
Perhatian mereka bertiga tertuju kepada orang yang berada di barisan paling depan dan mendahului yang lainnya. Dari sini mereka bertiga dapat menyimpulkan, bahwasanya dia merupakan pimpinan dari barisan ini. Tidak seperti ksatria lainnya, ia tidak mengenakan helm sehingga wajah aslinya dan ketiganya, terutama Glence dapat mengetahui dengan jelas siapa dia.
Orang yang paling depan ini merupakan seorang Pria dewasa yang mungkin berada di kisaran umur 30-an. Dia memiliki tubuh yang sangat berotot, mata dan rambut berwarna merah, dan dengan kulit yang sedikit lebih jelas. Dia merupakan orang yang digadang-gadang sebagai manusia terkuat di kerajaan ini jika kita mengabaikan Elena dan setingkatnya. Ia juga menjadi pengawal pribadi raja seharusnya dan merupakan ayah Glence --Alex Miecz--.
•••••
Dari kejauhan, di dalam lebatnya pepohonan, Pięć berada di sana dan mengawasi mereka semua. Dia tidak ingin membuat gara-gara lagi setelah mendapatkan penurunan kemampuan bertarung atas sebab hancurnya kedua boneka miliknya. Dia memutuskan untuk mengawasi pergerakan di sekitar sana dalam diam, dari harus kembali ke markas dan tidak melakukan apa-apa.
“Jadi itu adalah unit Ksatria Perak yang menjadi pasukan elite kerajaan ini, ya. Menurut informasi yang telah aku kumpulkan, mereka semua tidak terlalu kuat. Rata-rata dari mereka hanya memiliki spirit tingkat tinggi, bahkan ada di antara mereka yang hanya memiliki spirit tingkat menengah. Aku sendiri cukup untuk menghadapi mereka semua, tapi pimpinan mereka saat ini --Alex Miecz-- akan menjadi musuh yang cukup tangguh dengan Royal spirit miliknya.”
“Hah…, lebih nyaman kalau aku diam saja di sini.” Pięć bersandar pada batang pohon menggunakan tangannya sebagai tumpuan. “Paling nyaman untuk kembali tetap menggunakan kemampuan Portal milik Senior. Jika aku kembali sekarang seorang diri, aku harus menempuh jarak yang cukup jauh dan itu sangat merepotkan. Jika Alex mau, dia masih dapat masuk ke tingkat pertarungan antara Senior dan Elena.”
Sikap Pięć dapat dikatakan santai bahkan ketika dia berada di dalam medan perang dan dikelilingi oleh musuh. Ada dua kemungkinan dari ini, dengan kemungkinan pertama dia memang santai dan meremehkan mereka, atau dia sudah pasrah pada kenyataan ini. Motivasi bertarungnya berkurang cukup banyak setelah senjata miliknya hancur.
•••••
“Aku sudah tahu jika kalian datang ke sini pasti untuk mengatasi penyusup yang telah menyerang akademi. Tapi memperhitungkan kebrutalan tahap pertarungan sekarang, kalian hanya akan menjadi beban atau sasaran daging bergerak. Tidak ada gunanya jika kalian terlibat dan itu hanya mengantarkan nyawa atau malah merepotkan orang-orang yang sedang bertarung di sana.” Glence memalingkan tubuhnya pada mereka bertiga dengan raut wajah serius yang terlukiskan.
“Apakah memang seperti itu, Putriku? Aku tahu kamu bukan seorang pembohong, tapi aku masih meragukan penilaianmu terhadap tingkat suatu pertarungan?” tanya Alex sambil mengangkat alisnya.
“Jika kamu tidak percaya, kalian bisa melihatnya dari sini.” Glence mengarahkan jempolnya ke arah akademi yang saat ini hancur lebur dengan api di sana-sini. “Selain itu, jangan memanggilku dengan sebutan “Putriku” saat berada di tempat umum seperti ini, terutama ketika sedang bekerja. Aku tidak ingin semua orang menganggapku tetap sebagai anak kecil.”
“Ya, ya, aku sangat tahu jika seorang gadis akan tumbuh dengan cepat. Aku sangat senang tenta--.” Sebelum Alex menyelesaikan kalimatnya, sebuah pukulan keras mendarat di pipinya.
__ADS_1
*Bam!*
“Sudah kubilang, jangan memperlakukanku seakan aku merupakan anak kecil. Aku tidak suka dengan sikap yang seperti itu!” teriak marah Glence sambil memberikan sebuah pukulan yang mendarat di pipi Alex.
‘I-Iya juga ya. Glence dan ayahnya memiliki hubungan yang kurang harmonis karena sikap Alex yang terlalu banyak memperlakukan Glence seperti anak kecil. Aku rasa ini bukan masalah besar, karena lagi pula aku merasa ini adalah pertikaian kecil antar anggota keluarga,’ batin Theresa.
‘Eh? Apa yang terjadi? Kenapa Glence sangat berani untuk memukul orang itu?’ Angelica tidak memahami apapun dan hanya dapat melihat dengan heran.
Untuk anggota unit Ksatria Perak, mereka tetap mempertahankan sikap kaku mereka tanpa ekspresi di balik helm perak yang mereka kenakan. Mereka semua memang sudah dilatih untuk menjadi pribadi disiplin, membuat mereka tidak akan terpengaruh hanya karena masalah kecil seperti ini.
“Aduh, apa yang kamu lakukan, sih, Putriku? Bukankah ini terlalu kasar untuk memperlakukan ayahmu seperti ini?” Alex kembali bangkit dan bertanya menggunakan nada sedih.
“Masih ingin merasakannya lagi, ha!” Glence memiliki perempatan marah di dahinya yang berkedut bersamaan dengan tangan kanannya yang mengepal kuat.
“Huh, kamu ini melelahkan saja.” Glence merasa kesal pada sesuatu yang seharusnya sudah jelas. “Evakuasi saja lokasi sekitar dalam radius 1 Km dari pertarungan. Warga sipil memang cenderung menghindari sesuatu yang berbahaya, tapi tidak menuntut kemungkinan ada satu atau dua dari mereka yang masih tinggal di sekitar sini dan malah menonton pertarungan.”
‘Wah, Glence-san memang sedang kesal saat ini, ya. Aku rasa ini juga salah satu kesalahan dari pemimpin unit ini karena menanyakan sesuatu yang seharusnya sudah jelas. Apakah dia (Alex) sebenarnya memiliki otak dangkal sampai tidak tahu tentang langkah-langkah keamanan?’ batin Theresa.
•••••
*Krak!* *Sis!* *Sis!* *Brak!*
Sześć menciptakan sebuah dinding tanah untuk menjadi tamengnya, namun itu dapat hancur dengan mudah setelah Akari menembakkan beberapa pedang cahaya padanya.
__ADS_1
*Tap!*
Dari balik dinding tanah, Sophia memanfaatkan momen singkat saat Sześć sedang kebingungan memikirkan langkah selanjutnya.
*Swirl!*
‘Cih, kombinasi mereka berdua sangat merepotkan. Terutama Sophia yang serangannya dapat melukaiku.’ Sześć membuat angin berputar di pergelangan kanannya.
*Jleb!* *Ssshhh!*
Sześć menggunakan menusukkan tangan kanannya pada dada kiri Sophia, namun Sophia mengubah tubuhnya menjadi kabut merah darah, membuat dirinya tidak menderita kerusakan sama sekali dari serangan ini.
*Sret!*
Sophia memutari Sześć menggunakan wujud kabutnya, kemudian dia melilit Sześć menggunakan wujud darahnya itu.
“Akh!” Sześć sedikit kesakitan karena merasa lilitan kuat dari Sophia.
*Sss!*
Sementara sebagian darah Sophia digunakan untuk melilit Sześć, dia mewujudkan bentuk manusianya dengan separuh atau beberapa bagian tampak seperti kabut. Ini dikarenakan sebagian volume darah Sophia berkurang, dan dia cuma bisa membuat wujud tampaknya dengan sisa darah seadanya.
“Baiklah, baiklah, sudah lama kita melakukan pertarungan yang merepotkan ini. Haruskah aku melakukan sesi Q&A (Quest and Answer /\= Tanya dan Jawab) kepadamu?” ucap Sophia dengan datar sebab sama sekali tidak senang dengan pertikaian ini.
__ADS_1