
*Sis!* *Srak!* *Srak!*
Dalam kegelapan malam, Elena mencoba melacak jalur yang baru saja dilalui Senolia. Dia melompat dari satu dahan pohon menuju dahan pohon lainnya. Dalam prosesnya, dedaunan lebat menghalangi membuatnya sedikit kesulitan menembusnya dan menciptakan suara gesekan daun setiap kali dia bergerak. Sesuatu yang sangat merepotkan, namun untungnya dia memiliki kemampuan Penerawangan yang membantunya.
“(Apa kamu bisa menemukan keberadaannya?)” tanya Aya.
Sementara Elena berjuang mengincar dahan pohon sebagai pijakan dan menembus lebatnya dedaunan, Aya masih tetap berada di atas kepala Elena dan memiliki tampang santai. Dia hanya perlu mempertahankan dirinya agar tidak terjatuh dari sana. Selebihnya, dia tidak melakukan banyak usaha, setidaknya untuk saat ini. Lumayan nyaman juga, ya.
"Masalahnya tempat ini lumayan luas sedangkan area Penerawangan-ku terbatas. Sangat sulit untuk mencarinya, mungkin aku akan perlu menyusuri semua area di tempat ini untuk menemukan keberadaannya. Semoga saja kita beruntung dan bisa menemukannya hanya dalam waktu hitungan detik. Lagi pula, seharusnya dia tidak pergi terlalu jauh," jawab Elena datar.
"(Begitu, ya…,)" respon Aya lirih. "(Mataku bisa melihat dengan jelas menembus malam, tetapi pepohonan di sini menggangguku. Aku tidak akan banyak berguna dalam permainan ini! Aku hanya mengandalkanmu untuk melakukan semuanya!)
"...." Tidak ada ucapan yang dikatakan Elena, dia sudah menduga tentang ini.
•••••
Beberapa saat berlalu dengan Elena yang terus mencari keberadaan targetnya—Senolia—. Masalah utamanya bukan gelapnya tempat ini di malam hari atau pepohonan lebat yang menghalangi pandangan, melainkan mencari keberadaan Senolia di antara area luas ini. Jika hanya kegelapan malam dan pepohonan lebat, kemampuan Penerawangan membuat Elena bisa melihat area sekitarnya.
*Sis!* *Sis!* *Sis!*
Beberapa anak panah menerjang ke arah Elena dan Aya.
"Aya!"
"(Ya!)"
*Clank!* *Clank!* *Clank!*
__ADS_1
Menggunakan skill ke-2-nya—Black Catcher—, Aya menembakkan beberapa pasak hitam ke arah anak panah yang mengarah pada mereka. Kedua serangan itu saling bertabrakan di udara, dan menjatuhkan satu sama lain di antara mereka.
"Hmm…?" Elena memperhatikan beberapa anak panah yang berjatuhan ke tanah.
Itu memiliki bentuk seperti anak panah biasa pada umumnya. Dia berwarna biru tua agak transparan dan sedikit sulit dilihat, terutama ketika gelap malam. Juga, kecepatan dari masing-masing mereka menjadi masalah jika targetnya berupa orang awam atau individu yang tidak memiliki keahlian bela diri. Mereka hanya akan menjadi dinding mati dan kehilangan nyawanya hanya karena satu serangan.
"(Serangan yang berbahaya…,)" gumam Aya.
"Hou… sangat ramah lingkungan sekali, ya. Panah-panah yang tercipta dari centher energy murni, memiliki bentuk simpel dan efisien dalam penggunaan, tapi akan memberikan tusukan dalam melalui peningkatan kecepatan tinggi. Penther yang melakukannya seharusnya merupakan salah satu tingkat tinggi. Mungkin saja, yang satu ini memiliki wujud humanoid," komentar Elena.
"(Humanoid? Bukankah dia akan memiliki kesamaan dengan Kitsuna? Bagaimana bisa mereka memiliki either? Satu individu ini merupakan sesuatu yang langka untuk ada di dunia ini, benar?)" Aya memiliki banyak pertanyaan dan spekulasi membingungkan dalam pikirannya.
"Tenang saja, belum tentu juga itu merupakan suatu either. Masih memiliki kemungkinan bahwa itu merupakan penther yang berevolusi berkali-kali sampai memiliki wujud humanoid. Masih terlalu berlebihan untuk menyebut itu sebagai either. Tapi meski aku mengatakan seperti ini, tetap saja seharusnya dia memiliki kekuatan yang tidak bisa diremehkan sebagai penther tingkat tinggi."
"(Entah kenapa setelah tenang sejenak aku merasa risau.)"
*Sis!* *Srak!* *Srak!*
*Sis!* *Sis!* *Sis!*
Tidak semudah yang diharapkan, beberapa anak panah melesat ke arahnya dalam tempo yang lebih cepat. Mereka merupakan anak panah yang sama dengan sebelumnya, hanya saja jumlah dan kecepatan mereka menjadi masalah.
"Aya, berikan aku satu yang berbentuk katana?"
"Baik, baik."
*Zrt!*
__ADS_1
Masih sama menggunakan skill Black Catcher, Aya menciptakan sepotong katana hitam bersamaan dengan bilah tajamnya. Tidak ada ampun untuknya! Lagi pula musuh yang mereka lawan saat ini memiliki informasi dan identitas yang belum diketahui. Bukan sesuatu yang tepat untuk memberikannya belas kasihan menggunakan bilah tumpul.
*Clank!* *Clank!* *Clank!* *Clank!* *Clank!*
Berbagai ayunan diciptakan Elena menebas pada anak panah yang mengenainya. Tebasan kejam dan tajam membelah masing-masing dari mereka, juga di bawah efek skill Black Catcher semua serpihan anak panah tersebut diserap sebagai energi tambahan yang akan memperkuat ketahanan katana hitam tersebut.
'Cepat! Penerawanganku hampir tidak bisa mengikuti pergerakan mereka. Sedikit lagi, dan itu tidak akan terpotong oleh katana ini. Itu akan menembus tubuhku seperti kertas. Mungkin tidak akan menghancurkan tubuhku tanpa bekas, tapi itu lebih dari cukup memberikan dampak menyeramkan meski saat ini aku sudah memperkuat tubuhku menggunakan Myokinesis.'
*Sis!* *Sis!* *Sis!*
Setelah senyap beberapa saat, serbuan anak panah kembali mendatanginya. Kali ini hujanan anak panah tersebut mengincar punggung Elena, yang berarti penembaknya berada di arah belakangan. Dia telah berpindah tempat dalam waktu yang singkat ini!
'Dari sana!' Elena melirik ke belakang dengan terkejut.
Hanya dalam waktu beberapa detik untuk penembak panah ini berpindah tempat dalam jarak berkebalikan dengan target! Ini bukan merupakan sesuatu yang bisa dilakukan oleh manusia biasa! Elena tahu penembak itu pastilah merupakan penther dan akan memiliki kemampuan skill yang tidak bisa diremehkan mengingat berasal dari trainer terlatih, tetapi dia tetap terkejut akan kenyataan ini.
*Tap!* *Stab!* *Stab!* *Stab!* *Srak!*
Elena menggunakan salah satu batang pohon sebagai pijakan untuk melompat tinggi-tinggi ke atas, setelah itu adalah adegan di mana tiga anak panah menusuk pada tembus dahan pohon dengan beberapa lainnya yang melesat dan melesat menembus dedaunan lebat.
"(Wah, sepertinya kamu sudah berada di situasi di mana tidak bisa mengejar penembak itu, ya. Skill yang digunakan seharusnya bukan sesuatu yang berhubungan dengan kecepatan, tetapi lebih mengarah ke perpindahan tempat secara instan. Tidak mungkin dia bisa berpindah tempat dalam waktu sesingkat itu dengan arah yang berada di kebalikan dari sebelumnya.)"
Mata Elena melirik ke atas pada Aya sebelum dia mengatakan, "Aku merasa kesal terhadap kalimat pertamamu yang berkesan menghinaku, tapi aku terpaksa setuju denganmu kali ini. Dia memang sangat mengerikan dalam hal kecepatan jika itu merupakan gerakan. Jika itu merupakan peningkatan kecepatan, aku ragu akan bisa bersaing dengannya dalam pertarungan jarak dekat. Setidaknya, dari serangannya yang berupa panah, aku tahu kalau dia adalah tipe penyerang jarak jauh."
"(Apa yang akan kamu lakukan sekarang?)"
Pandangan Elena beralih pada lautan dedaunan seraya berkata, "Skill pertama, Accel. Kita tetap akan berusaha mengejarnya, tidak ada pilihan lain lagi."
__ADS_1
"Baik!"