
Elena melakukan pertarungan yang cukup sengit melawan boneka-boneka milik Pięć. Sementara itu, Sześć tidak memiliki bagian penting untuk melawan Elena, jadi dari pada hanya menganggur, bukankah akan lebih baik apabila dia melakukan pekerjaan lain selain hanya menonton pertarungan dari jarak jauh?
"Baiklah, tampaknya mereka berdua sedang bertarung dengan sangat semangat satu sama lain. Apakah aku juga harus bertarung seperti mereka saat melawan kalian berdua? Sebenarnya, kalian berdua bukanlah target dalam penyerangan kali ini, tapi aku sama yakin kalian akan terlibat dalam pertarungan ini untuk menyelamatkan teman kalian, 'kan?" Sześć mengarahkan matanya pada Theresa dan Sophia.
"Kami berdua sangat yakin jika Elena pasti bisa menghadapi situasi ini seorang diri, jadi kamu bisa duduk santai dan memperhatikan dari jauh pertarungan antara mereka berdua tanpa harus mengikuti pertarungan ini. Seperti yang kita semua tahu, bertarung menggunakan kekerasan itu tidak baik dan hanya akan menciptakan kerugian harta benda di semua pihak, sehingga sebisa mungkin kita harus menghindarinya," jawab Sophia dengan wajah datarnya, seakan tidak memiliki niatan untuk membantu Elena.
"Tu-Tunggu, Sophia-chan! Bukankah kita harus membantu Elena yang sedang dalam masalah ini? Apa kamu tidak kasihan melihat dia dalam pertarungan dan terdesak seperti saat ini? Sebagai teman yang baik, seharusnya kita membantunya dalam masalah ini, 'kan?" Theresa cukup terkejut mendengar kata-kata yang baru saja dilontarkan Sophia.
Sophia melirikkan matanya pada Theresa sebelum mengatakan, "Ada yang harus kamu ketahui, Theresa. Jika kita berdua memulai pertarungan melawan orang ini —Sześć—, itu akan membuat dia bertarung dan mengganggu pertarungan Elena. Namun jika berdua dan dia memutuskan untuk diam saja, maka tidak akan ada pertarungan yang akan terjadi. Hasilnya sama saja, dia tidak akan bergabung dalam pertarungan melawan Elena, justru kita berdua bisa lebih santai dengan ini."
"Hmm, kamu benar juga, ya. Aku tidak memikirkan tentang." Theresa mengelus dagunya, memikirkan kembali tentang apa yang Sophia katakan. "Tapi jika kita tidak bertarung melawannya, apa yang harus kita lakukan? Ini akan menjadi membosankan jika tidak ada yang kita lakukan, 'kan?"
"Huh, kamu ini, ya!" Sophia dengan geram memegangi dahinya, karena dia pusing memikirkan tentang pertanyaan akhir Theresa. "Sudah diberikan sesuatu yang mudah malah memilih sulit. Apa kamu ini sebenarnya adalah golongan yang seperti itu? Jelas-jelas ada sesuatu yang mudah dan santai, tapi kamu malah memilih sesuatu yang jauh lebih sulit dan merepotkan. Selain itu, bukankah kamu tidak terlalu ahli dalam berpedang atau melakukan pertarungan di lapangan?"
"Ma-Maaf, Sophia-chan. Kupikir kita berdua bisa melakukan sesuatu yang dapat membunuh waktu dan menyenangkan untuk menghabiskan waktu …." Theresa mengarahkan telapak tangannya pada Sophia dan menggoyangkannya ke kiri dan ke kanan.
'Mana mungkin bertarung dapat dijadikan sesuatu yang menyenangkan!' batin Sophia.
__ADS_1
"Ta-Tapi, aku tidak tahu jika kamu sudah cukup senang melihat pertarungan Elena. Setelah aku memikirkannya lagi, ternyata memang ada benarnya juga jika pertarungan antara Elena dan orang yang menyebut dirinya Pięć itu cukup seru untuk ditonton." Theresa memperhatikan pertarungan keren dan intens antara Elena dan Pięć.
*Pack!*
Sześć menepukkan tangannya sekali dan mengatakan, "Jadi sudah diputuskan, ya. Kita bertiga akan berdamai sampai pertarungan mereka berdua selesai." Lalu, dia memperhatikan pada Sophia dengan melanjutkan, "Sebenarnya aku sudah satu jika kamu adalah Royale Spirit of Blood yang merupakan mantan salah satu budak spirit dari organisasi. Tapi karena tidak ada arahan untuk menangkapmu kembali, aku tidak akan menyerangmu."
"Terima kasih, aku sungguh senang dengan sikapmu yang tergolong sebagai orang-orang yang santai." Sophia menundukkan kepalanya dengan singkat sebelum kembali mengangkatnya, lalu mengatakan, "Aku tidak ingin lagi untuk bekerja dengan organisasi dan dipaksa melakukan beberapa tindakan kriminal seperti pembunuhan dan lain-lain, aku ingin menjalani hidup yang santai seperti seorang manusia. Ngomong-ngomong, jika aku boleh tahu, aku ingin tahu alasanmu membiarkan aku?"
"Alasannya sangat sederhana." Sześć kemudian tersenyum di balik topengnya dan menjawab, "Aku memiliki sudah senang hanya dengan melihat spirit yang cantik dan imut. Sebagai seorang pecinta binatang dan spirit, aku tidak suka jika membuat spirit melakukan sesuatu yang tidak mereka sukai. Tentu saja, masih ada pengecualian dalam beberapa kasus, tapi aku lebih suka tidak melakukannya."
•••••
Beberapa saat setelah istirahat dan beberapa waktu sebelum serangan ini dimulai, semua murid di kelas ini termasuk Angelica keluar dari kelas dan bertujuan untuk mencari makan siang. Murid bangsawan normal cukup kaya dan mampu membeli makanan di kantin, namun tidak untuk Angelica.
'Ugh, kenapa harga makanan di kantin selangit, sih! Bukankah seharusnya kantin memberikan harga makanan yang terjangkau dan bersahabat untuk semua orang? Kenapa pula ini tidak dijelaskan dalam animenya, sebagai akibatnya aku sampai tidak makan siang di hari pertama.' Angelica berjalan-jalan di lorong sambil membawa sebuah bingkisan.
Bingkisan tersebut adalah bekal makan siangnya, yang tidak lain merupakan nasi goreng. Jika Elena melihat ini, dia akan memanggil Angelica dengan sebutan "Gadis Nasgor" seperti yang ia katakan sebelumnya. Lebih parahnya lagi, Angelica tidak akan bisa mengelak karena saat ini dia memang membawa sekotak nasi goreng.
__ADS_1
'Sabar, Angelica! Namanya juga sekolah elit khusus bangsawan kelas atas. Aku sebagai orang miskin di sini, harus bisa mengendalikan ***** makan dan kesabaranku agar tidak menghabiskan uang secara sia-sia.' Angelica berusaha menyemangati dirinya dalam hatinya. 'Tujuan utamaku di sini adalah membuat Elena bertaubat dari jalan villainess yang saat ini dijalankan, tapi pertama-tama aku harus memperkuat posisiku di akademi ini agar bisa menarik perhatiannya. Sasaranku saat ini, adalah menghilangkan panggilan "Gadis Nasgor" yang dimiliki.'
"Yuhu, Angelica!" Glence datang menemui Angelica di depan lorong di depan kelas Angelica. "Apa kamu akan makan siang sendiri di taman belakang akademi?" Sambil tersenyum ramah, namun tetap menunjukkan semangat dan kepercayaan dirinya.
"Ya, begitulah. Seperti yang kamu ketahui, aku cukup miskin untuk dan tidak memiliki banyak uang agar bisa membeli makanan di kantin, jadi aku memilih untuk membuat bekal makan siang sendiri tadi pagi, dini hari." Angelica membalikkan badannya pada Angelica dan menunjukkan wajahnya yang tersenyum ramah.
"Ehem, apa kamu sudah membuat kemajuan untuk berteman dengan Elena? Aku rasa ini akan sulit, mengungat dia yang memberikan panggilan aneh padamu. Aku akan membantumu sebisaku, tapi lebih baik kamu berusaha sendiri, agar dapat memiliki hubungan yang lebih dekat dengan Elena," kata Glence.
"Huh, masih tidak ada perkembangan yang bagus untuk rute Elena, tapi setidaknya aku memiliki perkembangan yang baik untuk kedua teman Elena, terutama Theresa karena kita berdua sepertinya memiliki hobi yang sangat mirip." Angelica memiliki wajah lelah saat mengatakannya.
'Aku lebih penasaran tentang bagaimana dia bisa mendapatkan informasi tentang anime, tapi aku akan mengabaikan itu karena dalam animenya sendiri dia merupakan putri pedagang yang memiliki kontrak dengan spirit tingkat Royal sehingga dia bisa masuk ke akademi ini melakukan jalur khusus. Aku dapat mengasumsikan, dia berkunjung ke negara mirip jepang.' Angelica memiliki senyuman masam dalam pikirannya.
'Ngomong-ngomong, dia memiliki penampilan yang sedikit berbeda dari animenya. Mungkin, benar-benar ada yang berbeda dari naskah aslinya,' lanjutnya.
*Bom!*
Ledakan keras terdengar dari dalam ruang kelas Elena, dan tentu saja keduanya dapat mendengar itu dengan sangat jelas.
__ADS_1