Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik
Skill Destruktif


__ADS_3

Dari kejauhan, Senolia mengamati pertarungan. Di sampingnya adalah penther pemanah yang sudah lama menjadi penghambat dan dicari-cari keberadaannya oleh Elena. Suasana di sekitar mereka dapat dikatakan tenang meski penther pemanah itu terus menembakkan rentetan anak panah hingga tidak terlihat tangannya pada tali busur.


Penampilan dari penther ini tidak kalah kerennya (untuk sebagian orang) dengan kedua penther lainnya. Tubuhnya dipenuhi oleh tulang dengan hanya memakai zirah pada bagian bahu dan celana. Di belakangnya adalah tempat untuk menaruh anak panah dan tangannya memegang busur. Matanya bersinar dengan kobaran jingga seperti api.


“Hah… sayang sekali dia memblokir semua sisi tubuhnya menggunakan benda hitam itu. Aku rasa kemampuannya ini masih satu skill yang sama dengan modifikasi dalam bentuknya. Dia sangat beruntung sekali, ya. Jarang sekali ada penther dengan skill yang dapat diubah bentuknya. Kebanyakan skill payah dan hanya memiliki satu skill meski dalam satu elemen sama. Aku jadi iri dengannya…,” gumam Senolia sambil mengamati Elena menggunakan teropongnya.


*Zing!*


Pilar keunguan mulai naik ke langit. Tempat di mana Aya berada menjadi poros dari pilar tersebut.


Sinar ini memiliki warna ungu gelap dan hampir bersatu dengan gelapnya malam, tetapi sangat jelas perbedaan antara kegelapan malam dan cahaya yang memiliki warna gelap. Perbedaan mereka berdua bisa diamati dengan penglihatan seksama. Meskipun tidak melakukannya dengan seksama, hawa atmosfer di sekitarnya terasa berubah ketika menggores kulit.


*Wush!* *Sush!*


Berkenaan dengan itu, aliran udara berubah arah. Udara malam yang sebelumnya tenang dan sesekali menghembuskan hawa dinginnya sekarang berubah menjadi membuat huru-hara. Angin-angin bergerak dengan menakutkan ke arah bola tempat Elena dan Aya berada—poros dari pilar yang berotasi—. Hembusan kencang ini berubah 180 derajat dari sebelumnya.

__ADS_1


Pepohonan dan hewan-hewan pun tidak lolos dari tarikan kencang dari angin yang menghisap. Pohon-pohon mulai melepaskan daun-daunnya secara paksa, hewan-hewan berusaha menjauh dengan berlari pada arah yang berlainan dengan arah angin, Senolia memiliki rambut acak-acakan dan kacau berkat angin kencang yang menghancurkan ini.


“Ugh… menyeramkan…. Apakah dia tidak berpikir jika serangan ini terlalu menakutkan dalam segi dampak? Aku tidak bisa membayangkan mereka menggunakan skill sekuat ini di dalam kota. Mereka bisa membuat kekacauan hebat dan kebingungan di mana-mana jika mereka mau! Aku terlalu meremehkan keberadaan mereka!” Senolia berusaha sekuat tenaga untuk tidak ikut terhisap.


“Berhenti! Fokus pada pertahanan!” Dia memalangkan salah satu tangannya—memberikan isyarat berhenti—pada penthernya.


Penther tersebut berhenti dengan anggukan kecil. Dia sendiri tahu tidak peduli sebanyak apa anak panah yang ditembakan tidak ada satupun dari mereka yang akan berhasil melukai targetnya. Dari pada terus fokus menembak dan berakhir dengan terhisap udara badai ini, berhenti dan fokus pada pijakannya merupakan pilihan bijak.


Untung saja dia memiliki tubuh dari tulang dan memiliki banyak rongga. Tidak semudah itu untuk membuat penther ini terbang menggunakan angin. Tetapi ini bukan saatnya untuk santai, karena dirinya sendiri juga dapat merasakan bahwa perlahan-lahan tubuhnya terangkat. Dia berusaha menahan berat tubuhnya dengan memeluk batang pohon.


*Wung!*


Tinggi pilar tersebut mencapai langit, lebih tepatnya terus naik sampai ke tempat yang tidak diketahui. Intinya, pilar keunguan tersebut terus naik sementara di bagian bawahnya mengebor tanah dengan sangat ganas. Tanah-tanah di dekat sana mulai hancur dan tidak menyisakan pijakan. Hanya menjadi sebuah bola yang berputar pada porosnya dan memancarkan sejumlah energi ke atas dan bawah.


*Boom!*

__ADS_1


Setelah semua terkumpul di satu titik padat, ledakan besar terjadi dan meluluh lantahkan sekitar. Pepohonan hancur dan mengiris tanah membentuk setengah bola. Irisan yang sangat rapi dari ledakan tersebut. Jumlah energi yang sangat merata dari semua sisi dari serangan tersebut. Seperti serangan dengan kerusakan absolut, hampir semua benda di sekitar sana hancur tanpa sisa.


“Fiuh… untung saja itu sudah berakhir. Benar-benar serangan yang sangat mengerikan….” Senolia mengembalikan posisi berdirinya dan mengamati dampak ledakan setelah menyeka dahinya yang tanpa keringat itu. Bagaimanapun dia merasa lega dengan dampak ledakan yang tidak menyampai tempatnya atau dia akan menerima kerusakan yang tidak main-main pada tubuhnya.


Benar-benar serangan penghancuran yang sangat tanpa pandang bulu. Elena sama sekali tidak memikirkan sekitarnya dan menghancurkannya bersama ledakan yang ia ciptakan. Entah apakah orang di sekitarnya selamat atau tidak, dia tidak memperhitungkan tentang ini dan melakukan ledakan. Hanya saja, dia yakin bahwa kedua penther di dekatnya akan selamat di bawah kemampuan penther pendukung.


Pengamatan Senolia tidak memakai teropong. Dia dapat melihat dengan sangat jelas bahwa Elena dan Aya berdiri di tengah kawah setengah lingkaran sempurna itu. Mereka berdua hanya berdiri dalam diam di sana dengan tatapan mata Elena mengarah balik pada Senolia. Dengan hancurnya medan sekitar, pandangan Elena menjadi lebih leluasa untuk melihat sekitar.


‘Dia menemukanku kah? Yah, sudahlah. Lagi pula ini memang permainan petak umpet, bukan pertarungan sampai mati. Tidak masalah jika aku tidak berhasil untuk mengetahui semua kemampuannya, setidaknya aku sudah melihat serangan berbahaya darinya. Aku berniat untuk terus menyerangnya sampai pingsan atau dia menyerah. Tapi karena apa yang aku katakan sebelumnya ada “petak umpet” aku terpaksa menepatinya.’ Senolia mengamati balik Elena sebelum melanjutkan, ‘Atau mungkin tidak. Bukankah permainan petak umpet ini baru akan berakhir setelah aku tertangkap?’


Dan untuk orang-orang yang berlaku adil, janganlah kalian mengingkari janji yang telah kalian buat! Bahkan apabila tujuan dari janji yang telah dibuat tidak berhasil memenuhi tujuan kamu, tetaplah untuk berlaku adil dan tegakkanlah keadilan. Sesungguhnya orang-orang yang jujur menepati perkataannya. Sedangkan mengucapkan janji merupakan salah satu perkataan dan perlu ditepati. Memberikan harapan palsu merupakan kebohongan dan menghilangkan kepercayaan.


Entah seberapa adilnya engkau dalam memberikan penyelesaian sebuah perkara, sekalipun Anda tidak akan bisa menyelesaikan perkara tersebut jika tidak memiliki kepercayaan dari orang-orang. Entah seberapa bagus dan seberapa adil jalan penyelesaian yang diberikan, itu sama sekali tidak akan membantu ketika tidak ada orang yang menuruti perkataanmu karena mereka tidak bisa percaya ke padamu.


Kejujuran salah satu faktor untuk membangun kepercayaan, dan kepercayaan adalah cara agar orang lain menuruti perkataan kita. Orang yang memiliki kepercayaan tinggi dari masyarakat akan dapat mengubah lingkungannya dengan mempengaruhi orang-orang itu. Lingkungan duniawi yang penuh damai dan tentram dimulai dari kejujuran.

__ADS_1


__ADS_2