku tahu waktu penyerangan juga merupakan bagian dari aksi penyerangan, tapi sangat aneh dia terganggu hanya karena waktunya bertepatan dengan jam istirahatnya,’ batin Szesc dengan heran.
Akari muncul dari belakang Sophia sambil memegang bahu Sophia, kemudian mengatakan, “Kamu bisa minggir sebentar, Royale Spirit of Blood. Biarkan aku saja yang memberikan pertanyaan padanya.” Dalam benaknya, ‘Topik pembicaraan tidak akan terus jalan jika dia hanya menanyakan sesuatu seputar ini saja. Aku memiliki pertanyaan yang lebih penting dibandingkan hanya jam istirahat.’
“Um.” Sophia mengangguk sebelum menyingkir dari tempatnya.
“Oke, karena sekarang adalah waktuku bertanya, bisakah kamu mengatakan kenapa menyerang kami?” tanya ramah Akari.
“Itu karena kamu dulu yang membuat perkara. Kalau saja kamu tidak menyerangku, aku tidak akan menyerang kalian,” jawab Szesc dengan cepat. ‘Ini memang jujur. Tujuan kedatangan kami di sini hanya Elena dan aku juga tidak berniat bertarung dengan hanya membiarkan rekanku mengatasinya. Tapi karena dia menyerangku dengan elemen cahayanya, aku pun ikut pertarungan ini.’
“Fumu, seperti itu ya.” Akari mengangguk paham, lalu kembali bertanya, “Sekarang, apa yang akan kamu lakukan setelah ini? Dengan kondisi terikat seperti ini, aku cukup yakin tidak banyak yang bisa kamu lakukan. Sekalipun kamu bisa lolos dari ini, kamu masih harus melawan kami berdua dan akan kalah seperti sebelumnya?”
“Entahlah. Aku mungkin akan melakukan apapun yang aku bisa untuk bertahan hidup atau sesuatu yang menguntungkan organisasi sekalipun berada dalam kondisi mendesak ini.” Szesc menyeringai di balik topengnya, memikirkan sebuah rencana yang mungkin saja jahat.
__ADS_1
•••••
*Slash!* *Brak!* *Krak!* *Bom!*
Sebuah bilah berwarna amber menebas pada perut Dwa, mendorongnya dan membuat dia menabrak beberapa bangunan di belakangnya. Bukan hanya itu, bilah tersebut menyisakan jejak berupa bangunan rumah kayu yang dilintasinya menjadi terbakar. Untung saja semua orang di sekitar sana telah dievakuasi lebih awal atau mereka akan terkena imbas dari pertarungan ini.
‘Kekuatannya memang tidak dapat diremehkan, ya. Sepertinya kekuatan yang aku kumpulkan selama beberapa ratus tahun ini masih belum cukup untuk mengalahkan dia yang hanya berumur 10 tahun. Aku ingin tahu, bagaimana cara Spirit King of Darkness mendidiknya sampai memiliki kekuatan yang di luar akal sehat manusia dunia ini hanya dalam waktu singkat. Ini pasti juga merupakan bakat bawaan di samping kerja keras,’ batin Dwa sambil mengamati Elena yang jauhnya puluhan meter darinya.
*Whirl!* *Slash!*
Elena membuka portal miliknya yang memiliki penampilan sama dengan milik Dwa sebelum dia memasukinya dan langsung muncul di hadapan Dwa, dan memberikan tebasan secara horizontal ke leher.
‘Teleportasi tidak bisa memindahkan energi milik pedang yang aku bawa ini. Untung saja aku masih bisa membuka portal dari elemen dimensi milik Noctis yang memberikanku keuntungan tambahan dalam pertarungan ini. Sebenarnya, ini tidak dapat dikatakan keuntungan karena musuh juga dapat melakukan hal serupa padaku,’ dalam benak Elena.
Dwa memposisikan pedangnya secara vertikal untuk menangkis serangan Elena. Benturan di antara kedua senjata membuat hembusan angin cukup kencang disertai hawa panas kering di sana.
“Kondisimu sangat menyedihkan karena ada di bawah, lho. Apa kamu tidak ingin menyerah, Orang dengan Pakaian Norak?” tanya Elena sambil menyeringai dan dalam benaknya berkata, ‘Durasi pedang ini akan habis dalam hitungan detik. Aku tidak bisa berlama-lama dengan ini.’
“Mana mungkin. Justru seharusnya kamu yang menyerah karena kota ini akan hancur kalau pertarungan ini masih tetap dilanjutkan, kau tahu? Aku sangat yakin kamu tidak sebodoh itu untuk melihat kota tetap utuh setelah ini.” Dalam benak Dwa, ‘Aku hanya memiliki puluhan detik sebelum kehabisan energi alam dalam tubuhku. Jika ini terus berlama-lama, aku akan mati lemas atau terbakar olehnya ketika tidak dapat mengontrol Exe-Caliburn ini.’
__ADS_1
‘Pedang ini akan otomatis nonaktif ketika penggunanya --aku-- kehabisan energi alam untuk mempertahankan segelnya sebagai langkah waspada bila-bila saja pedang ini akan mengamuk. Apa aku lepaskan saja segel ini dan membiarkan dia mengamuk? Tapi, aku rasa ini adalah ide yang sangat buruk karena sangat merepotkan kalau harus menenangkan pedang ini di masa mendatang,’ tambahnya.
*Whirl!* *Bom!*
Di antara Elena dan Dwa, sebuah portal muncul oleh Dwa yang membukanya. Portal tersebut mengarah pada Elena, juga dia menembakkan sebuah air sangat kuat sampai Elena terpelanting puluhan meter dari tempatnya berada sambil menabrak beberapa dinding bangunan.
*Ssshhh!*
Air yang ada di sekitar Elena menguap dengan cepat bersamaan dia yang mulai kembali berdiri dan bergumam, “Dia membuka portal yang terhubung ke dasar laut, ya. Cara yang sangat pintar karena tekanan di kedalaman laut sangat kuat dan bahkan dapat membengkokkan logam. Ini bukan strategi yang buruk, tapi bukan strategi yang bagus karena beresiko menenggelamkan diri sendiri di tempat tertutup dan tidak dapat menutup portal.”
*Tap!*
Dwa berdiri di atas puing-puing bangunan dengan air laut yang menggenangi dasar tempat tersebut. Ia mengarahkan ujung pedangnya pada Elena dan mengatakan, “Usaha yang bagus dan sangat mendekati kemenangan. Tapi, tidak semudah itu untukmu agar dapat mengalahkanku.”
“Kalau begitu, tinggal memberikan serangan yang lebih kuat, ‘kan?” Elena memegang gagang pedang menggunakan kedua tangannya, mengangkatnya setinggi pelipis di sebelah kanan, dan mengarahkan ujungnya pada Dwa. Kemudian, bilah amber dari pedang tersebut bersinar sedikit lebih terang dari sebelumnya.
*Sis!*
Elena melompat dan melesat maju ke arah Dwa dengan bidang segi enam di bawah kaki kanannya, menerjang dengan ujung pedang energi miliknya.
__ADS_1
*Swing!*
Dwa membuat kabut di sekitar pedang Exe-Caliburn miliknya menjadi lebih pekat sebelum pada akhirnya dia mengayunkan pedang tersebut pada Elena sebagai tindakan balasan.