Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik
Memenuhi tantangan


__ADS_3

“Sudah malam, ya, Leon. Apakah kamu tidak merasa jika mereka berdua pergi terlalu lama?” tanya Kitsuna yang duduk di kursi dengan sebuah meja di depannya..


“Entahlah. Aku rasa mereka berdua mungkin akan tidak menganggap ini sebagai lama.” Leon mengangkat bahunya setelah menghentikan belaian yang ia berikan pada Leo. “Mereka berdua bilang pergi untuk bersenang-senang. Sudah menjadi sesuatu yang biasa saat seseorang lupa waktu ketika sedang melakukan kegiatan yang seru.”


“Hah~, membosankan sekali, ya~.” Ia mendongak ke atas pada lampu sebelum melanjutkan, “Jika itu merupakan sesuatu yang seru, aku harap mereka berdua juga mengajakku. Berada di ruangan ini bersama kalian berdua juga terasa membosankan. Satu-satunya yang lumayan seru adalah saat aku melatih kalian berdua siang tadi. Apa tidak ada hiburan yang seru, ya….” Kitsuna melirik pada Leo.


Bulu-bulu Leo bergetar ketika dia merasakan tatapan membunuh yang mengarah padanya. Dirinya sama sekali tidak menatap Kitsuna, tetapi instingnya telah merasakan sesuatu berbahaya sampai membuat dirinya bergidik ketakutan. Apakah mungkin ini adalah sebab karena latihan siang tadi? Ini memiliki kemungkinan besar untuk jawaban “ya” mengingat Kitsuna membicarakan topik tersebut.


Pelatihan yang terlalu keras ke pada seseorang hanya akan menghancurkan hubungan, maka dari itu jangan terlalu berlebihan ketika sedang melatih atau mengajar ke pada orang lain. Apa yang kita anggap baik ke pada orang lain belum tentu akan berujung baik ke pada mereka. Pelatihan yang tidak sesuai minat hanya akan masuk dari telinga kanan dan keluar dari telinga kiri.


Tantangan terbesar seorang pengajar ke pada pengajar bukan tentang bagaimana menyampaikan materi, melainkan bisa juga karena pelajar tidak memiliki minat terhadap materi yang disampaikan. Ketika seorang pelajar memiliki minat terhadap apa yang dipelajarinya, maka tanpa pengajar sekalipun ia tetap akan mencari cara bagaimana untuk mempelajari hal itu.


“Hentikan itu. Kamu membuatnya takut, Kitsuna.” Leon memegang lembut kepala Leo menggunakan telapak tangannya. “Latihan darimu memang hebat karena dalam waktu satu hari saja Leo mendapatkan peningkatan pesat sampai membuka skill ke-2 miliknya. Tapi tetap saja, itu tidak mengubah kenyataan jika dia menjadi takut ke padamu.”


Leo terlihat tenang ketika berada di bawah telapak tangan Leon. Bulu-bulumu perlahan kembali tertunduk setelah rasa takut yang dimilikinya perlahan sirna. Ketakutannya ini tidak akan hilang sepenuhnya dalam waktu singkat, tetapi menjadi tenang tentu saja merupakan sesuatu yang bagus untuknya. Dengan ini, hubungan trainer-penther di antara keduanya juga akan menjadi lebih dekat.

__ADS_1


“Fufufu, tentu saja dia membangkitkan skill ke-2-nya. Itu karena latihan intensif dariku.” Kitsuna bersedekap dengan ekspresi bangga di wajahnya. “Skill ke-2 Leo, Insting. Skill ini merupakan keahlian pasif miliknya yang membuat instingnya menjadi lebih tajam. Tidak memiliki kemampuan serangan atau bertahan, tapi sangat efektif untuk menilai kekuatan lawan dan memutuskan apakah dia akan menyerang atau kabur. Aku memang jenius dalam melatih orang, ya.”


“Entahlah, aku tidak yakin akan hal itu.” Leon menatap datar Kitsuna. “Apa yang kamu lakukan tadi siang adalah menembakkan banyak kobaran api ke pada pentherku. Antara kamu yang melatihnya atau kamu yang menyiksanya, aku sama sekali tidak bisa membedakannya. Bahkan skill pasif barunya ini lebih seperti aktif karena dia takut padamu dari pada latihan darimu.”


“Tidak peduli yang mana dia tetap menjadi lebih kuat!” ucapan yang sama sekali tidak mengandung perasaan bersalah di dalamnya.


•••••


Elena mengikuti orang yang baru saja ditemuinya—Senolia—karena mendapatkan tantangan. Dia memiliki sedikit rasa kecurigaan ke pada orang ini sehingga tetap waspada dan menjaga jarak darinya. Jika situasi sudah mulai runyam, maka dia mau tidak mau akan menggunakan kemampuan Teleportasinya untuk pergi dari sana secepatnya.


“Jadi, permainan apa yang ingin kamu mainkan? Sangat aneh ketika seseorang mengajak bermain dengan orang asing, kau tahu?” tanya Elena bersamaan dengan tatapan waspadanya yang mengarah pada Senolia.


‘Dia…. Sepertinya dia merupakan orang yang profesional dalam hal ini. Aku telah berusaha membaca pikirannya menggunakan kemampuan Telepati, tapi aku tidak mendapatkan apa-apa dari yang ada di dalam pikirannya. Dia hanya memikirkan kekosongan yang membuatku tidak bisa menebak apa yang sebenarnya dia pikirkan.’


‘Biasanya seseorang akan memikirkan tentang apa yang akan dia lakukan atau misi apa yang sedang berlaku padanya, tapi orang ini sangat pandai berakting, bahkan pikirannya juga berubah seperti apa yang sedang dia lakukan. Tingkahnya memang sangat mencurigakan karena dia mengajakku bermain di gelap malam ini, tapi aku tidak tahu apa tujuannya.’

__ADS_1


“Ayolah, kamu tidak perlu terlalu waspada ke padaku seperti itu.” Senolia tersenyum ramah sebelum melanjutkan, “Namaku adalah Eternity Senolia. Dengan begini aku bukan orang asing lagi, ‘kan?”


“Elena…,” jawaban singkat dari Elena yang masih penuh kewaspadaan.


‘Hmm… dia masih memiliki perasaan waspada dan siaga padaku. Mungkin dia hanya menemukan penther itu secara tidak sengaja, lalu secara tidak sengaja juga tidak memiliki uang, dan secara tidak sengaja juga hanya meminta uang dengan jumlah sama untuk daftar mengikuti turnamen. Jika dia memang memberikan penther itu sebagai kode, seharusnya dia sudah mulai tahu tentang orang asing yang akan menemuinya,’ dalam batin Senolia.


‘Tapi aku masih belum bisa mengambil kesimpulan semudah itu. Mungkin saja, dia sudah tahu tentang pekerjaan lain Asosiasi dan saat hanya sedang merasa waspada karena belum tahu aku berada di pihak yang mana. Tapi mengabaikan itu semua, rekaman dari pertandingannya di arena ini memang sangat bagus di mana dia tidak pernah kalah. Aku tidak bisa meremehkan kekuatannya setidaknya untuk saat ini. Asosiasi tetap memerlukan individu kuat untuk bergabung di sana.’ Dia tetap mempertahankan tatapan ramahnya sambil membuat beberapa spekulasi.


Sayang sekali, semenjak Elena merasa jika Telepatinya tidak berguna terhadap Senolia, dia tidak memakai kemampuan ini padanya untuk menghemat tenaga. Padahal jika dia menggunakannya sekarang, dia akan dapat mengetahui apa yang ada di dalam pikiran Senolia. Dirinya yang tidak mendapatkan informasi ini membuat malam menjadi sedikit lebih panjang.


“Kamu masih belum bisa percaya padaku, ya, Elena. Tenang saja, aku bukan orang jahat dan tidak akan memakanmu, kok.”


‘Yah, aku masih tetap mempertahankan tampang waspadaku agar dia berusaha untuk membuatku tenang. Tujuan aslinya mungkin akan terlihat jika dia semakin banyak berbicara dan berusaha membuatku nyaman. Tapi kalau rencana ini tidak berhasil, tidak masalah. Sangat disayangkan kalau aku perlu melakukan pekerjaan lebih keras saat ini gaga,’ batin Elena.


“Aku tidak bisa percaya padamu begitu saja,” jawaban Elena acuh.

__ADS_1


‘(Ap-Apa! Apa aku berada di ruang dan waktu yang salah?)’


__ADS_2