
Orang yang baru saja muncul dari portal berasal dari kubu musuh. Sontak mereka menjadi waspada akan kehadirannya. Alex mengeluarkan pedang, Yovanca mengambil belati, Theresa busur darah, dan Sophia merentangkan sayap darah. Morgan menganga lebar melihat orang yang mengundangnya kemari. Adapun Noctis, dia tetap datar tak peduli dengan kedua tangan disilangkan di depan dada.
“Da-Damai! Aku datang ke sini dengan maksud damai!”
“Wah. jadi yang begitu juga bisa, ya? Minta damai kalau ketemu musuh tapi ngajak gelut saat sini gak ngapa-ngapain,” sindir Sophia.
“Ya-Yah, aku tidak bisa menyangkal, sih.” Dwa tertawa kering. “Tapi, apa kalian makhluk barbar yang akan menyerang sesuka kalian?”
“Cukup!” ucap Noctis lirih. Tatapan tajamnya menunjukkan intimidasi yang sama sekali tak bisa diremehkan. Dwa yang berjarak bermeter-meter darinya saja sampai gemetar. “Katakan apa keinginan dan tujuanmu berada di sini.”
“I-Iya,” ucap Dwa tergagap, “Jadi, seperti yang kalian tahu, aku sengaja menyerap cahaya Matahari di Pulau Indigo ini. Tujuannya sih sederhana, aku cuma mau mengumpulkan energi untuk cadangan di masa depan. Ingat: Hemat pangkal kaya.”
“Terus, kenapa kami harus berdamai?” tanya Noctis. “Akan lebih cepat jika aku membunuhmu saat ini sekarang juga. Novel ini akan langsung tamat.”
“Wah. jangan begitu lah~. Gak seru kalau langsung tamat,” ujar Dwa, “Tapi ada alasan sih kenapa kok kalian baiknya jangan bunuh aku. Mudahnya, kalau kalian menyerangku, aku akan melepaskan energi dari bola ini dan meledakkan seluruh pulau. Masih ada orang di sini. Meski aku yakin kalian tidak akan terluka dan tetap bisa selamat. Tapi apa kalian tidak peduli—"
"Nggak, aku gak peduli," ucap Noctis ketus. "Kalau kamu mau bunuh mereka semua, silahkan saja. Aku, roh yang telah hidup ribuan tahun dan mengembara di ratusan dunia, sudah biasa melihat ratusan ribu kematian. Sebagian besar di antaranya adalah pembunuh yang kejam. Tak berhenti sampai membunuhn, korban-korban itu disiksa dengan siksaan yang tak manusiawi. Para lelaki dipekerjakan sampai mati, perempuan dimainkan sebelum dibunuh, dan anak-anak dimasukkan ke ruangan gas beracun. Aku bisa menutup mata pada ratusan calon korban dari ledakan yang akan kamu lakukan."
__ADS_1
Semua terdiam, Noctis menjadi pusat perhatian.
"Oke, aku rasa aku tidak bisa mengancammu dengan baik-baik."
'Mengancam dengan baik-baik itu apa, ya?' pikir Theresa dan Sophia bersamaan.
"Jadi bagaimana? Kamu mau bertarung?" tanya Yovanca. Masih dengan senyuman. Dia seperti menawarkan es teh pada seorang kuli yang tengah beristirahat.
Dea tersumbat kata-katanya. Bertarung? Jelas tidak. Ini tidak akan menjadi pertarungan, ini akan menjadi pembantaian dengan dia sebagai yang dibantai. Plus, dia hanya menggertak. Kalaupun benar dia meledakkan energi dari bola tersebut, dia sendiri menghitung ledakannya tidak akan cukup untuk meledakkan seluruh pulau.
"Wa-Wah, bagaimana ya?" Dwa membuat suara batuk. Lalu barulah dia mulai berkata, "Begini-begini saya itu sebenarnya adalah orang yang cinta damai. Bukan orang barbar yang suka bertarung dan merusak macam kalian. Jadi, ya, aku akan mundur dulu untuk hari ini. Dah dulu ya? Have a nice day~"
Dwa berbalik menatap Noctis. "A-Anu, aku mau pergi dengan damai. Apa tidak boleh?"
"Eh… kamu mau pergi, ya?" Noctis menyeringai. Tatapan menyeramkan dan mulut menyeringai mengarah pada Dwa. "Sejak kapan watashi (/\= Aku — Bahasa Jepang; Noctis sok wibu di sini) mengizinkan Panjenengan (/\= Anda; bentuk hormat kata ganti orang kedua — Bahasa Jawa) pergi?"
"Nggak boleh, ya?"
__ADS_1
"Bukannya nggak boleh, saya cuma mau nanya ke Bapak soal teman saya yang menghilang. Bapak pasti tahu kan di mana dia berada." Gaya bicara Noctis yang dibuat disopan-sopankan.
Gaya bahasa yang formal, selain menunjukkan kesopanan, juga bisa diartikan sebagai menjaga jarak. Ketika seseorang memakai gaya bahasa formal dan seakan sopan, ada beberapa kemungkinan. Pertama, penggunaannya sebagai tanda penghormatan, atau yang kedua, dia menggunakannya sebagai bentuk menjaga jarak, yang artinya dia sedang marah. Dan Noctis, dia adalah tipe yang menggunakan bahasa formal pada pilihan kedua. Dia sedang marah, nih.
"Ba-Baik, sa— a-aku akan mengatakan semuanya…." Pasrah. Tak ada yang bisa Dwa lakukan.
Dwa benar-benar membocorkan segala yang ia tahu tentang keberadaan Elena. Dia sendiri tidak mengetahui secara detail mengenai tempat Elena berada, melainkan dia bisa memberitahu tentang di dunia mana Elena berada. Itu sudah tidak masalah. Setidaknya mereka mendapatkan titik cerah mengenai di mana keberadaan Elena. Ini jauh lebih baik dari pada harus mencari di dunia yang jumlahnya jutaan atau bahkan tidak terbatas di luar sana.
Lalu untuk Dwa, Noctis membiarkannya pergi. Setidaknya dia masih memiliki nyawanya.
"Baik, ayo kita pergi! Ayo kita segera menemui gadis kecil itu," ajak Noctis.
"Yey~" Theresa menjadi satu-satunya yang merespon dengan nada riang.
"Maaf, aku tidak ikut. Aku harus melaporkan tentang masalah ini ke Paduka Raja," ujar Alex.
"Beta juga tidak ikut. Nampaknya perjalanan di depan terlalu berbahaya untuk beta!" ucap Morgan.
__ADS_1
"Baiklah baik, aku akan mengirim kalian ke tempat lain."
Noctis membuka portal dan membiarkan kedua orang itu pergi.