Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik
Pulau Indigo


__ADS_3

Interogasi Morgan berjalan singkat. Dia langsung membocorkan semuanya di depan Noctis. Ancamannya memang tidak main-main, dijadikan samsak tinju lalu disembuhkannya kembali dan diulang-ulang. Juga, dia sudah melihat semua bawahannya mati di tangan satu orang.


"Summary, kalian dapat tawaran dari seseorang misterius untuk membuat huru-hara di sini?"


"Bukan hanya kami, perompak lain juga dipindahkan," tambah Morgan. "Namun seiring berjalannya waktu mangsa semakin sedikit sehingga perompak saling menyerang satu sama lain. Hanya tersisa aku dan kruku sebagai yang terakhir."


"Dilihat dari pergerakannya yang tidak menambah perompak, kemungkinannya adalah dia sudah tidak memiliki tambahan atau memang sudah tidak diperlukan lagi personel tambahan. Aku harap itu yang pertama." Noctis memegang dagunya. Dia berpikir mendalam.


"Kalau begitu baguslah. Kita gak perlu lagi melawan bajak laut." Theresa bernapas lega sambil memegangi dadanya. Bersyukur dirinya karena bisa-bisa ia dilemparkan seperti sebelumnya.


"Jangan senang dulu. Akan sulit bila—." *Dar!*


Belum selesai Noctis berkata-kata, kapal bergetar disertai suara dentuman. Theresa hampir dibuat jatuh karenanya.


"Maaf, ya! Aku menabrak karang!" suara Sophia terdengar dari ruang kemudi.


"Ya, gak apa-apa! Kamu lanjutkan saja sampai kapal ini hancur!" jawab Noctis dengan niat menyindir. "Ehem, masalahnya kita tidak punya kru kompeten untuk mengendarai kapal ini."


"Yah, kalau itu sih kita memang tidak bisa melihat karang di bawah laut. Apa yang Kak Flee (Flying Deadman; roh hantu dari dunia lain yang bersemayam di tubuh Yovanca) dan Bibi Yovanca lakukan?" tanya Theresa.


"Hantu itu bilangnya dia lemah saat siang, terus yang satunya mengurus Alex." Ekspresi Noctis berubah menyeramkan; menunjukkan permusuhan. "Ksatria itu, padahal katanya dia ksatria terkuat di kerajaan. Bisa-bisanya dia bilang 'maaf, aku gak bisa ikut karena kapalnya banyak goyang.' Aku meragukan militer kerajaan."


"Kalau yang memegang kemudi seperti itu wajar saja dia mabuk laut." Digelengkan kepala Theresa. Dirinya sendiri memaklumi si pemegang kemudian, Sophia, yang terus menggores lambung kapal dengan karam.

__ADS_1


Perjalanan mereka terus seperti itu; mengikis karang dengan lambung kapal. Sungguh menggores hati Morgan selaku pemilik kapal. Tak pernah menyangka dirinya bahwa kapalnya ini akan dikemudikan oleh seorang amatir. Memang, Pulau Indigo yang merupakan tujuan mereka semakin dekat. Tetapi mereka juga semakin dekat dengan permukaan laut. Mereka bahkan harus mengungsi ke ruang kemudi yang lebih tinggi.


Ketika sampai pun masih terus tenggelam. Sesampainya di sana sudah tinggal tiang pengawas dengan mereka semua berkerumun di sana. Sempit terasa. Ekspresi mereka sangat datar saat ketinggian sudah setara jembatan kayu di dermaga.


“Yosh, perjalanan kita penuh dengan lika-liku meski sebenarnya bisa memotong semuanya.” Noctis berjalan di depan. Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan bersikap sok menjadi bos. “Sekarang mari kita cari pelakunya dan hajar dia.”


“Gak nyari narasumber dulu, Bang?” Morgan berjalan di belakang di samping Yovanca. Bukannya dia menganggap Yovanca lemah, hanya saja menurutnya dia adalah yang paling aman.


“Nih tempat dah sepi kayak kuburan, kamu mau cari siapa buat jadi narasumber?” Noctis menjatuhkan pandangan sinis. Tak lupa mulutnya cemberut.


Di dermaga tak ada orang selain mereka berenam. Salah satu faktornya adalah bajak laut. Keberadaan mereka membuat berlayar menjadi berbahaya, maka siapa juga yang mau menyebrang? Selain bajak laut pun yang lainnya adalah militer dari Kerajaan Freies.


“Lagi pula gak dicari aku merasa sudah tahu tujuan kita ke mana. Pasti di sana, ‘kan?” Noctis menunjuk jauh ke depan pada puncak gunung yang ada di tengah pulau.


Di pulau itu suasananya redup. Tidak sampai gelap, hanya seperti ada awan tebal yang menutupi langit. Selain itu suhu udara menjadi lebih dingin dari biasanya. Rasanya seperti tempat ini dilanda mendung selama 24/7.


“Apakah kita harus mendaki sampai ke sana?” Theresa memandang puncak gunung. “Kayaknya butuh lebih dari sehari buat bisa sampai ke sana.”


“Memang! Tapi kita tidak akan jalan kaki.” Noctis menjentikkan jarinya. Sebuah portal yang terbuat dari pusaran kabut hitam tercipta di hadapan mereka. “Apa kau lupa aku ini spirit berelemen apa? Kalau bukan karena tidak tahu koordinat tujuan kita seharusnya sampai berjam-jam lebih cepat.”


“Be-Benar juga. Noctis-sensei itu kan bisa bawa kita ke semesta lain sampaian.”


Mereka langsung berpindah ke puncak gunung. Sampai di sini Morgan ingin pergi saja. Namun apa daya ketika masing-masing dari mereka bisa membunuhnya. Saking tak pentingnya dia, dia sampai tak diperhatikan. Maka sudahlah, dia mengekor Yovanca.

__ADS_1


Di puncak gunung udaranya kencang, dingin, dan tipis. Tapi dari pada itu semua, mereka lebih peduli dengan bola melayang yang “menyerap cahaya langit”. Bentuknya biru dan ukurannya kurang lebih seperti bola sepak. Dia melayang-layang di atas tanah dengan tiang cahaya jatuh padanya.


“Uwah, sepertinya aku tahu kenapa pulau ini dinamai Pulau Indigo. Warna laut berwarna indigo saat dilihat dari atas sini.” Theresa mendekat ke tebing dan memandang samudera. Di sana sangat luas dengan warna indigo.


“Bukan hanya itu, katanya ini tempat yang paling sering dikunjungi pelukis.” Yovanca mendekat ke punggung Theresa. “Rute ke puncak sangat susah dan kadang memakan orang. Tapi para pelukis tetap bersikeras untuk mengabadikan pemandangan laut di Pulau Indigo.”


“Sudah berbincangnya. Sekarang bagaimana mengurus benda ini?” kata-kata Noctis mengumpulkan perhatian mereka.


“Bagaimana kalau dihancurkan saja? Bukan milik kita, dan pasti tidak ada yang peduli. Kerajaan Freies juga akan selesai masalahnya.” Sophia menyarankan dengan wajah datar.


“Aku lebih menyerahkannya ke Paduka Raja. Kami tidak akan menolak mendapatkan item magis untuk diteliti,” ucap Alex.


“Kau ini ya… gak kerja tapi minta bagian,” cemooh Noctis. “Tapi sudahlah, lagi pula tidak ada ruginya untuk membawanya pulang.” Noctis mendekat ke bola biru.


Semakin mendekat ke sana, dia merasakan bila tekanan angin semakin kuat mendorongnya menjauh. Sampai di sini dia masih berdiri tegak dan berjalan normal. Hingga ketika akan mengambil benda itu dari tempatnya ….


Sebuah portal yang terbuat dari kabut hitam terbuka. Bentuknya sama dengan milik Noctis. Portal tersebut menarik perhatian mereka.


“Apakah itu Elena?” tanya Theresa.


Selain Noctis, Elena juga bisa menggunakan kemampuan dimensi. Dia memiliki Dragon Vein yang memungkinkannya menggunakan satu elemen tambahan tanpa membuat kontrak spirit. Tapi sayang harapan Theresa harus sirna karena bukan teman baiknya yang muncul dari sana.


Yang muncul adalah sosok bertopeng emas dengan simbol angka “II” dalam bahasa Romawi. Ia juga mengenakan jubah berwarna hitam. Dari deskripsi ini saja dapat kita ambil kesimpulan bahwa dia adalah musuh.

__ADS_1


__ADS_2