Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik
Gunakan Kakimu Sendiri!


__ADS_3

*Tap!*


Leo muncul langsung melompat ke salah satu burung bangkai tersebut.


*Slash!* *Flap!* *Flap!* *Flap!*


Ketika Leo menebaskan cakarnya padanya, Burung Bangkai tersebut mengepakkan sayapnya.


Serangan dari Leo hanya mengenai sebuah dahan pohon kering dan menjatuhkannya. Kawanan burung bangkai lainnya hanya termenung memperhatikan Leo, fokus mengambil tindakan apabila mereka diserang. Strategi umum yang mereka gunakan adalah menunggu musuh kehabisan stamina dan tersungkur lelah sebelum mereka akan memakannya tanpa perlawanan.


“Sudah aku bilang, bukan?” Elena mengangkat bahunya. “Mereka memiliki kemampuan menghindar yang lumayan di samping kemampuannya untuk membuat kabut. Kekuatan energi alam burung kebanyakan disimpan di sayapnya, yang membuat mereka memiliki kemampuan lebih baik untuk menggerakkan sayap mereka. Anggap saja, ini seperti pasif skill yang mereka miliki.”


“Kik!” “Kik!” “Kik!”


Satu per satu dari burung bangkai itu mulai mengeluarkan suara mereka yang terdengar menyeramkan dan memekikkan telinga. Masih belum jelas apa motivasi mereka melakukan ini, namun yang pasti hal ini sungguh mengganggu dan mengacaukan pendengaran Elena dan Leon.


“Ugh!” Leon secara spontan langsung menutupi telinganya, Elena dan Aya diam saja sambil tetap waspada terhadap tingkah aneh mereka ini, sedangkan Leo kembali naik ke atas bahu Leon ketika merasakan takut sendirian berpisah dari mereka.


“Apa ini adalah sesuatu yang biasa mereka lakukan?” tanya heran Elena dalam monolognya. “Menurut buku panduan, mereka adalah makhluk tenang yang hanya memakan bangkai tanpa mengeluarkan banyak tenaga. Antara aku yang melewatkan sebuah panduang atau mereka yang bertingkah aneh, mana satu dari ini yang merupakan kemungkinan benar?”


“(Aku rasa mereka memang bertingkah aneh,)” sahut Aya. “(Aku pernah melawan burung bangkai lain miliki seorang trainer, dia memiliki tingkah yang sangat tenang dan lebih banyak menghindar dari pada menyerang. Juga, dia tidak mengandalkan suaranya untuk membingungkan musuhnya, dia benar-benar tipe petarung yang sangat tenang.)”

__ADS_1


*Flap!* *Flap!* *Flap!*


Kawanan burung bangkai itu mengepakkan sayapnya secara serempak, kemudian mereka semua terbang mengarah pada Elena dan Leon. Kecepatan mereka memang tidak terlalu tinggi, namun jumlah total kawanan mereka saat ini cukup untuk membuat mangsanya merasa terintimidasi. Juga, suara keras mereka terdengar mengganggu.


*Grab!*


Elena langsung menggenggam lengan Leon yang masih terganggu suara pekikan, kemudian mulai berlari menjauh sambil mengatakan, “Mou! Kamu harus tetap fokus pada musuhmu apapun yang terjadi! Jangan seenaknya menutup matamu dan merepotkan rekanmu!”


‘Menutup mata di tengah-tengah konflik memang merupakan sesuatu yang tabu kecuali jika kamu tetap bisa mengetahui pergerakan musuhmu dalam kondisi itu. Masalah dari ini adalah, semua titik akan menjadi titik buta dan musuh akan lebih mudah menyerang kita. Tanpa mengetahui lokasi musuh, tentu saja akan menjadi hampir tidak mungkin untuk melukai mereka, ‘kan?’


“Aya! Tembaki mereka menggunakan skill ke-2 yang baru saja kamu pelajari!” perintah Elena.


*Zrt!* *Sss!* *Sss!* *Sss!*


Aya berbalik dan memandang kawanan burung bangkai di belakang Elena. Kemudian, dia sebuah kabut berwarna hitam mulai berkumpul di depan wajahnya, dan menembakkan sesuatu seperti pasak berwarna hitam ke arah kawanan burung bangkai itu. Serangan Aya tidak hanya sekali, melainkan dia mengulangi gerakan ini beberapa kali.


‘Yap, sesuai dugaanku, mereka bisa menghindarinya dengan sangat mudah. Skill ke-2 milikku, Black Catcher. Kemampuan ini memungkinkanku untuk menciptakan sesuatu seperti pasak berwarna hitam menggunakan sebuah materi hitam misterius yang panggil saja namanya Black Fog. Bagusnya kemampuan ini bisa digunakan untuk menyerang pada jarak jauh, buruknya gerakannya lambat.’


Mereka bertiga terus berlari menyusuri hutan berkabut ini tanpa mengetahui secara jelas arah yang mereka tuju. Mengabaikan tentang Elena yang memiliki beberapa kemampuan, mereka saat ini berada di situasi terpuruk. Selain kawanan burung bangkai yang mengejar mereka, masalah utama mereka, yaitu belum menemukan arah masih berlanjut.


Elena sendiri masih menggunakan Penerawangan untuk mencari-cari arah atau apapun yang bisa mereka gunakan sebagai petunjuk. ‘Jadi itu kah yang menyebabkan kawanan burung bangkai ini bersikap aneh? Tch, hari ini merupakan hari sial untukku, dan mengapa juga ada hutan seberbahaya ini di sekitar desa itu? Maksudku, apakah pemerintah tidak bisa melakukan sesuatu atas ini, seperti membuat petunjuk jalan?’

__ADS_1


Dari dalam Penerawangan Elena, dia menemukan salah satu burung bangkai yang memiliki penampilan sedikit berbeda dari lainnya. Dia memiliki warna bulu, kulit, dan cakar yang semuanya hitam legam. Hanya bagian matanya yang memiliki warna berbeda, namun tetap saja matanya memiliki warna keruh dan terbuka dalam celah yang sempit.


‘Aku rasa dia adalah pemimpinnya. Tidak aneh lagi ketika mereka memiliki pemimpin seperti ini. Sejak awal, burung bangkai biasanya berkerumun mengelilingi bangkai dan bersama-sama menyantap itu. Mereka hanya berkumpul dan melakukan kerja sama sesuai dengan insting masing-masing. Namun saat ada pemimpin di antara mereka yang memiliki level beberapa kali lebih tinggi dari mayoritas, mereka akan mulai bergerak sesuai arahan pemimpin mereka.’


“Sudah cukup, Aya. Tidak ada gunanya lagi kamu mengatasi mereka, mereka hanya akan menghindari serangan dengan mudah. Lebih baik, kamu menghemat tenaga ketika kita berada di dalam situasi mendesak,” ucap Elena.


“(Tentu, aku hanya akan mengikuti arahanmu sebagai masterku. Tapi jika aku sampai dimakan hidup-hidup oleh mereka di sini, aku akan terus mengejarmu dan menghantuimu seumur hidupmu. Jangan harap bisa hidup tenang jika menggunakan aku sebagai tumbal untuk mereka.)” Aya berbalik ke depan semabari mengatakan itu pada Elena.


“Itu tidak akan terjadi, mana mungkin aku akan membiarkanmu merasakan penderitaan saat dimakan hidup-hidup. Jika itu aku, aku akan membunuhmu sebelum menyerahkan bangkaimu pada mereka. Seharusnya, mereka akan berhenti untuk sementara waktu sampai seluruh bangkaimu dimakan oleh mereka. Yah, ini tidak akan memberikan penambahan waktu yang signifikan, namun ini lebih baik dari pada tidak sama sekali.” Elena tersenyum kecil dengan suara tawa yang pelan.


“Ap-Apa kita akan mati dengan mereka yang akan memakan kita hidup-hidup di sini?” tanya Leon ketakutan.


“Itu tidak akan terjadi. Jika mereka ingin memakan kita, mereka hanya akan memakanmu!” jawab Elena.


“Kejam! Apa kamu tega meninggalkanku sendirian di sini dan membuat aku dimakan hidup-hidup oleh mereka? Apakah ini caramu untuk membalas budi pada keluargaku yang telah menyediakan tempat tinggal selama seminggu kepadamu?” teriak Leon.


“Huh, Leon, aku tidak akan melakukan itu selama kamu bisa bekerja sama denganku. Pertama-tama, larilah menggunakan kakimu sendiri! Kecepatanku sangat terbatas jika kamu hanya mengandalkan aku untuk menarikmu seperti ini!” teriak Elena sebagai balasan.


“Oh, oke.” Leon pun berdiri sendiri, kemudian berlari di samping Elena.


‘Nih, anak akhirnya bisa bergerak juga. Kalau tahu dia hanya akan menjadi beban, lebih baik aku membuat alasan untuk tidak mengajaknya pada Catherine.’ Dia memandang sinis pada Leon karena setidaknya masih sedikit memendam dendam.

__ADS_1


__ADS_2